Rahasia rezeki (3): kaya bukan berarti mulia, miskin tidak berarti hina

Saat ini sebagian besar manusia mengukur keberhasilannya dengan seberapa banyak materi yang bisa mereka kumpulkan. Semakin banyak materi dan kemewahan yang dikumpulkan, semakin terhormat pula kedudukannya dimata sebagian besar manusia. Kebalikannya, semakin miskin, semakin rendah pula kedudukan sosialnya.

Sebagai dampaknya, orang berlomba-lomba mengumpulkan materi meskipun dengan cara tidak halal, seperti korupsi. Karena masyarakatnya sudah menjadi materialistis, maka meskipun sudah ketahuan kekayaannya berasal dari korupsi, masyarakat tidak memandang rendah kepada koruptor tersebut. Tidak ada hukuman sosial dari masyarakat terhadap para koruptor.

Allah melapangkan dan menyempitkan rezeki seseorang, namun Allah tidak memandang bahwa bila rezekinya dilapangkan berarti orang tersebut sedang dimuliakan kedudukannya.  Sebaliknya bila sedang disempitkan rezekinya tidak berarti mereka sedang di hinakan. Kita simak ayat Al quran Surat Al-Fajr 89:15-16 sebagai berikut:

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku“.

Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”.

Tuhan melapangkan atau menyempitkan rezeki seorang hambanya sebagai alat untuk menguji ketakwaannya. Dimata Allah, orang kaya tidak berarti lebih mulia dibandingkan dengan orang miskin. Dimata Allah, hanya ketakwaanlah yang menjadi tolok ukurnya.

Diantara para nabi, kita mengenal nabi Ibrahim, nabi Sulaiman dan nabi Yusuf yang kaya raya. Namun kita juga mengenal nabi yang hidup sederhana seperti nabi Muhammad, nabi Ayub dan nabi Isa.