Pola pikir negatif: mental filter dan disqualifying the positive

Apakah orang yang depresi kemudian berpikir pesimistik ataukah karena berpikir pesimistik maka orang tersebut menjadi depresi? Pada sebagian besar kasus, depresi terjadi karena kebiasaan berpikir negatif. Bila kita gagal mencapai sesuatu, maka kita mulai berpikir bahwa “ah saya tidak bagus”, “saya selalu gagal”  Bila pikiran pesimistik itu diteruskan maka perasaan atau suasana hati akan mengikuti, sehingga timbulah depresi.

Konsep seperti tersebut diatas yang menjadi dasar psikoterapi, sebuah pendekatan yang dikembangkan pertama kali oleh seorang dokter ahli jiwa, Aaron T. Beck di tahun 1960an.Bila kita sering berpikir tentang sesuatu, lama kelamaan kita akan mulai mempercayainya sebagai sebuah kebenaran. Perasaan kita juga akan kemudian akan mengikuti pikiran tersebut.

Untuk menghentikan depresi, orang tersebut perlu menghentikan pola pikir negatif dan menggantikannya dengan pola pikir yang positif, yang lebih tepat atau benar. Dengan melakukan hal tersebut, maka depresi bisa dicegah, bahkan sebelum depresi itu mulai.

Ada beberpa pola pikir yang sering kita temui pada penderita depresi. Agar kesehatan jiwa mereka bisa pulih dengan baik, pola pikir negatif tersebut secara pelan pelan perlu dihilangkan dan diganti dengan yang lebih sesuai dengan realitas.

Ada beberapa pola pikir negatif, yaitu:

Mental filter:

Nurul sedang tidak senang hatinya. Dalam perjalanan pulang dari kantornya, dia harus berganti kendaraan dua kali. Pada bus pertama, bus penuh dan tidak ada lagi kursi kosong. Untungnya ada seorang pemuda yang simpatik yang memberikan tempat duduknya untuk Nurul. Pada bus yang kedua. Bus juga penuh, bedanya disana tidak ada pemuda yang bersedia memberikan tempat duduk untuk Nurul sehingga dia harus berdiri berdesakan dalam bus. Nurul mengeluh panjang pendek. Dia berpikir bahwa semua orang di kotanya tidak ada yang sopan dan bersikap ramah. Semua penumpang hanya mementingkan diri sendiri saja.

Orang yang terperangkap pola pikir mental filter, maka yang bersangkutan hanya mengambil sisi negatif saja dan tidak menghiraukan atau melupakan sisi positifnya. Untuk menghilangkan pola pikir tersebut, kita perlu mulai melihat sisi positif dari setiap keadaan.  Pada contoh kasus Nurul diatas, Nurul akan senang hatinya bila dia lebih mengingat dan memperhatikan pemuda simpatik yang menyerahkan kursi duduk di bus yang pada kepadanya.

Disqualifying positive 

Rita baru saja foto dan hasilnya dipasang di facebook milik temannya. Beberapa orang memujinya dan mengatakan bahwa Rita adalah seorang gadis cantik dengan senyum yang menawan. Rita menolak semua pujian tersebut. Dia bilang bahwa tukang foro pasti telah memanipulasi fotonya sehingga dia kelihatan cantik. Rita tidak pernah melihat dirinya secantik foto tersebut dn itu tidak mencerminkan dirinya yang sesungguhnya.

Orang dengan pola pikir disqualifying positif selalu tidak mempercayai atau menolak informasi yang bersifat positif. Hal ini banyak terjadi pada orang dengan kepercayaan diri yang rendah. Untuk mengatasi hal tersebut, bila lain waktu ada yang memuji atau menyanjung dirinya, Rita sebaiknya cukup menjawab dengan ucapan :”terima kasih”, sambil tersenyum. Hiraukan atau lupakan bisikan dihati yang mengatakan bahwa orang tersebut memujinya hanya untuk berbasa-basi. Dengan menghilangkan pola pikir disqualifying positif sedikit demi sedikit, hidup akan terasa lebih menyenangkan.

Comments are closed.