Kunci Indonesia Bebas Pasung: psikoedukasi keluarga

Saat ini pemerintah telah mencanangkan Indonesia bebas pasung. Obat-obatan telah tersedia gratis (bagi yang tidak mampu) dan semua rumah sakit jiwa juga telah mendukung program tersebut. Meskipun demikian, program tersebut masih jauh dari berhasil. banyak hal bisa diperbaiki. Salah satu kuncinya adalah tidak dialkukannya psikoedukasi terhadap keluarga penderita gangguan jiwa.

Di dunia kedokteran, psikoedukasi bagi keluarga telah diakui manfaatnya. National Institute for Health and Care Excellence (NICE) yang diakui otoritasnya dalam menentukan terapi di bidang kesehatan dari Inggris telah menyatakan bahwa psikoedukasi bermanfaat dan dapat menurunkan kekambuhan. Di Inggris, setiap pasien yang menderita gangguan jiwa maka keluarganya akan mendapat psikoedukasi.

Psikoedukasi bagi keluarga penderita gangguan jiwa berlangsung selama 8-12 bulan. Sessi pertama adalah pertemuan bersama antara pihak pemberi pelayanan psikoedukasi dengan pasien dan keluarganya untuk saling berkenalan dan membuat komitmen bersama.

Pada pertemuan kedua, selama 1 hari, keluarga pasien akan diberi pelajaran tentang seluk beluk gangguan jiwa, bagaimana cara membantu penderita gangguan jiwa agar tidak kambuh serta teknik teknik mengatasi gejala gangguan dan mendukung pemulihannya. Setelah itu, dalam bulan bulan awal, keluarga pasien (bisa beberapa keluarga bergabung) pertemuan diadakan setiap 2 minggu sekali dan kemudian pertemuan diadakan sebulan sekali hingga 8-12 bulan.

Dalam setiap pertemuan dalam psikoedukasi tersebut dibahas permasalahan permasalahan yang dihadapi, misalnya; bagaimana mengatasi halusinasi, bagaimana menciptakan lapangan kerja bagi penderita gangguan jiwa, dll.

Bagaimana di Indonesia? Indonesia bisa menerapkan psikoedukasi bagi keluarga dengan menggerakkan relawan kesehatan jiwa atau petugas kesehatan jiwa masyarakat. Tugas relawan kesehatan jiwa atau petugas kesehatan jiwa masyarakat adalah melaksanakan psikoedukasi bagi keluarga pasien yang ada di wilayah kerjanya.