5 cara membeli kebahagian (1)

Uang Tak Bisa Beli Kebahagiaan, Studi Ini MembuktikannyaLho! memang kebahagiaan dapat dibeli?

Hingga saat ini memang kebahagiaan tidak dijual, namun bila anda mempunyai uang dan menggunakan uangnya dengan tepat, maka anda akan dapat mengalami kebahagiaan.

Cara pertama. Jangan beli barang, pakai uang untuk membeli pengalaman. Menurut penelitian, banyak orang merasa menyesal setelah membeli barang, terutama bila membeli barang tersebut secara emosional. Selain itu, kesenangan yang kita rasakan setelah membeli barang hanya berlangsung singkat. Tidak demikian halnya bila kita memakai uang untuk membeli pengalaman. Saya sudah kepala lima saat ini, tapi hingga sekarang masih ingat pengalaman  menyenangkan ketika diajak berenang di kolam renang Simbarjoyo oleh bapak sehabis kenaikan kelas di sekolah dasar lebih dari 40 tahun yang lalu. Biaya tidak banyak, namun kesan yang saya dapatkan bisa bertahan lama. Teman senior saya masih sering menceritakan pengalaman berlibur sekeluarga ke Nepal meskipun itu sudah terjadi lebih dari 5 tahun yang lalu. Bila ingin lebih bahagia, pakai uang anda untuk membiayai piknik keluarga, nonton bersama, dll. Jangan hanya untuk membeli barang barang.
Cara kedua. Jangan pakai uang hanya untuk diri sendiri, gunakan uang untuk membantu sesama yang lebih membutuhkan. Sebagian besar orang tidak menyadari hal ini. Penelitian dari Harvard telah membuktikan bahwa dengan menyumbang uang (pro-sosial) 5 dolar per hari atau sekitar Rp 60.000 (rata rata penghasilan di AS lebih dari Rp 40 juta per keluarga per bulan) tingkat kebahagiaan  mereka naik secara bermakna. Tentunya untuk tingkatan Indonesia, cukup dengan memberi sedekah Rp 5.000 per hari kita akan sudah bisa merasa bahagia. dengan membantu orang lain yang lebih membutuhkan, kita akan merasa bahagia. Coba saja sendiri !!. Saat ini banyak bencana melanda Indonesia. Orang miskin juga banyak disekitar kita. Sumbang korban bencana, bantu saudara atau tetangga yang kekurangan, insya Allah hidup anda akan lebih bahagia.
Bersambung
Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Belajar ikhlas

Kita sering mendengar pernyataan ” Sedekah itu tidak harus besar, yang penting ikhlas”. Saya kira pernyataan tersebut tidak salah, cuman sering dapat menyesatkan. Kenapa? Karena pernyataan tersebut membuat orang sudah puas dengan memberi sedekah uang recehan. Tentu saja memberi sedekah uang receh dengan niat karena Allah semata lebih baik dibandingkan dengan sedekah uang banyak tetapi dengan motivasi politik (sebagai bagian kampanye) atau karena ingin terkenal, dll. Namun dilain pihak, dengan keikhlasan yang sama, sedekah dalam jumlah yang besar akan lebih baik dibandingkan dengan sedekah dalam jumlah sedikit.

Kita bisa ikhlas memberi Rp 1,000 kepada pengemis dijalanan, tapi sering belum bisa ikhlas memberi sedekah sebesar Rp 1000,000 kepada kenalan atau saudara yang membutuhkan.

Kelihatannya, ikhlas itu tidak beda jauh dengan khusyu. Kita perlu latihan agar bisa sholat khusyu. Kita perlu latihan juga agar bisa sedekah dalam jumlah besar dengan ikhlas. Menurut hemat saya, berikut ini tahapan yang perlu dilalui agar kita bisa memberi dalam jumlah besar dengan ikhlas:

Tahap 1, penuhi kewajiban zakat, khususnya zakat mal. Saat ini belum semua muslim yang telah mencapai kewajiban membayar zakat mal telah menunaikan kewajiban tersebut. Banyak muslim yang masih hanya membayar zakat fitrah. Kita akan sulit bersedekah dalam jumlah besar bila kita belum tergerak untuk membayar zakat harta benda kita. Oleh karena itu, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memenuhi kewajiban membayar zakat mal.

Tahap 2,bersedekah dengan mengharap balasan dari Allah dengan balasan dunia. Contohnya adalah bersedekah dengan mengharapkan kesembuhan dari sakitnya. Rasulullah n bersabda :  دَاوُوْا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ

“Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah.” (HR. Baihaqi)
 
Tentunya, bila kita sakit yang cukup serius, kita akan bersedia bersedekah lebih dari jumlah sedekah yang kita masukkan ke kotak amal setiap Jumat. Kita akan bersedia bersedekah dalam jumlah besar dengan harapan bahwa Allah akan mengabulkan doa kita ketika berdoa agar anak kita segera dapat jodoh, agar kita bisa dapat anak keturunan, dan lain lain.
 
Tahap 3, bersedekah dengan harapan agar Allah berkenan menghindarkan kita dari bencana dan ujian. Nabi Muhammad bersabda:  بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ 

Ujian yang menimpa seseorang pada keluarga, harta, jiwa, anak, dan tetangganya bisa dihapus dengan puasa, shalat, sedekah, dan amar makruf nahi munkar.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bila kita sudah bisa bersedekah dengan jumlah besar dengan mengharap balasan dari Allah berupa balasan yang tidak segera sifatnya, maka kita sudah naik lebih tinggi tingkat keikhlasan kita.
 
Tahap 4, bersedekah dengan mengharapkan balasan surga bagi kita. Selama ini kita menganggap enteng masalah surga. Kita menganggap bahwa masuk surga itu mudah dan tidak perlu pengorbanan. Pada tahap ini kita sudah berani mewakafkan rumah atau tanah kita untuk rumah tahfidz, misalnya.
 
Allah SWT berfirman: ” Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS. Al Hujuraat : 15)
 
Tahap 5, bila kita sudah bisa bersedekah dalam jumlah besar agar orang tua kita bisa masuk surga. 
 
Tahap 6, bila kita sudah bisa bersedekah dalam jumlah besar dengan menyerahkan sepenuhnya balasan yang akan Allah berikan. Selama ini sebagian besar dari kita telah bersedekah tanpa mengharapkan balasan apapun dari Allah karena jumlah yang kita sedekahkan hanya berupa uang ribuan rupiah. Bila kita sudah menyedekahkan harta yang kita cintai (misalnya: rumah, mobil terbaru yang kita punyai, dll), maka kita sudah mencapai tingkat keikhlasan yang tinggi.
 
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya“.(Al Quran Surat Ali Imran ayat 92)