Club House: sarana pemulihan penderita gangguan jiwa

Biaya perawatan penderita gangguan jiwa di rumah sakit sangat mahal, untuk kelas 3 saja biayanya bisa mencapai Rp 2,7 juta per bulan. Suatu angka yang tidak akan terjangkau oleh sebagian besar keluarga dengan penderita gangguan jiwa, karena sebagian besar mereka berasal dari keluarga miskin. Selain itu, kapasitas rumah sakit untuk menampung penderita gangguan jiwa juga sangat terbatas.

 

Idealnya penderita gangguan jiwa memang tinggal bersama keluarganya. Dukungan psikologis dari keluarga akan mempercepat kesembuhannya. Sayangnya, banyak juga lingkungan keluarga yang tidak mendukung bagi kesembuhan pasien. Bahkan, di banyak kasus, lingkungan keluarga tersebut malahan yang menyebabkan penderita mengalami stress. Banyak juga keluarga, yang karena sesuatu hal, tidak bisa menampung dan merawat penderita gangguan jiwa.

 

Di Amerika dan di banyak negara maju lainnya ada sebuah panti rehabilitasi jiwa yang dikenal sebagai club house. Setahu saya, di Indonesia belum ada sebuah “club house” bagi penderita gangguan jiwa. Club house merupakan sebuah panti rehabilitasi yang memberikan kesempatan kepada penderita gangguan jiwa untuk beraktivitas, bersosialisasi dan belajar ketrampilan (misalnya di bidang pertanian, perkebunan, atau memasak)  agar bisa kembali bekerja ditengah masyarakat.
Di dalam club house penderita gangguan jiwa, yang biasa disebut “anggota/member”, bekerja bersama staff club house untuk melakukan kegiatan rutin sebuah club house (mencuci, memasak, membersihkan ruangan, dll). Mereka hidup bersama dalam sebuah komunitas yang saling mendukung sehingga diharapkan akan dapat mempercepat kesembuhan pasien penderita gangguan jiwa. Biasanya, dalam melakukan kegiatan kegiatan tersebut, para anggota tidak mendapatkan bayaran.
Biasanya sebuah club house bekerja sama dengan suatu rumah sakit jiwa sehingga para anggota tetap mendapatkan pengobatan selama tinggal didalam club house. Bila ada yang kambuh, anggota dirujuk ke rumah sakit jiwa. Mereka, para anggota juga bebas kembali kepada keluarganya bila merasa sudah siap untuk kembali ke masyarakat.
Saya sedang berusaha merintis pendirian sebuah club house di Indonesia. Menurut perhitungan saya, bila  bisa mengelola tanah pertanian atau peternakan, maka biaya hidup para “anggota” akan bisa tertutup dari hasil pertanian atau peternakan tersebut. Tentunya club house tersebut tidak bersifat mencari untung, malahan lebih bersifat sebagai suatu kegiatan amal.
Akan sangat baik bila club house bisa mempunyai usaha yang bersifat komersial sehingga hasil usahanya bisa dipakai untuk menutup biaya club house. Usaha milik club house juga akan bisa dimanfaatkan sebagai tempat belajar bagi para anggota club house. Berbagai usaha komersial seperti perawatan taman, katering, pengiriman dokumen dalam kota, laundry, dll bisa dilakukan oleh para anggota club house.
Semoga cita cita tersebut bisa segera terlaksana.

Leave a Reply