Cara mengatasi perasaan tidak berdaya (learned helplessness)-4

Biografi Houtman Zainal Arifin, Profil, Vice Presiden CitibankTulisan ini merupakan lanjutan tulisan sebelumnya.

Langkah terbaik dalam mengatasi learned helplessness adalah dengan belajar dari orang orang yang sudah berhasil mengatasi berbagai hambatan dan rintangan tersebut.

Contoh kedua yang saya ingin angkat adalah perjalanan hidup bapak Houtman Zainal Arifin. Riwayat hidup bapak Houtman Zainal Arifin saya kutip dari situs biografi tokoh ( www.biografiku.com). Beliau dilahirkan pada tanggal 27 Juli 1950 di Kota Kediri Jawa Timur, dan meninggal pada hari Kamis, 20 Desember 2012.

Pengalaman hidupnya yang amat inspiratif patut untuk disimak. Awalnya ia hanya seorang office boy hingga bisa menduduki jabatan sebagai seorang Vice President Citibank. Sebelum meninggal beliau berkerja sebagai direksi di perusahaan swasta, pengawas keuangan di beberapa perusahaan swasta, komite audit BUMN, konsultan, penulis serta dosen pasca sarjana di sebuah Universitas.

Kisah hidup beliau dimulai ketika lulus dari SMA, Hotman merantau ke Jakarta dan tinggal di daerah Kampung1974, Houtman membawa mimpi di Jakarta untuk hidup berkecukupan dan menjadi orang sukses di Ibukota, namun apa daya Di Jakarta ternyata Houtman harus menerima kenyataan bahwa kehidupan ibukota ternyata sangat keras dan tidak mudah. Tidak ada pilihan bagi seorang lulusan SMA di Jakarta, pekerjaan tidak mudah diperoleh.

Sewaktu tinggal di tanah abang, ayah beliau sakit keras. Orang tuanya ingin berobat, tetapi tidak mempunyai biaya yang cukup. Melihat keadaan seperti itu, beliau tidak mau menyerah. Dengan bermodal hanya Rp 2.000,- hasil pinjaman dari temannya, beliau menjadi pedagang asongan menjajakan perhiasan imitasi dari jalan raya hingga ke kolong jembatan mengarungi kerasnya kehidupan ibukota. Usaha dagangannya kemudian laku keras, namun ketika ia sudah menuai hasil dari usahanya, ternyata Tuhan memberinya cobaan, ketika petugas penertiban datang, dagangannya di injak hingga jatuh ke lumpur. Ketika semua dagangan beliau sudah rusak bercampur lumpur, ternyata teman-temannya yang dari kawula rendah seperti tukang sepatu, tukang sayur, dan lain-lain, beramai-ramai membersihkan dagangan beliau. Disini beliau mulai mendapatkan pengalaman berharga tentang kerasnya kehidupan Ibukota dan pentingnya berbagi serta tolong menolong.

Houtman Zainal Arifin kemudian mengalihkan usahanya agar dapat diterima bekerja di perusahaan besar yang berkantor di gedung megah di Jakarta. Beliau melamar ke berbagai perusahaan.

Pada suatu hari, beliau melihat ada orang gila berjalan hilir mudik di sekitar rumah beliau. Orang gila itu hampir nggak pake baju. Beliau pada saat itu cuma punya baju 3 pasang. Hebatnya, beliau ikhlas memberi ke orang gila itu sepasang baju plus sabun plus sisir. Tuhan memang Maha Adil, Pada hari ketiga setelah kejadian tersebut, Tiba-tiba datang surat yang menyatakan bila beliau diterima menjadi OB disebuah perusahaan yang sangat terkenal dan terkemuka di Dunia, The First National City Bank (citibank), sebuah bank bonafid dari USA. Houtman pun diterima bekerja sebagai seorang Office Boy. Sebuah jabatan paling dasar, paling bawah dalam sebuah hierarki organisasi dengan tugas utama membersihkan ruangan kantor, wc, ruang kerja dan ruangan lainnya. Karena mau belajar dan bekerja keras, akhir beliau diangkat sebagai pegawai tetap Citibank.

Sekitar 19 tahun kemudian sejak Houtman masuk sebagai Office Boy di The First National City Bank, Houtman kemudian mencapai jabatan tertingginya yaitu Vice President. Pada hari Kamis tepatnya pada tanggal 20 Desember 2012 Bapak Houtman Zainal Arifin berpulang ke pangkuan Rahmatullah pukul 14.20. Jenazahnya disemayamkan di Jln. H. Buang 33 Ulujami, Kebayoran Lama, Jakarta.

Ada satu fakta yang tidak banyak diulas orang tentang bapak Houtman Zainal Arifin, yaitu bahwa dirumah beliau ada sekitar 30an orang yang tinggal serumah dengan keluarganya. Keberkahan dari menyantuni dan merawat merekalah yang mampu mengundang pertolongan Tuhan sehingga seorang Houtman Zainal Arifin dapat berprestasi secara spektakuler.

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Koperasi penderita gangguan jiwa

Penderita gangguan jiwa sering menganggur, tidak punya penghasilan dan jadi beban keluarga.

Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan membentuk sebuah koperasi dimana anggotanya campuran antara penderita gangguan jiwa, tenaga kesehatan dan para donatur.

Di kota Chania, Yunani ada sebuah koperasi bernama Chania Social Cooperative yang anggotanya sebagian adalah para penderita gangguan jiwa. Chnia Social Cooperative membuat beberapa jenis usaha, seperti:

  • toko souvenir
  • usaha cuci mobil
  • kantin

Di Perancis juga ada La Fageda, sebuah koperasi yang hampir separuh anggotanya adalah penderita gangguan jiwa.La Fageda, didirikan oleh seorang psikolog bernama Cristobal Colon, bergerak dalam bidang peternakan dan pengolahan susu sapi.

Insya Allah, Tirto Jiwo nantinya juga akan mendirikan sebuah koperasi dimana sebagian anggotanya adalah para penderita gangguan jiwa. Mereka bisa bekerja di koperasi dan mendapatkan bagian keuntungan. Dengan demikian, diharapkan, para penderita gangguan jiwa tidak lagi menjadi beban keluarganya.

Rahasia rezeki (4): dampak hidup dekat dengan Al quran

Di kampung dimana saya dibesarkan, saya kenal dengan seorang ustadz yang walaupun hanya mengelola mushola kecil, namun bisa hidup berkeluarga, punya rumah dan mempunyai kendaraan sepeda motor. Tetangga saya, yang rajin sholat berjamaah di mushola tersebut, juga bisa hidup wajar walaupun sederhana. Dilain pihak, banyak orang yang mempunyai status sosial lebih tinggi (pegawai negeri, lurah, dll) namun terjebak dalam hutang. Hidup mereka selalu gelisah karena dikejar kejar hutang.

Disebuah blog (http://mybothsides.blogspot.in/) ada cerita penulisnya tentang manfaat sholat tepat waktu. Setelah berusaha untuk selalu sholat tepat waktu, berbagai urusan kantor juga menjadi lebih tertata, tidak saling bertabrakan seperti sebelumnya.

Dalam kaitan dengan Al quran ini saya punya pengalaman menarik. Tergerak karena mendengarkan ceramah ustadz Yusuf Mansur, walaupun membaca Al Quran saja masih patah patah, di usia 57 tahun, ditengah kesibukan kerja, saya mulai menghapal Al Quran. Saya mulai dengan menghapal surat surat pendek dalam juz 30. Begitu mulai menghapal Al Quran, saya tiba tiba mendapat ide yang bisa saya pakai untuk memecahkan masalah pekerjaan di kantor yang selama ini berjalan tersendat-sendat.

Ketika saya sampai ke Surat Al Bayyinah, ada sebuah ayat yang menurut ukuran saya cukup panjang dan membuat saya kesulitan dalam menghapalnya. Akhirnya, hapalan saya macet. Ternyata macetnya kegiatan saya dalam menghapal Al Quran membuat beberapa urusan di kantor/ di rumah saya juga ikut macet. Urusan saya yang macet tersebut adalah: spare-part mobil yang harus di-import dari Jepang, perpanjangan passport (UNLP) yang prosesnya bertele-tele, pengurusan pensiun PNS yang macet (berkas hanya disimpan/ dimasukkan kedalam laci oleh staf bagian gaji).

Alhamdulillah, ketika saya mulai sekuat tenaga memulai lagi menghapal Al Quran, persoalan persoalan yang saya hadpi juga mulai terlihat jalan keluarnya. Mungkin ini salah satu manfaat bila kita mau menghapal Al Quran, bertaqwa kepada Allah.

Rahasia rezeki (1):

Mengapa admin website Klinik Umiyah dan Tirto Jiwo perlu menulis tentang rahasia rezeki segala?

Di klinik Umiyah (www.klinik-umiyah.com) dan Tirto Jiwo (www.tirtojiwo.org) pasien membayar biaya obat dan pelayanan dengan memasukkan kedalam kotak amal yang tertutup. Tidak ada tarif. Bisa dimaklumi bila jumlah infak dari pasien tersebut tidak pernah mencukupi semua biaya pengobatan (obat, gaji, biaya operasional, dll). Alah yang menutup kekurangannya melalui tangan tangan para dermawan. Lihat laporan keuangan Klinik Umiyah disini. Tanpa adanya keyakinan bahwa rezeki berasal dari Allah, maka kita tidak akan berani membuka Klinik dengan model pembayaran seperti itu.

Diharapkan, dengan semakin baiknya pemahaman masyarakat tentang rahasia rezeki, semakin sejahteralah hidup umat Islam, semakin banyak pula dermawan yang bersedekah mendukung Klinik Umiyah. Selain itu, ketidak tahuan dan kesalahan dalam pengelolaan uang bisa membuat seseorang menjadi stress. Stress bisa memicu munculnya gangguan jiwa.

Oleh karena itu, sambil belajar tentang masalah rezeki, harta dll, saya coba tuliskan hasil belajar tersebut. Daripada ilmu hanya disimpan sendiri, insya Allah dengan menyebarkan ilmu yang bermanfaat, saya juga akan dapat pahala. Saya akan mencoba membuat  tulisan bersambung dengan tema yang berkaitan dengan rezeki (termasuk harta, infak, hidup hemat, dll) yang disusun dengan mengambil referensi dari Al Quran dan hadis.

Prinsip 1. Rezeki dari Allah

Rezeki itu dari Allah dan hanya dari Allah. Coba kita simak ayat ayat berikut:

“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.(QS Al ankabut : 60)

“Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberikan rezeki kepada mereka sedikitpun dari langit dan bumi, dan tidak berkuasa (sedikit juapun)” (Quran 16:73)

Apa implikasinya bagi kita? Pertama, pekerjaan atau jabatan hanyalah sebagai sarana atau saluran/ jalan dari Allah agar rezeki tersebut sampai kepada kita. Bukan pekerjaan atau jabatan yang menentukan rezeki tapi rezeki kita yang menentukan pekerjaan atau jabatan kita. Bila Allah berkehendak melapangkan rezeki kita, maka berbagai hal bisa terjadi, misalnya: naik gaji, naik jabatan/ pangkat, dapat lembur, pindah kerja dengan gaji lebih besar, punya usaha baru. Dilain pihak, bila Allah akan menyempitkan rezeki kita, maka bisa terjadi, misalnya: kita dipecat/ PHK, sakit yang memerlukan biaya banyak, usaha merugi, panen gagal, kebanjiran.

Kedua, mintalah rezeki hanya kepada Allah. Jangan meminta-minta kepada manusia, namun mintalah rezeki hanya kepada Allah. Biar Allah yang menentukan dengan cara apa rezeki tersebut akan sampai kepada kita. Bila Allah sudah berkenan untuk memberikan rezeki kepada kita, maka akan terbuka jalannya.