Respite House: pilihan selain RSJ

Penderita gangguan jiwa yang sudah membaik dan pulih bisa kambuh. Hal ini tidak berbeda dengan seseorang yang menderita tekanan darah tinggi (hipertensi) atau diabetes (penyakit gula darah) yang juga bisa kambuh.

Sebagian penderita gangguan jiwa yang sedang mengalami krisis (kambuh) tidak ingin dirawat di rumah sakit jiwa. Mereka menolak dirawat di RSJ karena berbagai alasan, seperti: tidak mau minum obat, tidak ingin diikat atau mendapat ECT, dan pelayanan yang tidak menyenangkan lainnya.

Di Amerika Serikat, bagi penderita seperti itu ada alternatif pelayanan selain RSJ, namanya Respite House (rumah singgah). Respite House adalah sebuah rumah perawatan kesehatan jiwa jangka pendek (1-14 hari), dimana penderita gangguan jiwa yang sedang mengalami krisis ditemani dan dirawat oleh bekas penderita gangguan jiwa yang sudah pulih. Penderita gangguan jiwa harus datang ke Respite House atas kemauan sendiri (tanpa paksaan). Respite House tidak menyediakan tenaga dokter atau perawat, namun mereka bisa menghubungkan penderita dengan dokter/ perawat bila pasien menghendaki atau setuju.

Penderita gangguan jiwa yang telah pulih tahu bagaimana rasanya ketika berada dalam krisis (kambuh), mereka tahu apa yang dibutuhkan oleh penderita dan tahu cara membantu mereka melewati krisis tersebut. Menurut berbagai penelitian, perawatan model Respite House mampu memberikan hasil yang sama atau bahkan lebih baik dibandingkan pelayanan yang dihasilkan oleh RSJ.

Sayangnya, hingga saat ini, belum ada sejenis Respite House di Indonesia.