Jiwa yang rapuh (2)

EnthusiasmTulisan ini merupakan lanjutan artikel sebelumnya

Begitu pula dengan orang yang macet karirnya. Tanpa terlebih dahulu memperkuat jiwanya, mereka sering tidak mampu menemukan dan menerapkan upaya yang diperlukan untuk mengatasi karir yang macet tersebut.

Ketika saya baru diangkat untuk memegang jabatan setingkat direktur di Kementrian Kesehatan pada awal tahun 2000, saya ajak ngobrol ketiga kepala bagian yang kebetulan lebih senior dari saya.

Tahu nggak, mengapa saya diangkat jadi pejabat eselon 2?: tanya saya kepada mereka.

Tanpa menunggu jawaban dari mereka, langsung saya jawab sendiri: “karena saya baru saja mendirikan panti asuhan”.

Bener Pak Gun? Kalau begitu saya akan ikut menyumbang”: kata dua diantaranya.

Sekitar setahun kemudian, kedua anak buah saya yang menyumbang secara rutin panti asuhan tersebut diangkat menjadi pejabat setingkat direktur juga. Yang seorang menjadi Kepala Biro di Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) dan yang seorang menjadi Kepala Dinas Kesehatan Propinsi di sebuah propinsi di Pulau Jawa.

Sesuai dengan teori mekanisme pertahanan jiwa (defense mechanism) yang dikembangkan oleh Sigmund Freud lebih dari seabad yang lalu, orang orang yang sehat, matang dan kuat jiwanya sering melakukan kegiatan kebajikan (altruisme) dan kegiatan lain yang termasuk dalam mekanisme pertahanan jiwa dewasa atau adaptif. Kegiatan kegiatan tersebut membuat jiwa seseorang menjadi sehat, dewasa dan tahan banting.

Bersambung

Artikel terkait: Jiwa rapuh vs jiwa sehat ; memperkuat ketahanan jiwa

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo 

 

Leave a Reply