Gaya berpikir membesar-besarkan atau mengecilkan

kacapembesarDalam konsep aslinya, seperti yang banyak ditemui pada seseorang yang mengalami depresi, gaya berpikir ini seperti seseorang yang memakai kaca pembesar ketika melihat kebaikan (hal hal yang positif) pada orang lain dan mengecilkan hal hal positif tentang diri sendiri.

Orang dengan gaya berpikir ini mengabaikan informasi positif tentang dirinya, dengan mengatakan “ itu hanya kebetulan saja” atau bila ada orang memujinya, dia mengatakan: “mereka hanya bersikap sopan dengan memuji dirinya. Itu semua hanya basa basi pergaulan

Pada manusia kebanyakan dengan jiwa yang lemah atau rapuh, mereka sering mengartikan informasi secara tidak tepat, yaitu dengan membesar-besarkan atau mengecilkannya. Oleh karena itu, data kuantitaif kadang diperlukan agar tidak terjadi salah pengertian.

Pak Wahyudi sering melebih-lebihkan kenyataan. Ketika membuka usaha berjualan makanan sate kambing, salah satu temannya memuji bahwa makanannya sangat enak dan usahanya pasti akan maju. Mendengar hal tersebut, dia segera datang ke bank meminjam uang dengan mengagunkan mobilnya. Ternyata, perkiraannya jauh dari kenyataan. Usaha sate kambingnya tidak berkembang dan hasilnya tidak mampu untuk mencicil pinjaman bank.

Lain lagi dengan Pak Singgih, dia selalu bersikap pesimis. Informasi yang masuk selalu dia kecilkan artinya. Meskipun jualan kupat tahunya laris, dia tidak mau mengambil resiko dengan memperbesar usahanya. Nasehat teman ataupun saudara agar memperbesar usaha selalu ditolaknya. Menurut dia, saran dan informasi yang diberikan oleh teman maupun saudaranya sangat berlebih-lebihan.

Artikel terkait: gaya berpikir generalisasi berlebihan, gaya berpikir hitam putih, gaya berpikir memberi cap atau label, gaya berpikir harus atau musti, gaya berpikir mental filter

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Leave a Reply