Gangguan jiwa pada penderita autis

Penyakit autis mempunyai gejala yang cukup bervariasi, sehingga penyakit tersebut secara medis disebut sebagai autism spectrum disorder (ASD).

Anak penderita autis mempunyai 3 kelompok gejala:

Gejala yang terkait dengan interaksi sosial:

  • Kelemahan dalam ketrampilan komunikasi non-verbal , seperti kemampuan melakukan kontak mata, bahasa tubuh, ekspresi wajah.
  • kelemahan dalam kemampuan bergaul dengan teman seumur.
  • kekurangan dalam memberikan empati
  • kekurangan minat untuk melakukan kegiatan bersama dengan anak lain.

Gejala yang terkait dengan kemampuan komunikasi (verbal dan non-verbal):

  • kelemahan atau keterlambatan dalam kemampuan berbicara. 40% anak autis tidak mampu berbicara.
  • kelemahan dalam memulai pembicaraan dan kemampuan untuk meneruskan pembicaraan yang telah dimulai.
  • mengucapkan beberapa kata berulang ulang
  • kelemahan memahami pembicaraan seseorang.

Gejala terkait dengan kurangnya keinginan untuk bermain dan beraktivitas

  • fokus berlebihan pada sebagian dari suatu mainan. misalnya: hanya tertarik pada roda, bukannya bermain dengan sepeda-sepedaan.
  • sibuk denga sesuatu hal, misalnya video game, kartu, dll
  • kebutuhan akan sesuatu yang sama dan rutin.
  • mempunyai kelakuan tertentu (stereotyped behaviour)

Karena kelemahan kelamahan tersebut, ketika beranjak dewasa, maka penderita autis sering tidak dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Hal ini menyebabkan hal yang bersangkutan mengalami gangguan jiwa berupa: kecemasan (anxiety disorder), depresi dan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD).