Gaya berpikir hitam putih

hitamputihGaya berpikir hitam putih berarti hanya ada hitam atau putih (tidak ada abu abu), benar atau salah (tidak ada hampir benar atau agak benar atau salah sedikit). Bila seorang murid tidak mendapat nilai A, berarti dia gagal. Dalam olah raga, bila tidak menjadi juara berarti gagal, padahal sebelum gagal dia sudah mengalahkan banyak lawan

Gaya berpikir ini disebut sebagai gaya berpikir hitam putih sebab cenderung melihat segala sesuatu sebagai ya atau tidak, benar atau salah dan tidak ada nilai ditengahnya.

Ibu Endang selama ini termasuk seorang pegawai yang rajin, pandai dan loyal. Tiba tiba dia ingin mengundurkan diri karena beberapa hari sebelumnya dia dimarahi atasan akibat kesalahan kecil yang diperbuatnya. Bu Endang merasa dirinya telah gagal. Bagi bu Endang, yang biasa memandang segala sesuatunya secara hitam putih, dimarahi atasan, walau hanya sekali dan hanya karena kesalahan kecil, adalah suatu pertanda bahwa dirinya telah gagal. Bu Endang tidak mau menyadari bahwa sebelumnya dia sering mendapat pujian dari atasan karena kinerjanya yang baik.

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Gaya berpikir memberi cap atau label

unhelpful_thinking_stylesDalam gaya berpikir memberi cap atau label, maka seseorang memberi cap atau label terhadap dirinya atau orang lain berupa pernyataan yang umum berdasarkan pada perilaku atau kejadian spesisifk dalam situasi tertentu. Cap atau label tersebut tetap saja diberikan, meskipun banyak data atau bukti bahwa pernyataan atau cap tersebut tidak sesuai.

Bila seseorang lupa membayar pulsa listrik, kemudian berkata “saya memang pelupa”, atau seseorang lupa memberi selamat ulang tahun kepada temannya, kemudian dikatakan “dia tidak perhatian kepada orang lain” itu suatu bentuk gaya berpikir labelling atau memberi cap. Dengan memberi label atau cap pada seseorang, maka sisi lain dari orang tersebut sering terabaikan atau terlupakan. Seseorang yang dicap pelupa, bodoh, tidak perhatian, bukan berarti dia selalu lupa, selau bodoh atau tidak dapat mengerti, atau tidak pernah memberi perhatian kepada temannya sama sekali.

Kenyataan bahwa seorang anak membuat kesalahan dengan menjatuhkan gelas dari meja, dan dicap sebagai anak “tidak hati hati”, tidak berarti bahwa dia benar benar tidak berhati-hati karena setiap hari si anak dapat berangkat dan pulang ke sekolah sendirian tanpa tertabrak kendaraan di jalan raya

Di kantor tempat Pak Henri bekerja, setiap orang sudah mempunyai julukan atau label tersendiri. Ada beberapa orang yang mendapat label “kartu mati” karena selama ini tidak mempunyai kontribusi terhadap perusahaan, ada yang mendapat julukan “bintang” karena ide idenya yang brillian sehingga menyebabkan perusahaan mendapat untung yang besar. Pada suatu rapat, Pak Henri yang termasuk sebagai pegawai yang diberi julukan “kartu mati”, mengusulkan sebuah ide yang bagus yang bila diterapkan akan menguntungkan perusahaan. Ide tersebut ditolak karena muncul dari seorang “kartu mati”.

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

 

 

Gaya berpikir generalisasi berlebihan

unhelpful_thinking_stylesBila seseorang merasakan suatu emosi yang tidak menyenangkan (misalnya: sedih atau marah), hal tersebut biasanya didahului oleh munculnya pikiran dan pernyataan diri yang tidak membantu (unhelpful self-thought). Sering, pikiran pikiran yang tidak membantu tersebut mempunyai pola tertentu. Pola tertentu tersebut dikenal sebagai gaya berpikir yang tidak membantu (unhelpful thinking style).

Gaya berpikir yang tidak membantu tersebut biasanya muncul secara otomatis sebagai suatu kebiasaan. Hal tersebut terjadi tanpa disadari oleh yang bersangkutan. Bila seseorang secara terus menerus dan sering menerapkan suatu gaya berpikir yang tidak membantu, maka orang tersebut sering kurang berhasil dalam hidupnya, atau bahkan mengalami gangguan emosional.

Pada tahun 1960an Prof Aaron Beck telah mengidentifikasi adanya 10 gaya berpikir tidak membantu yang sering ditemuinya pada pasien yang menderita depresi. Kesepuluh gaya berpikir tersebut kemudian diteliti dan diuraikan lebih lanjut oleh Dr David D. Burn. Salah satu gaya berpikir yang tidak membantu adalah berpikir overgeneralization, yaitu membuat generalisasi berlebihan.

Elemen kunci dari gaya berpikir ini adalah mengambil suatu contoh kejadian di masa lalu atau masa sekarang dan memberlakukan hal tersebut untuk semua keadaan di saat sekarang maupun yang akan datang.

Bila seseorang mengatakan “ kamu selalu….”, atau “ semua orang …….”, atau “ Saya tidak pernah……”, “saya selalu mengalami nasib sial…”, itu menandakan bahwa kemungkinan besar orang tersebut sedang menerapkan overgeneralization. Ketika mengatakan hal tersebut, mereka hanya menyandarkan ucapannya pada satu atau beberapa kejadian saja.

Gaya berpikir overgeneralization, membuat kesimpulan luas dan umum hanya berdasar beberapa fakta atau kejadian, membuat seseorang merasa mendapat beban yang berlebihan yang berada diluar kendalinya atau tidak mampu ditanggungnya. Perasaan tidak berdaya sering muncul akibat pikiran yang muncul dari gaya berpikir overgeneralization.

Dalam kaitannya dengan hubungan antar manusia, gaya berpikir overgeneralization juga sering diterapkan. Bila seseorang berkata “kamu tidak pernah bersikap ramah kepadaku”, atau “setiap aku pulang kerumah, keadaan ruang tamu selalu berantakan”, atau “saya selalu membuang sampah pada tempatnya”, itu merupakan tanda bahwa yang bersangkutan menerapkan gaya berpikir overgeneralization. Kata kata yang sering dipakai untuk menunjukkan overgeneralization antara lain: selalu, tidak pernah, semua orang, semuanya, setiap kali.

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo 

Menggabungkan bisnis dengan misis sosial

Tarjono_SlametTarjono Slamet . Tahun 1990, Tarjono harus kehilangan kaki kirinya yang terpaksa diamputasi. Dia juga harus menerima kenyataan bahwa 10 jari tangannya tak bisa lagi digerakkan lantaran mengalami kerusakan syaraf. Kebersamaan dengan sesama penderita cacat akhirnya menggugah Slamet untuk kemudian bangkit dari keputusasaan. Ia juga makin tekun menggeluti latihan keterampilan yang diajarkan di Yakkum. Bahkan, Tarjono sempat dikirim ke Selandia Baru, Australia dan Belanda untuk mengikuti berbagai kursus termasuk pelatihan fund rising.

Sepulang dari Australia, Tarjono Slamet memutuskan memulai hidup baru dengan mendirikan CV Mandiri Craft yang memproduksi aneka macam kerajinan kayu seperti alat peraga pendidikan dan puzzle. Tarjono merekrut 25 orang yang semuanya penyandang cacat sebagai karyawan.  Tidak heran jika kemampuan produksi CV Mandiri Craft juga cukup besar mencapai 650 unit per bulannya, jumlah yang setara dengan kapasitas produksi suatu perusahaan yang dikerjakan oleh tenaga tanpa cacat fisik.
Di saat usaha maju dan jumlah karyawan bertambah, musibah kembali datang. Gempa bumi 27 Mei 2006 mengancurkan seluruh peralatan pruduksinya. Satu kontainer barang produksi siap impor, hancur. Bahkan satu karyawannya meninggal. Musibah ini menjadi tantangan tersendiri untuk Tarjono. Berat rasanya memulai dari nol kembali. Namun setelah trauma mereda, akal sehat Trajono kembali berjalan. Akibat gempa itu, kata dia, lebih dari 1000 orang mengalami cacat fisik. Mereka tentu butuh penghasilan untuk tetap bertahan hidup karena tak mungkin selamanya menggantungkan diri kepada orang lain. Atas dasar itu, Tarjono bertekad kembali membangun Mandiri Craft yang tinggal puing-puing itu.

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo  

Catalino Tapia, tukang kebun pendiri yayasan pemberi bea siswa

Catalino Tapia menginjakkan kakinya di Amerika pada usia 20 tahun dengan uang $6 disakunya. Dia juga hanya berpendidikan setingkat sekolah dasar. Dia bekerja di took catalinodonat di Redwood City dengan keras. Akhirnya berhasil memulai bisnis berkebun sendiri untuk menghidupi istri dan dua anak. Saat paling membanggakan dalam hidupnya datang ketika anaknya, Noel Tapia lulus dari Fakultas Hukum Universitas California di Berkeley. Peristiwa tersebut menggerakkannya untuk berbuat sesuatu.  Catalino Tapia memutuskan bahwa pemuda keturunan Amerika Latin (Latino) harus memiliki kesempatan untuk mencapai pendidikan tinggi.

Pada tahun 2006 Catalino Tapia mendirikan Yayasan Bay Area Gardener, sebuah organisasi nirlaba yang pengurusnya terdiri dari tukang kebun daerah Bay Area yang menyediakan beasiswa untuk pemuda Latin dari keluarga berpenghasilan rendah. Catalino Tapia bersama sesama tukang kebun meminta majikan mereka dan pebisnis lokal untuk menyumbangkan dana, dan dalam 2 tahun pertama mereka berhasil mengumpulkan $ 250.000 . Pada tahun 2007, mereka diberikan bantuan untuk 18 siswa, yang semuanya berasal dari keluarga berpenghasilan rendah, memiliki keinginan untuk belajar di perguruan tinggi, dan memiliki setidaknya indeks prestasi (IP) 2,5. Penerima bea siswa mendapat $ 1500 per bulan. Penerima bea siswa juga harus bersedia bekerja sebagai relawan masyarakat selama 20 jam per tahun selama mereka mendapat bea siswa.

Catalino Tapia dan tukang kebun lain mengumpulkan uang untuk dana beasiswa dengan mengadakan pertemuan makan malam dan meminta sumbangan dari pebisnis lokal dan pelanggan kebun mereka. Tapia, sekarang 64, juga mendatangi berbagai pebisnis di Redwood City dan sekitar Bay Area. Ia bersedia menghabiskan siang yang panas baru-baru ini dengan berjalan dari pintu ke pintu di kampung halamannya untuk berbicara dengan pemilik bisnis Latino untuk mendukung yayasan.

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Narayanan Khrishnan, memberi makan 400 orang setiap harinya

Narayanan-KrishnanNarayanan Krishnan , setiap hari memberi makan kepada sekitar 400 orang miskin di Madurai, India.  Hingga saat ini sudah sekitar 1,2 juta piring makanan (sarapan pagi, makan siang dan malam) dia berikan  kepada para gelandangan, sebagian diantaranya adalah penderita gangguan jiwa yang sudah tidak bisa mengurus dirinya sendiri, serta orang tua yang dibuang keluarganya. Selain membawa makanan, dia juga membawa cermin, gunting rambut dan sisir untuk mencukur rambut dan berewok mereka.Rambut dan berewok yang rapi akan  meningkatkan rasa percaya diri orang orang yang dilayaninya.

 Dahulunya, Narayanan adalah seorang chef bermasa depan cerah karena sudah diterima bekerja di jaringan hotel bintang lima di Swis. Sebelum berangkat ke Eropa pada tahun 2002, dia mengunjungi kampung halamannya. Disana dia melihat ada seorang tua yang terkena gangguan jiwa yang memakan kotorannya sendiri. Karena tingginya angka kemiskinan di India, banyak penderita gangguan jiwa yang hidup menggelandang. Pemandangan tersebut telah merubah jalan hidupnya. Dia tinggalkan kehidupan normalnya sebagai chef dan hidup menuruti panggilan jiwanya. Narayanan kemudian mengambil uang tabungannya, sekitar US$ 2500, untuk mendirikan Akshaya Trust, dan mulai memberikan makan gratis kepada para gelandangan.Hingga kini, setiap hari sejak jam 4 pagi, Narayan beserta timnya berangkat dengan mobil sumbangan membagikan makanan kepada para gelandangan yang tinggal dibawah jembatan, di emper bangunan dan di sekitar candi.
Biaya operasional pemberian makan tersebut mencapai sekitar Rp 3 juta per hari. Padahal sumbangan yang rutin mereka terima terima hanya cukup untuk 22 hari. kekurangannya ia tutup dari hasil kontrakan rumahnya yang dia dapatkan dari kakeknya. Kini Narayanan tinggal di dapur Yayasan Akshaya yang sederhana bersama dengan beberapa orang karyawan lainnya. Narayanan tidak menerima gaji, dia hanya hidup dari tangan kemulut. kehidupannya ditanggung oleh kedua orang tuanya.
Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

5 Cara membeli kebahagiaan (2)

Tulisan ini kelanjutan artikel sebelumnya

father-a-strong-supportCara kedua. Jangan pakai uang hanya untuk diri sendiri, gunakan uang untuk membantu sesama yang lebih membutuhkan. Sebagian besar orang tidak menyadari hal ini. Penelitian dari Harvard telah membuktikan bahwa dengan menyumbang uang (pro-sosial) 5 dolar per hari atau sekitar Rp 45.000 (rata rata penghasilan di AS lebih dari Rp 30 juta per keluarga per bulan) tingkat kebahagiaan  mereka naik secara bermakna. Tentunya untuk tingkatan Indonesia, cukup dengan memberi sedekah Rp 5.000 per hari kita akan sudah bisa merasa bahagia. dengan membantu orang lain yang lebih membutuhkan, kita akan merasa bahagia. Coba saja sendiri !!. Saat ini banyak bencana melanda Indonesia. Orang miskin juga banyak disekitar kita. Sumbang korban bencana, bantu saudara atau tetangga yang kekurangan, insya Allah hidup anda akan lebih bahagia.
Cara ketiga. Tanamkan uang anda untuk pengembangan diri. Ikuti les piano, sekolah lagi, atau belajar sesuatu yang baru. Investasi dalam pengembangan diri akan membuat anda lebih bahagia. Ibu mertua saya mulai belajar bahasa Inggris ketika berusia 60 tahun. Berapa usia anda sekarang?
Cara keempat. Tabung sebagian uang anda secara otomatis. Dalam keadaan ekonomi tidak menentu seperti saat ini, tersedianya uang tabungan akan membuat kita lebih berbahagia. Orang terkaya di Babylonia menyarakan agar anda menabung 10% penghasilan anda setiap bulannya.
Cara kelima. Pakai uang anda untuk kesenangan kesenangan kecil. Ikuti les senam, main badminton, dan sejenisnya, akan dapat membuat anda lebih bahagia. Istri saya rutin main bowling, katanya, hal tersebut membuatnya bahagia.

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

5 cara membeli kebahagian (1)

Uang Tak Bisa Beli Kebahagiaan, Studi Ini MembuktikannyaLho! memang kebahagiaan dapat dibeli?

Hingga saat ini memang kebahagiaan tidak dijual, namun bila anda mempunyai uang dan menggunakan uangnya dengan tepat, maka anda akan dapat mengalami kebahagiaan.

Cara pertama. Jangan beli barang, pakai uang untuk membeli pengalaman. Menurut penelitian, banyak orang merasa menyesal setelah membeli barang, terutama bila membeli barang tersebut secara emosional. Selain itu, kesenangan yang kita rasakan setelah membeli barang hanya berlangsung singkat. Tidak demikian halnya bila kita memakai uang untuk membeli pengalaman. Saya sudah kepala lima saat ini, tapi hingga sekarang masih ingat pengalaman  menyenangkan ketika diajak berenang di kolam renang Simbarjoyo oleh bapak sehabis kenaikan kelas di sekolah dasar lebih dari 40 tahun yang lalu. Biaya tidak banyak, namun kesan yang saya dapatkan bisa bertahan lama. Teman senior saya masih sering menceritakan pengalaman berlibur sekeluarga ke Nepal meskipun itu sudah terjadi lebih dari 5 tahun yang lalu. Bila ingin lebih bahagia, pakai uang anda untuk membiayai piknik keluarga, nonton bersama, dll. Jangan hanya untuk membeli barang barang.
Cara kedua. Jangan pakai uang hanya untuk diri sendiri, gunakan uang untuk membantu sesama yang lebih membutuhkan. Sebagian besar orang tidak menyadari hal ini. Penelitian dari Harvard telah membuktikan bahwa dengan menyumbang uang (pro-sosial) 5 dolar per hari atau sekitar Rp 60.000 (rata rata penghasilan di AS lebih dari Rp 40 juta per keluarga per bulan) tingkat kebahagiaan  mereka naik secara bermakna. Tentunya untuk tingkatan Indonesia, cukup dengan memberi sedekah Rp 5.000 per hari kita akan sudah bisa merasa bahagia. dengan membantu orang lain yang lebih membutuhkan, kita akan merasa bahagia. Coba saja sendiri !!. Saat ini banyak bencana melanda Indonesia. Orang miskin juga banyak disekitar kita. Sumbang korban bencana, bantu saudara atau tetangga yang kekurangan, insya Allah hidup anda akan lebih bahagia.
Bersambung
Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Persiapan menghadapi kemungkinan PHK-2

PHKTulisan ini merupakan kelanjutan tulisan sebelumnya. Artikel aslinya pernah dimuat di http://rbumiya.blogspot.com/2010_10_01_archive.html
2.Bikin tabungan untuk keadaan darurat.  Sebaiknya dana darurat ini cukup untuk membiayai pengeluaran kita selama tiga sampai enam bulan kedepan. Hal ini mengingat kebanyakan orang memerlukan waktu antara tiga sampai enam bulan untuk mencari pekerjaan baru. Bila anda mendapat pesangon, maka anda dapat lebih siap dalam menghadai PHK.
3.Usahakan agar anda selalu meningkatkan keterampilan anda dan mencari sertifikasi ketrampilan yang baru (belajar bahasa, ketrampilan memanfaatkan internet, dll). Jika perusahaan anda memberikan pelatihan tambahan atau sertifikasi, sebaiknya anda memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya. Dengan ketrampilan atau sertifikat yang baru tersebut anda mungkin dapat mengalahkan calon lain yang hanya mengandalkan pengalaman atau bahkan anda bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lebih besar.
4.Selain itu, penting untuk terus membuat jaringan persaudaraan setiap saat. Bila anda sudah membangun hubungan dengan orang di sekitar anda didalam perusahaan maupun di industri yang berbeda, anda sudah memiliki kontak yang dapat membantu anda dalam mencari pekerjaan baru. Kebanyakan pekerjaan datang melalui perantaraan orang yang anda kenal. Mungkin anda mendengar tentang pekerjaan melalui orang tertentu, atau anda dapat menggunakan seseorang sebagai referensi tambahan.
5. Anda harus bekerja dengan sikap positif dan memberikan komitmen yang terbaik. Hal ini dapat melindungi anda dari dipecat, tetapi juga dapat membantu anda untuk mendapat referensi yang baik ketika anda mencari pekerjaan baru. Sangat penting untuk melakukan pekerjaan anda yang sekarang dengan sebaik mungkin, dan membangun reputasi diri yang baik.
Saya percaya, jika anda mengikuti semua nasehat diatas, anda tidak saja telah siap menghadapi PHK. Bahkan anda akan mendapatkan kenaikan pangkat atau mendapat pekerjaan baru dengan gaji lebih besar.
Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Persiapan menghadapi kemungkinan PHK-1

phk-529x353Di saat situasi ekonomi tidak menentu seperti saat ini, kemungkinan terjadi PHK secara tiba tiba cukup besar. Saya kira akan sangat baik bila kita selalu siap menghadapi PHK.

Saya mempunyai kenalan, sekarang sudah almarhum, yang jatuh dan tidak bisa bangkit lagi karena PHK. Teman saya tersebut tidak pernah membuat persiapan terhadap kemungkinan terjadinya PHK.

Mereka, teman saya tersebut dan istrinya , kedua-duanya bekerja, namun di perusahaan yang berbeda. Mereka membeli rumah melalui KPR komersial, bukan KPR BTN. Ketika ekonomi dan penghasilannya sedang membaik, mereka bukannya menabung atau segera melunasi utangnya, namun malah meminjam uang lagi dari bank untuk memperbesar rumahnya., membeli mobil, dll.  Ketika keduanya di PHK saat krisis ekonomi tahun 1998, ekonomi keluarga mereka menjadi oleng. Suaminya kemudain terkena stroke. Karena keterbatasan keuangan, mereka tidak kuat mengobati penyakitnya dengan benar sehingga sang suami akhirnya meninggal.

Syukur dari dulu hingga sekarang saya bekerja di suatu organisasi yang tidak mudah memecat pegawainya, dulu sebagai PNS dan sekarang sebagai PNS internasional (international civil servant) karena saya bekerja di PBB. Meskipun demikian, saya kira tidak ada salahnya bila kita mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan di PHK.

Dibawah ini saya kutipkan beberapa nasehat dalam mempersiapkan diri menghadapi PHK:

Pertama, sadari dan tanamkan dalam hati bahwa jika kita tidak siap, PHK dapat menghancurkan kita secara finansial. Hal ini penting agar kita mau membuat dan mengikuti anggaran belanja keluarga bulanan,  dan mau melakukan segala upaya untuk segera keluar dari hutang. Kita juga harus hati-hati dalam mempertimbangkan setiap pinjaman yang akan kita ambil, dan memahami dengan benar segala konsekuensi jika kita tidak mampu membayar kembali segala pinjaman tersebut. Jika anda kehilangan pekerjaan namun  selama ini anda sudah patuh membuat dan mengikuti anggaran belanja keluarga anda, jauh lebih mudah bagi anda untuk melihat apa yang perlu diubah saat anda baru di PHK  dan ketika sedang mencari pekerjaan baru.

Bersambung
Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo