Keluarga penderita gangguan jiwa perlu dukungan kita

Selama ini saya tinggal dan bekerja di luar negeri sehingga saya belum bisa terjun secara langsung membantu mengatasi permasalahan gangguan jiwa yang ada dilapangan. Ketika ada kesempatan cuti pulang kampung, saya pergunakan sebagian waktu saya untuk mengunjungi seorang penderita gangguan jiwa yang dipasung.

Penderita tersebut, sebut saja namanya Ahmad, sebenarnya pernah dibawa ke rumah sakit jiwa. Beberapa bulan setelah keluar dari rumah sakit jiwa, penyakitnya kambuh kembali. Tidak ada seorangpun yang mengingatkan dan mengupayakan agar Ahmad selalu minum obat. Padahal, tanpa minum obat secara teratur, kemungkinan besar seorang penderita gangguan jiwa akan kambuh kembali. Akhirnya, Ahmad kembali dipasung. Ahmad masih suka mengalami halusinasi visual, melihat ada Bung Karno dan anak kecil (anaknya Ahmad) di sampingnya.

Ahmad mempunyai dua orang kakak, satu kakak laki laki dan satu kakak perempuan. Saya temui kakak laki lakinya, yang secara ekonomi tidak berlebihan tapi juga tidak bisa disebut kekurangan. Kakak laki lakinya tersebut sudah angkat tangan, tidak ada lagi upayanya untuk membuat Ahmad pulih dan bisa kembali hidup produktif.

Sayang, saya tidak ketemu kakak perempuannya, yang selama ini merawat dan memberi makan Ahmad. Saya sebenarnya menaruh harapan pada kakak perempuan Ahmad. Dengan sedikit pemberian pengetahuan dan ketrampilan, kakak perempuan tersebut akan bisa mendukung Ahmad untuk bisa pulih dan kembali hidup produktif.

Sebagian besar keluarga merasakan beban yang berat bila ada salah satu anggota keluarganya ada yang menderita gangguan jiwa. Padahal, dengan sedikit uluran tangan, , penderita gangguan jiwa akan bisa pulih. Mereka memerlukan uluran tangan kita karena beban mereka memang tidak ringan. Tentunya, untuk itu kita perlu belajar tentang caranya untuk menolong penderita gangguan jiwa. Secara teori tidak sulit, hanya perlu semangat dan pengorbanan.