Catherine Duclos: penyakit jiwa sebagai penyakit spiritual

Catherine adalah seorang ibu rumah tangga yang sederhana, berumur 50 tahun dengan 2 anak. Sekitar 13 tahun yang lalu dia didiagnosa dengan gangguan bipolar.

Sejak saat itu, Catherine telah minum berbagai jenis obat, berganti-ganti, sebagian karena tidak cocok atau tidak berefek pada penyembuhan penyakitnya.

Sejak beberapa tahun yang lalu, Catherine mulai memandang penyakitnya dari sudut pandang yang sangat berbeda. Dia tidak hanya mencoba menerapkan diet atau pola hidup yang sehat, namun Catherine berkesimpulan bahwa sebenarnya penyakit bipolar yang diderita disebabkan karena gangguan spiritual atau keimananannya.

Ketika Catherine berumur 6 tahun dan memandang foto keluarganya. Dia menyadari bahwa suatu saat mereka, dan juga dirinya, akan meninggal dunia. Ada perasaan kehilangan dan kehampaan yang sulit dijelaskan dengan kata kata.

Pada umur 12 tahun, Catherine mengalami kejadian lain yang juga mempengaruhi pertumbuhan kejiwaannya. Ketika itu, pada suatu siang yang mendung, dia berjalan jalan dengan saudara perempuannya dan kedua orang tuanya. Catherine dan kakaknya berjalan didepan kedua orang tuanya. Ketika itu, tiba tiba awan yang menutupi matahari tiba tiba berpindah sehingga sinar matahri menyinari kedua orang tuanya. Dalam pandangan Catherine, kedua orang tuanya terlihat sangat cantik/ gagah. Catherine merasa sangat bahagia. Namun perasaan sangat bahagia  tersebut hanya berlangsung beberapa menit. Catherine kehilangan perasaan sangat berbahagia tersebut. Kehilangan perasaan sangat berbahagia yang terjadi dalam waktu singkat membuatnya jatuh kedalam perasaan depresi. Dia merasa seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga.

Semua orang dalam hidupnya pasti pernah merasakan pengalaman spiritual seperti yang dialami oleh Catherine. Hanya reaksi setiap orang berbeda beda. Pada orang dengan bakat gangguan jiwa, pengalaman spiritual tersebut sangat membekas dan bisa menimbulkan krisis. Bila mereka salah dalam menyikapi dan menanggapi pengalaman spiritual tersebut, mereka bisa terjatuh kedalam gangguan jiwa.

Setelah mengalami berbagai pengalaman spiritual tersebut, termasuk ketika mengamati perkembangan dan pertumbuhan anak anaknya, Catherine berpendapat bahwa gangguan jiwa adalah penyakit spiritual. Penyakit yang muncul ketika seseorang mengalami gangguan dalam pertumbuhan spiritualnya.  Para ahli kesehatan jiwa menyebut pengalaman spiritual tersebut sebagai spiritual emergent.

Dalam pengamatan saya terhadap berbagai penderita gangguan jiwa, memang kebanyakan mereka kurang memahami dan menghayati arti tauhid, serta segala implikasinya terhadap kehidupan kita. Mereka sering gelisah dan tidak dapat mengendalikan emosinya karena mengingat masa lalu (ingat kejadian dimasa lalu), takut menghadapi masa depan. Bila iman mereka benar dan kuat, sebenarnya tidak perlu ada yang membuat mereka gelisah.

Dilain pihak, banyak juga orang yang tidak beriman atau keimanannya tidak kuat atau salah, namun mereka tidak terkena gangguan jiwa. Kesimpulannya, masalah keimanan hanya akan menimbulkan gangguan jiwa pada orang orang tertentu yang memang berbakat terkena gangguan jiwa.

Sumber bacaan:http://www.madinamerica.com/2012/07/seeing-mental-illness-as-a-spiritual-illness/