8 Langkah latihan mengatur emosi (2)

dreng%20raaber%20frustreret%20colourboxTulisan ini merupakan kelanjutan tulisan sebelumnya.

  • Langkah 4: Sering terlibat dalam kegiatan yang menghasilkan emosi positif. Kejadian kejadian yang tidak menyenangkan akan menimbulkan reaksi berupa munculnya emosi negative (sedih, marah, cemas, dll). Dalam jangka panjang, kita perlu mengatur hidup kita sehingga lebih banyak terlibat dalam kegiatan atau kejadian yang memberikan efek pada emosi positif. Kegiatan yang akan menimbulkan emosi positif, misalnya: sedekah, menolong atau membantu seseorang, melakukan hobi, ikut pengajian, dll.
  • Langkah 5: Tingkatkan perhatian (mindfulness) pada emosi saat ini. Kita perlu melatih agar pikiran kita selalu focus pada keadaan atau kejadian yang berlangsung saat ini. Jangan biarkan pikiran melayang ke masa lalu atau ke masa depan. Tingkatkan perhatian pada emosi yang sedang kita jalani sekarang.
  • Langkah 6: Coba lakukan kegiatan yang berlawanan. Bila kita sedang sedih (badan terasa lemas dan tak bertenaga, biasanya hanya ingin tiduran atau bermalas-malasan), maka segera bangun dan lakukan olah raga di luar rumah; Bila kita marah, maka coba duduk atau tiduran.
  • Langkah 7: lakukan teknik untuk meningkatkan daya tahan menghadapi stress (distress tolerance technique) yang dapat dipelajari dari tulisan ini.
  • Langkah 8: Paparkan emosi. Buat catatan tentang emosi negative yang ingin kita atur. Misalnya, bila kita ingin mengatur emosi sedih, maka langkahnya adalah buat catatan tentang kejadian yang membuat sedih, reaksi tubuh ketika sedih, pikiran yang mucul, perilaku waktu sedih. Kemudian secara bertahap (mula mula sebentar saja) membayangkan kejadian yang membuat kita sedih dan coba amati reaksi yang muncul di tubuh kita. Dengan melatih hal ini, maka kemampuan kita mengatur rasa sedih akan meningkat.

Semoga bermanfaat.

8 Langkah latihan mengatur emosi (1)

dysregulation-wise-mindSalah satu ketrampilan yang perlu dipunyai agar jiwa sehat adalah ketrampilan mengatur emosi. Emosi (marah, takut, sedih,gembira, dll) tidak dapat dilepas semaunya. Emosi perlu diatur agar selaras dengan kehidupan social yang normal.

Beberapa penderita gangguan jiwa jenis borderline personality disorder, gangguan jiwa bipolar, depresi berat maupun penderita gangguan schizoaffective, mempunyai kelemahan dalam mengatur emosi.

Berikut ini 8 langkah mengatur emosi:

  • Langkah 1: Mengenali dan memberi nama (label) dari affect (perasaan, emosi). Kadang seseorang marah, sedih atau cemas tanpa sadar. Langkah pertama agar kita mampu mengatur emosi adalah mengenali dan memberi nama (label) atas setiap emosi yang terjadi pada diri kita. Untuk itu, kita perlu dapat mengenali dan menyadari setiap perubahan emosi. Dengan mengenali setiap perubahan emosi yang muncul, kita akan dapat pula mengidentifikasi: (a) kejadian yang memicu munculnya emosi, (b) arti atau interpretasi yang kita berikan kepada kejadian pemicu tersebut, (c) perubahan fisik yang terjadi ditubuh kita (misalnya: jantung berdetak lebih cepat), (d) perilaku yang muncul yang terkait dengan emosi tersebut (misalnya: membanting piring), (e) dampak dari emosi tersebut terhadap fungsi tubuh secara keseluruhan (missal: sedih membuat badan lemas, tidak dapat berangkat kerja).
  • Langkah 2: Mengenali hambatan dalam mengubah emosi. Mengubah emosi itu tidak gampang, karena biasanya kita sudah terbiasa dengan reaksi lanjutan dari munculnya emosi tersebut. Misalnya: bila sedih atau marah terus larinya ke minum minuman keras karena dengan minum maka marah/ sedih berkurang.  Bila sedih, terus makan banyak. Kebiasaan kebiasaan tersebut membuat kita lebih sulit mengatur emosi.
  • Langkah 3: Kurangi kerentanan terhadap emotional mind (pikiran yang dikuasai emosi). Kerentanan terhadap emotional mind dapat dikurangi dengan kebiasaan hidup sehat: olah raga teratur, makan sehat teratur, tidak begadang, tidak minum minuman keras, dll.

Sumber bacaan: http://www.mindfulnessmuse.com/dialectical-behavior-therapy/top-10-ways-to-regulate-emotions-part-one

Radical acceptance: strategi bertahan menghadapi tekanan jiwa (3)

Nick_Vujicic_speaking_in_a_church_in_Ehringshausen,_Germany_-_20110401-02Tulisan ini merupakan kelanjutan tulisan sebelumnya

Langkah untuk menerapkan radical acceptance:

  • 2. Segala sesuatu ada penyebabnya. Segala sesuatu terjadi karena ada rangkaian sebab akibat. Tidak ada suatu kejadian tanpa sebab. Orang yang tidak mau menerima kenyataan, akan berkata: “seandainya saya tidak ke kantor, pasti rumah saya tidak akan kemalingan; seandainya ada dokter, pasti anak saya akan sembuh. Dalam radical acceptance, kita perlu belajar menerima suatu kejadian sebagaimana apa adanya. Jangan lagi berpikir atau berkata “seandainya”. Bila kita menerima kejadian sebagaimana apa adanya, kita tetap akan merasa sedih/ kecewa/ marah atau perasaan tidak enak lainnya, namun kita akan dapat menanggungnya. Bila kita tidak mau menerima kenyataan, maka kita akan menderita.
  • 3. Hidup dapat dibuat bermakna. Langkah ketiga adalah kesadaran bahwa hidup dapat dibuat menjadi lebih bermakna. Apapun yang terjadi dan bagaimanapun kondisinya, selama masih hidup, maka hidup dapat dibuat lebih bermakna. Nick Vujicic lahir tanpa tangan dan kaki, namun dia dapat menjadi pembicara motivator terkenal. Fajar Abdul Rokhim Wahyudiono, meskipun menderita bels palsy namun dapat menghapal al Quran 30 juz. Oleh karena itu, apapun keadaannya, hidup dapat selalu dibuat lebih bermakna. Agar kita dapat membuat hidup bermakna, kita harus mau menerima terlebih keadaan kita sekarang apa adanya.
  • 4. Membelokkan pikiran. Agar kita dapat menerapkan radical acceptance, kita harus selalu mengenali bila pikiran kita mulai menolak kenyataan. Setiap kali pikiran kita coba menolak kenyataan, maka kita kembalikan pikiran kita kearah penerimaan kenyataan. Begitu seterusnya, secara berulang ulang sehingga kita benar benar mempunyai komitment yang kuat dalam menerima kenyataan.
  • 5. Niat atau kemauan untuk menerapkan. Setelah kita mau menerima keadaan seperti apa adanya, kemudian mengendalikan pikiran kita agar dapat menerima apa adanya, langkah berikutnya adalah membuat komitmen dan menerapkan langkah untuk membuat hidup menjadi lebih bermakna.

Radical acceptance: strategi bertahan menghadapi tekanan jiwa (2)

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya

Tidak semua orang dapat menerima kenyataan.Bila mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, mereka akan berkata: ini tidak adil, ini tidak seharusnya terjadi, mengapa ini terjadi pada diriku,  dll

acceptanceDiperlukan sebuah ketrampilan agar kita dapat menerima kenyataan. Radical acceptance adalah menerima kenyataan secara penuh dan total.

Berikut ini langkah agar kita dapat terampil menerapkan radical acceptance:

  1. Terima kenyataan sebagaimana apa adanya. Terimalah kenyataan sebagaimana apa adanya. Ada sebuha cerita yang menarik tentang terima kenyataan apa adanya. Pada zaman dahulu kala ada seorang perdana menteri yang selalu mengucapkan “alhamdulillah” ketika menanggapi suatu kejadian. Pada suatu hari, ketika sedang naik kuda, Sang Raja mengalami kecelakaan sehingga salah satu jarinya harus dipotong. Ketika mendengar kejadian itu, Perdana Menteri mengucapkan alhamdulillah. Tentu saja ucapan alhamdulillah dari sang Perdana Menteri membuat Sang Raja marah dan memerintahkan Perdana Menteri untuk dihukum penjara. Minggu berikutnya, Raja berburu ke hutan. Ketika berburu dihutan, tiba tiba Raja dan rombongannya diserang sekelompok suku primitive. Raja ditawan dan akan dibunuh untuk dikorbankan kepada dewa suku primitive tersebut. Sebelum dibunuh, badan raja diperiksa. Raja tidak jadi dibunuh sebagai korban karena badannya tidak utuh (salah satu jarinya putus) sehingga raja dibebaskan. Raja bersyukur (dengan mengucap alhamdulillah) karena jarinya putus sehingga dia tidak jadi dibunuh. Raja kemudian meminta maaf Perdana Menteri karena telah memenjarakan sang Perdana Menteri. Namun Perdana Menteri kemudian mengucap alhamdulillah, karena kalau Perdana Menteri tidak dipenjara (dan ikut raja berburu), maka Perdana Menteri yang akan dikorbankan oleh suku primitive tadi.
  2. Segala sesuatu ada penyebabnya.

Bersambung

Radical acceptance: strategi bertahan menghadapi tekanan jiwa (1)

a96ae98c2baa2c8f19ab0485342dc85cAda orang orang yang, meskipun mengalami berbagai kesulitan, kegagalan, kepedihan dan trauma, tetap dapat bangkit kembali. Sepertinya, bagi orang jenis ini, kepedihan adalah tempaan untuk membuat mereka menjadi semakin kuat dan semakin tangguh.

Dilain pihak, banyak juga orang yang sekali mengalami kegagalan atau penderitaan, tidak dapat bangkit sehingga hidupnya tetap terpuruk.

Orang orang yang menderita gangguan jiwa adalah orang yang tidak tahan menghadapi tekanan jiwa. Jiwa mereka hancur karena tidak kuat menghadapi beratnya tekanan jiwa.

Menurut Dr Marsha Linehan, ada 4 pilihan ketika kita mengalami tekanan jiwa:

  1. Pecahkan masalahnya. Bila kita malu atau sedih karena mendapat nilai jelek dalam ulangan, maka kedepannya kita harus mau belajar lebih giat.
  2. Rubah perasaan (change how you feel). Bila kita merasa sedih, coba nonton film lucu/ komedi. Bila kita marah, coba kurangi kemarahan dengan jalan jalan di taman atau melakukan relaksasi.
  3. Terima kenyataan (acceptance, menerima kenyataan). Bila kita tidak (belum) dapat memecahkan masalahnya dan tidak dapat mengubah perasaan, maka lihan ketiga adalah kita terima kenyataan. Misalnya: kita berhutang dan belum mampu membayar hutang, nanti sore akan dimasukkan penjara kalau tidak dapat membayar, maka kita terima saja kenyataan tersebut. kita memang bersalah, maka kita terima saja konsekeunsinya. Dengan menerima kenyataan, kita memang tetap masuk penjara, tapi hati menjadi lebih tenang, ringan dan tidak gelisah.
  4. Tetap hidup dalam penderitaan (stay miserable). Pilihan keempat adalah, kita tidak melakukan apa apa sehingga kita tetap hidup dalam penderitaan. Misalnya: sudah tidak/ belum dapat bayar hutang, malu, sedih, takut dikejar kejar penagih dan hidu dalam penderitaan.

Bersambung

http://www.dbtselfhelp.com/html/radical_acceptance_part_1.html

Meningkatkan daya tahan menghadapi stress (2)

640px-sketching_8925389363Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya

Daya tahan menghadapi stress (distress tolerance) dapat pula ditingkatkan dengan teknik yang dikenal dengan singkatan ACCEPT (Activities, Contributing, Comparison, Emotion, Pushing away, Thought, Sensations):

  1. Activities, yaitu melakukan kegiatan (biasanya berupa hobi atau kegiatan lain yang menyenangkan) untuk mengalihkan perhatian dari hal yang membuat jiwa kita tertekan.
  2. Contributing, melakukan kegiatan yang tujuan utamanya melayani orang lain, menolong orang lain mengatasi masalahnya, menjadi sukarelawan, melakukan kerja bakti, membersihkan masjid, dll.
  3. Comparison, mengurangi tekanan jiwa dengan membandingkan keadaan kita dengan nasib orang lain yang lebih jelek atau membandingkan dengan keadaan dimasa lalu yang lebih jelek.
  4. Emotions, mengembangkan suasana hati yang berbeda, misalnya: (a) bila sedih, maka lihat film komedi atau mendengarkan music rock,  (b) bila takut, maka tonton film kepahlawanan (spiderman), dll.
  5. Pushing away, mengganti pikiran yang membuat stress dengan pikiran lain atau memberikan perhatian ke hal hal lain. Bisa juga dengan membayangkan masalah tersebut dimasukkan kedalam kotak dan sementara disimpan ditempat lain. Bagi anak muda yang belum dewasa dan punya bakat gangguan jiwa dan orang yang pernah terkena gangguan jiwa, metode pushing away ini dapat mendorong timbulnya halusinasi dan waham.
  6. Thoughts, tujuannya adalah mengisi otak anda dengan pikiran pikiran berbeda yang menyenangkan atau tidak membuat stress (misalnya: secara sadar membayangkan membuat taman dirumah, menyanyikan lagu yang syairnya tidak ingat, mencoba menebak apa pekerjaan orang orang yang berada dalam satu bus, dll). Metode thoughts ini juga tidak tepat bagi anak muda yang punya bakat gangguan jiwa atau orang yang pernah mengalami gangguan jiwa karena akan mendorong munculnya waham dan halusinasi. Metode ini hanya cocok untuk orang yang tidak punya bakat gangguan jiwa.
  7. Sensations, memanfaatkan paca indera untuk mengalihkan perhatian dari masalah yang membuat stress. Misal: (a) indera pendengaran: mendengarkan suara gemericik air, suara burung, dan suara suara alam lainnya; (b) penciuman: mencium aroma (bunga, buah, tanaman) yang menyegarkan; (c) penglihatan: melihat pemandangan alam atau membayangkan kita merenovasi rumah, (d) rasa: makan makanan kesukaan, mencoba makanan baru, (e) sentuhan: berendam air hangat, pijat.

Meningkatkan daya tahan menghadapi stress (1)

distresstoleranceDistress tolerance adalah kemampuan seseorang menjalani atau mengalami hal hal yang tidak menyenangkan, seperti hal hal yang menimbulkan kesedihan, kepedihan, menanggung malu, ketakutan, kemarahan, dan hal hal yang tidak menyenangkan lainnya.

Seseorang dengan distress tolerance bukannya tidak merasa sedih, marah atau takut. Namun, dia tahan ketika merasakan semua penderitaan tersebut.

Meningkatkan distress tolerance bukannya mengurangi stress (tekanan jiwa), tapi memperkuat jiwa seseorang sehingga meskipun tekanan jiwa datang, dia tidak menjadi sakit jiwa atau melakukan hal hal yang merugikan.

Orang dengan distress tolerance yang rendah sering melakukan kesalahan, yaitu mencoba melarikan diri dari stress dengan minum minuman keras, mengkonsumsi narkoba, mengamuk (marah marah), atau membiarkan masalah tanpa mau mencoba memecahkannya.

Salah satu metode meningkatkan distress tolerance adalah dengan melakukan IMPROVE (Imagery, Meaning, Prayer, Relaxation, One thing at a time, Vacation, Encouragement)

  1. Imagery, secara sadar membayangkan suatu keadaan yang tenag, damai dan menyenangkan. Metode ini sebaiknya hanya dipergunakan oleh orang yang sudah dewasa (berusia diatas 40 th) dan tidak mempunyai riwayat gangguan jiwa berat (psikosis). Metode imagery (membayangkan) dapat membuat munculnya halusinasi maupun waham.
  2. Meaning, mencari makna atau hikmah dari suatu kejadian. Misalnya: (a) lebih baik meninggal dari pada sakit berkepanjangan; (b) masih untung hanya kaki yang putus, bukan meninggal, (c) lebih baik, selamat. uang dapat dicari, dll.
  3. Prayer, berdoa kepada Tuhan. dengan berdoa, maka hati akan menjadi tenang.
  4. Relaxation, melakukan relaksasi misalnya dengan bernapas dalam dan panjang, menerapkan progressive muscle relaxation, dll.
  5. One thing at a time. Satu persatu masalah dipecahkan atau memecahkan masalah besar dengan menguraikannya satu persatu.
  6. Vacation, yaitu pergi bersantai atau berlibur untuk menyegarkan pikiran.
  7. Encouragement, yaitu berbicara atau menasehati diri sendiri agar tetap tenang, kalm, tidak emosi, dll.

5 cara mengendalikan emosi

emosionalSemua orang pernah merasakan sedih, gembira, marah atau takut. Namun emosi yang tidak terkendali dapat merugikan diri sendiri. Misalnya, bila kita tidak dapat mengendalikan emosi ketika ada orang yang menyenggol motor/ mobil kita, maka nyawa kita dapat terancam. Bila kita tidak dapat mengendalikan tawa kita ketika melihat sesuatu yang menurut kita lucu, mungkin orang lain akan mulai menjauhi kita.

Berikut ini 5 cara agar kita lebih dapat mengendalikan emosi kita:

  1. Pilih situasi. Bila kita sering emosional ketika terburu-buru, maka usahakan buat rencana sehingga kita tidak perlu terburu-buru. Bila kita sering emosi bila bertemu dengan seseorang teman, maka coba jaga jarak dengan teman tersebut.
  2. Ubah situasi. Kita sering emosional karena ada rasa kecewa dibalik kejadiannya itu. Misalnya, kita sering emosional setiap kali memasak masakan tapi tidak ada yang makan. Maka jalan keluarnya adalah kita ubah masakan kita, misalnya dengan memasak makanan yang disukai suami/ anak. Bila kita emosional ketika sedang berdiri, cobalah duduk. bila kita emosional ketika sedang didalam ruangan, cobalah jalan ke halaman.
  3. Ubah fokus perhatianmu. Sering kali seseorang emosional karena ada rasa rendah diri (inferior). Untuk mengatasi hal itu, coba fokuskan perhatian kita pada orang orang yang secara status sosial/ prestasi dibawah kita. Bila kita emosional ketika bermain tenis meja, karena kita sering kalah, maka dilain waktu ajak bermain orang yang dibawah kita ketrampilannya bermain tenis meja.
  4. Ubah pikiranmu. Pada dasarnya kita dapat memberi arti yang berbeda-beda terhadap suatu kejadian. Ketika ada 2 orang yang duduk di meja dekat kita tertawa, maka kita dapat punya berbagai pikiran, misalnya: orang itu pasti mentertawakan saya sehingga kita menjadi emosi, atau kita ubah pikiran kita dengan berpikir bahwa orang tersebut tertawa tidak ada hubungannya dengan kita. Teknik ini disebut dengan cognitive reappraisal.
  5. Ubah response/ reaksimu. Langkah terakhir bila semua cara yang diuraikan tersebut tidak berhasil adalah dengan mengubah response atau reaksi kita. Misalnya, bila kita merasa marah mulai tidak terkendali, cobalah atur pernapasan dengan menarik napas dalam, melakukan berbagai teknik relaksasi. Bila kita sedih, cobalah lakukan olah raga, jalan jalan ke taman, dll.

Sumber bacaan: https://www.psychologytoday.com/blog/fulfillment-any-age/201502/5-ways-get-your-unwanted-emotions-under-control

Ketahanan jiwa

6031d9076b00432046b6b300adb167abKetahanan jiwa adalah suatu kondisi dimana seseorang dapat segera bangkit kembali ketika jatuh atau mengalami tekanan jiwa. Ketahanan jiwa adalah kemampuan menghadapi dan mengatasi hal hal yang menekan jiwa, seperti: kegagalan, kehilangan, mendapat malu, ancaman, dan lain lain.

Ketahanan jiwa sangat terkait dengan pemulihan gangguan jiwa. Biasanya, ketahanan jiwa para penderita gangguan jiwa dalam kondisi lemah. Agar dapat pulih dan lepas dari obat, ketahanan jiwa penderita gangguan jiwa perlu diperkuat.

Tanda yang terlihat pada seseorang dengan ketahanan jiwa yang lemah adalah: sering merasa takut, merasa tidak aman, dan tidak percaya diri. Sedangkan tanda tanda seseorang dengan ketahanan jiwa yang kuat adalah: jiwa yang penolong (compassion), selalu bersyukur, pemaaf, cepat baik kembali (tidak jadi pendendam, bila tersinggung dapat cepat kembali menguasai diri), bisa mengendalikan emosi dan baik hati.

Ketahanan jiwa terbentuk sejak kecil. Menurut dr Christof Wiechert, agar mempunyai ketahanan jiwa, seorang anak dalam perkembangannya perlu:

  • Mempunyai hubungan yang stabil dan dapat diandalkan (reliable) dari seseorang. Biasanya seorang anak mendapatkan hal tersebut dari ibunya. Meskipun demikian, anak juga dapat mendapatkan hubungan yang stabil dan dapat diandalkan tersebut dari orang lain, misalnya: ayah, nenek,tante, atau orang lain yang tinggal serumah.
  • Memiliki pengalaman dibimbing seseorang yang tegas. Ketika masih kecil, seorang anak belum dapat mengambil keputusan sendiri dengan baik. Pengalaman mendapat bimbingan dari seseorang yang dengan tegas menunjukkan mana yang baik (boleh) dan mana yang tidak baik (tidak boleh) akan sangat membantu dan menimbulkan rasa aman pada diri sang anak. Rasa aman ini sangat penting bagi pertumbuhan jiwa yang sehat.
  • Anak perlu belajar melalui contoh. Hingga usia 10 tahun, anak anak belajar, utamanya, dari meniru atau mencontoh. Untuk itu, anak perlu mendapatkan seseorang didekatnya yang dapat memberikan contoh yang baik, utamanya dari sisi moral. Rasa percaya diri dan lain lain, terbentuk bukan dari proses kognisi, tapi tumbuh berdasar pengalaman hidup yang dijalaninya.
  • Anak anak perlu mendapat pengalaman hidup melalui kegiatan khusus. Kegiatan kegiatan khusus seperti merayakan lebaran, mendengarkan dongeng sebelum tidur, ikut orang tua berkunjung ke saudara merupakan pengalaman hidup yang penting yang akan dapat menumbuhkan ketahanan jiwa.
  • Pengalaman positif selama di sekolah.  Pengalaman positif selama bersekolah juga akan dapat memperkuat ketahanan jiwa seorang anak. Anak anak yang sering diancam, diejek, dan lain lain akan menyebabkan ketahanan jiwanya lemah.

Sumber bacaan: http://www.waldorftoday.com/2011/08/resilience-by-christof-wiechert/

Berlatih menjadi penyabar

gambar-kata-hikmah-islam-muslim-solat-dan-sabarDalam artikel berjudul Take Home Lessons on Schizophrenia, Dr Stephen Moffic membahas kesepakatan para ahli tentang 4 komponen utama terapi terhadap skizophrenia, yaitu: farmakoterapi (pemberian obat), terapi keluarga (psikososial edukasi bagi keluarga), pelatihan ketahanan jiwa bagi pasien, dan dukungan pekerjaan atau pendidikan sesuai keinginan pasien.

Pelatihan agar menjadi lebih sabar, dalam arti dapat mengendalikan keinginan, merupakan salah pelatihan penting agar ketahanan jiwa menjadi meningkat. Kita tahu bahwa sering penderita gangguan jiwa tidak dapat mengendalikan kemauannya. Orang yang sabar akan lebih tahan menghadapi goncangan atau tekanan jiwa.

Berikut ini langkah langkah agar kita dapat menjadi penyabar:

  • Memahami mengapa kita sering tidak sabar, yaitu dengan mengenali : (a) apakah kita selkalu terburu-buru karena banyak hal yang harus diselesaikan?. Bila kita tidak sabar karena banyak pekerjaan, maka kita harus mengelola beban kerja dengan lebih baik (b) kenali pemicu yang sering membuat kita hilang kesabaran (kejadian, waktu, kegiatan, orang tertentu, dll), (c) kenali pola dari ketidak sabaran tersebut (apakah kita tidak sabar terhadap jenis orang tertentu, situasi tertentu, waktu tertentu, dll),
  • Tuliskan hal hal yang membuat kita tidak sabar. Buat catatan setiap kali kita kehilangan kesabaran (kondisi atau kejadian yang membuat kita kehilangan kesabaran, kapan, dengan siapa, dll)
  • Berlatih untuk meningkatkan kesabaran, yaitu dengan: (a) latihan menarik napas panjang setiap kali mulai tidak sabar, dan tenangkan pikiran (b) berlatih untuk melepaskan atau merelakan bila penyebab ketidak sabaran itu dipicu oleh sesuatu yang tidak dapat kita kendalikan.
  • Lihat gambaran besarnya. Beberapa hal yang perlu diingat disini: (a) semua hal memerlukan waktu untuk berproses (bayi perlu 9 bulan didalam kandungan ibu sebelum kelahiran ), (b) fokuskan pada hal hal yang penting, jangan terlalu terpaku pada hal hal kecil yang tidak penting. Jangan sampai sering tidak sabar karena hal hal kecil atau hal hal sepele), (c) ingatlah bahwa pada kebanyakan hal, akhirnya anda berhasil juga mendapatkannya, (d) selalu menganbil sikap positif terhadap kehidupan.
  • Mempersiapkan diri, dengan: (a) bersiap untuk menerima hal yang tidak kita inginkan. Ingat, sebagai manusia kita memang harus membuat perencanaan, namun tidak selalu semua berjalan sesuai rencana, (b) ambil waktu untuk relaks atau bersantai agar hidup kita tidak dalam keadaan tegang/ tension terus menerus.