Pak Wibowo membantu Iwan mengatasi waham

Aku lihat Wibowo sedang asyik duduk di depan desktop computer. Matanya terfokus ke layar monitor. Ketika aku dekati, ternyata dia sedang membaca sebuah artikel di internet tentang cara membantu mengatasi penderita dengan kecurigaan yang berlebihan. Internet memang sangat berguna, banyak ilmu bisa kita ambil dari internet.

‘Pak ’Bowo, kok asyik banget. Lagi baca apaan’’

‘’ha ha ….enggak Pak Bambang, saya lagi baca artikel tentang bagaimana cara membantu penderita gangguan jiwa yang curiga berlebihan’’

‘’Oh tentang paranoid! memangnya ada yang menderita paranoid?’’

‘’iya Pak Bambang, tetangga satu kampung. Dia sangat curiga sampai sulit makan. Setiap kali makan dia merasa kalau ada pecahan kaca bercampur dengan nasi di piringnya.’’

‘’Coba ceritakan secara lebih detil’’

‘’Anak itu namanya Iwan. Keluarga mereka miskin sehingga dia dan adik-adiknya hanya bisa sekolah sampai lulus SMP, kemudian menganggur. Sebenarnya Iwan anak baik, penurut dan tidak nakal. Dia tidak pernah mabuk atau minum obat terlarang. Setelah keluar sekolah karena tidak ada biaya, dia kemudian belajar menyopir. Dia pengin jadi sopir. Sekarang Iwan tidak bisa kerja karena sakitnya.

‘’Kapan gejala gejala seperti itu mulai muncul?’’

‘’Kata bapaknya sudah sekitar 6 bulan ini. Menurut ceritanya, dia jatuh cinta dengan seorang gadis. Sayangnya si gadis tidak membalas cintanya. Sejak saat itu dia mulai menarik diri, selalu kelihatan cemas, dan takut. Dia mulai curiga dan selalu menyalahkan orang lain. Mula mula sulit makan karena katanya di nasi ada pecahan kaca. Akhir akhir ini kalau tidur, Iwan selalu sedia pisau dan pemukul besi ditempat tidurnya. Keluarganya jadi sangat takut’’

‘’Hmmm, menurut tingkatan paranoid, paranoid yang diderita oleh Iwan ada di tingkat 5, tingkat paling tinggi, karena dia sudah merasa jiwanya terancam oleh seseorang yang akan berbuat jahat kepadanya. Tingkat paling ringan adalah bila dia merasa khawatir kalau ditolak oleh masyarakat atau merasa bahwa dunia diluar rumah tidak aman baginya. Tingkat kedua, bila seseorang merasa dirinya selalu diawasi  atau orang tak dikenal membicarakan dirinya. Tingkat ketiga bila ada orang lain yang menyebabkan dirinya merasa terganggu atau menimbulkan bahaya kecil yang tidak mengancam jiwanya. Tingkat ke-empat bila dia merasa ada yang menyadap telpon atau emailnya.”

“Ternyata paranoid yang diderita Iwan sudah cukup parah juga. Apa yang harus saya lakukan Pak Bambang?”

“Coba tanyakan siapa yang membuat dia merasa takut? ini penting karena bisa terjadi hal hal yang tidak diinginkan. Masalahnya, bila yang dia takuti itu salah satu anggota keluarganya, mungkin dia tidak mau berterus terang menyebutkannya. Kalau sama mas Bowo , Iwan tidak takut?’’

‘’Alhamdulillah, kalau sama saya Iwan tidak takut. Dia percaya sekali sama saya. Ketika saya tanyakan siapa yang membuat Iwan merasa takut, dia tidask bisa mengidentifikasi siapa orangnya. Dia merasa bahwa ada orang yang akan berbuat jahat padanya”

‘’Syukur alhamdulillah kalau Iwan tidak takut sama Pak Bowo. Berarti Pak Bowo sudah benar dalam cara membawakan diri dan mendekati Iwan. Banyak psikoterapi tidak berhasil, penderita mengundurkan diri, karena antar penderita dan psikolog tidak bisa bekerja sama. Sekarang, coba kita tangani satu persatu dulu. Pertama soal makan. Apa keluarganya, tetangga atau teman tidak ada yang menyuruh Iwan makan?

“Iwan tetap nggak mau makan, meskipun sudah dinasehati dan disuruh oleh orang tua, tetangga ataupun teman. Kalau dipaksa, dia semakin tidak mau makan daan kelihatan ketakutan”

‘’Pak Bowo, Kalau dia masak sendiri, apa Iwan juga tidak mau makan ?’’

‘’Iya Pak Bambang. Waktu saya ke rumahnya, kita minta dia goreng telor sendiri. Tetap saja dia tidak mau makan karena katanya dibagian pinggir telor tersebut ada pecahan kacanya. Akhirnya, setelah telornya kita bagi dua, saya makan separuh bagian, Iwan mau juga makan sisanya meskipun masih pelan pelan dan sangat hati hati’’

‘’Syukurlah, saya kira itu sudah suatu langkah maju. Ini kan masalah kepercayaan yang melekat di otaknya, hanya bisa diubah secara pelan pelan’’

‘’Iya benar Pak Bambang. Rencananya nanti malam akan saya ajak makan di warung. Saya kasihan sekali sama Iwan. Tubuhnya sampai kurus sekali karena tidak mau makan. Ternyata, untuk menolong Iwan, saya harus keluar biaya’’

‘’Ha ha ha…kalau Iwan harus konsultasi ke psikiater atau psikolog pasti harus bayar mahal dia. Oleh psikiater paling diajak ngomong selama 5 menit terus dikasih obat yang menekan fungsi otaknya agar hilang pikiran paranoidnya. Cuman efek sampingnya juga tidak enak, Iwan akan sulit berpikir. Dia bisa kelihatan seperti robot’’

‘’Konsultasi dengan psikolog biasanya bisa lebih lama, tapi saya kira sulit sekali cari psikolog yang mau makan bersama Iwan. Kalau hanya konsultasi saja, tanpa ada tindakan bersama menghadapi ketakutan yang dihadapi oleh Iwan, saya kira terapinya juga tidak akan efektif’’

‘’Saya kira begitu, padahal kalau tidak segera ditangani, kondisi Iwan bisa semakin parah. Semakin lama, dia akan semakin sulit membedakan antara kenyataan dan khayalan. Insya Allah nanti Tuhan Yang Maha Kaya yang akan membalas amal Pak Bowo di dunia dan akhirat. OK deh, saya kira Pak Bowo sudah dijalur yang benar. Iwan sudah mulai menapaki perjalanan panjang pemulihan jiwa’’

Beberapa hari kemudian, secara tidak sengaja aku ketemu Pak Wibowo di sebuah warung makan sederhana di pinggir jalan dekat alun alun. Dia sedang makan bersama seorang pemuda berumur 25an tahun, berbadan kurus, pendiam dan duduk dipojokan. Wajahnya terlihat tegang dan gelisah. Aku menduga pasti anak tersebut adalah Iwan yang menderita paranoid seperti yang diceritakannya kepadaku beberapa waktu yang lalu.

‘’Pak Bowo, asyik benar makannya, sampai nggak noleh kanan kiri’’

‘’Oh selamat malam Pak Bambang. Ini saya lagi makan sama Iwan. Pak Bambang mau makan disini juga?’’

‘’Ah enggak, saya lagi muter muter ketika lihat Pak Bowo di warung, jadis aya terus berhenti sebentar, mau ngobrol kalau Pak Bowo ada waktu’’

Pak Bowo memperkenalkan Iwan kepadaku. Iwan hanya tersenyum tanpa mengeluarkan satu katapun. Selesai mereka makan, aku mencoba mengajak ngobrol Iwan.

‘’Mas Iwan, saya temannya Pak Bowo. Sama saya takut apa tidak?’’

‘’Ah enggak mas, Pak Bowo orangnya baik, semua temannya juga baik baik’’

‘’Ha ha ha…iya benar, Pak Bowo orang baik. Dia paling suka ntraktir orang. Saya dengar Iwan kalau tidur suka ketakutan ya?’’

‘’iya Pak Bambang, ada orang jahat mau mencelakai saya’’

‘’Siapa orang jahat tersebut? Coba saya dikasih tahu siapa yang mau berbuat jahat sama Iwan’’

Iwan hanya diam saja tidak mau menjawab pertanyaanku. Biasanya bila seorang penderita paranoid tidak mau menyebutkan seseorang yang membuatnya takut, maka orang tersebut adalah orang yang ada dilingkungan keluarganya sendiri. Orang tersebut biasanya ditakuti atau berpengaruh, misalnya ayah atau ibunya.

‘’Mas Iwan, kalau tidur di rumah Pak Bowo, tapi tidak boleh bawa pisau atau senjata lainnya, mau apa tidak?’’

Iwan diam saja, dia kelihatan berpikir keras. Akhirnya pak Wibowo yang dari tadi hanya diam mendengarkan pembicaraan kami mulai ikut menyambung pembicaraan.

‘’Ya Wan, dirumah saya kan tidak ada orang jahatnya. Kamu tidak perlu tidur sambil bawa pisau”

Iwan hanya mengangguk.

Aku tiba tiba merasakan kebahagiaan dan rasa syukur yang sangat dalam. Mungkin ini yang disebut sebagai ‘’helper’s high’’ didalam ilmu psikologi. Ternyata, menolong orang tidak hanya membuat bahagia orang yang ditolong, yang menolong juga tidak kalah rasa bahagianya.

Perjalanan pemulihan Iwan masih akan cukup panjang. Bila Iwan sudah bisa mengatasi waham curiganya, langkah selanjutnya adalah mencarikan kegiatan yang berarti baginya. Kegiatan yang bisa meningkatkan percaya dirinya. Kegiatan yang akan membuat dirinya diterima oleh masyarakatnya. Lebih baik lagi bila kegiatan tersebut bisa menghasilkan uang. Aku tahu Iwan perlu uang.