Sekolah Pemulihan Jiwa

Pagi itu aku menghadap Ibu Tari, seorang pejabat yang menangani masalah kesejahteraan sosial. Ketika ketemu dengannya pagi itu, beliau memakai baju seragam dengan jilbab menutup rambutnya. Kutaksir, Ibu Tari masih berusia 40an tahun, jauh dibawah umurku. Kami berdiskusi tentang pemulihan gangguan jiwa dan konsep sekolah pemulihan jiwa.

“Pak Bambang, tolong dijelaskan secara sederhana, apa arti pemulihan dari gangguan jiwa itu? Menurut pengamatan saya, sangat sedikit penderita gangguan jiwa yang bisa kembali ke masyarakat. Setelah keluar dari RSJ, kebanyakan mereka tidak bisa bekerja dan menjadi tanggungan Dinas Sosial” Kata Bu Tari,

“Pulih dari gangguan jiwa artinya seseorang bisa kembali hidup produktif di masyarakat secara sosial ekonomi. Yang bersangkutan bisa lepas dari obat, atau mungkin juga masih harus minum obat. Bisa juga masih mempunyai gejala, seperti kadang kadang mendengar suara suara, namun yang bersangkutan bisa mengendalikannya. Gejala gangguan jiwa yang masih dipunyai tidak menganggunya untuk bekerja dan hidup di masyarakat” jawabku.

Bu Tari terlihat diam. Kelihatannya dia sedang mencerna penjelasanku. Kucoba memberinya penjelasan tambahan.

“Bu Tari, pulihnya seorang penderita gangguan jiwa itu seperti orang punya penyakit gula darah atau diabetes. Mereka tetap harus minum obat seumur hidupnya, kadang juga bisa kambuh sakitnya. Penderita tekanan darah tinggi juga kebanyakan harus minum obat seumur hidupnya. Begitu pula dengan penderita gangguan jiwa. Mereka bisa hidup produktif di masyarakat meskipun tetap minum obat setiap harinya.”

“OK, saya baru mengerti sekarang. Pak Bambang, sekarang ini ada banyak panti rehabilitasi jiwa, apa mereka juga bisa dikatakan memberikan pelayanan pemulihan gangguan jiwa? Saya amati, kebanyakan penghuni panti menjadi kronis dan tinggal disana seumur hidupnya” rupanya Bu Tari mulai tertarik dengan konsep pemulihan gangguan jiwa. 

“Contoh kongkritnya seperti apa? biar jelas begitu lho Pak. Saya tidak suka kalau hanya permainan kata kata” Bu Tari melanjutkan.

Pertanyaan yang tajam dan mendasar. Aku mencoba menjelaskan semampuku. Aku sering merasa kesulitan ketika harus menjelaskan suatu konsep canggih dengan memakai bahasa sederhana.

“Kalau kita  bawa seorang pasien ke dokter spesialis jiwa, terus ditanya apakah masih suka mendengar suara suara, kemudian diberi obat untuk menghilangkan atau menekan halusinasinya tersebut. Itu artinya, pendekatannya masih berorientasi pada menghilangkan gejala. Kegiatannya masih bersifat rehabilitasi. Di panti rehabilitasi pasien bersifat pasif, hanya menerima obat, dan fokusnya pada gejala penyakitnya. Pada pelayanan berorientasi  pemulihan jiwa, maka pelayanan yang diberikan dititik beratkan pada menggali potensi penderita tersebut dan mengenalkannya dengan berbagai teknik untuk mengendalikan halusinasi. Disini sikap penderita tidak lagi pasif. Mereka harus bersikap aktif, yaitu mengupayakan agar dirinya bisa mengendalikan halusinasi, dengan memakai teknik yang telah dipelajari. Hanya saja, pada beberapa penderita, kadang kadang obat masih tetap diperlukan” jelasku.

“Perbedaan prinsip kedua, pada pelayanan berorientasi pada pemulihan, pemberi pelayanan tidak hanya para professional, namun juga bekas penderita gangguan jiwa yang telah pulih dan dilatih untuk jadi pembimbing. Sebagai bekas penderita gangguan jiwa, mereka mempunyai empati yang tinggi karena mereka pernah merasakannya sendiri. Selain itu, mereka juga bisa menjadi contoh nyata bahwa penderita gangguan jiwa bisa pulih. Mereka bisa menjadi motivator yang efektif. Di Pusat pemulihan gangguan jiwa, semua komunikasi yang disampaikan harus mendorong tumbuhnya harapan bahwa hari depan para penderita akan lebih baik dibanding keadaan mereka sekarang. Tanpa adanya harapan yang tertanam dihati penderita, tidak akan ada pemulihan gangguan jiwa”

Di sebagian masyarakat Indonesia, penderita gangguan jiwa masih sering jadi bahan olok olok. Mereka diperlakukan sebagai setengah manusia setengah hewan. Perlakuan yang diterima penderita gangguan jiwa dari masyarakatnya sering membuat sakitnya semakin parah. Perlakuan masyarakat sering berlawanan dengan prinsip pemulihan gangguan jiwa. Di Tirto Jiwo, bekas penderita gangguan jiwa yang sudah lulus, akan ditarik jadi guru juga. Di Indonesia, hal ini benar benar suatu lompatan. Padahal, di Amerika dan Inggris, ide memanfaatkan bekas penderita sebagai motivator tersebut sudah diterapkan setidaknya sejak 5 tahun yang lalu.”

“Terima kasih Pak Bambang, cukup jelas. Saya kira nanti setelah melihat sendiri bentuk pelayanannya, pemahaman saya akan semakin baik. Pertanyaan terakhir Pak Bambang, apa maksudnya Sekolah Pemulihan Jiwa itu, apa bedanya dengan pusat pemulihan jiwa”

“Waduh, Bu Tari kok tanyanya yang sulit sulit. Begini Bu, pusat pemulihan jiwa fungsi utamanya adalah memberikan terapi pemulihan, sedangkan sekolah pemulihan jiwa fungsi utamanya adalah sekolah, tempat belajar. Di pusat pemulihan semua aktivitas diarahkan agar berfungsi penyembuhan, seperti terapi berkebun, terapi kerja. Di sekolah pemulihan jiwa aktivitasnya diarahkan untuk mengembangkan kemampuan, menjajaki kemungkinan dan mendukung murid mencapai tujuan hidupnya. Di Sekolah Pemulihan Jiwa muridnya tidak hanya para penderita gangguan jiwa, tapi juga anggota keluarga yang merawat dan siapa saja yang tertarik dengan pemulihan gangguan jiwa. Hanya saja, di Tirto Jiwo, bagi murid yang menderita gangguan jiwa, akan ada bimbingan selama proses pemulihannya juga. Murid dibimbing agar bisa memahami pengalaman mereka ketika sedang mengalami gangguan jiwa. Mereka dididik agar mampu menerapkan berbagai ilmu dan ketrampilan yang didapatnya. Singkatnya, Sekolah Pemulihan Jiwa Tirto Jiwo adalah pusat pemulihan plus sekolah pemulihan” Kataku menjelaskan secara panjang lebar.

“Bu Tari, silahkan ketik  recovery college  di google. Kita bisa dapatkan informasi tentang sekolah pemulihan. Di Inggris, recovery college baru mulai ada setelah tahun 2011” kataku menambahkan..

“Wah, jadi sekolah pemulihan ini masih barang baru ya Pak? Moga moga tidak hanya musiman siftanya” kata Bu Tari

“Ha ha ha Bu Tari, jangan terlalu skeptis. Pemulihan gangguan jiwa itu bukan barang baru. Sebenarnya di Inggris, pada tahun 1883, John Thomas Perceval sudah menuliskan pengalamannya pulih dari gangguan jiwa. Hanya saja, konsep tentang sekolah pemulihan memang masih baru. Kita lihat saja apa konsep tersebut bisa diterapkan di Indonesia atau tidak. Saya mohon dukungan Bu Tari dan jajarannya lho” kataku sambil mengakhiri diskusi tersebut.

Bila hanya memusatkan diri pada proses pemulihan individu penderita gangguan jiwa, Tirto Jiwo hanya akan bisa menjangkau sedikit orang. Tirto Jiwo hanya bisa menampung 10 penderita gangguan jiwa dalam suatu saat. Dengan mengadakan berbagai pelatihan bagi para anggota keluarga yang merawat anggota keluarganya yang terkena gangguan jiwa, jangkauan pelayanan Tirto Jiwo diharapkan bisa semakin luas.