Gaya berpikir memberi cap atau label

unhelpful_thinking_stylesDalam gaya berpikir memberi cap atau label, maka seseorang memberi cap atau label terhadap dirinya atau orang lain berupa pernyataan yang umum berdasarkan pada perilaku atau kejadian spesisifk dalam situasi tertentu. Cap atau label tersebut tetap saja diberikan, meskipun banyak data atau bukti bahwa pernyataan atau cap tersebut tidak sesuai.

Bila seseorang lupa membayar pulsa listrik, kemudian berkata “saya memang pelupa”, atau seseorang lupa memberi selamat ulang tahun kepada temannya, kemudian dikatakan “dia tidak perhatian kepada orang lain” itu suatu bentuk gaya berpikir labelling atau memberi cap. Dengan memberi label atau cap pada seseorang, maka sisi lain dari orang tersebut sering terabaikan atau terlupakan. Seseorang yang dicap pelupa, bodoh, tidak perhatian, bukan berarti dia selalu lupa, selau bodoh atau tidak dapat mengerti, atau tidak pernah memberi perhatian kepada temannya sama sekali.

Kenyataan bahwa seorang anak membuat kesalahan dengan menjatuhkan gelas dari meja, dan dicap sebagai anak “tidak hati hati”, tidak berarti bahwa dia benar benar tidak berhati-hati karena setiap hari si anak dapat berangkat dan pulang ke sekolah sendirian tanpa tertabrak kendaraan di jalan raya

Di kantor tempat Pak Henri bekerja, setiap orang sudah mempunyai julukan atau label tersendiri. Ada beberapa orang yang mendapat label “kartu mati” karena selama ini tidak mempunyai kontribusi terhadap perusahaan, ada yang mendapat julukan “bintang” karena ide idenya yang brillian sehingga menyebabkan perusahaan mendapat untung yang besar. Pada suatu rapat, Pak Henri yang termasuk sebagai pegawai yang diberi julukan “kartu mati”, mengusulkan sebuah ide yang bagus yang bila diterapkan akan menguntungkan perusahaan. Ide tersebut ditolak karena muncul dari seorang “kartu mati”.

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

 

 

Leave a Reply