Harapan adalah kunci pemulihan gangguan jiwa (3)

Selama ini, dalam mengupayakan pemulihannya, kebanyakan penderita gangguan jiwa masih bersifat pasif. Penderita datang ketemu dokter spesialis jiwa, sebulan sekali atau sebulan dua kali, ketemu selama 5-10 menit dan mendapat resep untuk menebus obat. Penderita gangguan jiwa hanya ditanya tentang perkembangan gejala gangguan jiwanya (halusinasi, waham, gangguan berpikir, dll) agar dokter bisa menyesuaikan obat yang harus diminumnya.

Bila hanya ini yang dilakukan, kecil kemungkinannya seorang penderita gangguan jiwa bisa pulih dan kembali hidup produktif secara ekonomi dan sosial di masyarakat. Dengan pendekatan model tersebut, memang gejala halusinasi dan waham bisa ditekan, namun jarang yang bisa kembali hidup produktif secara ekonomi dan sosial di masyarakat.

Penderita gangguan jiwa perlu minum obat, namun minum obat saja tidak akan bisa membuat seorang penderita gangguan jiwa menjadi pulih. Penderita gangguan jiwa memerlukan lingkungan fisik dan sosial yang mendukung agar dirinya bisa mengatasi gangguan jiwanya dan membangun kemampuannya agar bisa kembali hidup produktif secara ekonomi dan sosial.

Pemulihan dari gangguan jiwa tidak akan bisa terjadi selama penderita gangguan jiwa masih bersikap pasif, hanya menurut perintah dan petunjuk dokter/ tenaga kesehatan lainnya. Agar bisa pulih, penderita gangguan jiwa perlu bersikap aktif dan secara bertanggung jawab mengupayakan pemulihan kesehatan jiwanya. Untuk itu, penderita gangguan jiwa memerlukan lingkungan yang memungkinkannya untuk secara aktif berpartisipasi dalam mengupayakan penyembuhan dirinya. Lingkungan juga bisa memberdayakan penderita gangguan jiwa dengan memberikan pilihan-pilihan, kesempatan untuk memperkuat sisi positif yang dimilikinya, memberikan informasi dan ketrampilan yang diperlukan, memberikan penghargaan atas pencapaian pencapaian kecil yang telah mereka raih, dan lain lain lingkungan yang memberikan harapan.

Karakteristik lingkungan (fisik dan sosial) yang akan mendukung pemulihan antara lain :

  1. lingkungan yang menumbuhkan harapan, menghargai pencapaian pencapaian kecil.
  2. lingkungan yang memberi peluang bagi penderita untuk memilih dan menentukan nasibnya sendiri, tidak hanya disuruh-suruh atau diatur oleh orang lain.
  3. lingkungan yang memperkuat kelebihan atau kekuatan seseorang, bukan fokus pada kelemahan atau kesalahannya.
  4. lingkungan yang memberdayakan, yaitu yang bisa memberikan informasi dan ketrampilan yang diperlukan untuk tumbuh dan berkembang.
  5. lingkungan yang memberi kesempatan untuk bangkit kembali ketika terjadi kambuh

Hal yang penting juga adalah bahwa agar bisa berpartisipasi secara aktif (tidak pasif), dosis obat yang diminum harus minimal. Dosis tinggi obat anti-psikosis biasanya menekan kemampuan otak sehingga membuat seseorang seperti robot.