Gangguan jiwa bipolar (5): strategi mencegah munculnya mania

Strategi mencegah timbulnya mania

Pendekatan kognitif dan perilaku untuk mengendalikan munculnya mania atau hipomania adalah:

  1. menyadari atau mampu mengenal adanya perubahan kecil pada suasana hati (mood), pikiran, dan perilaku sehingga bisa dilakukan intervenís awal.
  2. mengevaluasi dan mengubah pikiran yang kurang tepat, percaya sesuatu yang tidak benar, atau rasa curiga atau percaya diri berlebihan.
  3. Menata ulang kegiatan, ide atau rencana dengan tujuan untuk mengurangi dan membatasi ide ide yang muncul.

Berikut ini contoh lembar kerja yang bisa dipakai untuk mengelola pikiran penderita hipomania atau mania agar lebih terkontrol

 

Ketika sedang bergembira (euphoric), saya sering berpikir: Pandangan yang seimbang, sebagai alternatif
 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wow, saya punya banyak ide dan kreatif. Saya sangat bersemangat sekarang ini. Orang lain sepertinya tidak puny aide

 

 

 

Berbelanja sepertinya merupakan ide bagus untukku saat ini. Saya ingin punya sepatu buatan luar negeri

Tanyakan pada diri sendiri:

  • Adakah fakta yang mendukung bahwa idea tau pemikiran saya benar (realistis)?
  • Apakah ada hal hal detil atau fakta yang saya lewatkan?
  • Apa ada hal lain yang bisa menjelaskan hal tersebut?
  • Apakah ada pandangan lain dalam hal tersebut?
  • Pandangan seperti apa yang lebih seimbang dan benar?

 

 

Sepertinya suasana hati saya sedang sedikit naik. Meskipun terasa senang menjadi kreatif dan punya banyak ide, namun pelaksanaannya harus pelan pelan, satu demi satu.

 

 

Apakah aku benar benar perlu sepatu baru? Buatan luar negeri lagi.  Sepatu tersebut mahal dan kualitasnya tidak jauh beda dengan buatan dalam negeri yang harganya jauh lebih murah. Juga, sepatu yang ada masih cukup bagus.

Salurkan CSR (corporate social responsibility), zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirtojiwo 

Gangguan jiwa bipolar (4): episode mania atau hipomania

Paranonia A young man in an office peers through blinds

Pemikiran paranoid (curiga) sering muncul dan terlihat dari tingginya rasa curiga pada orang lain. Rasa curiga tersebut sering didasarkan pada kejadian masa lalu yang terus dipegangnya dan diperkuat dengan fakta fakta yang mendukung (namun mengabaikan fakta yang bertentangan). Interaksi dengan orang yang dicurigai biasanya terlihat tegang karena rasa curiga tersebut. Orang yang dicurigai sering bereaksi karena diperlakukan berbeda dan hal tersebut dipakai sebagai dasar untuk membenarkan bahwa orang tersebut memang patut dicurigai.

Meningkatnya jumlah ide dan keinginan  

Selama episode mania atau hipomania, penderita akan mempunyai banyak ide dan gagasan. Penderita biasanya terlalu berlebihan dalam menilai kemampuan dirinya dalam mengerjakan idenya tersebut. Meningkatnya aktivitas mental tersebut (munculnya banyak ide) menyebabkan yang bersangkutan tidak bisa berkonsentrasi dalam mengerjakan kegiatan yang sedang dikerjakannya.

Kesalahan dalam menilai

Penderita hipomania mengalami “kerusakan” pada kemampuannya memberikan penilaian sosial (social judgement) atau menilai sesuatu hal , khususnya dalam hal hubungan antar manusia. Mereka sering menyatakan atau mengerjakan sesuatu yang aneh atau tidak menyadari dampak perkataan atau perbuatan mereka terhadap orang lain.  

Bersambung

Salurkan CSR (corporate social responsibility), zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirtojiwo 

Gangguan jiwa bipolar (3): episoda mania atau hipomania

Gejala kognitif dari mania atau hipomania

Perubahan kognitif (pemikiran/pengertian) pada mania atau hipomania mempengaruhi cara pandang mereka terhadap situasi, dan pada jumlah dan kualitas ide baru. Perubahan tersebut dapat dipakai sebagai tanda bahwa episode mania atau hipomania sudah mulai muncul, dan tindakan pencegahan harus dimulai agar keadaan tidak memburuk.

Meningkatnya optimisme dan rasa percaya diri.

Pada penderita dengan mania atau hipomania, gejala yang paling sering muncul adalah timbulnya rasa percata diri, dan melihat masa depan dan dunia dengan sangat positif berlebihan. Bila sedang mengalami mania, mereka merasa sangat percata diri dan bahagia. Disini biasanya juga muncul terlalu percaya diri, merasa kemampuannya hebat , melihat dunia sangat terbuka dan ramah, dan mengabaikan konsekuensi negatif  akibat dari tindakannya. Kadang penderita sampai kepada mempunyai waham kebesaran.

Bila sedang pada episode mania atau hipomania, penderita sering mempunyai banyak ide baru dan rencana yang kadang punya potensi untuk sukses. Sayangnya, pada penderita mania atau hipomania, sangat sulit membedakan antara ide bagus dan angan angan kosong. Selain itu, ketika pada kondisi mania atau hipomania, kemampuan mereka melaksanakan rencananya serta kemampuan konsentrasi juga terganggu (terutama bila mereka overactive dan kurang tidur). Hal hal tersebut, digabungkan dengan perencanaan yang jelek atau tanpa perencanaan sama sekali, sering menyebabkan ide yang bagus menjadi kegagalan. Ketika sedang berada dalam kondisi mania atau hipomania, mereka sering lupa dampak negatif yang mungkin timbul dari perbuatannya. Mereka jarang mempertimbangkan sis positif dan negatif dari setiap pilihan. Mereka juga sering sangat optimistik sehingga mengabaikan potensi negatif dari setiap ide yang muncul di otaknya.

Beberapa penderita sering merasa mempunyai kekuatan khusus, khususnya dalam hal kreativitas dan hubungan antar manusia. Hal tersebut terbawa Teres karena yang bersangkutan fokus atau hanya memperhatikan fakta fakta yang mendukung dan mengabaikan fakta yang bertentangan dengan idea tau pemikirannya.

Salurkan CSR (corporate social responsibility), zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirtojiwo 

Gangguan jiwa bipolar (2): episoda mania atau hipomania

Gejala utama pada penderita gangguan jiwa bipolar adalah adanya perubahan mood (perasaan) yang berubah ubah dari mania/ hipomania ke depresi atau sebaliknya.

Serangan mania atau hipomania sering memberikan pengalaman yang menyenangkan pada penderita bipolar. Perubahan positif pada suasana hati (mood) bisa sangat dramatis.  Penderita  merasakan dirinya penuh energi, optimis dan menggairahkan. Pada sisi yang lain, orang lain sering melihat penderita mania atau hipomania sebagai orang yang gampang tersinggung atau lekas marah dan mudah terhasut. Pada awal serangan mania/ hipomania. Pada penderita yang mengalami episode campuran (mixed episode), perubahan cepat dari gembira atau senang hati ke marah sekali, bisa terjadi dengan cepat.

Gejala mania, hipomania atau campuran biasanya mulai muncul secara bertahap dalam burun beberapa hari hinggá 2 mingguan. Sering penderita bipolar menyadari adanya pola dari munculnya gejala hipomania atau mania tersebut. Misalnya, mania atau hipomania muncul dari satu gejala berupa sulit tidur, dan kemudian memburuk dengan bertambahnya gejala yang muncul (misalnya: meningkatnya garría seksual, rasa gembira). Perubahan dalam pola pikir atau otak yang dipenuhi dengan pikiran tertentu sering juga merupakan tanda awal hipomania atau mania. Beberapa penderita bisa menyadari hal tersebut dan berkata:” Oh mulai muncul lagi. Saya selalu mulai dengan pikiran tersebut bila mania mulai menyerang”. Pemahaman tersebut dapat menjadi langkah kuncil atau penting sehingga tindakan intervenís untuk mencegah munculnya mania atau hipomania secara penuh.

Bersambung

Salurkan CSR (corporate social responsibility), zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirtojiwo 

Gangguan jiwa bipolar (1): Diagnosa gangguan bipolar

bipolarBila dokter menduga adanya gangguan bipolar, maka dokter biasanya akan mengajukan beberapa pertanyaan dan melakukan pemeriksaan fisik dan psikologis. Hal tersebut diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya penyakit lain yang menimbulkan gejala seperti yang dikeluhkan oleh pasien, menemukan diagnose penyakit dan mendeteksi adanya komplikasi. Beberapa pemeriksaan yang biasa dilakukan adalah:

Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan berat badan tinggi badan, suhu tubuh, tekanan darah dan detak nadi, mendengarkan jantung dan paru paru serta memeriksa perut.

  • Pemeriksaan laboratorium. Dokter mungkin akan memerintahkan pemeriksaan darah rutin, atau pemeriksaan fungsi kelenjar gondok bila ada indikasi kearah gangguan fungsi kelenjar gondok.
  • Pemeriksaan psikologis. Untuk mengecek ada tidaknya depresi dan mania, dokter atau tenaga kesehatan akan menanyakan tentang perasaan dan pikiran, dan pola perilaku pasien. Dokter atau petugas akan mengajukan pertanyaan tentang gejala, kapan mulainya, apakah pernah mengalami hal yang sama dulu. Dokter juga akan menanyakan apakah ada pemikiran kearah menganiaya diri sendiri atau bunuh diri. Pasien mungkin akan diminta untuk mengisi kuestionnaire (daftar pertanyaan) untuk membantu menentukan ada tidaknya depresi dan mania.
  • Mood charting. Untuk mengetahui secara pasti apa yang terjadi, dokter akan meminta pasien untuk mencatat suasana hati (mood), pola tidur dan hal hal lain yang akan mendukung diagnose dan pengobatan gangguan bipolar.

Bersambung

Salurkan CSR (corporate social responsibility), zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirtojiwo 

Pengobatan schizophrenia (2)

Gambar terkaitObat obat anti psikotik lama, sering mempunyai efek samping yang menganggu gerak tubuh. Obat obat anti psikotik lama antara lain:

  • Chlorpromazine
  • Fluphenazine
  • Haloperidol (Haldol)
  • Perphenazine

Obat anti psikotik lama tersebut sangat murah, khususnya obat generiknya. Hal tersebut perlu dipertimbangkan untuk pengobatan jangka lama.

Biasanya diperlukan waktu beberapa minggu sebelum obat anti psikotik memberikan dampak pada perbaikan gejala. Tujuan utama pengobatan adalah menekan tanda dan gejala schizophrenia dengan dosis serendah mungkin.

Selain dengan obat obatan, untuk mendukung pemulihan penderita schizophrenia juga memerlukan terapi psikososial, seperti:

  • social skills training yang fokusnya pada pelatihan ketrampilan komunikasi dan interaksi sosial
  • family therapi (terapi keluarga) dengan memberi informasi kepada keluarga tentang caranya mendukung pemulihan penderita schizophrenia
  • vocational rehabilitation dan supported employment, dimana pelatihan kerja diberikan dan juga dukungan psikososial selama sang penderita bekerja
  • individual therapy dimana penderita belajar tentang cara mencegah kambuh dan belajar mengatasi penyakitnya.

Di negara negara maju, masyarakat juga mengembangkan program yang menggarap masalah pekerjaan, perumahan, self-help group, dall. Diharapkan Tirto Jiwo, yang saat ini sedang dalam proses pembangunan, akan bisa memberikan berbagai terapi psikososial dan sekaligus mengembangkan self-help group.

Salurkan CSR (corporate social responsibility), zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirtojiwo

5 Tingkat pemulihan gangguan jiwa

Gambar terkaitProses pemulihan gangguan jiwa dapat diibaratkan seperti seorang yang sedang naik tangga. Dari tingkat terendah, yaitu ketika yang bersangkutan masih kehilangan kemampuan mengenal realitas hingga ke tingkat mandiri. Hanya saja, dalam proses pemulihan dari gangguan jiwa, kadang ada kekambuhan. Orang yang sudah ditingkat 5, bisa tergelincir kembali k tingkat dibawahnya.

Ada 5 tingkatan pemulihan gangguan jiwa:

  1. Tingkat 1: Stuck (nyangkut). Pada tingkat ini penderita gangguan tidak ingin diganggu, inginnya menyendiri, tidak merasa dirinya perlu pertolongan. Pada tingkat ini biasanya penderita perlu dirawat di rumah sakit.
  2. Tingkat 2: Accepting help (Menerima pertolongan). Pada tingkat ini penderita gangguan sudah mulai menyadari bahwa dirinya sedang mempunyai masalah, menyadari bahwa tanpa pertolongan orang lain dirinya akan sulit mengatasi masalah yang dihadapinya tersebut.
  3. Tingkat 3: Believing (percaya). Penderita gangguan jiwa mulai percaya bahwa masa depan bisa lebih baik dibandingkan dengan keadaan sekarang, penderita mau berubah dan mulai menyadari apa yang dia inginkan.
  4. Tingkat 4: learning (belajar). Penderita mulai belajar bagaimana mengatasi masalah yang dihadapinya, mulai menyadari bahwa proses pemulihan tergantung juga kepada dirinya (tidak hanya menggantungkan diri pada pertolongan orang lain).
  5. Tingkat 5: Self reliance (mandiri). Penderita mulai bisa mandiri, tahu dimana mencari pertolongan bila dia sedang mengalami krisis atau mengalami masalah yang tidak bisa diatasinya.

Salurkan CSR (corporate social responsibility), zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirtojiwo 

Bunuh diri (9): pertolongan dan dukungan

Hasil gambar untuk bunuh diriBerikut ini beberapa saran bila anda ingin menolong orang yang berniat bunuh diri:

  • Bantu untuk mendapatkan pertolongan ahli. Upayakan sebisa mungkin untuk menolong seseorang yang berniat bunuh diri. Dorong agar yang bersangkutan bersedia ke psikiater dan bantu untuk mendapatkan pertolongan dari para ahli kesehatan jiwa.
  • Tindak lanjut pengobatan. Bila saudara atau teman yang berniat bunuh diri mendapat obat dari dokter, upayakan agar yang bersangkutan bersedia minum obat sesuai ketentuan yang diberikan dokter. Perhatikan adanya efek samping obat dan beri tahu dokter bila keadaan saudara/ teman anda tersebut terlihat memburuk. Sering diperlukan waktu untuk bisa menentukan jenis obat dan dosis yang tepat.
  • Bertindak pro-aktif. Orang yang berniat bunuh diri sering tidak lagi percaya bahwa akan ada yang bisa menolongnya. Untuk itu, anda harus lebih pro-aktif dalam memberikan pertolongan. Kata kata seperti:” Telpon saya bila kamu perlu sesuatu” tidaklah tepat. Anda perlu lebih pro-aktif dengan menelponnya, menjenguknya dan mengajaknya jalan jalan keluar.
  • Dorong agar mengubah pola hidupnya. Dorong agar teman atau saudara tersebut  bisa tidur cukup dan teratur, makan makanan yang sehat, berolah raga, keluar rumah selama setidaknya 30 menit per hari.
  • Buat rencana keselamatan. Buat rencana keselamatan dan diminta agar yang bersangkutan berjanji untuk menjalankannya. Dalam rencana keselamatan tersebut perlu diidentifikasi hal hal yang mencetuskan keinginannya untuk bunuh diri, seperti: setiap ulang tahun kehilangan (kematian istrinya, rumah terbakar, dll), bertengkar, minum alkohol, dll. Upayakan juga diidentifikasi hal hal yang bisa membantu untuk mencegahnya meneruskan niatnya, seperti daftar nama teman atau saudara yang bisa diajak bicara, dokter yang bisa dihubungi, dll.
  • Singkirkan alat alat bantu bunuh diri. Singkirkan pisau, tali, senjata, obat, racun tikus, dll yang bisa dipakai untuk bunuh diri.
  • Teruskan dukungan anda sampai cukup waktu. Meskipun sudah berlalu, upayakan untuk tetap kontak dengan yang bersangkutan. Secara periodik kunjungi dirinya dan ajak untuk bersosialisasi. Dukungan tersebut diperlukan agar tema atau saudara anda tersebut tetap dalam jalur pemulihan.

Referensi: http://www.helpguide.org/mental/suicide_prevention.htm

Salurkan CSR (corporate social responsibility), zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirtojiwo 

Bunuh diri (7): respon cepat di saat kritis

Bila ada teman, saudara atau anggota keluarga yang berk ata bahwa dia berniat untuk bunuh diri, Hasil gambar untuk bunuh dirimaka sangat penting untuk mengevaluasi tingkat kegentingan atau berbahayanya situasi. Seseorang yang berada dalam situasi sangat kritis, maka orang tersebut telah mempunyai RENCANA, mempunyai ALAT untuk melaksanakan upaya bunuh dirinya, WAKTU YANG TELAH DITETAPKAN, dan NIAT KUAT untuk melaksanakannya.

Beberepa pertanyaan berikut ini bisa ditanyakan untuk mengukur kegentingan situasi:

  • apakah anda punya RENCANA untuk bunuh diri?
  • apakah anda punya obat, tali gantungan, pisau, senjata untuk melaksanakan bunuh diri (ALAT)?
  • apakah kamu tahu kapan kamu akan melakukan bunuh diri? (WAKTU TELAH DITETAPKAN)
  • apakah kamu sudah berniat bunuh diri (NIAT, bukan hanya pikiran)

Berikut tanda tanda sesuai tingkat kegawatannya:

  1. Tingkat rendah: bila ada beberapa pemikiran untuk melakukan bunuh diri. Tidak ada rencana. Yang bersangkutan juga tidak pernah bilang kalau dia berniat bunuh diri.
  2. Tingkat menengah: bila ada pemikiran untuk bunuh diri, ada rencana tapi belum jelas dan tidak mematikan.
  3. Tingkat tinggi: bila ada pemikiran untuk bunuh diri, telah mempunyai rencana yang spesifik yang sangat mematikan, tapi dia bilang kalau tidak berniat bunuh diri.
  4. Tingkat sangat tinggi: bila ada pemikiran, sudah punya rencana yang spesifik dan mematikan serta berkata bahwa dia berniat bunuh diri.

bersambung

Salurkan CSR (corporate social responsibility), zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirtojiwo 

Bunuh diri (5): ajaklah bicara

Bila anda mengetahui ada tanda tanda keinginan bunuh diri pada teman, saudara atau tetangga, ajaklah bicara. Jangan ragu untuk mengajak bicara mereka, karena semakin cepat diajak bicara hasilnya akan semakin baik. Jangan ditunda-tunda karena berarti memberikan kesempatan untuk melakukan niatnya.

Kadang kita ragu, apakah mengajaknya bicara tidak akan membuat dia marah? Bagaimana kalau ternyata salah? Kita sering merasa takut atau ragu. Namun berbagai penelitian menunjukkan bahwa seseorang yang menunjukkan atau mempunyai tanda tanda orang akan bunuh diri, memang termasuk orang orang yang memerlukan bantuan atau pertolongan–dan semakin cepat pertolongan datang semakin baik.

Mengajak bicara seseorang yang punya niat bunuh diri bukanlah pekerjaan mudah. Untuk itu, bila kita tidak tahu secara pasti, cara terbaik adalah dengan mengajaknya bicara dan mengajukan pertanyaan. Dalam kenyataannya, memberikan kesempatan kepada seseorang yang mempunyai keinginan untuk bunuh diri menyatakan perasaannya, kepedihannya, akan meringankan bebannya dan akan dapat mengurungkan niatnya.

Beberapa kalimat pembuka untuk mengajaknya bicara, misalnya seperti ini:

  • Saya agak prihatin melihat dirimu akhir akhir ini
  • Saya perhatikan ada yang berbeda pada dirimu akhir akhir ini, ada apa?
  • Saya perhatikan kamu sekarang bukan seperti yang aku kenal

Beberapa pertanyaan yang bisa diajukan:

  • Sejak kapan kamu punya perasaan seperti itu?
  • Apakah yang menyebabkan kamu punya perasaan seperti itu?
  • Apa yang bisa saya lakukan untuk membantumu?
  • Apakah kamu merasa perlu pertolongan seorang ahli (dokter atau psikolog)?

Bersambung

Salurkan CSR (corporate social responsibility), zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirtojiwo