Pendekatan Maastricht dalam mengatasi halusinasi (3)

Penyebab utama munculnya suara suara (halusinasi) adalah adanya pengalaman hidup yang melukai hati atau jiwanya yang  tidak dapat diatasinya dan menyebabkan dirinya merasa tidak berdaya.

Halusinasi tersebut bisa muncul pada orang normal dan tidak didiagnosa menderita gangguan jiwa. Halusinasi menjadi masalah bila yang bersangkutan (ybs) tidak mampu mengatasi halusinasi tersebut sehingga mengganggu perilaku dan kehidupan sehari hari serta menjadi penderita gangguan jiwa.

Karena pengalaman mendengar suara suara (halusinasi) adalah pengalaman yang luar biasa dan aneh, biasanya yang bersangkutan (ybs) menjadi malu dan tertekan. Apalagi, di masyarakat kita, sering mengaitkan halusinasi tersebut dengan gangguan jiwa. Akibatnya, jarang orang yang mengkaitkan halusinasi dengan pengalaman hidup yang melukai hatinya.

Biasanya uutan dari munculnya halusinasi adalah sebagai berikut: kejadian yang melukai jiwanya/ hatinya –> menimbulkan emosi dan tekanan jiwa —->berekasi dengan menekan emosi atau mengacaukannya—->gagal mengatasi emosi yang menekan —–> mulai muncul halusinasi.

Pada anak anak proses antara terjadinya kejadian yang traumatis dengan munculnya halusinasi lebih pendek. Biasanya suara suara tersebut bersifat melindungi si-anak. Misalnya: ketika sering anak mengalami pelecehan seksual, maka tidak berapa lama si anak mulai mendengar suara suara yang menyebut bahwa anak tersebut adalah anak yang baik. Kadang kadang suara suara itu menggambarkan karakteristik orang yang melakukan pelecehan sesksual tersebut. Suara tersebut berusaha untuk mengingatkan akan bahaya dari pelecehan sesksual.

Memahami dan mencari makna dari suara suara tersebut biasanya tidak gampang karena memerlukan pendekatan yang simpatik dan analitik.

Dua hal utama yang perlu dikenali: (a) suara suara itu mewakili siapa? apakah suara itu mewakili orang yang melecehkannya secara seksual atau orang yang berusaha melindunginya, (b) masalah apa yang disuarakan atau ingin disampaikan oleh suara suara tadi.