Terapi kognitif pada hipomania dan mania (2)

Gejala kognitif dari mania atau hipomania

Perubahan kognitif (pemikiran/pengertian) pada mania atau hipomania mempengaruhi cara pandang mereka terhadap situasi, dan pada jumlah dan kualitas ide baru. Perubahan tersebut dapat dipakai sebagai tanda bahwa episode mania atau hipomania Image result for terapi kognitif mulai muncul, dan tindakan pencegahan harus dimulai agar keadaan tidak memburuk.

Meningkatnya optimisme dan rasa percaya diri.

Pada penderita dengan mania atau hipomania, gejala yang paling sering muncul adalah timbulnya rasa percata diri, dan melihat masa depan dan dunia dengan sangat positif berlebihan. Bila sedang mengalami mania, mereka merasa sangat percata diri dan bahagia. Disini biasanya juga muncul terlalu percaya diri, merasa kemampuannya hebat , melihat dunia sangat terbuka dan ramah, dan mengabaikan konsekuensi negatif  akibat dari tindakannya. Kadang penderita sampai kepada mempunyai waham kebesaran.

Bila sedang pada episode mania atau hipomania, penderita sering mempunyai banyak ide baru dan rencana yang kadang punya potensi untuk sukses. Sayangnya, pada penderita mania atau hipomania, sangat sulit membedakan antara ide bagus dan angan angan kosong. Selain itu, ketika pada kondisi mania atau hipomania, kemampuan mereka melaksanakan rencananya serta kemampuan konsentrasi juga terganggu (terutama bila mereka overactive dan kurang tidur). Hal hal tersebut, digabungkan dengan perencanaan yang jelek atau tanpa perencanaan sama sekali, sering menyebabkan ide yang bagus menjadi kegagalan. Ketika sedang berada dalam kondisi mania atau hipomania, mereka sering lupa dampak negatif yang mungkin timbul dari perbuatannya. Mereka jarang mempertimbangkan sis positif dan negatif dari setiap pilihan. Mereka juga sering sangat optimistik sehingga mengabaikan potensi negatif dari setiap ide yang muncul di otaknya.

Beberapa penderita sering merasa mempunyai kekuatan khusus, khususnya dalam hal kreativitas dan hubungan antar manusia. Hal tersebut terbawa Teres karena yang bersangkutan fokus atau hanya memperhatikan fakta fakta yang mendukung dan mengabaikan fakta yang bertentangan dengan idea tau pemikirannya.

Paranonia

Pemikiran paranoid (curiga) sering muncul dan terlihat dari tingginya rasa curiga pada orang lain. Rasa curiga tersebut sering didasarkan pada kejadian masa lalu yang terus dipegangnya dan diperkuat dengan fakta fakta yang mendukung (namun mengabaikan fakta yang bertentangan). Interaksi dengan orang yang dicurigai biasanya terlihat tegang karena rasa curiga tersebut. Orang yang dicurigai sering bereaksi karena diperlakukan berbeda dan hal tersebut dipakai sebagai dasar untuk membenarkan bahwa orang tersebut memang patut dicurigai.

Bersambung

Salurkan CSR, zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirtojiwo

Leave a Reply