Ketahanan jiwa

6031d9076b00432046b6b300adb167abKetahanan jiwa adalah suatu kondisi dimana seseorang dapat segera bangkit kembali ketika jatuh atau mengalami tekanan jiwa. Ketahanan jiwa adalah kemampuan menghadapi dan mengatasi hal hal yang menekan jiwa, seperti: kegagalan, kehilangan, mendapat malu, ancaman, dan lain lain.

Ketahanan jiwa sangat terkait dengan pemulihan gangguan jiwa. Biasanya, ketahanan jiwa para penderita gangguan jiwa dalam kondisi lemah. Agar dapat pulih dan lepas dari obat, ketahanan jiwa penderita gangguan jiwa perlu diperkuat.

Tanda yang terlihat pada seseorang dengan ketahanan jiwa yang lemah adalah: sering merasa takut, merasa tidak aman, dan tidak percaya diri. Sedangkan tanda tanda seseorang dengan ketahanan jiwa yang kuat adalah: jiwa yang penolong (compassion), selalu bersyukur, pemaaf, cepat baik kembali (tidak jadi pendendam, bila tersinggung dapat cepat kembali menguasai diri), bisa mengendalikan emosi dan baik hati.

Ketahanan jiwa terbentuk sejak kecil. Menurut dr Christof Wiechert, agar mempunyai ketahanan jiwa, seorang anak dalam perkembangannya perlu:

  • Mempunyai hubungan yang stabil dan dapat diandalkan (reliable) dari seseorang. Biasanya seorang anak mendapatkan hal tersebut dari ibunya. Meskipun demikian, anak juga dapat mendapatkan hubungan yang stabil dan dapat diandalkan tersebut dari orang lain, misalnya: ayah, nenek,tante, atau orang lain yang tinggal serumah.
  • Memiliki pengalaman dibimbing seseorang yang tegas. Ketika masih kecil, seorang anak belum dapat mengambil keputusan sendiri dengan baik. Pengalaman mendapat bimbingan dari seseorang yang dengan tegas menunjukkan mana yang baik (boleh) dan mana yang tidak baik (tidak boleh) akan sangat membantu dan menimbulkan rasa aman pada diri sang anak. Rasa aman ini sangat penting bagi pertumbuhan jiwa yang sehat.
  • Anak perlu belajar melalui contoh. Hingga usia 10 tahun, anak anak belajar, utamanya, dari meniru atau mencontoh. Untuk itu, anak perlu mendapatkan seseorang didekatnya yang dapat memberikan contoh yang baik, utamanya dari sisi moral. Rasa percaya diri dan lain lain, terbentuk bukan dari proses kognisi, tapi tumbuh berdasar pengalaman hidup yang dijalaninya.
  • Anak anak perlu mendapat pengalaman hidup melalui kegiatan khusus. Kegiatan kegiatan khusus seperti merayakan lebaran, mendengarkan dongeng sebelum tidur, ikut orang tua berkunjung ke saudara merupakan pengalaman hidup yang penting yang akan dapat menumbuhkan ketahanan jiwa.
  • Pengalaman positif selama di sekolah.  Pengalaman positif selama bersekolah juga akan dapat memperkuat ketahanan jiwa seorang anak. Anak anak yang sering diancam, diejek, dan lain lain akan menyebabkan ketahanan jiwanya lemah.

Sumber bacaan: http://www.waldorftoday.com/2011/08/resilience-by-christof-wiechert/

Leave a Reply