Terapi kognitif untuk mengatasi waham (delusion) pada schizophrenia

Image result for delusionSalah satu gejala pada penderita schizophrenia adalah adanya waham (delusion), yaitu penderita percaya kepada suatu hal  meskipun hal tersebut berbeda dari kenyataan.

Penderita schizophrenia biasanya punya beberapa kelainan pola pikir sehingga mereka menilai atau menginterpretasikan suatu kejadian secara negatif atau tidak sehat. Beberapa pola pikir tidak sehat tersebut, antara lain:

  • loncat ke kesimpulan. Penderita schizophrenia sering malas mengumpulkan data pendukung. Mereka sering loncat ke kesimpulan tanpa merasa perlu mencari data pendukung kesimpulannya tersebut.
  • Attribution biases. Penderita schizophrenia cenderung menyalahkan orang lain bila sesuatu hal jelek terjadi pada diri mereka (bukan menyalahkan diri sendiri atau menganggap hal tersebut sebagai kebetulan)
  • Deficit in theory of mind. Penderita schizophrenia sering tidak bisa memahami jalan pikiran, niat atau motif orang lain. Hal ini terutama bila kondisinya sedang parah dan pada penderita dengan gejala negatif yang menonjol.
  • Pola pikir negatif lainnya yang sering muncul pada penderita depresi, seperti berpikir hitam-putih, overgeneralization, dan lain lain.

Pada terapi kognitif, penderita diminta mengembangkan berbagai alternatif pemikiran atau mengembangkan pemikiran yang seimbang. Psikolog bisa mnegajukan pertanyaan seperti: apakah ada penjelasan yang lain dari kejadian tersebut?

Misalnya dari pada berkata (atau percaya) bahwa “dokter tidak tersenyum karena saya sudah tidak punya ruh)”, maka penderita bisa diajak untuk mengembangkan pikiran lain, misalnya: “Pak dokter sedang banyak pikiran, sibuk sampai lupa membalas salam tanpa senyum”. Atau pikiran atau percaya kepada sesuatu pemikiran yang lebih seimbang:” Tumben pak dokter tidak tersenyum, padahal biasanya ramah sekali. Pasti sedang sibuk dan banyak pikiran”.

Dengan mengubah pikiran yang tidak berdasar kenyataan menjadi pikiran yang lebih seimbang, maka penderita schizophrenia akan dapat mengatasi delusi (waham) sedikit demi sedikit. Dalam terapi kognitif, waham yang ringan diatasi terlebih dahulu sebelum menggarap waham yang lebih berat atau sulit.

Salurkan CSR (corporate social responsibility), zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirtojiwo

Transformasi Jiwa: Mengubah jiwa rapuh menjadi sehat dan tahan banting

Transformasi Jiwa, Mengubah Jiwa Rapuh Menjadi Sehat Dan Tahan Banting Melalui Penerapan Psikologi Positif

Buku Transformasi Jiwa mulai April 2017 tersedia di toko buku Gramedia atau toko buku ternama lainnya. Bisa juga dibeli secara online

Salurkan CSR (corporate social responsibility), zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirtojiwo

Terapi kognitif pada hipomania dan mania (4)

Berikut ini lembar kerja yang bisa dipakai untuk mengelola pikiran penderita hipomania atau mania agar lebih terkontrol

 

Ketika sedang bergembira (euphoric), saya sering berpikir: Pandangan yang seimbang, sebagai alternatif
 

 

 

 

 

 

 

Wow, saya punya banyak ide dan kreatif. Saya sangat bersemangat sekarang ini. Orang lain sepertinya tidak puny aide

 

 

 

Berbelanja sepertinya merupakan ide bagus untukku saat ini. Saya ingin punya sepatu buatan luar negeri

Tanyakan pada diri sendiri:

  • Adakah fakta yang mendukung bahwa idea tau pemikiran saya benar (realistis)?
  • Apakah ada hal hal detil atau fakta yang saya lewatkan?
  • Apa ada hal lain yang bisa menjelaskan hal tersebut?
  • Apakah ada pandangan lain dalam hal tersebut?
  • Pandangan seperti apa yang lebih seimbang dan benar?

 

 

Sepertinya suasana hati saya sedang sedikit naik. Meskipun terasa senang menjadi kreatif dan punya banyak ide, namun pelaksanaannya harus pelan pelan, satu demi satu.

 

 

Apakah aku benar benar perlu sepatu baru? Buatan luar negeri lagi.  Sepatu tersebut mahal dan kualitasnya tidak jauh beda dengan buatan dalam negeri yang harganya jauh lebih murah. Juga, sepatu yang ada masih cukup bagus.

Salurkan CSR (corporate social responsibility), zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirtojiwo

Terapi kognitif pada hipomania dan mania (3)

Meningkatnya jumlah ide dan keinginan

Selama episode mania atau hipomania, penderita akan mempunyai banyak ide dan gagasan. Penderita biasanya terlalu berlebihan dalam menilai kemampuan dirinya dalam Image result for manic artmengerjakan idenya tersebut. Meningkatnya aktivitas mental tersebut (munculnya banyak ide) menyebabkan yang bersangkutan tidak bisa berkonsentrasi dalam mengerjakan kegiatan yang sedang dikerjakannya.

Kesalahan dalam menilai

Penderita hipomania mengalami “kerusakan” pada kemampuannya memberikan penilaian sosial (social judgement) atau menilai sesuatu hal , khususnya dalam hal hubungan antar manusia. Mereka sering menyatakan atau mengerjakan sesuatu yang aneh atau tidak menyadari dampak perkataan atau perbuatan mereka terhadap orang lain.

Strategi mencegah timbulnya pikiran hipomania dan mania

Pendekatan kognitif dan perilaku untuk mengendalikan munculnya mania atau hipomania adalah:

  1.  menyadari atau mampu mengenal adanya perubahan kecil pada suasana hati (mood), pikiran, dan perilaku sehingga bisa dilakukan intervenís awal.
  2. mengevaluasi dan mengubah pikiran yang kurang tepat, percaya sesuatu yang tidak benar, atau rasa curiga atau percaya diri berlebihan.
  3. Menata ulang kegiatan, ide atau rencana dengan tujuan untuk mengurangi dan membatasi ide ide yang muncul.

Bersambung

Salurkan CSR (corporate social responsibility), zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirtojiwo

Program pemulihan gangguan jiwa di rumah masing masing (3): mencegah kambuh

Langkah ketiga adalah mempelajari teknik psikososial untuk memulihkan penderita gangguan jiwa. Sebagaimana telah dijelaskan dimuka, teknik tersebut ada yang perlu diterapkan kepada semua jenis gangguan jiwa, namun ada juga teknik khusus untuk mengatasi masalah khusus.

Salah satu teknik atau pendekatan yang perlu dipelajari oleh semua orang adalah teknik mencegah kambuh.

Penderita gangguan jiwa bisa pulih selamanya tanpa pernah kambuh. Meskipun demikian, kebanyakan penderita gangguan jiwa yang sudah pulih masih bisa kambuh kembali. Walaupun sedang dalam pengobatan, penderita gangguan jiwa bisa kambuh kembali.

Untungnya, kambuh biasanya tidak terjadi secara mendadak. Oleh karena mengenal tanda tanda awal kambuhnya seorang penderita sangat penting agar kambuh bisa dicegah, dihindari atau segera ditangani.

Ada dua faktor yang mengakibatkan kambuh, yaitu: faktor kerentanan seperti berhenti minum obat, meminum alkohol atau narkoba, kurangnya dukungan sosial dan kesehatan fisik yang rendah. Faktor kedua adalah faktor yang melindungi seseorang dari kambuh, yaitu: tubuh yang sehat, minum obat teratur, kemampuan mengatasi masalah dan adanya dukungan sosial.

Beberapa tanda awal bila seseorang penderita akan kambuh adalah:

Perubahan perasaan, seperti: cemas, takut, mudah tersinggung dan menjadi agresif, merasa sangat sedih atau tidak bahagia, merasa terancam atau tidak aman, dan paranoid (merasa orang lain ngomongin anda)

Perubahan pikiran, seperti: kesulitan konsentrasi atau berfikir, sulit membuat keputusan, banyak pikiran atau bingung, berpikiran negatif atau pesimis, mendengan suara suara dari dalam dirinya sendiri, berpikir tentang menganiaya diri sendiri, memikirkan kejadian masa lalu.

Perubahan perilaku, seperti: menyendiri atau tidak ingin pergi keluar, nafsu makan naik atau turun, kebanyakan atau susah tidur, banyak minum alkohol atau narkoba, gampang marah/menangis atau tertawa, tidak bertenaga, malas mandi atau membersihkan lingkungan.

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo 

sosial fobia (3)

Artikel sebelumnya bisa diklik disini

Meskipun gangguan kecemasan sosial umumnya memerlukan bantuan dari seorang ahli medis atau psikoterapis yang berkualitas, Anda dapat mencoba beberapa teknik “self-help” (mengobati diri sendiri) untuk menangani situasi yang dapat memicu gejala sosial fobia.

Hasil gambar untuk kendaraan umumPertama, pertimbangkan untuk mengidentifikasi situasi yang  paling mencemaskan. Kemudian secara bertahap berlatih kegiatan ini sampai hal tersebut tidak atau kurang mencemaskan. Mulailah dengan langkah-langkah kecil dalam situasi yang tidak berlebihan.

Sebagai contoh:

  • Makan dengan teman, kerabat dekat atau kenalan di tempat umum.
  • Membuat kontak mata dan mengembalikan salam dari orang lain, atau menjadi yang pertama untuk menyapa
  • Memberikan seseorang pujian
  • Meminta petugas toko swalayan untuk membantu Anda menemukan barang yang anda perlukn
  • Meminta petunjuk dari orang asing
  • Menunjukkan minat pada orang lain – bertanya tentang anak,  rumah, cucu, hobi atau perjalanan, misalnya
  • Memanggil teman untuk membuat rencana

Pada awalnya, hal tersebut terasa berat. Meskipun demikian, jangan berhenti untuk terus mencoba melakukan kegiatan kegiatan yang membuat anda cemas. Jangan menghindar dari kegiatan tersebut. Dengan secara teratur menghadapi situasi semacam ini, Anda akan terus membangun dan memperkuat keterampilan coping (mengatasi gejala kecemasan).

Teknik-teknik berikut dapat membantu Anda mulai menghadapi situasi yang membuat Anda gugup:

  • Siapkan bahan percakapan. Misalnya, membaca koran untuk mengidentifikasi suatu cerita menarik yang dapat Anda bicarakan.
  • Fokus pada kualitas pribadi yang Anda sukai tentang diri sendiri.
  • Praktek latihan relaksasi.
  • Mengadopsi teknik manajemen stres.
  • Tetapkan tujuan yang realistis.
  • Perhatikan seberapa sering situasi yang anda takutkan akan memalukan  telah benar-benar terjadi. Anda mungkin memperhatikan bahwa apa yan anda takutkan biasanya tidak terjadi.
  • Bila situasi yang memalukan terjadi, ingatkan pada diri Anda bahwa perasaan malu Anda akan berlalu/ hilang.

Hindari menggunakan alkohol untuk menenangkan saraf Anda. Ini mungkin tampak seperti membantu, tetapi dalam jangka panjang dapat membuat Anda merasa lebih cemas.

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Sosial fobia (2)

Baca artikel sebelumnya

Penderita sosial fobia mempunyai pola pikir yang kurang sehat yang menyebabkan mereka selalu cemas. Kecemasan pada sosial fobia terutama karena penderita sosial fobia tidak ingin mendapat penilaian yang jelek atau penolakan dari orang lain.

Beberapa belief atau kepercayaan atau pikiran pada diri seorang penderita sosial fobia yang sering ditemui adalah:

  • saya harus kelihatan mampu
  • saya harus kelihatan menarik atau saya akan gagal
  • bila mereka melihat saya cemas atau gelisah, mereka akan menilai bahwa saya lemah
  • bila tidak ada yang bisa saya omongkan atau sampaikan, itu akan jadi bencana
  • mereka akan mulai tidak menyukai saya.

Beberapa pikiran atau belief yang menurut penderita sosial fobia dimiliki orang lain ketika melihat dirinya bila ia tidak bisa tampil dengan baik:

  • orang bodoh
  • orang tersebut kelihatan tidak becul
  • dia tidak bisa mengendalikan dirinya
  • tingkah lakunya aneh.

karena punya pikiran seperti diatas, seorang penderita sosial fobia akan selalu cemas dan menarik diri atau menghindar dari melakukan tuga tugas dimana dia harus tampil atau kelihatan. Untuk itu, dalam mengobati sosial fobia langkah yang harus dilakukan adalah:

  1. Belajar untuk mengidentifikasi pikiran yang lewat di kepala penderita sosial fobia dalam menanggapi peristiwa, dan interpretasi mereka  terhadap  peristiwa dan situasi tersebut.
  2. Belajar bagaimana melihat setiap pikiran-pikiran secara objektif, dan memutuskan apakah pikiran pikiran tersebut mewakili penilaian yang wajar dari situasi (ini untuk menantang mereka agar mempunyai pikiran atau kepercayaan alternatif ).
  3. Menata ulang setiap pikiran yang tidak realistis atau tidak membantu (tidak sehat) dengan cara yang lebih mencerminkan realitas situasi dan lebih membantu dalam kehidupannya.
  4. Menempatkan keyakinan baru yang  lebih bermanfaat dalam praktek dengan mendasarkan perilakunya pada pikiran atau kepercayaan baru tersebut.

Sebagai contoh:

Activating event (A) atau situasi: Minum kopi di cafe.

Belief (B) yang muncul adalah: (1) Tangan saya akan gemetar dan kopi akan tumpah. (2) Saya akan terlihat gemetar, (3) mereka akan mengira saya orang gila.

Sebagai konsekuensi (C), maka yang bersangkutan akan sangat gelisah, cemas. Tanda yang muncul antara lain: gemetar, pucat, berkeringat.

Tentunya seorang penderita fobia sosial akan berkurang cemasnya bila mampu mengubah B (belief) dari kejadian A tersebut dan menerapkannya dalam perilaku yang baru.

Biasanya, terapi kognitif tersebut digabung dengan terapi perilaku. Penderita sosial fobial diminta mengidentifikasi hal hal yang membuatnya cemas. Kemudain bersama terapis, mereka membuat program untuk menghadapi hal hal yang mencemaskan tersebut secara bertahap. Misalnya bila bepergian dengan kendaraan umum membuatnya cemas, maka dibuat program sebagai berikut:

  1. pergi ke terminal dan kemudian kembali kerumah tanpa naik kendaraan umum. Bila berhasil, kemudian lakukan langkah kedua.
  2. pergi ke terminal dan naik kendaraan umum sejauh 1 km dan turun. Bila berhasil, maka lakukan langkah ketiga
  3. pergi ke terminal dan naik kendaraan umum sampai ketempat tujuan. Bila berhasil, langkah berikutnya:
  4. pergi ke terminal, naik kendaraan umum sampai tujuan dan kemudian kembali ke rumah dengan kendaraan umum lagi.

Begitulah, dengan menggarap aspek kognitif dan perilaku, bila perlu ditambah obat, lama kelamaan sosial fobia akan bisa dihilangkan.

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Ketahanan jiwa (2)

Lanjutan artikel sebelumnya

Jalan untuk memperkuat ketahanan jiwa berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Jalan yang cocok untuk seseorang, mungkin tidak cocok dipakai oleh orang lainnya.

Hasil gambar untuk resilienceSetidaknya ada 10 jalan yang dapat memperkuat ketahanan jiwa:

  1. Membuat jalinan hubungan sosial dan kekerabatan. Hubungan kekerabatan, pertemanan atau persaudaraan yang baik akan dapat memperkuat ketahanan jiwa. Punya seseorang yang bersedia mendengarkan dan menolong ketika ada masalah, membuat ketahanan jiwa seseorang menjadi lebih kuat.Sebagai manusia yang beragama, maka mengadu atau curhat kepada Tuhan adalah cara yang terbaik. Tuhan pasti akan mendengarkan doa hambanya dan akan menjaga kerahasiaan masalah yang dikeluhkan kepadaNya.
  2. Hindari melihat krisis sebagai masalah yang tidak dapat diatasi. Kita tidak akan dapat mengubah fakta atau kenyataan bahwa sesuatu masalah sedang terjadi. Namun kita dapat mengubah sikap atau rekasi kita terhadap masalah tersebut. Dengan menempatkan masalah dalam konteks yang lebih luas, maka masalah biasanya akan teratasi dengan berjalannya waktu.Setiap badai pasti berlalu. Begitu pula dengan masalah yang sedang dihadapi saat ini, juga akan segera berlalu.
  3. Terima kenyataan bahwa semuanya bisa berubah. Tidak ada yang abadi didunia ini.Semuanya bisa berubah. Begitu pula, bila suatu tujuan atau sasaran tidak dapat dicapai, kita dapat mengubah sasaran atau tujuan tersebut. Dengan bersikap fleksibel, maka jiwa akan menjadi lebih tahan dalam menghadapi goncangan atau masalah

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo 

Ketahanan jiwa (1)

Hasil gambar untuk keluarga bahagiaKetahanan jiwa adalah kemampuan seseorang untuk bertahan dan kembali melangkah kedepan ketika menghadapi tragedi, bencana atau sumber sumber stress berat lainnya. Ketahanan jiwa disini juga berarti kemampuan bangkit kembali ketika jatuh karena terkena bencana atau tragedi.

Beberapa hal yang memerlukan ketahanan jiwa, antara lain: kehilangan orang orang dekat/ yang dicintai, perceraian, menderita penyakit yang serius, mengalami kegagalan yang cukup berarti.

Kebanyakan orang, setelah mengalami kejatuhan atau kegagalan, akan bisa bangkit kembali karena mereka mempunyai ketahanan jiwa. Namun pada sebagian kecila orang, kegagalan atau bencana membuat dirinya jatuh, depresi, terkena gangguan jiwa dan tidak mampu bangkit kembali.

Salah satu faktor penting yang membuat seseorang mempunyai ketahanan jiwa yang baik adalah orang tersebut mempunyai jaringan persaudaraan, saling menyayangi di dalam keluarga dan mempunyai jaringan pertemanan yang kuat.

Beberapa faktor tambahan yang membuat seseorang mempunyai daya tahan kejiwaan:

  • Mampu membuat rencana yang realistis dan mampu melaksanakan rencana tersebut.
  • Mempunyai penilaian terhadap diri sendiri yang positif dan percaya terhadap kemampuan dirinya.
  • Mempunyai ketrampilan dalam hubungan antar manusia dan kemampuan dalam pemecahan masalah
  • mempunyai kemampuan mengendalikan perasaan dan dorongan hati.

Bersambung

Sumber bacaan: http://www.apa.org/helpcenter/road-resilience.aspx

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo 

 

Laporan Keuangan Bulan Desember 2016

Dana yang masuk ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri 136 00 1074619 3 atas nama Yayasan Islam Ummy divisi Tirto Jiwo.

01-12-2016  Rp 300 000 dari Ibu Dama Sela

02-12-2016 Rp 1 000 000 dari Ibu Nina Mardyana

04-12-2016 Rp 250 000 dari Ibu Nindya Kartika Wahyudiani

07-12-2016 Rp 600 000. infak untuk Bapak Suhartoyo

08-12-2016 Rp 750 000 infak dari dermawan (setoran tunai)

08-12-2016 Rp 750 000 infak tunai dari dermawan

09-12-2016 Rp 1 000 000 infak tunai dari dermawan

12-12-2016 Rp. 1 000 000 infak dari Bapak Sabari A Chalik

19-12-2016 Rp 1 000 000 infak dari Ibu Feni Yuniati

23-12-2016 Rp 1 000 000 infak dari ibu Esti

28-12-2016 Rp 1 250 000 infak dari Dermawan

28-12-2016 Rp 5 000 000 infk dari Dermawan

Total pemasukan selama Bulan Desember 2016 Rp 13 900 000.

Pengeluaran untuk gaji pegawai Rp 9 800 000.

Pengeluaran untuk makanan dan lain lain Rp 7 900 000.