Kekuatan mendengar untuk pasien gangguan depresi

Depresi adalah gangguan suasana hati (mood) yang ditandai dengan perasaan sedih yang mendalam dan rasa tidak peduli.

Depresi pada pasien ditandai biasanya merasa murung, sedih berlebihan dan kurangnya minat dalam beraktifitas. Gangguan depresi ditandai perasaan murung dan sedih berkepanjangan minimal 2 minggu.

Beberapa gejala depresi adalah sebagai berikut :

1. Suasana hati tertekan hampir sepanjang hari
2. Menurunnya minat atau kesenangan dalam semua aktivitas
3. Penurunan berat badan yang signifikan saat tidak berdiet atau penambahan berat
badan (misalnya, perubahan lebih dari 5% dari berat badan dalam sebulan)
4. Insomnia atau hipersomnia
5. Kelelahan atau kehilangan energi
6. Perasaan tidak berharga atau rasa bersalah yang berlebihan atau tidak pantas (mungkin
delusi)
7. Berkurangnya kemampuan untuk berpikir atau berkonsentrasi
8. Pikiran berulang tentang kematian, keinginan bunuh diri yang berulang tanpa rencana
tertentu, atau percobaan bunuh diri atau rencana khusus untuk bunuh diri.

Penderita depresi sebenarnya tidak ingin bunuh diri, namun ingin menghilangkan rasa sakit dan
stres yang ia rasakan. Maka dari itu, perhatian dan telinga sangat dibutuhkan bagi penderita
depresi. Mendengarkan beberapa hal saja bisa membantu mereka.

“Kita memiliki dua telinga dan satu mulut, karena itu kita bisa mendengarkan dua kali lebih
banyak daripada berbicara”. Meski tergolong cukup sering kita membaca dan mendengar
kalimat diatas, namun dalam realitanya sangat sedikit yang menyempatkan waktu untuk
mendengar dan menyimak apa yang dikatakan orang lain.

Mendengarkan bagi sebagian orang adalah perkara yang sulit. Kita dituntut untuk menurunkan
ego dan menahan apa yang ingin kita sampaikan. Biasanya dalam mendengar kita juga dikuasai
ego “bagaimana kita mengatasi masalah”, bukan keinginan untuk hadir sepenuhnya pada orang yang sedang bercerita. Mendengarkan bisa jadi ajang pembelajaran untuk diri kita sendiri,
membiarkan diri kita diberi pelajaran oleh orang yang sedang bercerita.

Mendengarkan untuk mengatasi gangguan sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Pada tahun
1896, Sigmund Freud dan Josef Breuer mengobati pasien dengan nama samaran Ana o. Ana o
mengalami gangguan hysteria dan mengalami kelumpuhan dibagian tubuh.

Breuer kemudian menggunakan terapi bicara dan dikembangkan freud dengan nama Asosiasi Bebas. Breuer menyuruh Ana o untuk bercerita tentang apa yang dialami Ana o dan ajaibnya ketika Ana o
bercerita, kelumpuhan dan semua keluhan perlahan-lahan hilang dan akhirnya dapat disembuhkan.

Depresi biasanya muncul karena terlalu banyak tekanan atau stress dan akhirnya tubuh dan
psikis kita tidak bisa menampung. Jika seseorang memiliki pendengar, stress atau tekanan bisa
sedikit demi sedikit hilang dan tidak menumpuk.

Meski terkesan mudah, namun dampak yang ditimbulkan sungguh banyak. Kalian juga pasti
pernah merasa sesak atau kalut dengan masalah yang kalian hadapi dan ketika kalian bercerita
ada perasaan “lega”, itu juga yang akan dirasakan oleh orang yang kalian bantu meski hanya
mendengarkan. Tidak apa apa tidak bisa membantu, tapi setidaknya kita ada saat teman atau
keluarga kita membutuhkan telinga kita.

Baca lainnya: Memahami Rehabilitasi Gangguan Jiwa (1)

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *