Mekanisme pertahanan jiwa

Di badan manusia ada system kekebalan tubuh yang akan melawan bila ada benda asing (bibit penyakit, atau benda biasa) masuk kedalam tubuh. Bila ada bakteri atau virus masuk ke dalam tubuh, maka sel sel lymphocyte akan bergerak untuk melawan bakteri atau virus tersebut. Sayangnya, mekanisme kekebalan tubuh tersebut dapat keliru dan bahkan menyebabkan terjadi penyakit autoimmune.

Begitu pula halnya dengan jiwa. Dalam jiwa manusia juga ada mekanisme pertahanan (defence mechanism) untuk menghadapi atau mengatasi pengalaman buruk, kehilangan, kejadian yang memalukan, dan lain lain.

Mekanisme ketahanan jiwa tersebut biasanya berkembang sejalan dengan kematangan jiwa seseorang. Sayangnya, meskipun seseorang telah mencapai usia dewasa, kadang jiwanya tidak berkembang sejalan dengan perkembangan usia tersebut. Beberapa orang dewasa masih memakai mekanisme ketahanan jiwa anak anak (penolakan/ denial, distortion, projection), mekanisme kurang dewasa (regresi, hypochondriac, dll), atau mekanisme neurotic (dissociation, displacement).

Penderita gangguan jiwa biasanya mempunyai mekanisme pertahanan jiwa yang kurang sehat (kekanak-kanakan atau narcisstic defence, immature defence dan neurotic defence) dengan mekanisme pertahanan jiwa yang sehat dan matang.

Jiwa yang sehat dan matang mampu berkorban untuk orang lain (altruism), mampu mengantisipasi (contoh: mau belajar agar lulus ujian nantinya), mampu mengurangi kecintaan kepada dunia (asceticism) sehingga tidak hancur hatinya ketika kehilangan sesuatu, mampu menciptakan tujuan yang bersifat luhur dan dapat diterima masyarakat (sublimasi) dan mampu menekan (suppression) keinginan keinginan atau pikiran pikiran negative.

Leave a Reply