4 Jalur menuju hidup yang penuh arti

Menurut berbagai study, orang orang yang hidupnya penuh arti merasa hidupnya bahagia. Meskipun dalam perjalanan hidupnya, mereka pernah merasakan kesedihan, kegagalan atau penderitaan, namun orang yang merasa hidupnya penuh arti menyatakan bahwa kehidupan yang telah mereka jalani sangat memuaskan dan membuat mereka bahagia.

Ada 4 hal yang dapat membuat seseorang merasa bahwa hidupnya berarti:

  1. Menjadi bagian dari masyarakat. Bila seseorang merasa diterima dan dihargai oleh saudara, teman, kenalan dan masyarakatnya, maka cenderung orang tersebut merasa bahwa hidupnya berarti. Tentunya, seseorang tidak dapat secara otomatis diterima dan dihargai oleh lingkungannya. Hanya orang orang yang mau berkorban, berbagi atau menolong sesamanya saja yang akan dapat diterima dan dihargai oleh masyarakat sekitarnya.
  2. Tujuan hidup yang luhur. Orang yang hanya mengejar kesenangan dan kepuasan diri, biasanya kebahagiaan yang dirasakan hanya bersifat sementara. Dilain pihak, orang orang dengan tujuan hidup yang luhur, tidak hanya mementingkan diri sendiri, kebanyakan merasa hidupnya bahagia, memuaskan dan penuh arti.
  3. Cerita kehidupan. Orang orang yang merasa hidupnya berarti (penuh arti) biasanya dapat menceritakan rangkaian kejadian yang berkesan dan mempunyai arti atau membawa manfaat bagi orang lain/ masyarakat sekitarnya. Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan bahwa hidupnya tidak hanya kosong, tapi penuh makna.
  4. Pengalaman spiritual. Orang orang yang hidupnya penuh arti sering mengalami kejadian kejadian luar biasa yang semakin memperkuat keimanannya. Seperti yang dialami oleh ibu Sumirah yang sudah terbiasa menyedekahkan separuh penghasilannya. Meskipun hanya berpendidikan SMP, namun penghasilannya pada tahun 2008 dapat mencapai Rp 2 juta per hari.

Mari kita jadikan hidup kita masing masing hidup yang penuh arti

sumber: http://greatergood.berkeley.edu/article/item/four_keys_to_a_meaningful_life

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo 

 

Sisi psikososial penderita gangguan jiwa berat (5)

Lanjutan artikel sebelumnya

Tirto Jiwo dan pusat pemulihan gangguan jiwa berat lainnya bisa diibaratkan seperti sekolahan.

Penderita gangguan jiwa yang masuk program pemulihan adalah siswa yang belajar meningkatkan kemampuan jiwa agar dapat mengatasi gangguan jiwa yang dideritanya. Bila siswa telah menguasai kemampuan yang diajarkan, atau dinyatakan lulus, tentunya ingin agar segera dapat keluar kembali ke masyarakat.

Meskipun belum ahli betul, namun mereka telah mempunyai kemampuan minimal dalam mengatasi gangguan jiwanya. Kemampuan tersebut perlu ditingkatkan dan diperkuat di masyarakat. Oleh karena itu, mereka ingin agar dapat segera keluar dari sekolah dan kembali ke masyarakat.

Masalah timbul bila keluarga tidak siap menerima anggota keluarganya yang sakit. Keluarga ingin agar penderita tetap di panti sampai mereka siap menerima anggota keluarganya kembali.

Akibatnya, pusat pemulihan berubah fungsinya menjadi penjara, tempat mengasingkan penderita gangguan jiwa agar tidak kembali ke keluarganya.

Situasi tersebut membuat situasi tidak kondusif bagi proses pemulihan. Membuat penderita agar tetap mau tinggal di pusat pemulihan, padahal seharusnya sudah boleh kembali ke masyarakat, bukanlah pekerjaan mudah. Banyak penderita yang kemudian jatuh lagi atau kambuh gangguan jiwanya ketika menyadari bahwa keluarganya tidak mau menerimanya kembali.

Oleh karena itu, memang diperlukan kerjasama yang baik antara keluarga dengan pusat pemulihan agar penderita gangguan jiwa dapat segera pulih dan kembali produktif di masyarakat.

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo 

Sisi psikososial penderita gangguan jiwa berat (4)

Lanjutan dari artikel sebelumnya

Aspek psikososial ketiga yang sangat berpengaruh terhadap proses pemulihan adalah penerimaan oleh keluarga, kerabat dan masyarakat.

Sebagian penderita gangguan jiwa ditinggal atau dibuang oleh keluarganya. Mereka terpaksa tinggal di pusat pemulihan karena keluarga tidak lagi mau menerimanya.

Ada banyak variasi dari penolakan oleh keluarga. Maskuri dan Tukiman bercerai dengan istri masing masing. Bila harus hidup sendirian, Maskuri dan Tukiman tidak kuat karena harus memikirkan uang, membersihkan rumah, makan, dan lain lain.

Kurnia ditolak oleh ibu tirinya, padahal bapaknya sebenarnya sangat sayang kepadanya. Sayangnya, ibu tirinya tidak mau menerimanya. Ibu kandungnya dan saudara dari ibunya juga tidak mau menerima Kurnia karena merasa malu punya anggota keluarga yang menderita gangguan jiwa.

Berbagai persoalan tersebut bukanlah perkara ringan dan mudah diselesaikan. Bagi seseorang dengan sehat jiwa sekalipun, tidaka akan udah memecahkan berbagai permasalahan tersebut diatas.

Oleh karena itu, selain obat, penderita gangguan jiwa benar benar memerlukan dukungan psikosoial. Mereka memerlukan bantuan agar mereka bisa memecahkan masalah masalah yang melilit kehidupannya.

Penderita gangguan jiwa perlu dibantu agar jiwanya menjadi sehat dan kuat. Tahan menghadapi berbagai permasalahan yang datang.

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo 

Sisi psikososial penderita gangguan jiwa berat (3)

Lanjutan dari artikel sebelumnya

Aspek psikososial yang juga sangat penting adalah masalah tempat tinggal.

Gambar terkait orang, termasuk didalamnya adalah para penderita gangguan jiwa, juga memerlukan tempat tinggal. Saya kira kalimat tersebut jelas dan mudah dipahami. Namun dalam kenyataannya, tidak sedikit orang yang menolak bila ada saudaranya yang menderita gangguan jiwa untuk tinggal dirumahnya. Banyak sekali alasan yang dikemukakan yang pada intinya tidak mau bila ada kakak atau adiknya yang menderita gangguan jiwa ingin tinggal bersamanya. Mereka mengharapkan ada orang lain atau pemerintah yang mau menampung saudaranya tersebut.

Sebagian diantaranya masih mau mengeluarkan uang asal adik atau kakaknya tidak tinggal dirumahnya. Tidak sedikit yang tidak mau menyumbang uang meskipun hanya sedikit.

Terus dimana mereka harus tinggal?

Salah satu alternatifnya adalah dengan mendirikan perumahan yang disubsidi dan didukung oleh pusat pusat pemulihan.

Didalam perumahan tersebut, para penderita gangguan jiwa dapat tinggal, bekerja mencari nafkah dan mendapat dukungan psikososial yang diperlukannya.

Tirto Jiwo masih mempunyai tanah yang bisa dipakai untuk membangun perumahan bagi para penderita gangguan jiwa yang tidak punya saudara atau tempat untuk menumpang. Hanya, dana untuk membangun perumahan tersebut yang belum tersedia.

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo 

Sisi psikososial penderita gangguan jiwa berat (2)

Lanjutan dari artikel sebelumnya

Idealnya keluarga yang membantu dan mendukung agar anggota keluarganya yang menderita gangguan jiwa dapat pulih secara total. Bukan panti rehabilitasi sosial atau pemerintah. Salah satunya, adalah mengupayakan agar penderita gangguan jiwa tersebut dapat bekerja dan mendapatkan penghasilan yang mencukupi untuk hidup.

Oregon Supported Employment

Sayangnya, banyak keluarga yang tidak mau atau tidak mampu melaksanakan tugas tersebut, yaitu membantu dan mendukung agar anggota keluarganya yang menderita gangguan jiwa dapat bekerja. Banyak alasannya. Mulai dari tidak ada waktu, tidak ada koneksi, tidak ada modal hingga berbagai alasan yang sepintas terlihat masuk akal.

Bila hanya dilatih, kemudian dilepas sendiri untuk mencari pekerjaan atau mendirikan usaha sendiri, hampir semua penderita gangguan jiwa tidak mampu atau gagal. Tidak hanya di negara berkembang, di negara majupun program pelatihan bagi penderita gangguan jiwa gagal total. Pelatihan tidak mampu membuat penderita gangguan jiwa dapat bekerja atau mencarai pekerjaan sendiri.

Penderita gangguan jiwa yang dalam proses pemulihan, mereka memerlukan lehih dari hanya sekedar pelatihan. Mereka memerlukan bantuan dan dukungan selama mereka bekerja. Mereka memerlukan dukungan psikososial agar mampu mengatasi masalah psikis dan sosial selama bekerja.

Untuk itu, diperlukan bantuan dan dukungan kerja, bukan hanya pelatihan kerja.

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo 

Sisi psikososial penderita gangguan jiwa berat (1)

Hasil gambar untuk employment schizophreniaPenderita skizofrenia, bipolar dan gangguan jiwa berat lainnya tidak akan dapat diselesaikan melalui pemberian obat saja. Mereka memang memerlukan obat, namun obat saja tidak cukup. Mereka juga memerlukan dukungan psikososial.

Berbagai permasalahan psikososial yang menjerat penderita gangguan jiwa perlu juga dibantu pemecahannya. Tanpa intervensi terhadap permasalahan tersebut, mereka akan mudah kambuh kembali.

Setidaknya ada 3 permasalahan besar yang sering dijumpai, yaitu: pekerjaan, tempat tinggal , dan jaringan sosial kekerabatan.

Pekerjaan, selain dapat mendatangkan pemasukan uang, juga berfungsi meningkatkan harga diri, ada jadwal kegiatan harian yang teratur, pertemanan dan identitas diri,

Masalahnya, stigma bagi penderita gangguan jiwa masih sangat kuat sehingga menyebabkan mereka sulit mendapatkan pekerjaan.

Saat ini, Tirto Jiwo sudah mendirikan cafe yang dapat berfungsi sebagai tempat latihan kerja. Dimasa mendatang, berbagai sarana latihan kerja akan terus dikembangkan agar para penderita gangguan jiwa lebih mudah dan lebih siap masuk ke lapangan kerja.

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo 

Laporan Keuangan Bulan Desember 2016

Dana yang masuk ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri 136 00 1074619 3 atas nama Yayasan Islam Ummy divisi Tirto Jiwo.

01-12-2016  Rp 300 000 dari Ibu Dama Sela

02-12-2016 Rp 1 000 000 dari Ibu Nina Mardyana

04-12-2016 Rp 250 000 dari Ibu Nindya Kartika Wahyudiani

07-12-2016 Rp 600 000. infak untuk Bapak Suhartoyo

08-12-2016 Rp 750 000 infak dari dermawan (setoran tunai)

08-12-2016 Rp 750 000 infak tunai dari dermawan

09-12-2016 Rp 1 000 000 infak tunai dari dermawan

12-12-2016 Rp. 1 000 000 infak dari Bapak Sabari A Chalik

19-12-2016 Rp 1 000 000 infak dari Ibu Feni Yuniati

23-12-2016 Rp 1 000 000 infak dari ibu Esti

28-12-2016 Rp 1 250 000 infak dari Dermawan

28-12-2016 Rp 5 000 000 infk dari Dermawan

Total pemasukan selama Bulan Desember 2016 Rp 13 900 000.

Pengeluaran untuk gaji pegawai Rp 9 800 000.

Pengeluaran untuk makanan dan lain lain Rp 7 900 000.