Bymaristan

Bymaristan

Oleh : Muhaimin Iqbal

Beberapa tahun lalu Bloomberg mengolah data dari PBB, WHO dan Worldbank untuk kesehatan, hasilnya dituangkan dalam bentuk ranking negeri-negeri yang paling sehat sampai negeri yang paling tidak sehat. Dari 145 negara yang di-rangking, yang paling sehat adalah Singapore dan yang paling tidak sehat adalah Swaziland. Indonesia berada di urutan 90 dan Amerika Serikat berada di urutan no 33, yang menarik sekali adalah ternyata urusan sehat ini tidak terkait dengan besarnya biaya kesehatan yang kita keluarkan. 

Ketika saya cross-check dengan biaya-kesehatan per capita yang dikeluarkan oleh OECD dan juga WHO, saya bisa memahami mengapa Indonesia berada di urutan 90 – lha wong biaya yang kita keluarkan untuk  kesehatan kita memang hanya di kisaran US$ 130 per kapita per tahun. 

Yang aneh adalah di negeri yang biaya kesehatan per kapitanya terbesar di dunia , yaitu Amerika Serikat dengan pengeluaran US$ 9,523 ternyata mereka juga bukan negeri yang paling sehat, mereka hanya berada di urutan no 30 dari negeri yang paling sehat di dunia. 

Lantas apa masalah yang sesungguhnya di industri kesehatan ini ? Mengapa biaya kesehatan tidak berbanding lurus dengan tingkat kesehatan rata-rata penduduk ? Dugaan saya adalah sebagian dari biaya kesehatan tersebut larinya bukan untuk pengobatan itu sendiri – tetapi ke profit margin industri-nya sendiri. 

Lari ke pabrik obat untuk membayarai nilai paten dari suatu obat, bahan obat yang murah bisa menjadi sangat mahal karena patent-nya bukan karena ongkos produksinya. Lari ke rumah sakit untuk membayari biaya layanan atau peralatan yang tidak mutlak perlu sekalipun. 

Juga lari ke industri penunjang yang mengelola dananya, seperti asuransi komersial yang tentu saja mengambil profit margin dari pengelolaan dana kesehatan itu sendiri. Bahkan juga asuransi sosial yang eksekutif-eksekutifnya bergaji selangit. 

Dari realita tersebut diatas, maka digenjot seberapa tinggipun biaya kesehatan kita – bila pengelolaannya masih juga diiringi oleh berbagai kepentingan komersial – maka ini tidak akan berarti banyak dalam meningkatkan kesehatan rata-rata penduduk kita. 

Lantas bagaimana solusinya ? Pertama yang harus diubah adalah mindset, bahwa ketika ada saudara kita yang sakit – dia bukanlah target untuk mengambil keuntungan oleh siapapun. Sebaliknya, dia adalah target amal shaleh – kesempatan yang sehat untuk bisa beramal shaleh terhadap si sakit. 

Fokus pada berlomba-lomba dalam kebajikan inilah yang dahulu melahirkan apa yang disebut Bymaristan – rumah untuk merawat oarng yang sakit di masa-masa peradaban Islam memimpin dunia. 

Di Bymaristan orang sakit tidak dikenai biaya, karena saudaranya yang sehat akan berlomba beramal shaleh menolongnya. Si sakit bahkan ketika dia sudah sembuh, dibekali dengan baju baru dan uang secukupnya – agar dia tidak buru-buru harus bekerja lagi ketika masih dalam periode penyembuhan dari sakitnya. 

Darimana dananya ? ya dari orang-orang sehat yang mampu – yang ingin berbuat baik pada saudaranya yang lagi tidak berdaya karena sakit. 

Pertanyaannya adalah apakah konsep ini sekarang mungkin kita hidupkan lagi ? Kitabnya masih sama, nabinya masih sama – semua contoh terbaiknya masih sama – mengapa kita tidak bisa melakukannya ? Asal ada kemauan saja – insyaAllah kita akan bisa mengulanginya. 

Bayangkan diri Anda sedang di UGD sebuah rumah sakit menemani saudara yang sakit. Datang tergopoh-gopoh suami istri yang membawa anaknya yang lagi kritis, tetapi untuk bisa dirawat dia perlu menyerahkan jaminan Rp 15 juta – yang tidak semua orang memilikinya setiap saat. 

Saat itu yang ada Anda dan Anda punya uang ratusan juta di bank, maukah Anda berbuat ? Saya yakin mayoritas pembaca situs ini akan mau melakukannya. 

Tetapi kita tidak sering-sering nongkrong di UGD rumah sakit, sehingga kita tidak tahu bahwa peristiwa yang saya sampaikan di atas terjadi setiap saat dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Sebagian menjadi berita, sebagian besar lainnya tidak – dan sudah dianggap biasa.  

Itulah sebabnya institusi semacam Bymaristan tersebut perlu hadir, agar orang-orang yang berniat membantu saudaranya yang sakit – dia bisa melakukannya setiap saat tanpa harus mengetahui siapa yang datang ke rumah sakit dan lagi perlu pertolongan hari itu.  

Hanya saja untuk mewujudkan konsep Bymaristan yang sesungguhnya akan perlu dana besar untuk membeli lahan, membiayai pembangunan dan peralatannya, perlu serangkian perijinan rumah sakit yang njlimet luar biasa dlsb. Walhasil konsep ini meskipun ideal, perlu effort yang luar biasa dari umat ini untuk menghadirkan kembali. 

Bukan berarti tidak akan kita lakukan, tetapi tahapannya yang akan kita mulai persis mengikuti sirah – ketika Bymaristan-bymaristan tersebut belum hadir di masa kaum muslimin berkecukupan dalam penguasaan ekonomi – apa yang diperbuat kaum muslimin ? 

Rumah sakit pertama dalam Islam yang hadir di jaman Nabi adalah rumah sakit bergerak – bahasa kerennya sekarang adalah mobile hospital. Yaitu ketika terjadi perang Khandak, tatkala Sa’ad bin Muadz terluka di tangannya. Saat itu nabi bersabda ‘…Tempatkan dia di kemah Rafidah sampai aku menyambanginya sebentar lagi !’ Kemah Rafidah inilah rumah sakit pertama yang tercatat dalah sirah uswatun hasanah kita. 

Kemudian cara seperti ini dilanjutkan oleh para khalifah dan sultan-sultan Islam sesudahnya. Rumah sakit bergerak ini makin maju dan makin lengkap dengan segala macam pengobatan dan dokter-dokter terbaik pada jamannya. Bahkan dalam masa Sultan Muhammad Seljuk – rumah sakit bergerak itu ada yang  sampai perlu diangkut dengan 40 unta – saking besar dan lengkapnya !  

Juga bukan hanya untuk masa perang, tetapi untuk menyambangi daerah-daerah yang jauh dari keramian dan jauh dari perhatian pemimpin pada umumnya. Seperti yang ditulis oleh Wazir Isa bin Ali al Jarrah kepada Sinan bin Tsabit – dokter pengawas rumah sakit di salah satu pusat peradaban Islam saat itu – yaitu Bagdad. 

Aku memikirkan penduduk desa-desa. Di antara mereka tentu ada yang sakit, padahal disitu tidak ada dokter yang mengawasi dan mengobatinya. Maka kirimkan dokter-dokter berikut persediaan obat-obatan dan minuman ke desa-desa…”.  

Kisah-kisah indah membantu saudara-saudara kita yang lagi membutuhkan inilah yang ingin kita ulangi. Kalau membuat rumah sakit lengkap belum ada dananya, ya kita buat rumah sakit bergerak – alias ambulan-ambulan yang dilengkapi segala macam obat dan peralatan yang dibutuhkan. 

Dengan beberapa ratus juta insyaAllah kita sudah bisa merintis cikal bakal lahirnya Bymaristan yang utuh, tugas kita memulai untuk melempar – nanti Allah-lah yang akan meneruskan lemparan kita ini, insyaAllah. 

Saya yakin dokter-dokter yang mebaca situs ini juga akan tergerak untuk membantunya, demikian pula para pembaca situs ini utamanya yang sudah di atas 40 tahun. Bukankah Anda sering berdo’a yang disyariatkan untuk orang yang diatas 40 tahun : 

Ya Rabbi, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridloi; berilah kebaikan kepadaku yang akan mengalir sampai ke anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri“. (QS 46:15)  

Kita berdo’a untuk dimudahkan dalam beramal shaleh, maka ketika ada peluang amal shaleh yang ada di depan mata kita – masak kita tolak ? Pengelolaan kesehatan  ala kapitalisme barat sekarang – ternyata tidak menyehatkan rakyatnya seperti fakta-fakta tersebut di awal tulisan ini, dan kita berpeluang untuk memperbaikinya – mengapa tidak kita lakukan ?  

Mengapa tidak kita coba alternatifnya yang tinggal mencontoh saja – lha wong ini semua sudah dilakukan dalam sejarah peradaban Islam yang sangat panjang. Solusi ini juga akan meringankan beban pemerintah, beban rumah sakit-rumah sakit yang ada sekarang, juga beban para dkter sendiri – jadi harusnya mendapat dukungan dari semua pihak, atau minimal tidak diganggu !  

Untuk merealisasikan ini, yang kami butuhkan juga bukan hanya para dokter, paramedis ,donator dan sukarelawan – karena mobil-mobil ambulan perdananya insyaallah akan segera siap – kami juga butuh para engineer dan ahli manufacturing yang canggih di bidangnya masing-masing.  

Saat ini misalnya kami butuh engineer yang sangat menguasai proses pabrikasi mesin-mesin canggih bertekanan tinggi, mungkin engineer perminyakan yang cocok. Apa hubungannya dengan kesehatan ?  

Bahan- bahan obat itu berlimpah di sekitar kita, tetapi untuk mengolahnya kita butuh kemampuan teknik yang tinggi. Teknologi ekstrak yang terbaik untuk bahan obat  dari tanaman hingga kini adalah apa yang disebut Super Critical Fluid Extraction (SCFE), prinsip kerjanya sederhana – bisa kami jelaskan  hanya kami butuh engineer yang tepat untuk pabrikasinya – agar biaya obat bisa ditekan serendah mungkin, agar impor bahan obat juga dapat kita minimalisir tinggal yang benar-benar perlu dan tidak ada bahan bakunya di negeri ini.  

Ketika kesehatan dikelola sebagai project amal shaleh – bukan lagi project komersial, maka insyaAllah kita akan bisa menempatkan negeri ini menjadi negeri paling sehat – mengalahkan negeri jiran terdekat kita yang saat ini dinilai paling sehat, tanpa harus menaikkan biaya kesehatan kita 20 kali lipat dari sekarang menyamai Singapore yang sudah lebih dari US$ 2,500 per kapita !  

Dan untuk ini kita tidak perlu reinvent the wheel, contoh konkritnya sudah ada tinggal mengulanginya. Contoh daruratnya adalah rumah sakit bergerak alias ambulan-ambulan yang lengkap, contoh lengkapnya nanti bila sudah memungkinkan adalah Bymaristan yang utuh – meliputi pengelolaan kesehatan sekaligus pengelolaan pembiayannya ! InsyaAllah. 

Leave a Reply