Sisi psikososial penderita gangguan jiwa berat (5)

Lanjutan artikel sebelumnya

Tirto Jiwo dan pusat pemulihan gangguan jiwa berat lainnya bisa diibaratkan seperti sekolahan.

Penderita gangguan jiwa yang masuk program pemulihan adalah siswa yang belajar meningkatkan kemampuan jiwa agar dapat mengatasi gangguan jiwa yang dideritanya. Bila siswa telah menguasai kemampuan yang diajarkan, atau dinyatakan lulus, tentunya ingin agar segera dapat keluar kembali ke masyarakat.

Meskipun belum ahli betul, namun mereka telah mempunyai kemampuan minimal dalam mengatasi gangguan jiwanya. Kemampuan tersebut perlu ditingkatkan dan diperkuat di masyarakat. Oleh karena itu, mereka ingin agar dapat segera keluar dari sekolah dan kembali ke masyarakat.

Masalah timbul bila keluarga tidak siap menerima anggota keluarganya yang sakit. Keluarga ingin agar penderita tetap di panti sampai mereka siap menerima anggota keluarganya kembali.

Akibatnya, pusat pemulihan berubah fungsinya menjadi penjara, tempat mengasingkan penderita gangguan jiwa agar tidak kembali ke keluarganya.

Situasi tersebut membuat situasi tidak kondusif bagi proses pemulihan. Membuat penderita agar tetap mau tinggal di pusat pemulihan, padahal seharusnya sudah boleh kembali ke masyarakat, bukanlah pekerjaan mudah. Banyak penderita yang kemudian jatuh lagi atau kambuh gangguan jiwanya ketika menyadari bahwa keluarganya tidak mau menerimanya kembali.

Oleh karena itu, memang diperlukan kerjasama yang baik antara keluarga dengan pusat pemulihan agar penderita gangguan jiwa dapat segera pulih dan kembali produktif di masyarakat.

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo 

Leave a Reply