Penyebab kegagalan: perilaku ke-kanak kanakan atau tidak dewasa (8)

ProjectionTulisan ini merupakan kelanjutan artikel sebelumnya

Bentuk lain dari perilaku kekanak-kanakan adalah melakukan proyeksi, yaitu menempatkan pemikiran, ide atau perilaku yang tidak baik yang dipunyai oleh dirinya dan ditempatkan pada orang lain.

Proyeksi adalah bentuk awal atau bentuk primitif dari paranoia. Bila dibiarkan berkembang, proyeksi bisa berkembang menjadi paranoia.

Ada banyak contoh perilaku proyeksi disini. Misalnya:

  • Ketika dia menaksir sekretarisnya (padahal dirinya sudah beristri), maka dia akan mengatakan kepada orang lain bahwa sang sekretaris menaksir dirinya
  • Seorang yang tidak naik pangkat karena tidak berprestasi, kemudian berkelit bahwa dia tidak naik pangkat/ jabatan karena teman temannya iri atau tidak suka dengan dirinya.
  • Orang yang sering bilang bahwa teman temannya tidak menyukai atau membenci dirinya. Padahal dalam kenyataannya, orang tersebut yang sulit bergaul atau tidak bisa membaur dengan teman temannya di kantor.
  • Orang yang punya kelemahan fisik (misalnya kegemukan), dan kemudian sering mengkritik atau mengomentari penampilan orang lain, sebagai norak, kampungan, atau bentuk penampilan fisik yang tidak baik lainnya.
  • Orang yang sering mengatakan bahwa dia bisa melakukan sesuatu, maka orang lain juga harus bisa melakukannya. Misalnya: dia bisa datang ke kantor tepat waktu, maka dia selalu mengkritik orang lain yang sering terlambat tanpa mau tahu berbagai hambatan yang dihadapi oleh teman temannya.
  • Menggosipkan atau bercerita tentang kejelekan orang lain untuk menutupi kejelekan yang ada pada dirinya.

Terima kasih

Sisi lain dari kecemasan (anxiety) -1

anxiety-symptoms-cartoonKecemasan (anxiety) adalah suatu kondisi dimana seseorang merasa khawatir yang cukup berat yang menimbulkan perubahan pada tubuh, seperti tekanan darah yang naik, otot otot tubuh yang tegang, berkeringat, pikiran yang kacau dan gelisah.

Anxiety merupakan suatu reaksi yang  muncul terhadap kejadian yang menekan jiwa (stressful). Bila anxiety muncul ketika kita membuat kesalahan dan kemudian dipanggil atasan, itu adalah suatu reaksi psikologis yang normal. Dengan menghadap atasan, mengakui kesalalahan, minta maaf, dan berjanji dengan sungguh sungguh untuk tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, maka masalah selesai dan kecemasan akan hilang dengan sendirinya.

Pada sebagian orang, karena kelemahan dan ketidak matangan jiwanya, mereka tidak memilih cara penyelesaian diatas. Mereka sering memilih cara penyelesaian yang tidak optimal, seperti misalnya: mengalami sakit perut dan minta ijin pulang ke rumah, mencari-cari kesalahan atasan dan mengancamnya akan melaporkan ke KPK, menangis, menjelek-jelekkan atasan dan mencap sebagai pemimpin yang jelek, menjadi sangat sopan dan takut terhadap atasan meskipun didalam hatinya merasa benci. Dengan bersikap seperti itu, maka yang bersangkutan akan dapat mengalami kecemasan yang berkepanjangan.

Belajar dari contoh diatas, bila kita sampai mengalami suatu kecemasan yang berkepanjangan, artinya ada suatu masalah stressful yang tidak atau belum terselesaikan.

Masalah yang belum terselesaikan itu dapat berupa kejadian masa lalu yang menyakitkan atau trauma (misalnya: sering dihukum dengan keras oleh orang tua yang tidak sebanding dengan kesalahan, mengalami pelecehan seksual.

Bersambung

Sumber bacaan: http://tinybuddha.com/blog/the-gift-of-anxiety-7-ways-to-get-the-message-and-find-peace/

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo 

Berjuang di jalan Allah jangan tunggu pensiun-2

11106446_992398284104461_770084815_nTulisan ini merupakan kelanjutan tulisan sebelumnya

Usia 40 tahun adalah ketika seseorang sudah sangat matang dalam jasmani maupun rokhani untuk memulai pekerjaan besar berjuang di jalan Allah, bukan hanya mengejar kesenangan dunia.

Usia 40 menjadi representasi kematangan usia yang telah lengkap dibangun dengan pengalaman lapangan yang sangat cukup – bukan hanya pengetahuan (knowledge) tetapi juga keterampilan (skills) dan kebijaksanaan (wisdom).  Dengan usia rata-rata umat nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang berada di antara 60 tahun sampai 70 tahun, maka pekerjaan besar yang dimulai pada usia 40 tahun insyaallah juga akan cukup waktu untuk menuntaskannya dan menyerahkannya pada generasi penerus ketika waktu kita habis dan harus menghadap ke Sang Pencipta.

Bila Anda saat ini berusia 40 tahun atau lebih dan masih mengalokasikan sedikit tenaga, dana atau pikiran untuk berjuang di jalan Allah – maksudnya pekerjaan Anda di perusahaan atau instansi masih menyita sebagian besar kemampuan, maka hanya ada dua kemungkinan dari posisi Anda saat ini.

Kemungkinan pertama Anda macet di posisi Anda saat ini, ditandai dengan pangkat yang tidak naik-naik, pekerjaan menjadi rutinitas, gairah kerja mulai menurun, ada perasaan bosan, galau dlsb. bercampur aduk. Bisa jadi inilah tanda-tandanya Anda sudah harus keluar dan memulai berjuang di jalan Allah – mengapa harus menunggu beberapa tahun lagi sampai pensiun di posisi atau situasi menyiksa seperti ini ?. Dalam hal ini, kegiatan baru tersebut, selain dicari yang bisa memberikan penghasilan sederhana bagi keperluan keluarga, juga sesuai dengan definisi berjuang di jalan Allah.

Kemungkinan kedua adalah Anda sedang berada di puncak karir, masa depan gemilang, fasilitas melimpah, status sosial terhormat dlsb. Maka pergunakan kesempatan dan fasilitas tersebut untuk berjuang di jalan Allah. Contoh kongkritnya, misalnya: mengaktifkan pengajian dan pengumpulan dana sedekah di kantor, mendirikan panti asuhan atau rumah tahfidz, dan lain sebagainya.
Bila usia Anda saat ini belum mencapai 40 tahun dan masih bekerja untuk mengejar kesuksesan duniawi, , bersyukurlah Anda punya ‘tempat magang’ yang baik – maka manfaatkanlah waktu Anda sebaik-baiknya. Tetapi jangan terlena dengan waktu Anda, buatlah rencana yang matang, sehingga paling lambat pada usia 40 tahun Anda siap membangun bangunan amal shaleh sebagai manifestasi dari perjuangan di jalan Allah

Semoga bermanfaat

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Suasana nyaman kekeluargaan

11874157_1465104517147970_1383744827_nTirto Jiwo, sebagai pusat pemulihan tidak memberikan kesan menakutkan. Suasana di Tirto Jiwo adalah layaknya suasana asrama biasa.

11909727_1474921499499605_1656776451_n

 

 

Banyak penduduk desa sekitar tidak tahu mana yang menderita gangguan jiwa dan mana yang sehat. Mereka tidak dapat membedakannya.

11186325_1013973955280227_1706265047_n

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Anak anak melihat rusa di Tirto Jiwo

11880248_1467689733556115_638456838_nAnak anak dari desa tetangga sedang melihat rusa yang ada di Tirto Jiwo

Rusa memberi kesan adanya kehidupan yang nyaman, normal dan asri.

Adanya rusa di Tirto jiwo telah memberikan dukungan dalam proses pemulihan gangguan jiwa

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Tahapan gangguan Jiwa dan intervensinya

tahapan-gangguanjiwaGangguan jiwa biasanya dimulai dari fase prodromal. Pada fase ini belum ada gejala spesififik gangguan jiwa, seperti halusinasi atau waham. Gejala yang muncul biasanya berupa kecemasan, kesulitan mengambil keputusan, isolasi social, kesulitan konsentrasi dan kesulitan focus perhatian. Fase prodromal mulai timbul 1-2 tahun sebelum gejala skizofrenia muncul. Fase ini, penderita jarang dapat terdiagnosa sehingga terapi jarang dapat diberikan. Bila penderita mendapat pendampingan psikososial, maka proses gangguan jiwa dapat dihentikan sehingga tidak berlanjut ke fase akut/ krisis.

Pada fase akut atau krisis, penderita biasanya dibawa ke rumah sakit jiwa atau berobat jalan. Biasanya penderita akan mendapatkan pengobatan berupa obat anti gangguan jiwa. pada fase ini, bilapenderita mendapatkan dukungan lingkungan fisik (nyaman, tenang, asri) dan sosial yang mendukung (bersahabat, ramah, tanpa kekerasan/ pemaksaan, tanpa ancaman, dll), maka penderita akan dapat cepat kembali ke kondisi yang tenang atau stabil.

Bila penderita telah stabil, maka peranan intervensi psikososial semakin penting. Dalam tahap ini, penderita perlu mulai ditingkatkan ketahanan jiwanya (resilience), pola pikir dan perilaku yang kurang sehat mulai perlu diluruskan kembali. Penderita juga perlu diajari cara untuk mencegah kekambuhan dimasa depan. Dalam fase ini, permasalahan mendasar yang dihadapi penderita gangguan jiwa perlu mulai dicari pemecahan atau jalan keluarnya.

Dalam tahap pemulihan, penderita perlu dibantu untuk dapat kembali bekerja/ sekolah/ kuliah sesuai dengan keinginannya, dibantu agar dapat mendapatkan tempat tinggal (bersama keluarga atau di tempat lain), mulai terlibat dalam kegiatan ke masyarakatan.

Tentunya, tahapan tahapan tersebut tidak bersifat seperti garis lurus. Penderita yang telah stabil, dapat kembali kambuh memasuki fase akut. Begitu pula, penderita yang telah mencapai fase fase pemulihan dapat kembali turun ke fase akut.

Idealnya, selain intervensi diatas, dilakukan pula family therapy, yaitu intervensi psikoedukasi kepada keluarga agar keluarga dapat mendukung proses pemulihan dari anggota keluarganya yang menderita gangguan jiwa.

6 langkah untuk mengurangi takut mati (2)

kematian1Tulisan ini merupakan lanjutan artikel sebelumnya.

  • 3. Lepaskan apa yang tidak dapat dikendalikan. Dalam hidup ini ada yang dapat kita kendalikan dan ada yang tidak dapat dikendalikan. Hal hal berikut perlu kita lakukan untuk mengurangi rasa takut mati: (a) focus pada apa yang dapat dikendalikan. Misalnya kita takut mati kena serangan jantung, maka usahakan hidup sehat dengan mengatur makanan, olah raga dan mengatur stress agar tidak kena serangan jantung; (b) arahkan atau kendalikan hidupmu.Kita tidak dapat mengendalikan 100% hasil dari jerih payah kita. Kita perlu seperti pilot pesawat terbang. Pesawat tidak terbang lurus, kadang harus membelok menghindari awan, namun arah pesawat tetap terkendali; (c) hilangkan pola pikir tidak produktif, terutama melebih-lebihkan sesuatu tanda/ gejala sebagai pertanda bahwa bencana akan terjadi (melihat kucing hitam pertanda akan celaka, dll); (d) sediakan waktu untuk cemas, misalnya sediakan waktu 5 menit untuk merasa cemas. setelah 5 menit, maka hentikan berfikir sesuatu yang membuat cemas; (e) tolak pikiran negative. Bila kita takut mati ketika naik pesawat, maka coba pelajari data jumlah kecelakaan pesawat terbang, dll; (f) kurang bergaul dengan orang yang selalu merasa takut, cemas karena perasaan tersebut akan menular; (g) lakukan kegiatan kegiatan baru sehingga pikiran akan kematian jarang muncul; (h) buat rencana yang terkait dengan kematian dan penguburan dengan keluarga. Misalnya bila kita harus memakai mesin pernapasan di ICU, maka kapan mesin tersebut akan dicabut, dimana akan dimakamkan, dll
  • 4 Jadikan hidup penuh arti. Daripada sibuk memikirkan dan mencemaskan kematian, maka langkah berikut akan dapat mengurangi ketakutan akan mati: (a) upayakan agar hidupmu benar benar penuh arti dan bermanfaat; (b) luangkan waktu untuk orang orang yang kita cintai, jangan hanya sibuk mencari uang; (c) buat catatan harian yang berisi hal hal yang patut kita syukuri; (d) jaga diri, jangan lakukan hal hal negative yang akan merugikan diri sendiri, seperti: mengkonsumsi obat terlarang, makan berlebihan, dll;

Bersambung

13 Langkah agar lebih dermawan

generosity1Sifat kedermawanan akan membuat diri kita hidup lebih bahagia, tidak gampang terkena gangguan jiwa dan hidup lebih sehat serta lebih panjang.

Berikut ini beberapa langkah yang perlu dilakukan agar kita dapat lebih dermawan dibandingkan sebelumnya:

  1. Niatkan sedekah karena Allah semata. Jangan bersedekah karena ingin dipuji, agar terkenal atau popular, agar dipilih jadi anggota DPR atau jadi bupati. Dengan meniatkan sedekah karena Allah semata, maka Allah akan membalasnya dengan berlipat ganda.
  2. Ketahuilah bahwa dengan menjadi dermawan, maka hidup anda akan lebih bahagia. Berbagai penelitian ilmiah sudah membuktikan bahwa bersedekah membuat seseorang lebih bahagia, lebih sehat dan berumur panjang (khususnya bila sedekah dilakukan ketika kita mulai berumur diatas 60 tahun).
  3. Coba amati hal hal yang dibutuhkan orang lain. Coba amati dan perhatikan mungkin ibu anda sudah terlalu capai dan memerlukan bantuan, teman sekantor sedang mogok mobilnya dan memerlukan tumpangan, dll.
  4. Bersyukur atas segala yang anda punyai. Dengan banyak bersyukur, maka perasaan akan menjadi lebih berbahagia dan orang yang berbahagia lebih mudah tergerak untuk bersedekah.
  5. Buat perayaan untuk ulang tahun atau kesuksesan teman atau saudara. Belikan kue atau makanan dan undang teman teman untuk merayakan ulang tahun atau prestasi teman atau saudara.
  6. Berlaku baik kepada orang yang tak dikenal. Misalnya: pegang daun pintu sehingga ibu ibu dibelakang anda lebih nyaman ketika melewati pintu, berikan tempat duduk di bis kepada ibu yang menggendong anak.
  7. Luangkan waktu untuk teman.Bila teman sedang dirawat di rumah sakit, kunjungilah dan doakan agar lekas sembuh. Ketika teman atau saudara sedang kerepotan dirumah, datangilah dan bantu menyelesaikan kegiatan rumah tangga.
  8. Berikan sumbangan untuk mendukung kegiatan sosial atau kegiatan keagamaan.
  9. Jadilah sukarelawan dengan meluangkan waktu bekerja tanpa gaji di panti asuhan, panti jompo, membantu tetangga membersihkan halaman.
  10. Pinjamkan barang anda. Pinjamkan kendaraan (berikan tumpangan), alat rumah tangga atau barang barang lain kepada teman atau saudara yang sedang membutuhkan.
  11. Sedekahkan barang yang anda cintai. Sumbangkan baju jaket, sepatu atau barang yang masih bagus ke teman atau orang yang membutuhkan. Beberapa orang dermawan sanggup memberikan motor, mobil, atau bahkan rumah.
  12. Berikan pujian dan ucapan selamat. Sedekah yang tidak mengeluarkan biaya adalah dengan memberikan pujian atau ucapan selamat.
  13. Telpon dan ajak ngobrol teman yang sedang susah atau mempunyai masalah. Sedekah tidak harus berupa uang, sedekah juga dapat diberikan dalam bentuk perhatian, waktu, tenaga dan pikiran untuk orang lain.

sumber bacaan: http://www.wikihow.com/Be-Generous

7 Langkah menumbuhkan jiwa welas asih (compassion)

compassionSalah satu ciri jiwa yang sehat dan dewasa adalah jiwa yang welas asih (compassion). Jiwa yang welas asih perlu dipupuk agar tumbuh subur.

Jiwa yang penuh welas asih akan membuat kita tahan menghadapi goncangan dan tekanan jiwa.

Berikut ini 7 langkah untuk menumbuh suburkan sifat welas asih:

  1. Doa dan renungan pagi. Di setiap pagi lakukan renungan dan doa berikut: ” Ya Allah, aku hidup dan bangun pada pagi hari ini, hidupku adalah hidup yang sangat berharga, aku tidak akan menyia-nyiakannya. Aku akan memanfaatkan seluruh daya yang ada pada diriku untuk mengembangkan kemampuanku dan mengembangkan kalbuku, agar dapat menyebarkan dan melakukan kebaikan kepada orang banyak”
  2. Latihan berempati (tenggang rasa, memahami perasaan dan pikiran orang lain). Latihlah empati dengan membayangkan dan coba merasakan penderitaan saudara, sahabat ketika mengalami sakit atau berbagai bentuk kesusahan/ penderitaan lainnya. Agar sikap empati tersebut dapat berkembang menjadi simpati, latihlah untuk selalu focus atau memperhatikan orang lain, bukan focus atau memperhatikan diri sendiri.
  3. Latihan untuk melihat kesamaan, bukan perbedaan. Latihlah untuk melihat kesamaan yang ada diantara kita dengan orang orang yang kita temui, teman atau sahabat. Kurangi pikiran untuk melihat perbedaan yang ada.
  4. Berlatih mengurangi penderitaan atau kesusahan orang lain. Coba bayangkan kesusahan atau penderitaan orang lain dan lakukan sesuatu untuk mengurangi kesusahan atau penderitaan tersebut. Misalnya: coba lakukan puasa dan rasakan penderitaan akibat lapar. Rasakan kesusahan atau penderitaan orang yang tidak cukup makan dan lakukan sesuatu untuk membantu orang yang kelaparan.
  5. Lakukan kebaikan, walaupun kecil. Lakukan kebaikan untuk mengurangi penderitaan atau kesusahan orang lain, misalnya: beri sedekah nasi bungkus, kunjungi pasien di kelas 3 dan bawa sesuatu untuk mengurangi sakitnya, kunjungi sekolah dan bayar tunggakan biaya sekolah.
  6. Lakukan kebaikan kepada orang yang berbuat tidak baik kepada kita. Ini tingkat yang sudah lebih tinggi. kalau kita sudah dapat melakukan kebaikan (bukan karena takut) kepada orang yang berbuat jahat atau tidak baik kepada kita, maka kita sudah satu tingkat naik dalam jenjang welas asih.
  7. Lakukan renungan sore hari. Pada sore hari, lakukan evaluasi apa yang sudah kita lakukan terhadap orang lain, apakah kita sudah menolong mengurangi kesusahan atau penderitaan orang lain.

sumber bacaan: http://www.wikihow.com/Cultivate-Compassion-in-Your-Life

14 cara mengurangi sikap mementingkan diri sendiri (2)

stock-vector-priority-seats-sign-190860686Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya.

Salah satu ciri jiwa yang sehat, yang tahan menghadapi tekanan jiwa, adalah jiwa yang tidak mementingkan diri sendiri.

Berikut ini langkah langkah yang perlu dilakukan untuk mengurangi sikap mementingkan diri sendiri (egois) dan berkembang menjadi seorang yang bersifat ringan tangan dan mampu memberi manfaat kepada orang lain (penolong).

  • Pilihlah hal yang memberi manfaat pada orang banyak. Jangan mementingkan diri sendiri atau keluarga diatas kepentingan orang banyak. Bila harus memilih sesuatu, maka pilihlah kegiatan atau hal hal yang akan memberi manfaat kepada orang banyak.
  • Maafkan dan lupakan. Jika seseorang minta maaf karena telah menghalangi anda, maka maafkanlah orang tersebut dan jangan menggerundel. Seseorang yang berbuat salah memang perlu dihukum, tetapi bukan berarti kita yang harus menghukumnya. Serahkan saja permasalahan kepada Tuhan atau kepada pihak yang berwebnang.
  • Luangkan waktu dan tenaga anda dengan menjadi sukarelawan. Lakukanlah hal hal yang bermanfaat untuk orang banyak, misalnya: membuka taman bacaan untuk masyarakat kelas bawah, memberikan sedekah nasi bungkus, mengadakan kursus gratis untuk anak anak yatim, dll.
  • Sumbangkan barang yang kamu punyai. Sumbangkanlah baju, tas, barang lain yang masih bagus yang mulai jarang atau tidak pernah dipakai. Semakin bagus barang yang disumbangkan akan semakin bagus.
  • Ringan tangan membantu saudara atau teman. Usahakan untuk bersedia membantu saudara atau teman yang memerlukan bantuan, seperti mengantar ke dokter, menemani ketika sakit, dll.
  • Usahakan untuk tidak egois disetiap kesempatan. Misalnya: berilah tempat duduk di bis atau kereta kepada ibu hamil atau ibu yang menggendong anak anak.
  • Jaga diri sendiri. Bersikap tidak egois memerlukan energy yang tidak sedikit, oleh karena jagalah kesehatan diri sendiri juga.

sumber: http://www.wikihow.com/Be-Selfless