Balasan dari suatu pengorbanan

Segala sesuatu memerlukan pengorbanan. Ketika kita sekolah, misalnya, kita tidak hanya harus bayar uang sekolah, namun kita juga masih harus mau belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah (PR). Untungnya, semua pengorbanan itu ada balasannya. Dengan ilmu dan gelar yang didapat, kita bisa bekerja dan mendapat penghasilan yang lebih baik dibandingkan dengan yang tidak bersekolah.

Indonesia juga tidak akan merdeka tanpa pengorbanan dari Soekarno dan Muhammad Hatta. Pada tahun 1940an, sebagian besar rakyat Indonesia masih buta huruf. Soekarno lulusan ITB dan  Muhammad Hatta sarjana ekonomi lulusan Belanda. Bila Soekarno dan Hatta hanya mencari kesenangan diri sendiri, mereka bisa bekerja dengan Belanda dan hidup sejahtera. Tapi mereka berdua memilih menjadi pejuang. Pengorbanan mereka berdua tidak sia-sia. Indonesia menjadi merdeka dan Soekarno dan Hatta menjadi presiden dan wakil presiden pertama Republik Indonesia.

Kebanyakan orang tidak mau berkorban, atau hanya berkorban sedikit. Bila bersedekah mereka hanya memberikan uang ribuan, pakaian bekas yang mereka sendiri sudah tidak mau memakainya. Apa yang mereka terima? Mereka juga hanya jadi orang biasa, hidupnya biasa biasa saja, Masih ingat dengan cerita Mak Yati, pemulung yang berkorban 2 ekor kambing? Mereka mendapat hadiah rumah dari Menteri Sosial.

Merawat dan memulihkan seorang anggota keluarga yang menderita gangguan jiwa juga memerlukan pengorbanan yang tidak sedikit. Pengorbanan perasaan, dana, tenaga dan pikiran dari orang orang terdekat sangat diperlukan untuk mendukung pemulihan penderita gangguan jiwa. Tentunya, setiap pengorbanan akan ada balasannya sendiri. Percayalah, pengorbanan yang dilakukan tidak hanya akan berdampak positif pada penderita gangguan jiwa, namun juga ada dampak positif atau balasan pada orang orang yang membantu saudaranya untuk pulih dari gangguan jiwa.

Berbagai penelitian ilmiah di Amerika menunjukkan bahwa orang orang yang menjadi sukarelawan dan menolong orang lain, hidupnya lebih bahagia, lebih sehat dan berumur lebih panjang. Orang yang menolong (dengan tenaga dan pikiran) serta memberi sedekah, sering merasa lebih berbahagia dibandingkan dengan orang yang ditolong atau diberi bantuan.

Nah, bila ada saudara atau tetangga yang menderita gangguan jiwa, jadikan hal tersebut sebagai ladang amal. Mari kita bantu mereka agar bisa pulih dan kembali hidup produktif di masyarakat. Bagaimana caranya? silahkan pelajari dari berbagai artikel yang ada di website ini.