Schema Therapy (1)

Schema (skema) adalah pandangan/pikiran  atau kepercayaan yang dipegang oleh seseorang dalam jangka lama. Sebagai contoh seseorang yang mempunyai skema bahwa dirinya adalah seorang yang gagal, maka dia akan melihat sisi negative dari hasil kerjanya. Misalnya, dia selalu tidak pernah ingat kalau suatu waktu pernah mendapat nilai 8 dalam ulangan matematika (mungkin karena waktu itu kebetulan dia lagi semangat belajar), namun yang selalu dia ingat bahwa nilai nilai ulangan hariannya selalu hanya pas-pasan atau nilainya jelek. Selain itu, karena dia selalu berpikiran atau mempunyai keyakinan bahwa dirinya selalu gagal, maka banyak kegiatan yang dilakukan akhirnya benar benar gagal.

Seseorang yang dengan skema bahaya dan celaka, maka hal hal seperti kesenangan, kebahagiaan, selamat, sukses tidak akan terlihat olehnya.

Skema biasanya terbentuk sejak kecil, dari pengalaman hidupnya diwaktu kecil. Namun kadang juga dapat terbentuk setelah beranjak dewasa. Berikut ini beberapa skema yang sering dijumpai dalam masyarakat:

  1. Terbuang. Merasa bahwa orang orang dekatnya tidak akan menyayanginya dalam jangka lama. Merasa bahwa dirinya akan ditinggalkan karena orang orang dekatnya akan memilih orang lain dari pada dirinya.
  2. Tidak percaya. Merasa bahwa orang lain akan menyakiti dirinya, memanipulasi, melecehkan, menipu, atau mengambil keuntungan darinya.
  3. Kurang diperhatikan (emotional deprivation). Merasa bahwa orang lain tidak akan memberikan perhatian, dukungan, asuhan atau perlindungan secara mencukupi sesuai kebutuhannya.
  4. Tidak percaya diri/ malu. Merasa bahwa dirinya mempunyai cacat, kelemahan, tidak diinginkan, tidak ada yang menyayangi, kekurangan,  sehingga sering menjadi seorang sangat sensitive terhadap kritik, takut disalahkan.
  5. Isolasi sosial, menyendiri. Merasa dirinya bukan bagian dari masyarakat atau kelompoknya.
  6. Ketergantungan, tidak mampu (tidak kompetent). Merasa dirinya tidak mampu mengelola kehidupan sehari-harinya sehingga memerlukan bantuan atau dukungan orang lain.
  7. Rentan terhadap penyakit atau kecelakaan. Ketakutan yang berlebihan akan datangnya penyakit fisik, penyakit kejiwaan maupun akan terjadinya kecelakaan.
  8. Diri yang tidak tumbuh. Seseorang yang kepribadiannya tidak tumbuh dewasa karena campur tangan orang lain (keterlibatan orang lain, biasanya orang tuanya) yang berlebihan. Sering orang tersebut merasa dirinya kosong, tidak punya tujuan hidup.
  9. Gagal. Merasa dirinya gagal atau akan selalu gagal dibidang karir, olah raga, sekolah. Sering merasa dirinya bodoh, tidak mampu.
  10. Kebesaran. Merasa dirinya lebih hebat dari yang lain atau teman sebaya. Merasa dirinya berhak mendapat perlakuan khusus, keinginannya harus dituruti.
  11. Kurang kontrol diri, disiplin diri. Tidak mampu atau tidak mau mengendalikan diri, tidak mampu mengatasi rasa frustasi.
  12. Tunduk berlebihan. Tunduk atau patuh terhadap orang lain secara berlebihan.
  13. Pengorbanan diri. Keinginan untuk memenuhi keinginan orang lain dengan mengorbankan kesenangan diri secara berlebihan.
  14. Persetujuan orang lain. Secara berlebihan memerlukan persetujuan, perhatian atau pengakuan orang lain.
  15. Pesimis. Memandang dunia dan segala sesuatunya secara negative atau pesimis.
  16. Pengekangan emosi. Secara berlebihan mengekang emosi, tindakan spontan atau perasaan. hal tersebut dilakukan karena untuk menhindari penolakan, rasa malu, dll.
  17. Standard tinggi, hipercriticalness. Menerapkan standar perilaku dan emosi yang sangat tinggi, biasanya untuk menghindari kritikan.
  18. Hukuman. Percaya bahwa seseorang harus dihukum secara keras bila melakukan kesalahan. Orang tersebut cenderung gampang marah, tidak sabar, tidak toleran.

Bersambung