Prinsip prinsip pemulihan gangguan jiwa yang disusun oleh bekas penderita (2)

Beberapa prinsip pemulihan gangguan jiwa menurut Laurie Ahern dan Daniel Fisher:

  • Seseorang bisa pulih sepenuhnya dari gangguan jiwa yang paling berat sekalipun.
  • Seseorang dapat dan sangat memerlukan interaksi/ koneksi emosional dengan orang orang  lain, terutama ketika mengalami stress.
  • Saling percaya (trust) adalah tonggak dari pemulihan
  • Orang orang yang mempercayai (believe) anda, dapat membantu anda dalam proses pemulihan
  • Agar bisa pulih, seseorang harus dapat melaksanakan mimpi mimpinya (cita-citanya).
  • Ketidak-percayaan akan mendorong terjadinya pemaksaan dan kontrol yang bisa menghalangi proses pemulihan
  • Sikap bertanggung jawab  dan berani menentukan nasibnya sendiri sangat penting bagi pemulihan
  • Seseorang yang menderita gangguan jiwa harus percaya bahwa dirinya bisa pulih dari gangguan jiwa, begitu pula dengan orang orang yang ada disekitarnya juga harus percaya.
  • Penghormatan dan penghargaan sangat penting dalam pemulihan
  • Semua yang telah kita pelajari tentang pentingnya hubungan/ keterkaitan sosial (social connectedness) berlaku untuk orang normal dan berlaku juga penderita gangguan jiwa.
  • Adanya perasaan aman secara emosional sangat penting agar seseorang dapat mengungkapkan perasaan atau emsoinya, dan hal ini penting bagi pemulihan.
  • Memahami arti dari pengalaman kejiwaan selama mengalami stress akan membantu proses pemulihan.

bersambung

Salurkan CSR (corporate social responsibility), zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirtojiwo 

Prinsip prinsip pemulihan gangguan jiwa yang disusun oleh bekas penderita (1)

Dan Fisher adalah seorang dokter spesialis kesehatan jiwa (psikiater), dan doktor (S3) dalam bidang biokimia. Ketika berumur 25 tahun, dia didiagnosa dengan skizofrenia dan pernah beberapa kali dirawat di rumah sakit jiwa. Namun Dan Fisher mampu mengatasi penyakitnya.

Kini, Dan Fisher bekerja sebagai direktur National Empowerment Center dan anggota White Hose New Freedom Commission on Mental Health, penasehat  president AS dalam bidang kesehatan jiwa.

Laurie Ahern pernah menderita sakit jiwa ketika berumur 19 tahun. Laurie juga mampu mengatasi penyakitnya.

Saat ini, Laurie bekerja sebagai managing editor beberapa koran dan penulis lepas di Boston Globe dan Associated Press. Dia juga menjabat sebagai associate director Mental Disability Right International serta beberapa jabatan lainnya.

Mereka berdua pernah didiagnosa dengan schizophrenia. Oleh karena itu, pemikiran mereka tentang schizophrenia dan bagaimana mengatasi penyakit tersebut jadi sangat menarik untuk kita pelajari.

Berikut ini ringkasan dari pemikiran mereka tentang pemulihan dari gangguan jiwa berat.

Berbeda dengan pendapat banyak psikiater yang berkeyakinan bahwa penderita gangguan jiwa tidak bisa pulih atau sembuh. Menurut Laurie Ahern dan Dan Fisher, penderita gangguan jiwa bisa pulih, asalkan mereka mendapatkan dukungan dan perlakuan yang tepat. Pendapat mereka berbeda dengan pendapat kebanyakan petugas rumah sakit jiwa dan masyarakat yang menyatakan bahwa gangguan jiwa adalah penyakit seumur hidup yang hanya bisa distabilkan, dirawat dan ditingkatkan kemampuannya, namun tetap menderita sakit jiwa.

Bersambung

Salurkan CSR (corporate social responsibility), zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirtojiwo 

Pengobatan schizophrenia (2)

Gambar terkaitObat obat anti psikotik lama, sering mempunyai efek samping yang menganggu gerak tubuh. Obat obat anti psikotik lama antara lain:

  • Chlorpromazine
  • Fluphenazine
  • Haloperidol (Haldol)
  • Perphenazine

Obat anti psikotik lama tersebut sangat murah, khususnya obat generiknya. Hal tersebut perlu dipertimbangkan untuk pengobatan jangka lama.

Biasanya diperlukan waktu beberapa minggu sebelum obat anti psikotik memberikan dampak pada perbaikan gejala. Tujuan utama pengobatan adalah menekan tanda dan gejala schizophrenia dengan dosis serendah mungkin.

Selain dengan obat obatan, untuk mendukung pemulihan penderita schizophrenia juga memerlukan terapi psikososial, seperti:

  • social skills training yang fokusnya pada pelatihan ketrampilan komunikasi dan interaksi sosial
  • family therapi (terapi keluarga) dengan memberi informasi kepada keluarga tentang caranya mendukung pemulihan penderita schizophrenia
  • vocational rehabilitation dan supported employment, dimana pelatihan kerja diberikan dan juga dukungan psikososial selama sang penderita bekerja
  • individual therapy dimana penderita belajar tentang cara mencegah kambuh dan belajar mengatasi penyakitnya.

Di negara negara maju, masyarakat juga mengembangkan program yang menggarap masalah pekerjaan, perumahan, self-help group, dall. Diharapkan Tirto Jiwo, yang saat ini sedang dalam proses pembangunan, akan bisa memberikan berbagai terapi psikososial dan sekaligus mengembangkan self-help group.

Salurkan CSR (corporate social responsibility), zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirtojiwo

Pengobatan schizophrenia

Schizophrenia merupakan penyakit menahun/ khronis, seperti juga dengan penyakit darah tinggi atau gula darah, yang memerlukan pengobatan jangka panjang meskipun gejala sudah menghilang atau berkurang. Pengobatan dengan minum obat dan psikoterapi akan dapat membuat penderita schizophrenia mengendHasil gambar untuk schizophreniaalikan penyakitnya. Pada saat krisis atau kambuh parah, perawatan di rumah sakit sering diperlukan sehingga penderita bisa tetap mendapat nutrisi, tidur dan penanganan kebersihan diri yang baik.

Pengobatan schizophrenia memerlukan penanganan dari psikiater. Penanganan pasien schizophrenia sering memerlukan berbagai keahlian, seperti psikiater, perawat jiwa, psikolog, pekerja sosial.
Obat obatan merupakan kunci utama pengobatan schizophrenia. Hanya saja, pemberian obat tersebut kadang memberikan efek samping yang tidak enak sehingga membuat penderita malas minum obat. Obat obat anti psikotik biasanya yang diberikan dokter kepada pasien schizophrenia. Obat obat tersebut mengendalikan gejala dengan melalui pengaruhnya terhadap neurotransmitter serotonin dan dopamin. Kesediaan penderita untuk bekerja sama dalam pengobatan akan memudahkannya untuk pulih. Penderita yang tidak mau minum obat perlu diobati dengan suntikan. Penderita yang gelisah (agitated) mungkin memerlukan pemberian benzodiazepine, seperti lorazepam (Ativan) ) agar bisa tenang selain diberikan obat anti psikotik juga.

Obat antipsikotik atypical adalah obat obat anti psikotik baru biasanya lebih disukai karena lkurang dalam membuat pasien menjadi lemah atau tidak bertenaga. beberapa obat anti psikotik atypical adalah:

  • Aripiprazole (Abilify)
  • Clozapine (Clozaril, Fazaclo ODT)
  • Olanzapine (Zyprexa)
  • Paliperidone (Invega)
  • Quetiapine (Seroquel)
  • Risperidone (Risperdal)
  • Ziprasidone (Geodon)

Bersambung

Salurkan CSR (corporate social responsibility), zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirtojiwo

Psikoedukasi bagi skizophrenia (2)

Orang orang dibawah ini mempunyai resiko terkena schizophrenia yang lebih besar:

  • hidup menyendiri
  • hidup susah (unsatisfactory living conditions)family fighting
  • memakai obat terlarang

Sedangkan kemampuan perlindungan diri yang bisa membentengi diri dari terkena schizophrenia, antara lain:

  • kemampuan atau ketrampilan dalam mengatasi stress dan masalah
  • dukungan sosial atau persahabatan
  • pola mencari bantuan yang tepat, misalnya tidak lari ke dukun
  • minum obat sesuai perintah dokter (bagi yang sudah sakit).

Meskipun mempunyai kerentanan genetis, namun bila hidupnya tidak penuh stress atau mempunyai kemampuang mengatasi masalah dan bisa mengendalikan rasa frustasi, maka seseorang bisa terhindar dari schizophrenia. Bagi yang sudah terkena, hal yang penting ditanamkan adalah perlunya minum obat sesuai petubjuk dokter, mengendalikan stress, belajar meningkatkan ketrampilan mengatasi masalah dan membangun jaringan persaudaraan dan pertemanan yang mendukung.

Salurkan CSR (corporate social responsibility), zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirtojiwo

Psikoedukasi bagi penderita schizophrenia

Hasil gambar untuk psychoeducation for schizophreniaPenderita schizophrenia tidak hanya memerlukan obat agar bisa pulih. Mereka juga memerlukan psychoeducation, sehingga mereka bisa memahami tentang penyakitnya dan secara pro-aktif berusaha bersama dengan dokter untuk memulihkan kesehatan dirinya.

Pada penderita schizophrenia, pemahaman penyakitnya dengan pendekatan stress-vulnerability model biasanya sangat cocok. Adanya faktor biologis mendorong mereka untuk mengikuti petunjuk dokter dalam minum obat dan memahami faktor resiko serta pencetus sehingga mereka berusaha menghindarinya.

Pada penderita schizophrenia sering ditemui faktor yang membuat rentan terkena schizophrenia, yaitu:

  • genetic vulnerability, faktor genetika/ keturunan berupa riwayat keluarga dengan gangguan jiwa
  • bilogic vulnerability, faktor biologis yang bisa berupa infeksi pada kehamilan, trauma pada waktu lahir, penyakit atau kekurangan gizi, dll.
  • life stress vulnerability, yaitu rasa kurang percaya diri, toleransi yang rendah terhadap rasa frustasi, umur remaja atau dewasa muda.

Beberapa penderita schizophrenia juga mempunyai life stress factor, yaitu riwayat hidup yang penuh tekanan, seperti:

  • pengalaman  hidup akhir akhir ini yang sengsara atau penuh duka cita
  • post traumatic stress disorder yang banyak diderita tentara Amerika sekembalinya dari perang di Afghanistan
  • mempergunakan obat terlarang seperti amphetamine, ecstasy
  • gangguan tidurpelecehan seksual, dll

Bersambung

Salurkan CSR (corporate social responsibility), zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirtojiwo

Pemeriksaan dan diagnosa schizophrenia

Hasil gambar untuk schizophreniaBila dokter menduga bahwa seseorang menderita schizophrenia, dia akan menanyakan adanya  riwayat penyakit badan dan kejiwaannya, melakukan pemeriksaan badan, melakukan test medis dan psikologis. Beberapa pemeriksaan yang mungkin dilakukan:

  • Pemeriksaan laboratorium, seperti pemeriksaan darah dan skrining ada tidaknya kecanduan obat bius yang sering memberikan gejala yang sama dengan schizophrenia. Dokter juga bisa melakukan pemeriksaan CT Scan dan MRI otak,  untuk mengetahui ada tidaknya kelainan di otak.
  • Pemeriksaan psikologis. Dokter akan menanyakan tentang pikiran, perasaan, ada tidaknya waham (delusion), sikap/ perilaku, keinginan untuk bunuh diri atau melakukan kekerasan.

Kriteria diagnosa schizophrenia mengikuti Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) yang dikeluarkan oleh American Psychiatric Association. Dokter perlu menyingkirkan penyebab lain dari gejala yang ada pada pasien, seperti karena kecanduan obat bius, minum obat obatan tertentu atau karena adanya penyakit tertentu.

  • Penderita setidaknya mempunyai 2 atau lebih gejala yang sering muncul pada penderita schizophrenia, yaitu: waham, halusinasi, bicara tidak teratur, perilaku tak terarah atau katatonik, atau adanya gejala negatif yang cukup menonjol dalam sebulan terakhir.
  • Mengalami penurunan kemampuan kerja, sekolah atau dalam mengerjakan kegiatan sehari-hari
  • Gejalanya menetap selama setidaknya 6 bulan.
Ada beberapa sub-tipe schizophrenia, 5 sub-tipe yang paling sering:
  • Paranoid, ditandai dengan menjolnya waham dan halusinasi. Termasuk sub-tipe yang paling sedikit mengalami gangguan fungsi sehingga paling gampang pulih.
  • Katatonik, jenis ini jarang berinteraksi dengan orang lain, melakukan kegiatan tanpa arah yang jelas, atau berdiri atau duduk dalam posisi aneh selama berjam-jam.
  • Disorganized (tak terorganisir), gejala yang menonjol adalah pikiran yang tidak tertata dan ekspresi emosi yang tidak tepat (inappropriate). Sub-tipe ini yang paling banyak mengalami kerusakan fungsi sehingga merupakan jenis yang paling sulit pulih secara sempurna.
  • Undiffentiated. Dimana gejalanya merupakan campuran dari beberapa subtipe, merupakan jenis yang paling banyak.
  • Residual. Jenis ini mempunyai gejala positif yang tidak muncul dalam waktu lama, namun gejala lain tetap ada.

Salurkan CSR (corporate social responsibility), zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirtojiwo

Penyebab dan faktor resiko schizophrenia

Hingga sekarang penyebab schizophrenia secara pasti belum diketahui. Para ahli Hasil gambar untuk schizophrenia bahwa penyebabnya kemungkinan merupakan kombinasi dari faktor biologis dan lingkungan.

Gangguan yang terjadi pada kimia di otak, seperti pada neurotransmitters dopamine and glutamate sepertinya berpengaruh terhadap timbulnya schizophrenia. Gambaran neuroimaging dari otak juga menunjukkan adanya kelainan biologis otak pada penderita schizophrenia.

Meskipun penyebab pasti schizophrenia belum diketahui, namun ada beberapa faktor yang meningkatkan resiko terkena schizophrenia, yaitu:

  • Mempunyai riwayat keluarga dengan schizophrenia
  • Terkena serangan virus, toxin atau malnutrisi, terutama pada kehamilan trimester satu dan trimester dua.
  • Lingkungan hidup yang sangat menekan (stressful)
  • Orang tua yang telah berumur.
  • Minum obat psikoaktif dimasa remaja atau dimasa dewasa muda.

Bila dibiarkan tanpa pengobatan, schizophrenia bisa menimbulkan kompilkasi seperti:

  • Bunuh diri,
  • Perilaku yang mencederai diri sendiri,
  • depresi,
  • kecanduan alkohol dan obat bius,
  • kemiskinan,
  • gelandangan,
  • konflik keluarga,
  • ketidak mampuan pergi sekolah atau bekerja,
  • gangguan kesehatan sebagai efek samping obat anti psikotik yang diminum,
  • menjadi korban kejahatan,
  • terkena penyakit jantung terutama karena akibat menjadi perokok berat.

Salurkan CSR (corporate social responsibility), zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirtojiwo

Cara memulihkan diri dari schizophrenia

Hasil gambar untuk schizophreniaAKHIR AKHIR INI BANYAK PENELITIAN MENUNJUKKAN BAHWA PENDERITA SCHIZOPHRENIA BISA PULIH. MESKIPUN DEMIKIAN, PEMULIHAN TERSEBUT MERUPAKAN SUATU PROSES ATAU PERJALANAN PANJANG YANG KADANG ADA PASANG SURUTNYA. FAKTA BARU MENUNJUKKAN BAHWA:

  • schizophrenia bisa diobati dan dipulihkan. Meskipun belum ada obat untuk menyembuhkannya, schizophrenia bisa dipulihkan. Hanya saja perlu pengobatan dan dukungan orang orang dekatnya.
  • schizophrenia bisa menjalani hidup dengan berarti dan bahagia. Dengan penanganan yang baik, penderita schizophrenia bisa bekerja dan bermasyarakat serta hidup bermanfaat dan bahagia.
  • schizophrenia tidak harus tinggal di rumah sakit. Dengan minum obat dan melakukan upaya agar tidak kambuh, penderita schizophrenia bisa terhindar dari kambuh yang memerlukan perawatan di rsj.
  • Dengan berjalannya waktu, penderita schizophrenia menjadi semakin baik, tidak memburuk.

Menurut UK Royal College of Psychiatrist, dari setiap 5 pasien dengan schizophrenia, maka: 1 orang akan pulih dalam waktu 5 tahun sejak serangan pertama, 3 orang akan pulih, namun kadang kambuh, dan 1 orang akan mengalami gangguan secara berkelanjutan.

Dibawah ini ada beberapa cara untuk mengatasi schizophrenia:

  1. Mengupayakan  pemulihan dirinyaa secara aktif dan bertanggung jawab. Bila kita tahu diri kita atau seseorang menderita schizophrenia, segeralah berobat. Semakin cepat berobat semakin baik hasilnya. Penderita gangguan jiwa bisa pulih dan itu yang harus tetap dipegang oleh si penderita maupun keluarga atau orang orang dekatnya.
  2. Ciptakan lingkungan yang mendukung. Adanya lingkungan yang mendukung sangat penting bagi pemulihan. Keluarga, saudara atau teman dekat dapat menjadi pendukung dengan mencarikan dokter, mengendalikan gejala dan membimbing agar bisa kembali bermasyarakat. Upayakan agar selalu bergaul dan bermasyarakat,  jangan hidup menyendiri.
  3. Upayakan untuk mengikuti pola hidup sehat. Berolah raga secara teratur, tidur yang cukup (8 jam sehari), hindari alkohol atau obat terlarang, kendalikan stress dan lakukan hal hal positif yang menyenangkan (musik, melukis, menulis puisi, dll)
  4. Minum obat sesuai petunjuk dokter. Jenis dan dosis obat bervariasi bagi masing masing individu sehingga perlu kerja sama dgn dokter dalam penentuan jenis obat dan dosisnya. Pelajarilah obat gangguan jiwa dan efek sampingnya. Perlu diingat bahwa obat tidak menyembuhkan schizophrenia, tapi menekan gejalanya sehingga berhenti minum obat sering menimbulkan kambuh.
  5. Upayakan untuk bermasyarakat. Upayakan untuk bisa kerja dan melakukan kegiatan kemasyarakatan. Nantinya, Tirto Jiwo akan memberi bekal kepada penderita gangguan jiwa agar bisa mandiri secara keuangan dengan memberikan pelatihan kerja secara praktis.

Salurkan CSR (corporate social responsibility), zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirtojiwo

 

Bunuh diri (9): pertolongan dan dukungan

Hasil gambar untuk bunuh diriBerikut ini beberapa saran bila anda ingin menolong orang yang berniat bunuh diri:

  • Bantu untuk mendapatkan pertolongan ahli. Upayakan sebisa mungkin untuk menolong seseorang yang berniat bunuh diri. Dorong agar yang bersangkutan bersedia ke psikiater dan bantu untuk mendapatkan pertolongan dari para ahli kesehatan jiwa.
  • Tindak lanjut pengobatan. Bila saudara atau teman yang berniat bunuh diri mendapat obat dari dokter, upayakan agar yang bersangkutan bersedia minum obat sesuai ketentuan yang diberikan dokter. Perhatikan adanya efek samping obat dan beri tahu dokter bila keadaan saudara/ teman anda tersebut terlihat memburuk. Sering diperlukan waktu untuk bisa menentukan jenis obat dan dosis yang tepat.
  • Bertindak pro-aktif. Orang yang berniat bunuh diri sering tidak lagi percaya bahwa akan ada yang bisa menolongnya. Untuk itu, anda harus lebih pro-aktif dalam memberikan pertolongan. Kata kata seperti:” Telpon saya bila kamu perlu sesuatu” tidaklah tepat. Anda perlu lebih pro-aktif dengan menelponnya, menjenguknya dan mengajaknya jalan jalan keluar.
  • Dorong agar mengubah pola hidupnya. Dorong agar teman atau saudara tersebut  bisa tidur cukup dan teratur, makan makanan yang sehat, berolah raga, keluar rumah selama setidaknya 30 menit per hari.
  • Buat rencana keselamatan. Buat rencana keselamatan dan diminta agar yang bersangkutan berjanji untuk menjalankannya. Dalam rencana keselamatan tersebut perlu diidentifikasi hal hal yang mencetuskan keinginannya untuk bunuh diri, seperti: setiap ulang tahun kehilangan (kematian istrinya, rumah terbakar, dll), bertengkar, minum alkohol, dll. Upayakan juga diidentifikasi hal hal yang bisa membantu untuk mencegahnya meneruskan niatnya, seperti daftar nama teman atau saudara yang bisa diajak bicara, dokter yang bisa dihubungi, dll.
  • Singkirkan alat alat bantu bunuh diri. Singkirkan pisau, tali, senjata, obat, racun tikus, dll yang bisa dipakai untuk bunuh diri.
  • Teruskan dukungan anda sampai cukup waktu. Meskipun sudah berlalu, upayakan untuk tetap kontak dengan yang bersangkutan. Secara periodik kunjungi dirinya dan ajak untuk bersosialisasi. Dukungan tersebut diperlukan agar tema atau saudara anda tersebut tetap dalam jalur pemulihan.

Referensi: http://www.helpguide.org/mental/suicide_prevention.htm

Salurkan CSR (corporate social responsibility), zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirtojiwo