Cara menemukan lentera jiwa-3

900px-6187-20Tulisan ini merupakan kelanjutan artikel sebelumnya

Berikut ini beberapa cara untuk dapat menemukan lentera jiwa (passion) kita:

  • Coba lakukan olah raga baru. Kita tidak pernah tahu mungkin lentera jiwa kita berkaitan dengan panahan, menunggang kuda, golf atau yang lainnya.  Oleh karena itu, cobalah melakukan olah raga baru misalnya belajar berenang, bersepeda gunung atau urban downhill, bowling, menembak, diving, dan lainnya.
  • Kembangkan kemampuan seni. Bakat seni kita mungkin tersembunyi karena sibuk dengan permasalahan sehari-hari. Cobalah kembangkan bakat seni dengan belajar melukis, menyanyi, bermain music, drama, atau menulis novel.
  • Lakukan hobi baru. Dengan melakukan hobi baru kita mungkin menemukan passion kita. Cobalah lakukan hobi baru, misalnya: memelihara burung, atau hewan peliharaan lainnya, belajar bahasa baru (Arab, Spanyol, dll), memasak.
  • Keluar dari zona nyaman. Lakukan sesuatu yang kita kurang trampil, misalnya terjun paying, olah raga ekstrem, menyelam. lakukan hal hal yang dulu dirasa menakutkan, seperti terjun paying.
  • Jalan jalan (traveling). Dengan melakukan perjalanan kita akan dapat mempunyai pengalaman yang sangat berbeda, melihat sesuatu yang berbeda atau belajar melihat sesuatu dari sudut yang berbeda. Traveling dapat membantu kita menemukan lentera jiwa kita. Ambil foto sebanyak-banyaknya ketika traveling, siapa tahu bahwa passion anda ada di fotografi.
  • Jadilah sukarelawan.Dengan bekerja tanpa digaji, kita akan mendapatkan ketrampilan baru, ketemu orang baru, pengalaman baru yang mungkin sesuai dengan passion kita.Ketika kita bekerja sukarela merawat taman, mungkin kita akan menemukan passion kita dibidang pertamanan. Bila kita kerja sukarela dengan mengajari anak anak matematika, mungkin kita akan menemukan passion kita dalam mengajar.
  • Belajar dari orang lain. Bila kita punya kenalan seseorang dengan passion tertentu, mintalah orang tersebut untuk mengajari kita seluk beluk tentang halk tersebut. Mungkin passion kita ada disitu juga. Misalnya, seseorang dengan passion memasak, maka mintalah kita diajari tentang memasak, siapa tahu kita akan menemukan passion kita disitu.

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Cara mengatasi perasaan tidak berdaya (learned helplessness)-4

Biografi Houtman Zainal Arifin, Profil, Vice Presiden CitibankTulisan ini merupakan lanjutan tulisan sebelumnya.

Langkah terbaik dalam mengatasi learned helplessness adalah dengan belajar dari orang orang yang sudah berhasil mengatasi berbagai hambatan dan rintangan tersebut.

Contoh kedua yang saya ingin angkat adalah perjalanan hidup bapak Houtman Zainal Arifin. Riwayat hidup bapak Houtman Zainal Arifin saya kutip dari situs biografi tokoh ( www.biografiku.com). Beliau dilahirkan pada tanggal 27 Juli 1950 di Kota Kediri Jawa Timur, dan meninggal pada hari Kamis, 20 Desember 2012.

Pengalaman hidupnya yang amat inspiratif patut untuk disimak. Awalnya ia hanya seorang office boy hingga bisa menduduki jabatan sebagai seorang Vice President Citibank. Sebelum meninggal beliau berkerja sebagai direksi di perusahaan swasta, pengawas keuangan di beberapa perusahaan swasta, komite audit BUMN, konsultan, penulis serta dosen pasca sarjana di sebuah Universitas.

Kisah hidup beliau dimulai ketika lulus dari SMA, Hotman merantau ke Jakarta dan tinggal di daerah Kampung1974, Houtman membawa mimpi di Jakarta untuk hidup berkecukupan dan menjadi orang sukses di Ibukota, namun apa daya Di Jakarta ternyata Houtman harus menerima kenyataan bahwa kehidupan ibukota ternyata sangat keras dan tidak mudah. Tidak ada pilihan bagi seorang lulusan SMA di Jakarta, pekerjaan tidak mudah diperoleh.

Sewaktu tinggal di tanah abang, ayah beliau sakit keras. Orang tuanya ingin berobat, tetapi tidak mempunyai biaya yang cukup. Melihat keadaan seperti itu, beliau tidak mau menyerah. Dengan bermodal hanya Rp 2.000,- hasil pinjaman dari temannya, beliau menjadi pedagang asongan menjajakan perhiasan imitasi dari jalan raya hingga ke kolong jembatan mengarungi kerasnya kehidupan ibukota. Usaha dagangannya kemudian laku keras, namun ketika ia sudah menuai hasil dari usahanya, ternyata Tuhan memberinya cobaan, ketika petugas penertiban datang, dagangannya di injak hingga jatuh ke lumpur. Ketika semua dagangan beliau sudah rusak bercampur lumpur, ternyata teman-temannya yang dari kawula rendah seperti tukang sepatu, tukang sayur, dan lain-lain, beramai-ramai membersihkan dagangan beliau. Disini beliau mulai mendapatkan pengalaman berharga tentang kerasnya kehidupan Ibukota dan pentingnya berbagi serta tolong menolong.

Houtman Zainal Arifin kemudian mengalihkan usahanya agar dapat diterima bekerja di perusahaan besar yang berkantor di gedung megah di Jakarta. Beliau melamar ke berbagai perusahaan.

Pada suatu hari, beliau melihat ada orang gila berjalan hilir mudik di sekitar rumah beliau. Orang gila itu hampir nggak pake baju. Beliau pada saat itu cuma punya baju 3 pasang. Hebatnya, beliau ikhlas memberi ke orang gila itu sepasang baju plus sabun plus sisir. Tuhan memang Maha Adil, Pada hari ketiga setelah kejadian tersebut, Tiba-tiba datang surat yang menyatakan bila beliau diterima menjadi OB disebuah perusahaan yang sangat terkenal dan terkemuka di Dunia, The First National City Bank (citibank), sebuah bank bonafid dari USA. Houtman pun diterima bekerja sebagai seorang Office Boy. Sebuah jabatan paling dasar, paling bawah dalam sebuah hierarki organisasi dengan tugas utama membersihkan ruangan kantor, wc, ruang kerja dan ruangan lainnya. Karena mau belajar dan bekerja keras, akhir beliau diangkat sebagai pegawai tetap Citibank.

Sekitar 19 tahun kemudian sejak Houtman masuk sebagai Office Boy di The First National City Bank, Houtman kemudian mencapai jabatan tertingginya yaitu Vice President. Pada hari Kamis tepatnya pada tanggal 20 Desember 2012 Bapak Houtman Zainal Arifin berpulang ke pangkuan Rahmatullah pukul 14.20. Jenazahnya disemayamkan di Jln. H. Buang 33 Ulujami, Kebayoran Lama, Jakarta.

Ada satu fakta yang tidak banyak diulas orang tentang bapak Houtman Zainal Arifin, yaitu bahwa dirumah beliau ada sekitar 30an orang yang tinggal serumah dengan keluarganya. Keberkahan dari menyantuni dan merawat merekalah yang mampu mengundang pertolongan Tuhan sehingga seorang Houtman Zainal Arifin dapat berprestasi secara spektakuler.

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Rasa percaya diri (self-esteem) yang sehat

self-esteem_5242739ca378b_w1500Pada tahun 1970-1980an, didunia psikologi berkembang teori bahwa seorang anak harus selalu dipuji, diberi penghargaan dan tidak boleh dikritik atau dimarahi.

Asumsi dasarnya adalah bila anak sering dikritik, maka anak tersebut tidak akan mempunyai rasa percaya diri atau percaya dirinya rendah. Padahal, percaya diri merupakan faktor penting agar seseorang dapat sukses dalam kehidupannya. Orang yang tidak sukses biasanya memang rasa percaya dirinya rendah.

Namun, akhir akhir ini, pandangan bahwa anak harus selalu dipuji dan tidak boleh dikritik mulai ditinggalkan. Pujian dan penghargaan tanpa dasar (atau berlebihan) membuat anak memandang baik/ bagus terhadap dirinya sendiri, meskipun tanpa suatu prestasi atau kelebihan apapun. Sikap ini dapat menumbuhkan sikap anti-sosial. Sang anak, setelah dewasa, menuntut orang lain menghargai dirinya, meskipun sebetulnya anak tersebut tidak punya kelebihan apa apa.

Rasa percaya diri yang sehat perlu terkait dengan prestasi dan perilaku seseorang. Rasa percaya diri tersebut harus harus tumbuh dari perilaku sang anak yang saling menghormati, keinginan untuk membantu atau menolong orang lain, dan tumbuh dari keberhasilannya dalam bidang atau kegiatan tertentu. Rasa percaya diri bukan syarat atau pre-kondisi untuk sukses, tapi percaya diri tersebut tumbuh dari keberhasilan atau kontribusinya.

Berikut ini beberapa cara membangkitkan rasa percaya diri yang sehat:

  • Mengajak anak untuk terlibat dan memberikan kontribusi dalam kegiatan sosial,  misalnya: melibatkan anak dalam membuat makanan kemudian disumbangkan ke tetangga yang tidak mampu atau ke anak anak di panti asuhan.
  • Ajak anak terlibat dan memberikan kontribusi dalam kegiatan social, misalnya ajak anak ikut menata tikar untuk pengajian dirumah, dll
  • Kurangi kritikan yang pedas atau sadis, tapi fokus pada kelebihan atau prestasi sang anak.
  • Menemani anak ketika sang anak mengalami masalah mendorong pemecahan masalah oleh sang anak.

semoga bermanfaat

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo