Penyebab gangguan jiwa (7)

800px-The_Temptation_of_Saint_Anthony_(Grünewald)_detailArtikel ini kelanjutan artikel sebelumnya

Halusinasi, khususnya halusinasi suara, yaitu mendengar suara atau pembicaraan yang sebenarnya tidak ada, ternyata juga dialami oleh sebagian orang yang normal.

Pada beberapa orang normal, kadang mereka mendengar suara suara atau ada seseorang mengajaknya bicara yang sebenarnya tidak ada. Hal tersebut biasanya terjadi ketika hatinya sedang gelisah, stress.

Hal yang membedakan antara halusinasi pada orang normal dan halusinasi pada penderita gangguan jiwa, ternyata pada orang normal mereka tidak takut atau tidak dikendalikan oleh suara suara yang didengarnya. Dilain pihak, pada penderita gangguan jiwa, suara suara tersebut membuatnya distress atau tertekan jiwanya (takut, cemas, kecil hati, disuruh bunuh diri, dll). Suara suara tersebut membuat kehidupannya sehari-hari terganggu.

Seseorang yang mengalami halusinasi, ketika diperiksa otaknya dengan fMRI, ternyata terlihat bahwa bagian otak yang berfungsi mengatur percakapan, terlihat aktif. Hal ini berarti bahwa suara suara yang mereka dengar sebenarnya berasal dari dalam otaknya sendiri. Pada orang dengan halusinasi, mereka kesulitan membedakan antara suara hasil otaknya sendiri dengan suara suara dari luar.

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Penyebab gangguan jiwa (6)

2483-1Tulisan ini merupakan kelanjutan artikel sebelumnya

Tidak ada satupun penderita gangguan jiwa yang tidak mengalami stress atau trauma psikologis. Selalu ada faktor psikologis yang menjadi penyebab gangguan jiwa. Dilain pihak, pada orang yang tidak punya bakat gangguan jiwa, adanya stress atau trauma psikologis tidak akan menimbulkan gangguan jiwa.

Pada seseorang dengan bakat gangguan jiwa, karena tidak tahan terhadap stress yang dialaminya, maka orang tersebut berusaha mengurangi stress, namun dengan cara yang salah.

Cara yang dipakai mengurangi stress yang diterapkan mereka antara lain:

  • Delusional projection: Seorang anak yang marah dan benci kepada orang tuanya, karena merasa sering diperlakukan tidak adil, namun juga menyadari bahwa dia tidak mungkin marah atau membenci orang tuanya, situasi tersebut menyebabkan sang anak mengalami stress yang menumpuk. Kondisi tersebut kemudian diproyeksikan sebagai adanya penjahat/ agen rahasia negara lain yang akan menangkap dan membunuhnya.
  • Distorsi, mengubah kondisi external yang tidak tertahankan. Misalnya: Seseorang yang sering dihina keluarganya sehingga merasa dirinya kecil dan tidak berdaya, kemudian mempunyai waham bahwa dirinya adalah seorang nabi atau utusan Tuhan, memandang orang lain sebagai lemah dan perlu ditolong serta  menuntut orang lain percaya dan mengikuti perintahnya.
  • Splitiing, menggolongkan orang kedalam dua golongan: sebagai baik atau jahat, kawan atau lawan. Padahal dalam kenyataannya tidak ada orang yang 100% baik atau 100% buruk. Hal ini biasa dilakukan oleh penderita gangguan jiwa yang merasa dirinya terancam atau tidak aman. Agar mudah, maka dia menggolongkan orang sebagai baik atau buruk, kawan atau lawan, malaikat atau setan.
  • Konversi, yaitu mengubah konflik psikis menjadi penyakit fisik. Misalnya seorang istri yang ditinggal suaminya terus menjadi buta atau lumpuh.

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Penyebab gangguan jiwa (3)

180Tulisan ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya

Faktor kedua yang mempengaruhi munculnya gangguan jiwa adalah faktor psikologis, khususnya pengalaman hidup masa lalu yang membuat jiwa terluka (trauma) dan hubungan tidak sehat dengan orang orang dekat yang membuat emosi negatif (marah, sedih, takut, dll) menumpuk.

Pengalaman hidup yang melukai jiwa, seperti: mengalami pelecehan seksual dimasa kecil oleh tetangga atau keluarga dekat, ditinggal mati ayah atau ibu, orang tua bercerai sehingga kurang mendapat kasih sayang maupun asuhan, sering jadi bahan ejekan, dan berbagai pengalaman hidup yang traumatis dapat menimbulkan munculnya gangguan jiwa ketika menginjak remaja.

Sebagai contoh, Azis pernah disodomi ketika kecil oleh pamannya. Dia diancam akan dibunuh bila mengadukan hal tersebut kepada orang tuanya. Aziz menyimpan pengalaman tersebut dan tidak pernah menceritakan kepada orang lain. Ketika mulai beranjak dewasa, Aziz merasa bersalah dan merasa dirinya kotor, banyak berdosa, dan tidak berharga. Sejak saat itu, Aziz mulai sering mendengar suara suara yang mengejek dirinya dan menyuruhnya bunuh diri.

Hubungan yang tidak sehat dengan orang dekat juga dapat berakhir menjadi penderita gangguan jiwa. Wahyu merupakan anak laki laki yang paling tampan di dalam keluarganya. Kakak kakaknya, baik yang perempuan maupun laki laki, tidak ada yang berpenampilan menarik. Ibunya sangat menyayangi Wahyu, namun ayahnya (karena curiga bahwa anak tersebut bukan anaknya secara biologis) sering memarahi dan berlaku keras terhadap Wahyu. Emosi benci dan marah yang dipendam dan menumpuk, membuat jiwa Wahyu makin lama semakin tidak kuat menahannya. Akhirnya, Wahyu menderita schizophrenia paranoid. Dia merasa bahwa ada intel negara asing yang akan menangkap dan membunuhnya.

Tentunya tidak semua anak yang pernah mengalami pengalaman hidup yang traumatis akan mengalami gangguan jiwa. Begitu pula, anak yang mempunyai hubungan tidak sehat dengan keluarga dekatnya tidak semua akan terkena schizophrenia. Perlu ada faktor biologis dan atau sosial yang ikut mendorong terjadinya gangguan jiwa.

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Kunjungan Deputi Kemeneg PPPA

12033744_1498324957159259_685244533_nPada tanggal 26 September 2015, Deputi Perlindungan Anak, Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak beserta rombongan (Asisten Deputi dan beberapa eselon III) dengan diantar pejabat dari Dinas BKB- PM Purworejo datang berkunjung ke Tirto Jiwo.

12033512_1498326990492389_1496016190_nSelain membahas tentang pemulihan gangguan jiwa di Indonesia dan keistimewaan Tirto Jiwo, juga dibahas tentang strategi untuk mencegah gangguan jiwa dengan melakukan intervensi pada anak anak dan remaja.

 

12048431_1498325677159187_1120659435_nSalurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

5 Cara meningkatkan kesehatan jiwa

Kesehatan jiwa, seperti juga kesehatan badan, harus terus dijaga dan ditingkatkan terus menerus selama kita hidup. Berikut ini 5 cara untuk meningkatkan kesehatan jiwa.

  1. Bersyukur. Kemampuan mensyukuri apa yang kita punyai akan dapat meningkatkan kesehatan jiwa, mencegah depresi dan berbagai pikiran negative lain yang akan dapat mengganggu kesehatan jiwa. Berikut ini beberapa cara meningkatkan kemampuan bersyukur: (a) Setiap pagi atau malam hari selama 30 menit, tulis atau mengingat ingat hal hal yang kita punyai (punya mata/ tidak buta, makan 3 kali sehari, dll), (b) menengok orang sakit, (c) mengunjungi orang yang sangat miskin, cacat, dan lebih menderita disbanding kita.
  2. Berkorban untuk orang lain, bersedekah. Bersedekah atau berkorban untuk orang lain akan membuat seseorang merasa lebih berbahagia, hidup terasa lebih berarti. Kemampuan atau keinginan untuk bersedekah perlu terus dilatih. Latihan bersedekah tidak hanya cukup dengan mendengarkan cerita, namun harus dicoba dan dilaksanakan.
  3. Iba atau dapat merasakan penderitaan orang lain (compassion). Kemampuan untuk dapat merasakan penderitaan orang lain akan menimbulkan keinginan untuk membantu atau berbuat baik untuk mengurangi penderitaan seseorang. Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan bersimpati terhadap penderitaan orang lain, antara lain dengan: berpuasa, tidur tanpa kasur dan berbagai hidup bersahaja lainnya.
  4. Memaafkan. Biasanya, bila orang lain berbuat salah ke diri kita, maka yang ada dipikiran kita adalah bagaimana membalas perbuatan yang tersebut. Memaafkan adalah melepaskan keinginan untuk membalas dendam tersebut. Meminta maaf dan memaafkan yang dilandasi dengan hati tulus ikhlas akan membuahkan kebersihan dan ketenangan jiwa. Sedangkan secara medis, akan berdampak pada meningkatnya daya tahan tubuh sehingga tubuhpun siap menangkal berbagai penyakit yang mungkin datang. Berikut ini latihan diri kita untuk memaafkan: (a) Sadari Perasaan sakit hati kita ketika marah, benci atau dendam terhadap seseorang, (b) Yang sebenarnya kita hadapi adalah perasaan kita,  bukan orang yang telah menyakiti kita. Jadi yang kita ubah adalah mengubah perasaan sakit menjadi perasaan damai. Caranya, pikirkan hal-hal yang positif, sesuatu atau seseorang yang kita cintai. Ini akan cukup efektif untuk menghilangkan perasaan sakit, (c) Ubahlah cara pandang kita terhadap apa yang kita rasakan. Sakit hati muncul bukan karena orang lain yang menyakiti kita, melainkan karena pikiran kita “menuduh” bahwa orang itu telah menyakiti kita. Jadi, maafkanlah pikiran kita yang telah “main tuduh” itu. Memaafkan akan membantu menyembuhkan sakit hati, (d) Berjanjilah untuk terus melatih sikap pemaaf. Setiap kali pikiran kita mengenang rekaman buruk itu, traiklah napas dalam-dalam, kemudian lakukan langkah (b) diatas.
  5. Memahami perasaan atau pikiran orang lain yang mungkin berbeda (tepa sliro-empati). Kemampuan berempati atau tepo-sliro, adalah kemampuan untuk memahami perasaan seseorang, pikiran seseorang dan sikap seseorang yang berbeda dengan perasaan, pikiran atau sikap kita. Kemampuan berempati terkait dengan kemampuan kita mengendalikan emosi. Latihan empati dapat dilatih dengan banyak banyak mendengarkan dan memahami perasaan orang lain.

Semua orang, tidak hanya penderita gangguan jiwa, perlu secara terus menerus meningkatkan kelima kemampuan tersebut.

Pedoman pemulihan gangguan jiwa yang disusun oleh bekas penderita (1)

Laurie Ahern pernah menderita sakit jiwa ketika berumur 19 tahun. Saat ini, Laurie bekerja sebagai managing editor beberapa koran dan penulis lepas di Boston Globe dan Associated Press. Dia juga menjabat sebagai associate director Mental Disability Right International serta beberapa jabatan lainnya.

Dan Fisher adalah seorang dokter ahli kesehatan jiwa (psikiater), dan doktor (S3) dalam bidang biokimia. Ketika berumur 25 tahun, dia didiagnosa dengan skizofrenia dan pernah beberapa kali dirawat di rumah sakit jiwa. Kini, Dan Fisher bekerja sebagai direktur National Empowerment Center dan anggota White Hose New Freedom Commission on Mental Health, penasehat  president AS dalam bidang kesehatan jiwa.

Kalau pedoman pemulihan gangguan jiwa ditulis oleh seseorang yang belajar tentang kesehatan jiwa, seperti dokter atau psikolog itu hal yang biasa. Bila pedoman pemulihan gangguan jiwa ditulis oleh seseorang yang pernah menderita gangguan jiwa, itu baru luar biasa dan perlu disimak serta dipelajari.

Laurie Ahern dan Dan Fisher sering memberikan ceramah bersama. keduanya kemudian menulis sebuah buku pedoman pemulihan gangguan jiwa Personal Assistance in Community Existence (PACE). Berikut ini beberapa ini sari dari buku tersebut.

Menurut Laurie Ahern dan Dan Fisher, penderita gangguan jiwa bisa pulih, asalkan mereka mendapatkan dukungan dan perlakuan yang tepat. Pendapat mereka berbeda dengan pendapat kebanyakan petugas rumah sakit jiwa dan masyarakat yang menyatakan bahwa gangguan jiwa adalah penyakit seumur hidup yang hanya bisa distabilkan, dirawat dan ditingkatkan kemampuannya, namun tetap menderita sakit jiwa.

Bersambung

Sumber bacaan bisa di download dihttp://nationalempowermentcenter.com/downloads/pace_manual.pdf

Mengatasi gejala waham bagi penderita gangguan jiwa yang tinggal dirumah

Penderita gangguan jiwa kadang mengalami gejala berupa adanya waham (delusi) yaitu ide atau pikiran yang menetap yang sebenarnya tidak sesuai dengan kenyataan. Gejala waham tersebut bisa berupa:

  • Berpikiran bahwa TV atau radio sedang membicarakan dirinya atau mengirimkan pesan khusus kepadanya.
  • Merasa menjadi raja, nabi, tuhan, juru selamat,  dll.
  • Merasa bahwa ada upaya upaya jahat untuk membunuh atau mencelakai dirinya
  • Merasa ada intel atau orang yang mengawasi dan membuntuti dirinya
  • dll.

 Gejala yang kelihatan bila seseorang mempunyai waham, antara lain:

  • Terlihat ketakutan (karena berpikiran ada orang yang akan berbuat jahat kepadanya, dll)
  • Terlihat gelisah, tidak bisa diam
  • Curiga kepada orang lain
  • Gampang tersinggung
  • Jalan muter muter
  • Sibuk dengan pikirannya sendiri
  • Tidak mau melakukan kegiatan rutin atau kegiatan sehari-hari

Cara membantu penderita mengatasi gangguan waham, antara lain dengan:

  • Bila sedang dalam keadaan baik, ajak bicara dan diskusikan tentang hal hal apa yang bisa membuatnya dirinya merasa nyaman dan hal hal apa yang bia dilakukan bersama untuk mengurangi gangguan akibat waham tersebut. 
  • Berikan rasa nyaman dan perlindungan
  • Kurangi rangsangan yang bisa mencetuskan halusinasi (suara TV atau radio yang terlalu keras, teriakan-teriakan, gaduh, banyak orang/ tamu, dll.
  • Identifikasi hal hal yang menjadi pemicu stress. Misalnya: banyak orang/ kerumunan orang di toko atau mall, beradu mulut, dimarahi, dll.
  • Ciptakan hal hal atau kegiatan yang bisa mengalihkannya dari halusinasi, seperti: melakukan kegiatan yang menyenangkan hatinya (bermusik, berkebun, menggambar, dll), melakukan pekerjaan rumah yang ringan, diajak ngobrol, mendengarkan radio atau melihat TV, dll.
  • Latihan teknik relaksasi
  • Hindari pemicu stress seperti berdebat, bergadang/ kurang tidur, dll
  • Minum obat sesuai perintah dokter

Sumber: http://www.hopevancouver.com/Managing_Symptoms_at_Home.html

Pelatihan kognitif untuk mencegah dan mengatasi waham (delusi)

Cognitive-Behavior-Therapy-Workshop-Level-1-018Akhir akhir ini terapi kognitif mulai dilirik lagi. Hal ini terjadi karena, meskipun telah ada obat obat baru anti psikotik, tingkat kesembuhan penderita psikosa belum memuaskan. Sepertinya selain pemberian obat anti psikotik, diperlukan terapi psikososial sebagai tambahan. Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa delusi terjadi karena kelemahan atau kelainan kognitif dari penderita schizophrenia. Sebelum mulai timbul gejala waham, penderita skizofrenia sudah mempunyai kelemahan dalam kognisi maupun kelemahan psikososial lainnya. Ada beberapa kelemahan atau bias kognisi yang sering dijumpai pada penderita skizofrenia, yaitu:

  1. Attributional style. .Bila ada sesuatu kegagalan, penderita skizofrenia jarang menyalahkan lingkungan (misalnya karena hari hujan), atau menyalahkan penyakitnya atau menyalahkan hal tersebut sebagai suatu kebetulan. Penderita skizofrenia cenderung menyalahkan orang lain (misalnya: tetangga). Keadaan ini dalam jangka pendek sepertinya menguntungkan dirinya, namun dalam jangka panjang akan berakibat buruk dalam hubungan sosialnya.Dilain pihak, penderita skizofrenia mempunyai kecnderungan mengklaim suatu keberhasilan sebagai usahanya sendiri.Pola ini sebenarnya juga dijumpai pada non-penderita skizofrenia.Namun pola menyalahkan orang lain dan mengkalim keberhasilan diri ini sangat menonjol pada penderita skizofrenia.
  2. Loncat ke kesimpulan.Pasien skizofrenia cenderung langsung menuju ke kesimpulan dan malas mengumpulkan fakta atau data pendukung. Selain itu, penderita skizofrenia memang mempunyai keterbatasan dalam mengembangkan alternatif penjelasan lain dari suatu kejadian. Penderita skizofrenia juga cenderung bias terhadap bukti/ fakta yang tidak mendukung kesimpulan atau pendapatnya. Merke cenderung bertahan pada pendapatnya meskipun bukti nyata tidak mendukung. Mereka bisa dengan mudah menyimpulkan bahwa seseorang sedang mengawasi dirinya hanya karena orang tersebut memakai kaca mata hitam, misalnya. Penderita skizofrenia sulit mengembangkan penjelasan lain, misalnya: orang tersebut memakai kaca mata hitam dari sinar matahri membuatnya silau dan terasa menyengat.

Dalam pelatihan untuk menormalkan attibutional style ini, penderita diajak untuk berdiskusi tentang suatu kejadian dan kontribusi dari 3 faktor (diri, orang lain dan lingkungan). Kejadian tersebut bisa berupa kejadian nyata yang dialami peserta pelatihan, namun bisa juga kejadian yang bersifat imajiner. Diharapkan melalui pelatihan ini, sedikit demi sedikit, peserta bisa mempunyai pendapat atau penilaian yang seimbang atas suatu kejadian. Misalnya: seorang peserta program ketinggalan bus, meskipun dia sudah mencoba mengejarnya. Peserta diminta mendiskusikan faktor faktor apa yang menyebabkan hal tersebut. Bisa jadi sopir bus tidak melihat, atau sopir bus sedang tidak senang sehingga dia tetap saja menjalankan bus meskipun tahu ada orang yang mengejar. Bisa juga karena ada ketentuan baru bahwa bus harus berangkat tepat waktu. Pada kelemahan kognisi berupa loncat ke kesimpulan, maka peserta diberi gambar berseri (beberapa gambar) yang semakin lama semakin lengkap. Misalnya gambar lengkapnya adalah gambar seekor kodok, namun gambar pertama mirip gambar potongan mangga atau jeruk. Semakin lama gambar tersebut semakin komplit dan mengarah ke gambar seekor kodok. Disini peserta dilatih untuk tidak langsung loncat ke kesimpulan namun diminta mengumpulkan berbagai fakta pendudkung sebelum mengambil kesimpulan.Dalam latihan ini peserta diajak untuk tidak hanya menyalahkan orang lain. Dalam membahas pola kognisi loncat ke kesimpulan ini peserta juga diajak untuk mendiskusikan kejadian nyata atau imajiner. Peserta kemudian diminta untuk menyampaikan fakta fakta yang mendukung kesimpulan yang dia tetapkan. Dengan pelatihan ini diharapkan pola pikir yang tidak sehat bisa sedikit demi sedikit menjadi lebih sehat. Misalnya dalam kaitannya dengan contoh ketinggalan bus tadi, maka peserta diminta mengumpulkan informasi atau mencari informasi yang diperlukan sebelum mengambil kesimpulan.Peserta dilatih agar tidak mengambil kesimpulan hanay berdasar kesan pertama saja.

Saran bagi keluarga dengan skizofrenia

Treat SchizophreniaOrang dengan skizofrenia sering menghadapi tantangan ketika kembali ke keluarga dan  ke teman-teman. Keluarga sering sudah mencoba membantu seseorang yang memiliki skizofrenia dalam jangka waktu lama, tetapi kemudian menjadi frustrasi karena kurangnya kemajuan yang tampak dalam pengobatan atau malahan berhenti dari pengobatan sama sekali. Dukungan emosional suatu keluarga akhirnya mungkin berkurang, dan beberapa keluarga memutuskan semua kontak dengan penderita anak atau saudara yang menderita skizofrenia.Teman juga sering tidak bisa memahami seseorang dengan skizofrenia, dan cepat kehilangan minat untuk melanjutkan persahabatan kepada orang dengan skizofrenia yang mengalami kemunduran atau berhenti dari pengobatan.
Keluhan yang paling umum di antara teman dan anggota keluarga dari orang dengan skizofrenia adalah tidak memahami bagaimana cara untuk membantu mereka, atau memberikan dukungan lanjutan, serta dukungan jangka panjang yang sebetulnya dapat membantu menghindari penderita skizofrena menjadi gelandangan, tunawisma atau menganggur.
Sistem pendukung (support sistem) dari seorang penderita skizofrenia dapat berasal dari beberapa sumber, termasuk keluarga, penyedia program perumahan profesional, operator tempat tinggal, teman atau teman sekamar, manajer kasus profesional (case manager), masjid dan gereja, dan lainnya. Karena banyak pasien hidup dengan keluarga mereka, pembahasan berikut sering menggunakan istilah “keluarga.” Namun, ini tidak harus diambil kesimpulan bahwa keluarga seharusnya menjadi sistem pendukung utama.
Ada situasi di mana banyak orang dengan skizofrenia mungkin perlu bantuan dari orang dalam keluarga mereka atau masyarakat. Seringkali, orang dengan skizofrenia akan menolak pengobatan, percaya bahwa delusi atau halusinasi adalah nyata dan bahwa bantuan psikiater tidak diperlukan. Pada saat ini, keluarga atau teman mungkin perlu untuk mengambil peran aktif dalam  membantu mereka agar bisa diobati oleh seorang profesional.
6 Tips untuk Membantu Anggota Keluarga dan Teman dengan skizofrenia
  1. Anggota keluarga terdekat atau teman harus menjadi penyambung lidah orang dengan skizofrenia. Kadang-kadang hanya keluarga atau orang  dekat dengan penderita skizofrenia yang tahu tentang perilaku atau ide aneh yang muncul dari penderita skizofrenia.  Karena pasien mungkin tidak secara sukarela bersedia memberi  informasi tersebut selama pemeriksaan oleh dokter, anggota keluarga atau teman harus bertanya dan berbicara dengan pasien sehingga semua informasi yang relevan dapat dipertimbangkan oleh dokter.
  2.  Memastikan pasien patuh terus dengan pengobatan, terutama ketika baru keluar  dari rawat inap. Penting untuk memastikan bahwa orang dengan skizofrenia terus mendapatkan perawatan setelah keluar dari rawat inap. Seorang pasien yang menghentikan obat, sering menyebabkan kembalinya gejala psikotik.
  3. Berikan dorongan emosional yang kuat dan dukungan untuk melanjutkan pengobatan.Mendorong orang untuk melanjutkan pengobatan dan membantu dia dalam melaksanakan perintah pengobatan dapat mempengaruhi pemulihan. Tanpa pengobatan, beberapa orang dengan skizofrenia menjadi begitu psikotik dan tidak terorganisir sehingga mereka tidak dapat merawat kebutuhan dasar mereka, seperti makanan, pakaian dan tempat tinggal. Terlalu sering, orang dengan penyakit mental yang berat seperti skizofrenia berakhir di jalanan atau di penjara, di mana mereka jarang menerima jenis-jenis pengobatan yang mereka butuhkan.
  4. Tahu cara merespon pernyataan aneh atau waham.Mereka yang dekat dengan penderita skizofrenia sering tidak yakin bagaimana caranya merespon ketika pasien membuat pernyataan yang tampaknya aneh atau jelas palsu. Untuk individu dengan skizofrenia, kepercayaan aneh (waham) atau halusinasi tampaknya benar benar nyata – bukan hanya “fantasi imajiner” mereka.  Daripada “langsung menyetujui atau mendukung” delusi seseorang, anggota keluarga atau teman-teman dapat memberitahu kepada yang bersangkutan bahwa mereka tidak melihat hal tersebut  atau tidak setuju dengan kesimpulannya, sementara mengakui bahwa hal tersebut dirasa benar atau riel oleh pasien.Sangat penting untuk diingat bahwa sebaiknya tidak menantang keyakinan (waham) seseorang. Bagi mereka hal tersebut sangat nyata dan tidak ada gunanya berdebat dengan mereka tentang delusi atau keyakinan palsu tersebut.Sebaliknya, pindahkan topik pembicaraan bersama ke  topik di mana Anda berdua bisa sepakat.
  5. Buat dan simpan catatan. Sangat berguna  untuk menyimpan catatan tentang jenis gejala telah muncul, obat (termasuk sediaan) yang diminum, dan efek samping berbagai pengobatan.Dengan mengetahui gejala apa yang telah muncul sebelumnya, anggota keluarga mungkin lebih tahu apa yang harus dilakukan di masa depan. Keluarga bahkan mungkin dapat mengidentifikasi beberapa “tanda-tanda peringatan dini” kemungkinan kambuh, seperti mengurung diri atau perubahan pola tidur, bahkan lebih baik dan lebih awal dari pasien sendiri. Dengan demikian, kekambuhan psikosis dapat dideteksi dini dan dilakukan pengobatan untuk mencegah kambuh. Juga, dengan mengetahui obat yang telah membantu dan yang menyebabkan efek samping merepotkan di masa lalu, keluarga dapat membantu mereka merawat pasien untuk mencari perawatan yang terbaik dengan lebih cepat.
  6. Membantu penderita mencapai tujuan sederhana dalam hidupnya.Selain keterlibatan dalam mencari bantuan, keluarga, teman dan kelompok sebaya (peer group) dapat memberikan dukungan dan mendorong orang dengan skizofrenia untuk mendapatkan kembali kemampuannya. Adalah penting untuk menetapkan  tujuan dapat dicapai, karena seorang pasien akan merasa tertekan atau berulang kali dikritik oleh orang lain mungkin akan mengalami stres yang dapat menyebabkan perburukan gejala. Seperti orang lain, orang dengan skizofrenia perlu tahu kapan mereka melakukan hal yang benar. Pendekatan positif dapat membantu dan mungkin lebih efektif dalam jangka panjang daripada kritik. Nasihat ini berlaku untuk semua orang yang berinteraksi dengan penderita gangguan jiwa.

Gejala skizofrenia

Skizofrenia adalah penyakit mental yang menyerang banyak orang. Sekitar satu dari setiap 100 orang (1 persen) mengalami gangguan tersebut pada beberapa waktu dalam kurun hidupnya. Hal ini terjadi di setiap negara, setiap kebudayaan, setiap kelompok ras, dan setiap tingkat pendapatan.

Skizofrenia menyebabkan gejala yang dapat mengganggu banyak aspek kehidupan masyarakat-terutama pekerjaan dan kehidupan sosial. Beberapa gejala membuatnya sulit untuk mengetahui apa yang nyata dan apa yang tidak nyata. Gejala ini telah digambarkan sebagai orang yang mirip dengan “bermimpi ketika anda terjaga”. Gejala skizophrenia yang lain dapat menyebabkan masalah dengan motivasi, konsentrasi, dan kesenangan atau kenikmatan.
Untungnya, ada banyak alasan untuk bersikap optimis tentang masa depan penderita skizofrenia:

  • Pengobatan yang efektif untuk skizofrenia ada.
  • Orang dengan skizofrenia dapat belajar untuk mengelola penyakit mereka.
  • Orang dengan skizofrenia dapat menjalani kehidupan yang produktif.
  • Semakin seseorang memahami tentang penyakitnya dan mengambil peran aktif dalam perawatan penyakitnya, semakin baik  perasaan anda dan akan semakin mudah mencapai tujuan pemulihan.

Perlu diketahui bahwa gejala skizofrenia dapat ditemukan pada gangguan mental lainnya. Diagnosis skizofrenia didasarkan pada kombinasi gejala yang berbeda, tingkat keparahan, dan berapa lama gejala tersebut telah ada. Gejala yang terjadi hanya ketika seseorang telah menggunakan alkohol atau obat-obatan tidak termasuk dalam gejala skizofrenia.

Gejala Skizofrenia

  • Halusinasi
  • Delusi
  • Gangguan pemikiran
  • Perilaku tidak teratur atau katatonik
  • Gejala negatif  (kekurangan energi, tidak tertarik pada kegiatan yang menimbulkan perasaan senang, kekurangan motivasi atau emosional

Halusinasi adalah persepsi palsu-orang mendengar, melihat, merasakan, atau mencium sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Mendengar suara adalah jenis yang paling umum dari halusinasi. Beberapa suara mungkin menyenangkan, tetapi sering suara tersebut tidak menyenangkan dengan mengatakan sesuatu yang jelek atau memanggil manggil seseorang.

Ketika orang mendengar suara-suara, tampaknya seolah-olah suara tersebut benar benar masuk melalui telinga mereka dan suara suara seperti suara manusia lainnya.   Suara-suara tersebut terdengar sangat nyata.

Beberapa contoh:

  • Sebuah suara terus mengkritik saya dan mengatakan bahwa saya adalah orang yang buruk atau jahat.
  • Kadang-kadang saya mendengar dua suara berbicara tentang saya dan mengomentari apa yang saya lakukan.

Banyak orang juga mengalami halusinasi visual, yang melibatkan melihat hal-hal yang tidak ada.

Beberapa contoh:

  • Setelah saya melihat singa berdiri di ambang pintu kamar tidur saya. Ia tampak begitu nyata.
  • Saya pikir saya melihat api datang di jendela. Tidak ada orang lain yang telah melihatnya.

Delusi adalah keyakinan palsu-orang memiliki keyakinan yang kuat yang dipegang teguh dan tak tergoyahkan, bahkan ketika bukti bertentangan dengan hal tersebut diberikan atau ditunjukkan. Delusi tampak sangat nyata bagi orang mengalaminya, tetapi mereka tampaknya tidak mungkin dan tidak benar bagi orang lain. Satu khayalan yang umum dijumpai adalah percaya bahwa ada orang lain yang ingin menyakiti Anda padahal kenyataannya hal tersebut tidak benar. Hal ini disebut delusi paranoid.

Khayalan yang sering dijumpai lainnya adalah percaya bahwa Anda memiliki kekuatan khusus, bakat, atau kekayaan. Delusi lainnya termasuk percaya bahwa orang lain atau kekuatan bisa mengendalikan pikiran atau tindakan atau percaya bahwa orang lain merujuk kepada Anda atau berbicara tentang Anda.

Beberapa contoh:

  •  Saya yakin bahwa TV sedang berbicara tentang aku.
  •  Saya percaya bahwa saya adalah sangat fantastis, meskipun saldo di rekening bank saya tidak memperlihatkan hal tersebut.
  • Saya berpikir bahwa orang membaca pikiranku.
  • Tidak peduli apa kata dokter, saya yakin bahwa saya memiliki parasit.

Gejala skizofrenia lainnya adalah berupa gangguan pikiran yaitu adanya kebingungan dalam berpikir. Gejala ini membuat penderita skizofrenia sulit untuk tetap pada topic yang sedang dibicarakan, sulit dalam menggunakan kata-kata yang benar, sulit membentuk kalimat lengkap, atau sulit berbicara dengan cara yang terorganisir sehingga orang lain dapat mengerti.

Beberapa contoh:

  • Orang bilang aku melompat dari topik ke topik. Mereka bilang saya tidak masuk akal.
  • Aku menggunakan kata-kata untuk menjelaskan sesuatu hal kepada saudara saya, tapi ia mengatakan ia tidak mengerti apa yang saya katakan.
  • Aku akan berbicara dan tiba-tiba aku akan berhenti di tengah pikiran dan tidak bisa melanjutkan. Rasanya seperti ada sesuatu yang menghalangi pikiran saya.

Perilaku tidak teratur atau katatonik mengacu pada dua ekstrim yang berbeda dari perilaku-baik relatif jarang.

Perilaku tidak teratur adalah perilaku yang muncul secara acak atau tanpa tujuan kepada orang lain. Contoh perilaku tidak teratur: Aku menghabiskan waktu sehari penuh membawa semua panci dan wajan dari dapur ke ruang bawah tanah ke kamar mandi lalu kembali ke dapur. Lalu aku akan mulai melakukan hal tersebut dari awal lagi.

Perilaku katatonik mengacu pada ketika seseorang berhenti melakukan hampir semua gerakan dan tidak bergerak (atau hampir sepenuhnya tidak bergerak) untuk jangka waktu yang lama. Contoh dari perilaku katatonik: Saya tidak ingat ini, tapi saudara saya mengatakan  kepada saya bahwa sebelum saya mulai mendapatkan pengobatan, saya biasa duduk di kursi yang sama selama berjam-jam.  Saya tidak akan bergerak,  bahkan untuk mengambil segelas air.

Gejala negatif adalah kurangnya energi, motivasi, dan ekspresi kesenangan. Gejala negatif menyebabkan orang mengalami masalah dalam memulai dan membuat rencana serta melakukan tindak lanjut dengan rencana tersebut. Gejala negative menyebabkan mereka tidal lagi tertarik dan tidak lagi bisa menikmati hal hal yang dahulunya mereka sukai. Juga mereka kesulitan dalam mengekspresikan emosi mereka kepada orang lain melalui ekspresi wajah dan nada suara.

Kadang gejala ini dapat disertai dengan perasaan sedih, sering juga tidak. Beberapa orang mungkin menganggap gejala ini merupakan tanda kemalasan, padahal sebenarnya bukan begitu.

Beberapa contoh:

  • Aku tidak lagi peduli tentang penampilanku. Aku bahkan berhenti mandi.
  • Sangat sulit bagiku untuk memulai percakapan dengan orang, bahkan ketika sebenarnya aku menyukai mereka.
  • Saya tidak punya energi untuk pergi bekerja atau pergi dengan teman atau menindaklanjuti suatu rencana.
  • Hal-hal yang dulu menyenangkan, seperti bowling, tampaknya tidak lagi menyenangkan.
  • Orang-orang memberitahu saya bahwa mereka tidak tahu apa yang saya rasakan. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak bisa membaca ekspresi saya. Bahkan saat saya masih tertarik pada apa yang mereka katakan, mereka pikir aku bosan atau tidak tertarik.

Kesulitan kognitif:

Orang dengan skizofrenia mungkin juga mengalami kesulitan kognitif. Kesulitan kognitif adalah masalah dengan konsentrasi, memori, dan penalaran abstrak. Ini berarti bahwa orang mungkin memiliki masalah dalam memperhatikan, mengingat sesuatu, dan memahami suatu konsep.

Beberapa contoh:

  • Aku kesulitan berkonsentrasi ketika membaca atau menonton TV.
  • Saya tidak bisa mengingat rencana atau janji.
  • Saya kesulitan untuk mengerti ide-ide abstrak

Penurunan fungsi sosial atau pekerjaan

Gejala-gejala skizofrenia dapat menyebabkan seseorang mengalami penurunan fungsi sosial atau pekerjaan. Penurunan fungsi sosial atau pekerjaan berarti menghabiskan banyak waktu kurang bersosialisasi dengan orang lain atau tidak mampu bekerja atau pergi ke sekolah. Gejala ini sangat penting karena harus ada atau muncil selama minimal 6 bulan sebelum diagnosis skizofrenia dapat ditegakkan. Hal ini juga penting karena memiliki dampak besar pada kemampuan orang untuk melakukan peran mereka dalam berbagai bidang seperti merawat diri, merawat anak-anak mereka, atau tanggung jawab rumah tangga mereka.

Beberapa contoh:

  • Aku merasa menjadi sangat tidak nyaman untuk menghabiskan waktu dengan orang. Aku dulu senang sekali pergi jalan jalan dengan teman-teman, kemudian aku mulai  takut dan kemudian aku mulai menghindari pergi dengan teman setiap kali aku bisa menghindar.
  • Aku tidak bisa memasak dan membersihkan dapur lagi. Tugas rumah tangga sehari-hari menjadi benar-benar suatu yang luar biasa sulit bagi saya.

Pekerjaan adalah sangat penting bagi saya, tetapi menjadi semakin sulit mungkin melakukannya. Saya mencoba dengan sangat keras, tapi saya mengalami kesulitan dengan tugas yang paling dasar sekalipun. Sangat sulit bagi saya untuk menjelaskan hal ini kepada siapa pun.