Terapi spiritual untuk penderita gangguan jiwa berat

TERAPI SPIRITUAL UNTUK PENDERITA GANGGUAN JIWA PSIKOTIK, MUNGKINKAH?

2012-03-29 8:47

Oleh dr Inu Wicaksana, SpKJ

Pada acara Gebyar Ramadhan bulan September tahun 2008 ini,  rekan-rekan perawat di RS Jiwa Magelang selain mengadakan  pengajian-pengajian tiap Kamis juga mengadaakan acara istimewa, yaitu  seminar bertajuk ”Pendekatan Spiritual pada pasien gangguan jiwa”.  Sebagai psikiater, saya diminta sebagai pembicara, lainnya adalah  seorang guru keperawatan, dan seorang roghaniwan atau ustadz. Seminar  ini disulut oleh, mulai tahun ini oleh bagian rehabilitasi ditawarkan  perawat-perawat jiwa yang secara sukarela bergilir ke bangsal-bangsal  untuk memberikan ceramah keagamaan singkat pada seluruh pasien  sebangsal. Munculah pro dan kontra. Apakah upaya spiritual itu bisa  diterima oleh seluruh pasien, yang praktis masih berwaham dan  berhalusinasi? Apakah bukan malah kontraindikasi, atau memperburuk  keadaannya? Untuk pasien-pasien nonpsikotik yang rawat jalan, hal ini  tidak masalah.

Tulisan ini merupakan inti makalah saya, ditambah diskusi seru yang  terjadi dari para peserta seminar yang terdiri atas para perawat jiwa,  psikiater, psikolog, pekerja sosial, dan para petugas lain di RSJ  Magelang.

Istilah ”spirit” dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti ”roh”,  ”jiwa”, ”semangat”, ”arwah”, ”jin”, ”hantu”. Sedang ”spiritual” berarti  ”bathin”, ”rohani”, ”bantuan bathin”, dan ”keagamaan”. Bukan berarti  ”terapi sprititual” lalu berati ”terapi hantu-hanyuan”. Yang dimaksud  terapi spiritual kurang lebih adalah terapi dengan memakai upaya-upaya  untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Ini sama dengan terapi keagamaan,  relijius, atau psikorelijius, yang berarti terapi dengan menggunakan  faktor agama, kegiatan ritual keagamaan seperti sembahyang, berdoa,  memanjatkan puji-pujian, ceramah keagamaan, kajian kitab suci, dsb.  Hanya saja terapi spiritual lebih umum sifatnya, tidak selalu dengan  agama formal, jadi lebih universal seperti yang kita lihat pada  buku-buku teks. Yang dimaksud dalam diskusi ini adalah terapi spiritual  dengan memakai agama formal yang dianut masing-masing pasien.

Rumpun bambu di lembah Kaliadem, Cangkringan - dok.pribadi

Panitia meminta saya untuk menjelaskan apa itu ”jiwa”, ”gangguan jiwa  dan penggolongannya”,  ”kesadaran”. Jiwa atau psyche sesungguhnya  sangat sulit dijelaskan. Apakah ini sama dengan ”roh, sukma, bathin,  rochani?”, tidak tepat benar. Yang jelas ”jiwa” itu tidak bisa dilihat,  yang secara obyektif bisa dilihat adalah ”perilakunya (behaviour)”.  Perilaku ini meliputi ekspresi kognitif, afektif, psikomotor dalam  berkomunikasi dan interaksi dengan manusia lain. Orang tak bisa dinilai  jiwa atau kepribadiannya bila ia sendirian ditengah padang pasir yang  luas.

Pada tahun 1960an, psikosis dianggap sebagai perilaku yang  ”menyimpang” akibat proses belajar yang keliru. Dalam diagnosis  psikiatri, jiwa sama sekali tidak dibicarakan, yang ada adalah  kelompok-kelompok sindrom perilaku yang digolong-golongkan. Inilah  ”pandangan dunia” angkatan pertama : psikologi/psikiatri behaviorisme.  Sampai sekitar 1970an, pandangan baku dalam psikiatri ialah bahwa  psikosis (skizofrenia), diakibatkan oleh defek pada fungsi ego,  ketidakmampuan mengendalikan dorongan dalam (inner drives), narsistik  awal, ketidakmampuan beradaptasi dengan dunia luar yang menghasilkan  ”dunia rekaan” seperti waham dan halusinasi, pengalaman masa kecil yang  teraumatis terutama obyek-relasi yang salah dan pengaruh ibu yang  menderita kecemasan. Jiwa diperhitungkan sebagai motif-motif tak sadar,  terutama yang berkaitan dengan sex. Inilah angkatan kedua :  psikoanalisis Freud dan pengikut-pengikutnya.

Pada 20 tahun berikutnya, konsep psikoanalisis mulai tergeser oleh  penjelasan neurokimiawi. Psikosis skizofrenia adalah ”biologically-based  brain desease”. Ketidakseimbangan neurotransmiter di celah sinaptik  otak yang harus dibetulkan dengan obat psikotropik sepanjang hayat.  Manusia dianggap organ-organ yang digerakkan mesin yang bila rusak  diberi obat jangka panjang. Jiwa tetap tak tersentuh.

Pada tahun yang sama, survey psikiatris membuktikan bahwa 95% pasien  psikiatrik memiliki keyakinan yang sangat kuat terhadap Tuhan, suatu  pengalaman spiritual. Mulailah kemudian jiwa lebih jelas didekati,  sebagai eksistensi manusia, harapan dan penderitaannya, makna hidup,  makna Tuhan, pendekatan diri pada Tuhan. Mulailah ”angkatan ketiga” ;  humanistis-eksistensial.

Jung berselisih pendapat dengan Freud karena keinginannya untuk  menaikan psikoanalisis dari sekedar ”gejolak seksual” ke pengalaman  kejiwaan manusia, yaitu pengalaman spiritual. Frankl menegaskan upaya  ”rohaniah” manusia untuk mencari makna. Assaglioli menjelaskan tahap  spiritual ketika manusia berhubungan dengan energi spiritual kreatif  yang disebut sebagai suprakesadaran.

Jiwa manusia sekarang lebih diartikan sebagai pikiran dan alam  perasaan manusia akan eksistensinya, makna hidupnya, menyerahkan dan  mendekatkan diri pada Tuhannya. Maka mulailah terapi spiritual, yang  dulu di jaman demonologi (gangguan jiwa karena setan) dalam sejarah  psikiatri pernah menjadi terapi pokok pada gangguan mental, kembali  dipertimbangkan sebagai upaya terapi selain terapi-terapi lain pada  gangguan mental psikotik dan nonpsikotik. Masalahnya pada psikotik, ego  dan pikiran rasional (penalaran) runtuh, timbul waham, halusinasi dan  kerusakan daya nilai realitas, sehingga ini harus diperbaiki dulu dengan  obat-obat antipsikotik sebelum terapi spiritual yang membutuhkan  abstraksi itu bisa dijalankan.

Berpikir abstrak, konseptual, menilai realitas, jelas membutuhkan  kesadaran. Apakah kesadaran itu? Kesadaran adalah kemampuan untuk  menerima rangsang sensorik panca indra, minilai realitas dan orientasi,  mengingat pengalaman yang lalu maupun sekarang. Kesadaran bisa dipandang  dua hal. Kuantitatif, yaitu orientasi terhadap orang, waktu, tempat,  situasi, bila baik disebut composmentis : dan kualitatif, untuk menilai  realitas sekitar, yang bila terganggu nampak seperti mimpi atau  berkabut. Kesadaran bisa terganggu oleh gejala-gejala psikotik seperti  waham dan halusinasi.

Untuk terapi spiritual gangguan mental bisa dibagi dua golongan besar  saja, yaitu nonpsikotik dan psikotik. Untuk non psikotik banyak  jenisnya, seperti gangguan cemas, gangguan somatoform, depresi,gangguan  kepribadian, dll. Sedang gangguan psikotik adalah : (1) Skizofrenia (5  tipe); (2) Gangguan Afektif Berat dengan gejala psikotik ( Bipolar manik  dan Depresi Berat); (3) Skizoafektif; (4) Psikosis Polimorfik Akut; (5)  Gangguan Waham Menetap; (6) Psikosis Non Organik lainnya; dan (7)  Gangguan Psikotik Organik.

Mengapa pada gangguan psikotik (skizofrenia) terapi spiritual tidak  bisa langsung dikerjakan? Bahkan merupakan kontraindikasi? Ciri gangguan  psikotik adalah : ego yang collaps atau disfungsi, penalaran runtuh,  adanya waham (pikiran terdistorsi), halusinasi (pendengaran, visual,  penciuman, tactil) , gangguan asosiasi pikiran (inkoherensi), tingkah  laku kacau atau katatonik, gangguan daya nilai realitas, da tidak adanya  kesesuaian antara pikiran dengan perasaan dan tindakan.

Karena hal itu semua maka pada  psikotik, penderita tidak mampu  mengarahkan kemauannya secara sadar, tidak mempunyai tilikan diri, dan  tidak bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya. Pemberian terapi  spiritual akan diinterpretasikan secara salah karena gejala-gejala itu  semua berpengaruh kuat pada proses pikirnya. Misalnya, akan timbul rasa  bersalah atau berdosa dan tidak berguna, yang berlanjut ke usaha bunuh  diri. Atau munculnya kembali waham paranoid karena merasa mau ”dijejali”  ide-ide agama oleh musuh-musuhnya secara terencana.

Apa syarat terapi spiritual bisa dikerjakan untuk pasien-pasien  psikotik (skizofrenia)? Yaitu ; (1) bila dengan pengobatan antipsikotik  selama 2-4 mg, gejala-gejala waham, halusinasi, inkoherensi dan tingkah  laku kacau (gaduh gelisah) sudah mereda; (2) ego dan penalaran sudah  mulai berfungsi kembali sehingga interpretasi terhadap ide-ide sudah  tepat; (3) status mental tidak rentan/rapuh atau emosi sudah stabil; (4)  bila perlu dengan skor Brief Psychiatric Rating Scale (BPRS) yang sudah  minimal.

Seperti apakah variasi pasien psikotik yang siap menerima terapi  spiritual? Misalnya : (1) skizofrenia tak terinci (F20.3) yang sudah  membaik, sudah lebih 6 bulan tidak ditengok atau diambil keluarganya;  (2) pasien masuk dengan gejala samar skizofrenia residual, pasif apatis,  keluarga hanya tidak mau merawatnya di rumah dengan alasan apapun; (3)  pasien psikotik yang waham dan halusinasinya sudah reda, tapi masih  impulsif dan cenderung lari pulang; (4) pasien depresi berat dengan  gejala psikotik yang waham dan halusinasinya sudah reda meski harus  hati-hati karena terapi spiritual bisa menyulut waham bersalah dan  berdosanya; (5) psikosis polimorf akut (E23.0) yang dalam 3-5 hari sudah  reda gaduh gelisah dan halusinasinya, tapi keluarga belum berani  mengambil..

Terapi spiritual ada dua jenis, individual dan kelompok. Yang  individual berarti suatu psikoterapi religius. Psikoterapi dengan  memasukkan unsur-unsur religius. Yang kedua berbentuk kelompok. Mungkin  seperti psikoterapi kelompok tapi memakai unsur keagamaan. Untuk kedua  jenis ini berarti harus ada interaksi antara terapis dengan pasien. Bagi  yang kelompok, saya usulkan dua model. Pertama, dalam bentuk ceramah  keagamaan (religius) intensif untuk 15-20 pasien psikotik (setelah  diseleksi, tidak seluruh pasien satu bangsal). Dengan memberi kesempatan  pasien bertanya atau memancing pertanyaan. Model yang kedua sama dengan  yang pertama tapi ditambah kegiatan ritual keagamaan seperti  sembahyang, doa, dzikir, pengkajian ayat-ayat suci.

Bagaimana substansi materi keagamaan yang cocok untuk diberikan  sebagai terapi spiritual bagi pasien-pasien psikotik? Sebaiknya materi  yang bersifat : (1) ajaran keagamaan yang tidak terlalu dogmatis,  memvonis atau menghukum, penuh larangan, ancaman siksa neraka, dll; (2)  ajaran agama (firman Tuhan, sabda Nabi, hadist) yang memberi tuntunan  untuk berbagai tindakan dalam kehidupan sehari-hari; (3) ajaran  keagamaan yang menyejukkan, bisa menetralisir konflik, memberi solusi  problematika dalam kehidupan sehari-hari; (4) ajaran keagamaan yang  mendekatkan diri pada Tuhan, memasrahkan diri dengan ichlas, tabah dan  tawakal, memberi harapan dan pencerahan rochani.

Larson dkk (1982) dalam Dadang Hawari (2001) melaksanakan penelitian  tentang terapi spiritual untuk pasien skizofrenia di RSJ. Mereka  membandingkan keberhasilan terapi pada dua kelompok pasien skizofrenia.  Kelompok pertama mendapat terapi konvensional (psikofaramaka) dan  lain-lain tapi tidak mendapat terapi sipitual (keagamaan). Kelompok  kedua mendapat terapi konvensional dan lain-lain dan mendapat terapi  spiritual. Kedua kelompok tersebut dirawat di RSJ yang sama.

Hasil penelitian ini cukup bermakna bahwa : (1) gejala klinis  gangguan jiwa skizofrenia lebih cepat hilang pada kelompok kedua yang  mendapat terapi spiritual; (2) pada kelompok kedua lamanya perawatan  lebih pendek daripada kelompok pertama; (3) pada kelompok kedua, hendaya  (impaiment) lebih cepat teratasi daripada kelompok pertama; (4) pada  kelompok kedua kemampuan adaptasi lebih cepat daripada kelompok pertama.  Terapi spiritual yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kegiatan  ritual keagamaan seperti sembahyang, berdoa, memanjatkan puji-pujian

dikutip dari http://www.inuwicaksana.com/209/terapi-spiritual-untuk-penderita-gangguan-jiwa-psikotik-mungkinkah.html

Comments are closed.