“Harapan” adalah kunci pemulihan gangguan jiwa (1)

Berikut ini saya sarikan riwayat 2 orang yang telah kehilangan “harapan”. Kisah ini saya sarikan dari artikel karya Dr Patricia Deegan yang berjudul “recovery as journey of the heart”.

Pada perang Vietnam, Mayor F. Harold Kushner tertangkap Viet Cong dan antara  tahun1968-1973 ditawan oleh mereka. Didalam penjara Mayor Kushner bertemu dengan seorang tentara AS yang juga tertangkap dan ditawan Viet Cong bernama Robert. Ketika Mayor Kushner pertama kali bertemu dengan Robert di penjara, Robert telah berada dipenjara selama 2 tahun. Robert terlihat tetap sehat meskipun telah 2 tahun dipenjara. Robert saat itu percaya bahwa bila dia berperilaku baik, maka suatu saat dia akan dilepas oleh Viet Cong dan bisa bebas pulang ketemu dengan keluarganya.

Ternyata tidak lama setelah ketemu Mayor Kushner, Robert mulai menyadari adanya perubahan perilaku pada para penjaga tawanan. Robert mulai menyadari bahwa meskipun dia berperilaku baik dan mau bekerja sama, pihak Viet Cong tidak akan melepaskannya dari penjara. Sejak saat itu, Robert mulai terjatuh kedalam depresi, kondisi kesehatannya menurun. Pada saat saat terakhir Robert sudah tidak peduli dengan dirinya. Robert buang air besar ditempat tidur. Tidak lama kemudian Robert meninggal dunia.

Hilangnya harapan juga menimpa seorang penderita skizofrenia khronis, sebut saja namanya Bob. Selama bertahun-tahun Bob dirawat dibangsal pasien menahun yang menurut penilaian para dokter tidak ada harapan untuk hidup diluar rumah sakit jiwa. Suatu saat, bangsal untuk penderita skizofrenia khronis tersebut harus direhabilitasi. Para penghuni bangsal tersebut perlu dipindahkan ke bangsal lain. Kebetulan Bob  dipindah ke bangsal untuk para penderita yang akan dipulangkan kepada keluarganya. Ketika berada dibangsal tersebut, Bob mengira bahwa dirinya akan segera dipulangkan ke keluarganya. Perilaku Bob dan kondisi kesehatannya mulai membaik. Tidak lama kemudian, ketika rehabilitasi bangsal bagi penderita skizofrenia khronis telah selesai, Bob dikembalikan ke bangsal tersebut. Merasa ‘harapannya’ untuk hidup diluar telah hilang, tidak berapa lama kondisi Bob mulai menurun. Tidak lama kemudian Bob meninggal dunia.

Adanya “harapan” bahwa hidup dimasa depan akan bisa lebih baik merupakan salah satu kunci pemulihan gangguan jiwa. Tanpa adanya harapan, tidak akan ada dorongan dari dalam penderita gangguan jiwa untuk memulihkan dirinya dari gangguan jiwa. Tanpa adanya harapan, maka penderita gangguan jiwa hanya akan bersifat pasif dan apatis. Tanpa adanya harapan, maka penderita gangguan jiwa akan tidak peduli kepada dirinya dan lingkungannya. Penderita akan malas mandi, tidak peduli kepada penampilan dirinya dan tidak peduli atas lingkungan sekitarnya.

Bagaimana kita menolong penderita gangguan jiwa yang sudah apatis? silahkan baca ditulisan berikutnya