Bukan sopir biasa

Oleh Jamil Azzaini

Dikutip dari http://jamilazzaini.com/bukan-driver-biasa/

Hari Minggu lalu, saya menggunakan jasa taxi Silver Bird dari Bandara Halim Perdanakusuma menuju Bogor. Drivernya bernama Rudy. Sepanjang perjalanan kami ngobrol tentang banyak hal.

Rudy, bukan driver biasa...

Rudy, bukan driver biasa…

Rudy yang pernah bekerja di Astra, Suzuki dan Yamaha di bagian produksi ini memiliki 4 orang anak. Salah satu anaknya menderita penyakit leukimia.

Berbagai cara pengobatan sudah ia lakukan, namun tak membuahkan hasil. Sampai suatu ketika ada yang menyarankan, “Jual saja rumahmu dan uangnya kamu sumbangkan.”

Rudy yang memang berharap anaknya sembuh, tanpa ragu melakukan saran itu. Walau ditentang oleh saudara dan teman-temannya, Rudi tidak bergeming.

Tidak lama setelah ia menjual rumahnya dan menyumbangkan semua hasil penjualannya ke berbagai pihak, ternyata ia menjadi pemenang sayembara berhadiah mobil yang nilainya dua kali lipat dari harga rumahnya. Bukan hanya itu, anak bungsunya yang mengindap penyakit leukimia pun sembuh. Dokter rumah sakit Kandang Sapi (Dr. Oen) di Surakarta yang merawatnya pun heran dan bingung atas keajaiban ini.

Rudy memang bukan driver biasa. Selain ia sangat yakin dengan kekuatan berbagi dan berbuat baik kepada orang lain, ia termasuk yang sangat serius mendidik anak-anaknya. Dua anaknya kini sudah bekerja di perusahaan ternama. Anak ketiganya kini sedang kuliah di negeri Paman Sam, Amerika Serikat mengambil jurusan Akuntansi.

Walau demikian, Rudy tetap tidak mau bergantung kepada anak-anaknya yang sudah bekerja. Ia membawa taxi di Jakarta, sementara istrinya di Solo berjualan makanan ringan yang omzetnya lumayan besar untuk ukuran usaha kecil menengah (UKM).

Pagi itu, saya mendapat ilmu luar biasa dari seorang driver taxi bernama Rudy. Belum puas mendapat curahan ilmu sepanjang perjalanan, saya mengajak lelaki ini sarapan. Di meja makan kembali saya mendapat “tamparan-tamparan” kecil dari lelaki lulusan STM ini.

Banyak orang yang tampaknya biasa tetapi kehidupannya luar biasa dan begitu mulia. Ia sangat percaya dengan Tuhan-nya. Ia sangat peduli dengan keluarganya. Ia menjaga diri dari meminta-minta.

Rudy, memang bukan driver biasa…

Salam SuksesMulia!

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

5 cara membeli kebahagian (1)

Uang Tak Bisa Beli Kebahagiaan, Studi Ini MembuktikannyaLho! memang kebahagiaan dapat dibeli?

Hingga saat ini memang kebahagiaan tidak dijual, namun bila anda mempunyai uang dan menggunakan uangnya dengan tepat, maka anda akan dapat mengalami kebahagiaan.

Cara pertama. Jangan beli barang, pakai uang untuk membeli pengalaman. Menurut penelitian, banyak orang merasa menyesal setelah membeli barang, terutama bila membeli barang tersebut secara emosional. Selain itu, kesenangan yang kita rasakan setelah membeli barang hanya berlangsung singkat. Tidak demikian halnya bila kita memakai uang untuk membeli pengalaman. Saya sudah kepala lima saat ini, tapi hingga sekarang masih ingat pengalaman  menyenangkan ketika diajak berenang di kolam renang Simbarjoyo oleh bapak sehabis kenaikan kelas di sekolah dasar lebih dari 40 tahun yang lalu. Biaya tidak banyak, namun kesan yang saya dapatkan bisa bertahan lama. Teman senior saya masih sering menceritakan pengalaman berlibur sekeluarga ke Nepal meskipun itu sudah terjadi lebih dari 5 tahun yang lalu. Bila ingin lebih bahagia, pakai uang anda untuk membiayai piknik keluarga, nonton bersama, dll. Jangan hanya untuk membeli barang barang.
Cara kedua. Jangan pakai uang hanya untuk diri sendiri, gunakan uang untuk membantu sesama yang lebih membutuhkan. Sebagian besar orang tidak menyadari hal ini. Penelitian dari Harvard telah membuktikan bahwa dengan menyumbang uang (pro-sosial) 5 dolar per hari atau sekitar Rp 60.000 (rata rata penghasilan di AS lebih dari Rp 40 juta per keluarga per bulan) tingkat kebahagiaan  mereka naik secara bermakna. Tentunya untuk tingkatan Indonesia, cukup dengan memberi sedekah Rp 5.000 per hari kita akan sudah bisa merasa bahagia. dengan membantu orang lain yang lebih membutuhkan, kita akan merasa bahagia. Coba saja sendiri !!. Saat ini banyak bencana melanda Indonesia. Orang miskin juga banyak disekitar kita. Sumbang korban bencana, bantu saudara atau tetangga yang kekurangan, insya Allah hidup anda akan lebih bahagia.
Bersambung
Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Mengajarkan welas asih (compassion) kepada anak

DSC06187Welas asih (compassion), selain bersyukur, merupakan salah satu karakter yang jarang dipunyai anak anak dengan gangguan jiwa.

Kalau kita perhatikan ciri ciri umum anak anak dengan gangguan kepribadian, maka sifat atau karakter yang menonjol pada mereka adalah karakter yang egois, mementingkan diri sendiri, mendahulukan kepentingan sendiri.

Beberapa karakter yang dijumpai pada penderita depresi, bipolar, dan gangguan jiwa lain juga karena mereka terlalu focus kepada diri mereka sendiri. Mereka kurang memperhatikan atau memikirkan perasaan atau kebutuhan orang lain.

Dengan kata lain, karakter welas asih perlu dipunyai anak anak agar terhindar dari berbagai jenis gangguan jiwa.

Berikut ini, beberapa langkah untuk mengajarkan anak agar mempunyai sifat welas asih:

  • ™Rayakan ulang tahun anak dengan mengundang anak yatim, berikan sebagian hadiah ulang tahun kepada anak yatim
  • ™Ajari anak untuk melayani sesama anggota keluarga dirumah (bergantian menyiapkan makan bersama)
  • ™Pelihara kucing atau binatang peliharaan dirumah
  • ™Ajak anak mengunjungi rumah sakit dan atau panti asuhan
  • ™Ajak anak untuk ikut membantu tetangga yang membutuhkan pertolongan
  • ™Ajak anak anak untuk memberikan mainan bekas ke anak anak keluarga miskin
  • ™Dorong anak agar mengajak anak dari keluarga miskin ikut bermain dirumah
  • ™Ajak anak untuk ikut membagikan nasi bungkus ke tukang becak, pekerja kasar atau keluarga miskin.
  • ™Orang tua harus menjadi role model sebagai seorang yang welas asih

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

14 cara mengurangi sikap mementingkan diri sendiri (1)

selfless_selflessness_selfish_love_happiness_open_your_heartAgar jiwa kita sehat, kita perlu berlatih untuk tidak menjadi egois. Kita perlu mengutamakan kepentingan orang banyak diatas kepentingan diri sendiri.

Kita semua tahu bahwa sikap egois atau mementingkan diri sendiri bukanlah sikap yang baik dan terpuji.

Meskipun demikian, dalam dunia yang materialistik, dimana kita mengukur kesuksesan seseorang dengan banyaknya harta, serta paham individualisme, maka mengurangi sikap mementingkan diri buknalah perkara yang gampang. Materialisme mengajak kita untuk kikir dan individualism mengajak kita untuk tidak perduli kepada nasib orang lain. Berikut ini metode untuk memupuk sikap mementingkan kepentingan orang banyak diatas kepentingan diri sendiri, atau mengurangi sikap egois.

  1. Perluas cara pikir kita. Perluas cara pikir kita dengan belajar memahami kebutuhan dan keinginan orang orang dan masyarakat disekitar kita dengan banyak membaca, mendengarkan radio atau pandangan orang, dan lain lain.
  2. Pahami perasaan orang lain. cobalah untuk menempatkan diri kita pada posisi orang lain, terutama orang orang yang kondisinya dibawah kita (baik secara sosial maupun ekonomi).
  3. Bersikap tidak egois meskipun tidak ada orang yang mengetahuinya. Jangan berperilaku baik dengan menolong orang lain untuk mendapatkan pujian dari orang lain.
  4. Ikut merasa senang ketika orang lain bahagia.  Belajarlah untuk merasa ikut senang dan gembira ketika orang lain berbahagia. Rasakan kebahagiaan dengan membuat orang lain bahagia.
  5. Tirulah orang orang hebat yang tidak mementingkan diri sendiri. Bacalah riwayat hidup orang orang hebat, seperti nabi Muhammad, Nelson Mandela, Ibu Theresa yang tidak egois.
  6. Jangan merugikan orang lain dalam mencari keuntungan diri. Jangan menipu, mencuri dan kegiatan tidak baik lainnya untuk mendapatkan keuntungan.
  7. Jangan menilai waktumu lebih berharga dari pada waktu orang lain. Contohnya: jangan kita menyerobot antrian karena kita merasa waktu kita lebih berharga dibandingkan waktu orang lain.

Bersambung

Sisi ilmiah sedekah: 5 manfaat bersedekah (2)

kerjasamaTulisan ini merupakan lanjutan artikel sebelumnya:

Berikut ini beberapa manfaat sedekah ditinjau dari psikologi dan sosiologis

  • 3. Bersedekah meningkatkan kerjama dan hubungan sosial. Menurut berbagai penelitian sosiologis, antara lain dari Brent Simpson dan Robb Willer, orang yang bersedekah sering mendapat balasan kebaikan baik dari orang yang diberi maupun oleh orang lain. Pertukaran kebaikan tersebut kemudian memperkuat ikatan dan hubungan social, dimana ikatan dan hubungan social tersebut mempengaruhi secara positif kesehatan badan maupun jiwa. Penelitian dari John Cacioppo yang dilaporkan dalam bukunya Loneliness: Human Nature and the Need for Social Connection menyatakan bahwa kegiatan sedekah timbal balik tersebut akan memperkuat ikatan social yang berdampak positif terhadap kesehatan dan kebahagiaan.
  • 4. Bersedekah meningkatkan rasa syukur. Bersedekah juga mendorong rasa syukur, baik ketika kita menerima suatu pemberian ataupun ketika kita melakukan pemberian. Perasaan syukur tersebut menyebabkan kita merasa bahagia, meningkatkan ikatan social dan membuat kita lebih sehat. Robert Emmons dan Michael McCullough, Direktur Research Project on Happiness and Thankfulness menemukan bahwa mendidik mahasiswanya untuk menghitung segala rahmat atau pemberian serta banyak bersyukur ternyata mendorong mahasiswa untuk lebih banyak bersedekah, merasa lebih optimistic dan merasa hidup lebih baik. Studi yang dilakukan oleh Nathaniel Lambert dari Florida State University menunjukkan bahwa menunjukkan rasa syukur atau berterima kasih kepada teman dekat atau pasangan akan membuat hubungan menjadi lebih erat. Menurut Barbara Fredrickson, seorang pioneer dalam penelitian tentang kebahagiaan menyatakan bahwa bersikap penuh rasa syukur akan meningkatkan kebahagiaan dan hubungan social dengan orang menjadi lebih erat.
  • 5. Bersedekah itu menular. Bila kita bersedekah, tidak hanya menguntungkan orang yang menerima sedekah, namun juga mendorong orang lain untuk tergerak bersedekah. Sebuah studi dari James Fowler dari the University of California, San Diego, dan Nicholas Christakis dari Harvard University, yang diterbitkan dalam laporan the National Academy of Science menyatakan bahwa kedermawanan seseorang akan menggerakkan orang lain juga menjadi dermawan dan memberikan sedekah kepada orang lain.

Ayo tunggu apa lagi, mari kita mulai bersedekah yang banyak

Mekanisme pertahanan jiwa

Di badan manusia ada system kekebalan tubuh yang akan melawan bila ada benda asing (bibit penyakit, atau benda biasa) masuk kedalam tubuh. Bila ada bakteri atau virus masuk ke dalam tubuh, maka sel sel lymphocyte akan bergerak untuk melawan bakteri atau virus tersebut. Sayangnya, mekanisme kekebalan tubuh tersebut dapat keliru dan bahkan menyebabkan terjadi penyakit autoimmune.

Begitu pula halnya dengan jiwa. Dalam jiwa manusia juga ada mekanisme pertahanan (defence mechanism) untuk menghadapi atau mengatasi pengalaman buruk, kehilangan, kejadian yang memalukan, dan lain lain.

Mekanisme ketahanan jiwa tersebut biasanya berkembang sejalan dengan kematangan jiwa seseorang. Sayangnya, meskipun seseorang telah mencapai usia dewasa, kadang jiwanya tidak berkembang sejalan dengan perkembangan usia tersebut. Beberapa orang dewasa masih memakai mekanisme ketahanan jiwa anak anak (penolakan/ denial, distortion, projection), mekanisme kurang dewasa (regresi, hypochondriac, dll), atau mekanisme neurotic (dissociation, displacement).

Penderita gangguan jiwa biasanya mempunyai mekanisme pertahanan jiwa yang kurang sehat (kekanak-kanakan atau narcisstic defence, immature defence dan neurotic defence) dengan mekanisme pertahanan jiwa yang sehat dan matang.

Jiwa yang sehat dan matang mampu berkorban untuk orang lain (altruism), mampu mengantisipasi (contoh: mau belajar agar lulus ujian nantinya), mampu mengurangi kecintaan kepada dunia (asceticism) sehingga tidak hancur hatinya ketika kehilangan sesuatu, mampu menciptakan tujuan yang bersifat luhur dan dapat diterima masyarakat (sublimasi) dan mampu menekan (suppression) keinginan keinginan atau pikiran pikiran negative.

Balasan dari suatu pengorbanan

Segala sesuatu memerlukan pengorbanan. Ketika kita sekolah, misalnya, kita tidak hanya harus bayar uang sekolah, namun kita juga masih harus mau belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah (PR). Untungnya, semua pengorbanan itu ada balasannya. Dengan ilmu dan gelar yang didapat, kita bisa bekerja dan mendapat penghasilan yang lebih baik dibandingkan dengan yang tidak bersekolah.

Indonesia juga tidak akan merdeka tanpa pengorbanan dari Soekarno dan Muhammad Hatta. Pada tahun 1940an, sebagian besar rakyat Indonesia masih buta huruf. Soekarno lulusan ITB dan  Muhammad Hatta sarjana ekonomi lulusan Belanda. Bila Soekarno dan Hatta hanya mencari kesenangan diri sendiri, mereka bisa bekerja dengan Belanda dan hidup sejahtera. Tapi mereka berdua memilih menjadi pejuang. Pengorbanan mereka berdua tidak sia-sia. Indonesia menjadi merdeka dan Soekarno dan Hatta menjadi presiden dan wakil presiden pertama Republik Indonesia.

Kebanyakan orang tidak mau berkorban, atau hanya berkorban sedikit. Bila bersedekah mereka hanya memberikan uang ribuan, pakaian bekas yang mereka sendiri sudah tidak mau memakainya. Apa yang mereka terima? Mereka juga hanya jadi orang biasa, hidupnya biasa biasa saja, Masih ingat dengan cerita Mak Yati, pemulung yang berkorban 2 ekor kambing? Mereka mendapat hadiah rumah dari Menteri Sosial.

Merawat dan memulihkan seorang anggota keluarga yang menderita gangguan jiwa juga memerlukan pengorbanan yang tidak sedikit. Pengorbanan perasaan, dana, tenaga dan pikiran dari orang orang terdekat sangat diperlukan untuk mendukung pemulihan penderita gangguan jiwa. Tentunya, setiap pengorbanan akan ada balasannya sendiri. Percayalah, pengorbanan yang dilakukan tidak hanya akan berdampak positif pada penderita gangguan jiwa, namun juga ada dampak positif atau balasan pada orang orang yang membantu saudaranya untuk pulih dari gangguan jiwa.

Berbagai penelitian ilmiah di Amerika menunjukkan bahwa orang orang yang menjadi sukarelawan dan menolong orang lain, hidupnya lebih bahagia, lebih sehat dan berumur lebih panjang. Orang yang menolong (dengan tenaga dan pikiran) serta memberi sedekah, sering merasa lebih berbahagia dibandingkan dengan orang yang ditolong atau diberi bantuan.

Nah, bila ada saudara atau tetangga yang menderita gangguan jiwa, jadikan hal tersebut sebagai ladang amal. Mari kita bantu mereka agar bisa pulih dan kembali hidup produktif di masyarakat. Bagaimana caranya? silahkan pelajari dari berbagai artikel yang ada di website ini.