Gangguan jiwa bipolar (4): episode mania atau hipomania

Paranonia A young man in an office peers through blinds

Pemikiran paranoid (curiga) sering muncul dan terlihat dari tingginya rasa curiga pada orang lain. Rasa curiga tersebut sering didasarkan pada kejadian masa lalu yang terus dipegangnya dan diperkuat dengan fakta fakta yang mendukung (namun mengabaikan fakta yang bertentangan). Interaksi dengan orang yang dicurigai biasanya terlihat tegang karena rasa curiga tersebut. Orang yang dicurigai sering bereaksi karena diperlakukan berbeda dan hal tersebut dipakai sebagai dasar untuk membenarkan bahwa orang tersebut memang patut dicurigai.

Meningkatnya jumlah ide dan keinginan  

Selama episode mania atau hipomania, penderita akan mempunyai banyak ide dan gagasan. Penderita biasanya terlalu berlebihan dalam menilai kemampuan dirinya dalam mengerjakan idenya tersebut. Meningkatnya aktivitas mental tersebut (munculnya banyak ide) menyebabkan yang bersangkutan tidak bisa berkonsentrasi dalam mengerjakan kegiatan yang sedang dikerjakannya.

Kesalahan dalam menilai

Penderita hipomania mengalami “kerusakan” pada kemampuannya memberikan penilaian sosial (social judgement) atau menilai sesuatu hal , khususnya dalam hal hubungan antar manusia. Mereka sering menyatakan atau mengerjakan sesuatu yang aneh atau tidak menyadari dampak perkataan atau perbuatan mereka terhadap orang lain.  

Bersambung

Salurkan CSR (corporate social responsibility), zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirtojiwo 

Pengobatan schizophrenia (2)

Gambar terkaitObat obat anti psikotik lama, sering mempunyai efek samping yang menganggu gerak tubuh. Obat obat anti psikotik lama antara lain:

  • Chlorpromazine
  • Fluphenazine
  • Haloperidol (Haldol)
  • Perphenazine

Obat anti psikotik lama tersebut sangat murah, khususnya obat generiknya. Hal tersebut perlu dipertimbangkan untuk pengobatan jangka lama.

Biasanya diperlukan waktu beberapa minggu sebelum obat anti psikotik memberikan dampak pada perbaikan gejala. Tujuan utama pengobatan adalah menekan tanda dan gejala schizophrenia dengan dosis serendah mungkin.

Selain dengan obat obatan, untuk mendukung pemulihan penderita schizophrenia juga memerlukan terapi psikososial, seperti:

  • social skills training yang fokusnya pada pelatihan ketrampilan komunikasi dan interaksi sosial
  • family therapi (terapi keluarga) dengan memberi informasi kepada keluarga tentang caranya mendukung pemulihan penderita schizophrenia
  • vocational rehabilitation dan supported employment, dimana pelatihan kerja diberikan dan juga dukungan psikososial selama sang penderita bekerja
  • individual therapy dimana penderita belajar tentang cara mencegah kambuh dan belajar mengatasi penyakitnya.

Di negara negara maju, masyarakat juga mengembangkan program yang menggarap masalah pekerjaan, perumahan, self-help group, dall. Diharapkan Tirto Jiwo, yang saat ini sedang dalam proses pembangunan, akan bisa memberikan berbagai terapi psikososial dan sekaligus mengembangkan self-help group.

Salurkan CSR (corporate social responsibility), zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirtojiwo

Psikoedukasi bagi skizophrenia (2)

Orang orang dibawah ini mempunyai resiko terkena schizophrenia yang lebih besar:

  • hidup menyendiri
  • hidup susah (unsatisfactory living conditions)family fighting
  • memakai obat terlarang

Sedangkan kemampuan perlindungan diri yang bisa membentengi diri dari terkena schizophrenia, antara lain:

  • kemampuan atau ketrampilan dalam mengatasi stress dan masalah
  • dukungan sosial atau persahabatan
  • pola mencari bantuan yang tepat, misalnya tidak lari ke dukun
  • minum obat sesuai perintah dokter (bagi yang sudah sakit).

Meskipun mempunyai kerentanan genetis, namun bila hidupnya tidak penuh stress atau mempunyai kemampuang mengatasi masalah dan bisa mengendalikan rasa frustasi, maka seseorang bisa terhindar dari schizophrenia. Bagi yang sudah terkena, hal yang penting ditanamkan adalah perlunya minum obat sesuai petubjuk dokter, mengendalikan stress, belajar meningkatkan ketrampilan mengatasi masalah dan membangun jaringan persaudaraan dan pertemanan yang mendukung.

Salurkan CSR (corporate social responsibility), zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirtojiwo

Psikoedukasi bagi penderita schizophrenia

Hasil gambar untuk psychoeducation for schizophreniaPenderita schizophrenia tidak hanya memerlukan obat agar bisa pulih. Mereka juga memerlukan psychoeducation, sehingga mereka bisa memahami tentang penyakitnya dan secara pro-aktif berusaha bersama dengan dokter untuk memulihkan kesehatan dirinya.

Pada penderita schizophrenia, pemahaman penyakitnya dengan pendekatan stress-vulnerability model biasanya sangat cocok. Adanya faktor biologis mendorong mereka untuk mengikuti petunjuk dokter dalam minum obat dan memahami faktor resiko serta pencetus sehingga mereka berusaha menghindarinya.

Pada penderita schizophrenia sering ditemui faktor yang membuat rentan terkena schizophrenia, yaitu:

  • genetic vulnerability, faktor genetika/ keturunan berupa riwayat keluarga dengan gangguan jiwa
  • bilogic vulnerability, faktor biologis yang bisa berupa infeksi pada kehamilan, trauma pada waktu lahir, penyakit atau kekurangan gizi, dll.
  • life stress vulnerability, yaitu rasa kurang percaya diri, toleransi yang rendah terhadap rasa frustasi, umur remaja atau dewasa muda.

Beberapa penderita schizophrenia juga mempunyai life stress factor, yaitu riwayat hidup yang penuh tekanan, seperti:

  • pengalaman  hidup akhir akhir ini yang sengsara atau penuh duka cita
  • post traumatic stress disorder yang banyak diderita tentara Amerika sekembalinya dari perang di Afghanistan
  • mempergunakan obat terlarang seperti amphetamine, ecstasy
  • gangguan tidurpelecehan seksual, dll

Bersambung

Salurkan CSR (corporate social responsibility), zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirtojiwo

Bunuh diri (3): tanda tanda orang yang akan bunuh diri

Hampir semua orang yang bunuh diri telah menyampaikan atau mempunyai tanda tanda atau gejala. Cara paling tepat dalam mencegah upaya bunuh diri adalah mengenal tanda tanda tersebut dan bertindak dengan tepat dan cepat. Bila anda percaya bahwa seseorang akan bunuh diri, maka anda bisa mempunyai peran besar dalam mencegah upaya bunuh diri dengan mengajaknya bicara tentang berbagai alternatif jalan keluar yang masih mungkin, menunjukkan bahwa anda perhatian dan mengasihi dia, dan membawanya ke dokter atau psikolog.

Tanda tanda yang jelas bahwa seseorang akan bunuh diri adalah dia berbicara tentang keinginannya untuk bunuh diri atau niat mencelakai dirinya sendiri, berbicara atau menulis tentang mati atau kematian, dan mencari sesuatu yang bisa untuk bunuh diri seperti senjata, tali untuk gantung diri atau obat. Tanda tanda seperti itu sangat penting terutama bila orang tersebut mempunyai gangguan jiwa seperti depresi atau gangguan bipolar, mempunyai ketergantungan obat atau alkohol, pernah mencoba bunuh diri sebelumnya, atau ada riwayat keluarga bunuh diri.

Tanda lain yang tidak terlalu kentara/ terlihat jelas, namun sama pentingnya adalah bila yang bersangkutan sudah putus asa. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keputus-asaan merupakan salah satu tanda yang kuat bahwa seseorang mempunyai kemungkinan besar untuk bunuh diri. seseorang yang sudah putus asa mungkin bicara tentang sesuatu yang “sudah tidak tertahankan lagi”, masa depan suram, atau bicara tentang tidak ada lagi hari esok atau masa depan.

Tanda tanda lain yang mengarah ke upaya bunuh diri adalah perubahan perasaan dan perubahan kepribadian yang mendadak, seperti perubahan dari anak sopan menjadi pemberontak, senang bergaul berubah menjadi mengurung diri. Seseorang yang akan bunuh diri sering juga tidak lagi tertarik dengan kegiatan sehari-hari, tidak memperhatikan penampilan dirinya lagi, dan menunjukkan adanya perubahan yang besar pada kebiasaan makan dan tidurnya.

Bersambung

Salurkan CSR (corporate social responsibility), zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirtojiwo 

Terapi kognitif pada hipomania dan mania (3)

Meningkatnya jumlah ide dan keinginan

Selama episode mania atau hipomania, penderita akan mempunyai banyak ide dan gagasan. Penderita biasanya terlalu berlebihan dalam menilai kemampuan dirinya dalam Image result for manic artmengerjakan idenya tersebut. Meningkatnya aktivitas mental tersebut (munculnya banyak ide) menyebabkan yang bersangkutan tidak bisa berkonsentrasi dalam mengerjakan kegiatan yang sedang dikerjakannya.

Kesalahan dalam menilai

Penderita hipomania mengalami “kerusakan” pada kemampuannya memberikan penilaian sosial (social judgement) atau menilai sesuatu hal , khususnya dalam hal hubungan antar manusia. Mereka sering menyatakan atau mengerjakan sesuatu yang aneh atau tidak menyadari dampak perkataan atau perbuatan mereka terhadap orang lain.

Strategi mencegah timbulnya pikiran hipomania dan mania

Pendekatan kognitif dan perilaku untuk mengendalikan munculnya mania atau hipomania adalah:

  1.  menyadari atau mampu mengenal adanya perubahan kecil pada suasana hati (mood), pikiran, dan perilaku sehingga bisa dilakukan intervenís awal.
  2. mengevaluasi dan mengubah pikiran yang kurang tepat, percaya sesuatu yang tidak benar, atau rasa curiga atau percaya diri berlebihan.
  3. Menata ulang kegiatan, ide atau rencana dengan tujuan untuk mengurangi dan membatasi ide ide yang muncul.

Bersambung

Salurkan CSR (corporate social responsibility), zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirtojiwo

Cara mengatasi halusinasi

Salah satu gejala penderita skizofrenia adalah adanya halusinasi (kebanyakan berupa bisikan bisikan, suara yang mengejek, memerintah, dll). Sebenarnya, halusinasi juga kadang muncul pada orang normal. Bedanya, orang dengan halusinasi namun tetap hidup normal dibandingkan dengan halusinasi pada penderita gangguan jiwa, adalah bahwa halusinasi tersebut tidak membuat yang bersangkutan gelisah, takut atau harus mengikuti apa yang dikatakan suara suara tersebut.

Ada beberapa cara mengatasi halusinasi:

  1. Dengan minum obat. Obat dapat mengurangi halusinasi, namun kebanyakan tidak dapat hilang sama sekali. Selain itu, dalam jangka panjang, obat anti gangguan jiwa mempunyai efek samping yang merugikan.
  2. Dengan mengalihkan perhatian. Cara menghiilangkan halusinasi dengan mengalihkan perhatian, antara lain: mendengarkan musik, berjalan jalan di udara segar, mengerjakan hobi, dan lain lain.
  3. Dengan memfokuskan (focusing), yaitu antara lain dengan : menyadari bahwa suara suara tersebut tidak harus dituruti, berusaha mengendalikan suara suara tersebut (misal: menyuruh agar suara muncul 10 menit dari sekarang, dll).
  4. Dengan metode metakognisi, antara lain dengan: menerima suara suara tersebut (tapi tidak harus menurutinya), membuat daftar hal hal yang mendukung dan bertentangan dengan isi suara tersebut (kalau dikatakan goblog, maka buat daftar keberhasilan keberhasilan yang dulu pernah dicapai, dll).

Di Tirto Jiwo, cara yang selama ini terbukti efektif dalam mengatasi halusinasi adalah dengan kombinasi dari beberapa hal berikut:

  • Suasana yang tenang, segar dan tidak terbelenggu atau terkungkung.
  • Interaksi sosial (dengan petugas dan sesama penderita lainnya) yang ramah, bersahabat, tidak mengancam, serta menimbulkan harapan bahwa semua penderita dapat sembuh, dll.
  • Dzikir untuk memperkuat keimanan dan melawan pikiran pikiran negative.
  • Doa memintakan kesembuhan dari orang tua, keluarga, sahabat dan para petugas serta pengurus Tirto Jiwo.
  • Obat sesuai pemberian dokter spesialis jiwa.

Mengelola gejala halusinasi dirumah

Penderita gangguan jiwa sering mempunyai gejala halusinasi. Halusinasi adalah adanya rangsangan indra yang tidak bisa dilihat atau dirasakan orang lain. Dengan kata lain, penderita gangguan jiwa sering mendengar suara (atau melihat sesuatu, merasa seperti ada yang menyentuhnya, atau merasakan sesuatu dilidah/mulut yang susah dijelaskan) yang sebenarnya berasal dari dalam dirinya sendiri.

Gejala yang muncul ketika seorang penderita mengalami halusinasi:

  • berjalan-jalan
  • tidak bisa diam, gelisah atau selalu bergerak
  • lebih banyak menarik diri dari pergaulan
  • banyak tidur
  • sibuk dengan pikirannya sendiri
  • berbicara sendiri atau menggumam sendiri
  • mudah tersinggung

Cara mengatasi  gangguan halusinasi

  • Bila penderita sedang dalam keadaan relatif baik, ajak bicara/ diskusi dan tanyakan hal hal apa yang bisa membuatnya lebih nyaman dan mengurangi dampak dari halusinasi tersebut. Misalnya: tanyakan kapan atau pada kondisi seperti apa halusinasi tersebut muncul, kapan halusinasi itu jarang atau tidak muncul, dll.
  • Berikan rasa nyaman dan perlindungan
  • Kurangi rangsangan yang bisa mencetuskan halusinasi (suara TV atau radio yang terlalu keras, teriakan-teriakan, gaduh, banyak orang/ tamu, dll.
  • Identifikasi hal hal yang menjadi pemicu stress. Misalnya: banyak orang/ kerumunan orang di toko atau mall, beradu mulut, dimarahi, dll.
  • Ciptakan hal hal atau kegiatan yang bisa mengalihkannya dari halusinasi, seperti: melakukan kegiatan yang menyenangkan hatinya (bermusik, berkebun, menggambar, dll), melakukan pekerjaan rumah yang ringan, diajak ngobrol, mendengarkan radio atau melihat TV, dll.
  • Latihan teknik relaksasi
  • Minum obat sesuai perintah dokter

Hal hal yang tidak usah dilakukan:

  • berdebat dengan suara
  • beradu argumen dengan penderita tentang halusinasi yang dia dengar/lihat atau rasakan.

 

Membantu mengatasi halusinasi

Penderita gangguan jiwa kadang mengalami halusinasi. Halusinasi adalah pengalaman mendengar, merasakan atau melihat sesuatu yang tidak dirasakan, didengar atau dilihat orang lain. Salah satu contohnya adalah mendengar suara suara yang mengatakan bahwa hidupnya gagal, dia bukan siapa siapa, menyuruh melakukan bunuh diri karena dengan demikian dia akan masuk surga. Halusinasi bisa juga berupa melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain, seperti melihat harimau di halaman, agen rahasia negara lain.

Gejala yang terlihat ketika seseorang mengalami halusinasi, antara lain:

  • jalan jalan atau melangkah terus.
  • tidak bisa diam, gelisah
  • menarik diri dari pergaulan sosial
  • asyik dengan sesuatu
  • gampang tersinggung
  • berbicara atau bergumam sendiri

Bila ada teman atau anggota keluarga dengan halusinasi, hal hal yang bisa dilakukan untuk membantu adalah dengan:

  • mengidentifikasi hal hal yang menyebabkan stress dan mengurangi penyebab stress tersebut.
  • mengajak penderita untuk melakukan kegiatan seperti jalan jalan, mengerjakan pekerjaan rumah yang sederhana, mengajaknya melakukan suatu permainan/ game, atau menganjurkan yang bersangkutan untuk bicara denga orang lain.
  • melakukan latihan relaksasi, seperti latihan  napas dalam dan berbagai teknik relaksasi lain.
  • mengajak olah raga ringan (bermain tenis meja, bermain volley, dan lain lain)
  • memberikan pekerjaan sesuai dengan kemampuannya
  • memberikan rangsangan yang bisa mengalihkan perhatiannya dari halusinasi (menyediakan walkman/ stereo, nonton tv, nonton fil)

Tujuan utamanya adalah agar penderita dapat mengalihkan perhatiannya dari halusinasi. Penderita belajar untuk mengacuhkan halusinasi tersebut dan akhirnya mengendalikannya sehingga tidak akan muncul lagi.

Jangan mengajak berdebat atau beradu argumen dengan suara sura tersebut. Tidak akan ada gunanya.

Pelatihan kognitif untuk mencegah dan mengatasi waham (delusi)

Cognitive-Behavior-Therapy-Workshop-Level-1-018Akhir akhir ini terapi kognitif mulai dilirik lagi. Hal ini terjadi karena, meskipun telah ada obat obat baru anti psikotik, tingkat kesembuhan penderita psikosa belum memuaskan. Sepertinya selain pemberian obat anti psikotik, diperlukan terapi psikososial sebagai tambahan. Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa delusi terjadi karena kelemahan atau kelainan kognitif dari penderita schizophrenia. Sebelum mulai timbul gejala waham, penderita skizofrenia sudah mempunyai kelemahan dalam kognisi maupun kelemahan psikososial lainnya. Ada beberapa kelemahan atau bias kognisi yang sering dijumpai pada penderita skizofrenia, yaitu:

  1. Attributional style. .Bila ada sesuatu kegagalan, penderita skizofrenia jarang menyalahkan lingkungan (misalnya karena hari hujan), atau menyalahkan penyakitnya atau menyalahkan hal tersebut sebagai suatu kebetulan. Penderita skizofrenia cenderung menyalahkan orang lain (misalnya: tetangga). Keadaan ini dalam jangka pendek sepertinya menguntungkan dirinya, namun dalam jangka panjang akan berakibat buruk dalam hubungan sosialnya.Dilain pihak, penderita skizofrenia mempunyai kecnderungan mengklaim suatu keberhasilan sebagai usahanya sendiri.Pola ini sebenarnya juga dijumpai pada non-penderita skizofrenia.Namun pola menyalahkan orang lain dan mengkalim keberhasilan diri ini sangat menonjol pada penderita skizofrenia.
  2. Loncat ke kesimpulan.Pasien skizofrenia cenderung langsung menuju ke kesimpulan dan malas mengumpulkan fakta atau data pendukung. Selain itu, penderita skizofrenia memang mempunyai keterbatasan dalam mengembangkan alternatif penjelasan lain dari suatu kejadian. Penderita skizofrenia juga cenderung bias terhadap bukti/ fakta yang tidak mendukung kesimpulan atau pendapatnya. Merke cenderung bertahan pada pendapatnya meskipun bukti nyata tidak mendukung. Mereka bisa dengan mudah menyimpulkan bahwa seseorang sedang mengawasi dirinya hanya karena orang tersebut memakai kaca mata hitam, misalnya. Penderita skizofrenia sulit mengembangkan penjelasan lain, misalnya: orang tersebut memakai kaca mata hitam dari sinar matahri membuatnya silau dan terasa menyengat.

Dalam pelatihan untuk menormalkan attibutional style ini, penderita diajak untuk berdiskusi tentang suatu kejadian dan kontribusi dari 3 faktor (diri, orang lain dan lingkungan). Kejadian tersebut bisa berupa kejadian nyata yang dialami peserta pelatihan, namun bisa juga kejadian yang bersifat imajiner. Diharapkan melalui pelatihan ini, sedikit demi sedikit, peserta bisa mempunyai pendapat atau penilaian yang seimbang atas suatu kejadian. Misalnya: seorang peserta program ketinggalan bus, meskipun dia sudah mencoba mengejarnya. Peserta diminta mendiskusikan faktor faktor apa yang menyebabkan hal tersebut. Bisa jadi sopir bus tidak melihat, atau sopir bus sedang tidak senang sehingga dia tetap saja menjalankan bus meskipun tahu ada orang yang mengejar. Bisa juga karena ada ketentuan baru bahwa bus harus berangkat tepat waktu. Pada kelemahan kognisi berupa loncat ke kesimpulan, maka peserta diberi gambar berseri (beberapa gambar) yang semakin lama semakin lengkap. Misalnya gambar lengkapnya adalah gambar seekor kodok, namun gambar pertama mirip gambar potongan mangga atau jeruk. Semakin lama gambar tersebut semakin komplit dan mengarah ke gambar seekor kodok. Disini peserta dilatih untuk tidak langsung loncat ke kesimpulan namun diminta mengumpulkan berbagai fakta pendudkung sebelum mengambil kesimpulan.Dalam latihan ini peserta diajak untuk tidak hanya menyalahkan orang lain. Dalam membahas pola kognisi loncat ke kesimpulan ini peserta juga diajak untuk mendiskusikan kejadian nyata atau imajiner. Peserta kemudian diminta untuk menyampaikan fakta fakta yang mendukung kesimpulan yang dia tetapkan. Dengan pelatihan ini diharapkan pola pikir yang tidak sehat bisa sedikit demi sedikit menjadi lebih sehat. Misalnya dalam kaitannya dengan contoh ketinggalan bus tadi, maka peserta diminta mengumpulkan informasi atau mencari informasi yang diperlukan sebelum mengambil kesimpulan.Peserta dilatih agar tidak mengambil kesimpulan hanay berdasar kesan pertama saja.