Adakah penderita skizofrenia yang pulih dan lepas dari obat?

Beberapa hari ini saya membaca sebuah buku berjudul “ Harm Reduction Guide Comming Off Psychiatric Drugs” (Petunjuk Mengurangi Bahaya dari Berhenti Minum Obat Gangguan Jiwa). Buku tersebut dikarang oleh Will Hall, seorang yang didiagnosa dengan skizofrenia dan kini bisa lepas dari obat gangguan jiwa. Buku tersebut merupakan edisi kedua (terbit tahun 2012) dan dipublikasikan oleh The Icarus Project ( www.theicarusproject.net ) dan The Freedom Center( www.freedom-center.org). Buku tersebut bisa di download secara gratis di http://www.madinamerica.com/2012/07/coming-off-medications-guide-second-edition-free-download/

Perlu diingat dan saya tekankan disini bahwa obat gangguan jiwa merupakan obat yang keras sehingga berhenti mendadak dari minum obat tersebut bisa berbahaya.

Obat gangguan jiwa banyak manfaatnya. Bisa mengurangi gejala klinis penderita gangguan jiwa, utamanya gejala gejala yang bersifat positif. Hanya saja, obat gangguan jiwa juga mempunyai efek samping. Selain itu, obat gangguan jiwa yang diminum dalam jangka lama bisa menimbulkan ketergantungan sehingga berhenti minum obat secara  tiba tiba akan menimbulkan gejala withdrawal dan bisa berbahaya. Berhenti minum obat gangguan jiwa secara mendadak akan bisa menimbulkan kekambuhan.

Kondisi seperti apa yang memungkinkan seorang untuk berhenti minum obat? Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi sebelum mempertimbangkan untuk lepas dari obat gangguan jiwa.

Syarat pertama adalah bila kondisi mentalnya sudah stabil. Penderita yang baru keluar dari rumah sakit dan berhenti minum obat kemungkinan besar akan kambuh lagi. Jangan berhenti minum obat bila anda baru saja dirawat di rumah sakit, juga bila  kondisi mental belum stabil.

Syarat kedua, Penderita gangguan jiwa yang mempunyai kehidupan keluarga yang mapan dan stabil serta mempunyai pekerjaan (bisa pekerjaan yang dibayar atau bekerja sebagai sukarelawan) yang stabil. Penderita tanpa kehidupan keluarga yang mapan dan stabil sebaiknya tidak berhenti minum obat.

Syarat ketiga, mempunyai jaringan pendukung yang kuat. Jaringan pendukung tersebut adalah adanya keluarga, saudara dekat dan teman, serta  teman sesama penderita gangguan jiwa, dan adanya sarana pelayanan jiwa yang terjangkau.

Syarat keempat, mempunyai kemampuan mengatasi stress dan memecahkan masalah kehidupan yang dihadapinya.

Syarat kelima, melakukan persiapan diri (mengenal tanda tanda bila akan kambuh dan tahu cara mencegah terjadinya kekambuhan) dan berhenti minum obat secara bertahap dan tetap memonitor terhadap kemungkinan kambuh.