Cara tidak sehat dalam mengatasi stress (2)

169a24642604e1aeff9ed1f6f914b57dTulisan ini merupakan lanjuta dari artikel sebelumnya

Beberapa cara mengatasi stress secara tidak sehat:

  • Menyalahkan orang lain secara berlebihan hingga menyakiti orang lain. Untuk mengatasi ketidak mampuannya dalam menyelesaikan suatu masalah, seseorang kadang menyalahkan orang lain. Dalam tingkatan yang lebih ekstrim, maka yang bersangkutan dapat melakukan tindakan yang menyakiti orang lain. Bentuk menyakiti orang lain dapat berupa membuat lelucon yang menyakitkan hati, hingga secara nyata melempar barang atau mencoba melukai orang lain yang dianggap bertanggung jawab atas masalah yang terjadi.
  • Lari dari kenyataan dengan bersikap menyangkal, masa bodoh hingga hidup dalam alam khayalan. Sikap mengatasi masalah dengan bersikap menyangkal (menolak/ denial) terhadap kenyataan masih dapat dikatakan dalam tingkat normal. Bila sudah mulai bersikap masa bodoh, atau bahkan mulai hidup dalam khayalan, maka coping strategi tersebut sudah mulai menjadi penyakit. Salah satu coping strategi yang banyak dijumpai pada penderita gangguan jiwa adalah mencoba mengatasi masalah dengan hidup dalam alam khayal.
  • Memanipulasi lingkungan secara berlebihan. Kecemasan akibat takut akan adanya kuman penyakit dapat menyebabkan seseorang mandi berkali kali (hingga 10 kali) dalam sehari, mencuci tangan dengan sikat berkali kali hingga tangan lecet, takut kemalingan dengan mengunci pintu berkali-kali atau memasang pengaman berlapis secara berlebihan. Mekanisme coping dengan memanipulasi lingkungan secara berlebihan terjadi pada penderita dengan obsessive compulsive disorder.
  • Terlalu sensitive. Karena pernah mengalami trauma berat (mengalami kecelakaan sehingga hampir meninggal, diperkosa, ikut dalam pertempuran, dll), mereka sering menjadi sangat sensitive terhadap hal hal yang mengingatkan mereka dengan kejadian masa lalu yang traumatis. Misalnya, seorang tentara AS yang pernah hampir mati karena ranjau darat (biasanya ditanam dipinggir jalan), maka ketika pulang ke Amerika bila mengendarai mobil selalu berada ditengah jalan (tidak berani berada dipinggir jalan).

Semoga bermanfaat

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Cara tidak sehat dalam mengatasi stress (1)

Dalam hidup, kita akan sering harus menghadapi masalah yang membuat jiwa kita tertekan. Tekanan jiwa tersebut dapat terjadi karena berbagai kejadian yang membuat kita merasa sedih, kecewa, malu, gagal, merasa bersalah, marah, takut, cemas dan berbagai perasaan tidak enak lainnya.

Berbagai cara menghadapi tekanan jiwa secara positif, sehingga membuat kita dapat bangkit dari trauma, sudah kita bahas dalam situs ini.

169a24642604e1aeff9ed1f6f914b57dPada kesempatan ini, kita akan bahas berbagai cara menghadapi tekanan jiwa yang tidak sehat. Dalam cara yang akan diuraikan dibawah, maka metode yang dipakai tidak hanya tidak memecahkan masalah, namun juga sering menimbulkan munculnya masalah yang lebih berat atau lebih rumit.

Berikut ini beberapa cara negative dalam menghadapi masalah:

  • Mencoba melupakan masalah dengan lari ke: minum minuman keras, obat obat terlarang, makan berlebihan, belanja berlebihan, menonton hiburan tidak sehat yang mahal, dll. Memang ketika kita fly atau mabuk, kita sejenak melupakan masalah, namun dengan berhentinya efek obat, maka masalah akan muncul kembali. Bahkan, sering masalah menjadi semakin rumit dan semakin sulit diatasi. Banyak juga orang mencoba meluapakan kesedihan karena masalah keluarga dengan membenamkan diri dalam pekerjaan atau kegiatan social diluar rumah.
  • Menyalahkan diri sendiri secara berlebihan, menyakiti diri sendiri hingga bunuh diri, beberapa orang mencoba mengurangi rasa bersalah dengan menyakiti diri sendiri. Tindakan menyakiti diri sendiri seperti membenturkan kepala, menyobel kulit (membuat luka di kulit tangan). Pada tingkat yang lebih ekstrim, karena merasa sudah tidak ada harapan lagi, merasa tidak ada jalan keluar, maka seseorang kemudian melakukan bunuh diri.
  • Menghindari masalah atau menundanya. Bila kita malu ketika nilai hasil ulangan jelek kemudian kita tidak mau sekolah, maka berarti kira menghindari masalah secara tidak sehat. Begitu juga, bila kita merasa kesulitan dengan pelajaran matematika, namun kemudian menunda-nunda belajar matematika, maka kita sebenarnya hanya menunda masalah untuk muncul dan meledak.

bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

5 Karakteristik yang membuat jiwa tahan banting (2)

LifeSmart-diagramTulisan ini merupakan kelanjutan dari artikel sebelumnya

Beberapa karakteristik atau kemampuan yang membuat seseorang tahan banting ketika menghadapi badai kehidupan:

  • Mampu mengenali dan mengendalikan emosinya (Emotional awareness). Agar jiwa tahan banting, maka yang bersangkutan perlu mempunyai kemapuan mengenali emosi yang muncul dalam dirinya dan segera dapat mengendalikan emosinya tersebut. Emosi yang tidak terkendali tidak hanya merusak pertemanan atau persahabatan, namun juga dapat merusak diri yang bersangkutan. Banyak orang yang tidak dapat mengendalikan amarahnya dan kemudian menyesal setelah kemarahan tersebut membawa dampak buruk terhadap dirinya. Berbagai teknik atau metode untuk mengendalikan emosi telah dibahas dalam situs ini. Kemampuan mengendalikan emosi tidak dapat dipelajari dalam satu atau dua hari. Ketrampilan tersebut perlu dilatih sejak kanak kanak dan diharapkan kita sudah cukup trampil ketika menginjak dewasa.
  • Mempunyai ketrampilan praktis untuk hidup (Skills for living). Ketrampilan praktis yang perlu dipunyai, misalnya: ketrampilan dalam memecahkan masalah (problem solving skills), ketrampilan dalam mengatur keuangan pribadi, ketrampilan bergaul dan menjalin persahabatan, ketrampilan mengendalikan atau mengatur waktu, dan berbagai ketrampilan praktis lainnya yang diperlukan dalam kehidupan. Sayangnya, ketrampilan ketrampilan praktis tersebut jarang diajarkan di sekolah sekolah formal. Bila seseorang mempunyai ketrampilan ketrampilan tersebut diatas, maka yang bersangkutan dapat memecahkan masalah kehidupan yang dihadapinya. Setidaknya yang bersangkutan tidak perlu terjebak dalam kesulitan karena ketidak tahuannya atau terjebak dalam masalah dan tidak dapat mengatasinya.

Semua kemampuan agar seseorang mempunyai jiwa yang tahan banting perlu diajarkan dan dilatihkan oleh para orang tua kepada anak anaknya dan oleh para guru kepada murid muridnya. Ketrampilan ketrampilan tersebut perlu dipelajari dengan melatihkannya, tidak cukup hanya melalui pemberian teori atau informasi.

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

5 Karakteristik yang membuat jiwa tahan banting (1)

coping-skills1Jiwa tahan banting adalah jiwa yang tetap tegar, meskipun badai kehidupan melanda.

Ada 5 karakteristik yang akan membuat jiwa kita tahan banting:

  1. Kesediaan untuk membantu dan menolong orang lain. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak akan dapat hidup sehat dengan menyendiri. Agar jiwa kita tahan banting, kita harus mempunyai saudara dan teman yang saling mendukung.  Berbagai studi menunjukkan bahwa bukan banyaknya teman atau saudara yang menentukan ketahanan jiwa seseorang, tetapi apakah yang bersangkutan suka membantu dan menolong orang lain. Dengan banyak membantu dan menolong orang lain, maka jiwa yang  bersangkutan menjadi kuat dan tahan banting. Bukan orang yang sering ditolong yang kuat jiwanya, tetapi yang sering membantu dan menolong orang lain yang akan mempunyai jiwa yang kuat. Tentunya, dalam kehidupan, kita perlu saling tolong menolong. Dengan menolong seseorang, maka bila kita punya masalah, orang lain akan menolong kita.
  2. Mempunyai ketrampilan mengatasi tekanan jiwa/ stress (coping skills). Orang yang tahan banting, pasti mempunyai ketrampilan mengatasi tekanan jiwa/ stress yang melanda kehidupannya. Ada 6 kelompok cara yang positif dalam mengatasi stress, yaitu: (a) dengan mengalihkan perhatian dari situasi yang menekan jiwa, (b) dengan menikmati alam (berada di alam), (c) melepaskan emosi yang muncul, (d) dengan merawat tubuh/ memijat tubuh, mandi air hangat, (e) mengubah atau menantang pikiran negative yang muncul dan menggantinya dengan pikiran positif, (f) mencari pertolongan dari Allah dengan berdoa, bersedekah, menolong orang lain. Gambar diatas memberikan sedikit ilustrasi tentang ketrampilan mengatasi tekanan jiwa.
  3. Optimis, menerapkan sikap hidup yang positif. Mampu melihat sisi positif dari setiap kejadian dan mengambil pelajaran dari setiap kejadian. Dengan mengambil pelajaran dari segala peristiwa yang terjadi, kita akan menjadi lebih tahan banting. kita akan dapat melewati masa masa yang penuh cobaan dengan lebih tegar.

bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

10 Jalan menuju jiwa tahan banting (2)

cropped-421204_371865962824366_100000028958808_1524997_1546429639_nTulisan ini merupakan kelanjutan artikel sebelumnya

Beberapa jalan menuju jiwa tahan banting:

  • Tetapkan tujuan (cita cita) dan melangkah maju. Tetapkanlah tujuan (goal) atau cita cita yang realistis dan lakukan langkah langkah (sekecil apapun) yang mengarah kearah tercapainya cita cita. Bila kita terkena ganggian jiwa, dan ingin meneruskan kuliah, maka kita dapat mulai dengan latihan konsentrasi (belajar memahami suatu bab dari buku pelajaran), belajar bergaul, dan belajar mengatur waktu.
  • Hadapi masalah dan ambil keputusan.. Latihlah diri kita masing masing agar berani menghadapi masalah. Sebagai contoh, bila kita merasa sedih dan tidak ada tenaga, maka segera mandi dengan air hangat dan pergi keluar rumah (mengobrol dengan teman, jalan jalan ke taman). Bila kita takut menghadapi guru karena tidak dapat mengerjakan PR, maka segera bangkit cari teman yang mau membantu mengerjakan PR dan besoknya temui guru.
  • Lihat peluang sebagai alat untuk memahami diri sendiri. Ketika kita menghadapi masalah yang cukup besar, maka sifat kita yang paling dasar akan muncul. Oleh karena itu, bila kita menghadapi masalah, pakailah kesempatan tersebut untuk lebih memahami diri sendiri. Bila kita kesulitan mencari pekerjaan, maka hal tersebut dapat dipakai sebagai cermin bagi diri kita dan memperbaiki diri sendiri. Mungkin kita belum dapat pekerjaan karena nilai kita jelek (dulu malas belajar), karena kita tidak dapat bergaul (maka berlatihlah untuk bergaul), karena kurang beriman, dll.
  • Pupuk rasa percaya diri, kurangi kritik negatif terhadap diri. Terlalu sering menyalahkan diri sendiri akan membuat kita kurang percaya diri. Pelan pelan tumbuhkan rasa percaya diri, misalnya dengan membuat daftar hal hal positif yang pernah kita capai (ulangan matematika dapat nilai 8, dapat membuat pekerjaan tangan, juara menggambar,d ll).
  • Pandang segala sesuatunya dalam perspektif. Jangan terlalu ribut dengan hal hal kecil, tetapi lihat segala sesuatunya dalam perspektif. Begitu juga ketika menghadapi suatu masalah, atau mengalami kesedihan atau ketakutan, letakkanlah dalam perspektif. Biasanya kesedihan akan berkurang dengan berjalannya waktu. Bila kita sedih karena motor hilang, lihatlah bahwa tanpa sepeda motor hidup masih dapat berjalan secara normal.
  • Optimis, lihat sisi positif dari suatu masalah. Peliharalah sifat optimistik. Segala sesuatu masalah selalu ada jalan keluarnya. Hanya kita perlu sabar dan berusaha, serta berdoa. Dengan pandangan yang optimistik, kita akan dapat melihat jalan keluar dari setiap masalah. Kita juga akan dapat mengambil pelajaran dari masalah masalah tersebut.

Semoga bermanfaat.

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

10 jalan menuju jiwa tahan banting (1)

resilienceJiwa yang tahan banting (resilience) adalah jiwa yang segera bangkit begitu terkena pukulan atau trauma psikologis yang berat, seperti kehilangan orang yang disayangi, kehilangan pekerjaan, mengalami bencana, terkena penyakit berat, dan lain lain.

Menurut ahli kesehatan jiwa dari Mayo Clinic, sifat utama dari jiwa yang tahan banting adalah: jiwa yang selalu bersyukur (grateful) dan mau berkorban/ menolong orang lain (compassion).

Latihan agar mempunyai jiwa tahan banting perlu diberikan, terutama kepada anak anak hingga mencapai usia dewasa. Jiwa yang tahan banting akan membuat mereka dapat mencapai kesuksesan dan kebahagiaan hidup, meskipun badai kehidupan menghantam.

Berikut ini 10 jalan menuju jiwa yang tahan banting yang disarankan oleh American Psychological Association dalam artikelnya road to resilience:

  • Buat jaringan (get connected). Jangan hidup menyendiri, buatlah jaringan persaudaraan dengan anggota keluarga maupun jaringan persahabatan dengan sebanyak mungkin teman. Ikutlah kelompok kelompok pertemanan (pramuka, karang taruna), kelompok pengajian, dan lain lain. Lakukanlah kegiatan kerja suka rela dan menolong orang yang membutuhkan. Jaringan persahabatan dan kegiatan positif (menolong orang yang membutuhkan) akan membuat jiwa jadi kuat.
  • Hindari melihat krisis (masalah besar) sebagai persoalan yang tidak dapat diatasi. Hal hal yang tidak diinginkan tetap saja akan terjadi dalam hidup ini, namun kita dapat melihat perspektif yang berbeda dari masalah tersebut. Sebuah kecelakaan yang menyebabkan kehilangan kaki, misalnya, bukanlah akhir dari segalanya. Banyak hal dapat dilakukan, meskipun hidup tanpa kedua kaki. Banyak masalah yang dengan berjalannya waktu, akhirnya akan dapat diatasi.
  • Terima bahwa perubahan merupakan bagian dari kehidupan. Tidak ada yang abadi didunia ini. Setiap saat banyak hal berubah. Kendalikan hal hal yang dapat dikontrol dan pasrahkan kepada Tuhan hal hal yang berada diluar kendali kita.

Bersambung

Salurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf anda ke Tirto Jiwo melalui Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Tahapan gangguan Jiwa dan intervensinya

tahapan-gangguanjiwaGangguan jiwa biasanya dimulai dari fase prodromal. Pada fase ini belum ada gejala spesififik gangguan jiwa, seperti halusinasi atau waham. Gejala yang muncul biasanya berupa kecemasan, kesulitan mengambil keputusan, isolasi social, kesulitan konsentrasi dan kesulitan focus perhatian. Fase prodromal mulai timbul 1-2 tahun sebelum gejala skizofrenia muncul. Fase ini, penderita jarang dapat terdiagnosa sehingga terapi jarang dapat diberikan. Bila penderita mendapat pendampingan psikososial, maka proses gangguan jiwa dapat dihentikan sehingga tidak berlanjut ke fase akut/ krisis.

Pada fase akut atau krisis, penderita biasanya dibawa ke rumah sakit jiwa atau berobat jalan. Biasanya penderita akan mendapatkan pengobatan berupa obat anti gangguan jiwa. pada fase ini, bilapenderita mendapatkan dukungan lingkungan fisik (nyaman, tenang, asri) dan sosial yang mendukung (bersahabat, ramah, tanpa kekerasan/ pemaksaan, tanpa ancaman, dll), maka penderita akan dapat cepat kembali ke kondisi yang tenang atau stabil.

Bila penderita telah stabil, maka peranan intervensi psikososial semakin penting. Dalam tahap ini, penderita perlu mulai ditingkatkan ketahanan jiwanya (resilience), pola pikir dan perilaku yang kurang sehat mulai perlu diluruskan kembali. Penderita juga perlu diajari cara untuk mencegah kekambuhan dimasa depan. Dalam fase ini, permasalahan mendasar yang dihadapi penderita gangguan jiwa perlu mulai dicari pemecahan atau jalan keluarnya.

Dalam tahap pemulihan, penderita perlu dibantu untuk dapat kembali bekerja/ sekolah/ kuliah sesuai dengan keinginannya, dibantu agar dapat mendapatkan tempat tinggal (bersama keluarga atau di tempat lain), mulai terlibat dalam kegiatan ke masyarakatan.

Tentunya, tahapan tahapan tersebut tidak bersifat seperti garis lurus. Penderita yang telah stabil, dapat kembali kambuh memasuki fase akut. Begitu pula, penderita yang telah mencapai fase fase pemulihan dapat kembali turun ke fase akut.

Idealnya, selain intervensi diatas, dilakukan pula family therapy, yaitu intervensi psikoedukasi kepada keluarga agar keluarga dapat mendukung proses pemulihan dari anggota keluarganya yang menderita gangguan jiwa.

8 cara menghentikan ruminating (2)

Man_losing_moneyArtikel ini merupakan kelanjutan tulisan sebelumnya.

  • Melihat kesalahan sebagai kesempatan belajar untuk memperbaikinya. Bila kita gagal mendapatkan pekerjaan karena kita telat datang waktu wawancara, maka tanyakanlah pada diri sendiri: Pelajaran apa yang dapat saya ambil dari kejadian ini? Tentunya, pada kesempatan lain, kita perlu berangkat lebih awal agar tidak terlambat dating ke wawancara atau terlambat menghadiri acara acara lainnya.
  • Buat jadwal worry break (jeda untuk khawatir). Buat jadwal atau luangkan waktu selama 20-30 menit setiap hari untuk memeikirkan sesuatu yang membuat kita sangat khawatir. Dalam kurun waktu tersebut, anda dapat memikirkan sesuatu yang membuat khawatir. Setelah jeda atau penggalan waktu habis, maka kita harus melupakan pikiran yang membuat khawatir tersebut. Bila perasaan khawatir muncul, maka katakana pada diri sendiri bahwa ada waktu khusus untuk memikirkan hal tersebut.
  • Mindfulness (mengarahkan perhatian pada kejadian/ saat sekarang). Seringkali, kita membiarkan pikiran kita memikirkan kejadian masa lalu yang membuat kita merasa bersalah atau sedih. kita juga sering melayangkan pikiran kita ke masa depan yang membuat kita cemas dan khawatir. Cobalah latih agar kita dapat mengarahkan pikiran kita agar focus pada keadaan atau kejadian saat ini. Kemampuan mindfulness sangat penting agar kita dapat hidup tenang dan bahagia. Bila kita lagi ngobrol dengan kawan, namun pikiran kita memikirkan kejadian masa lalu, pasti kita tidak akan dapat menikmati saat ngobrol tersebut.
  • Olah raga. Olah raga akan dapat membuat badan kita sehat dan mengalihkan kita dari melayangnya pikiran kemasa lalu atau ke masa depan. Jalan jalan ke taman atau melihat pemandangan akan dapat mengurangi munculnya pikiran pikiran negative.
  • Coba konsultasi ke psikolog atau ahli kesehatan jiwa. Salah satu metode terapi terhadap ruminating adalah Rumination Focused Cognitive Behavior Therapy.

Semoga bermanfaat

8 cara menghentikan ruminating (1)

thinkingredRuminating, dalam psikologi, adalah suatu keadaan dimana pemikiran tentang kejadian masa lalu (yang tidak mengenakan) sering muncul berulang ulang.  Ruminating itu seperti kaset atau CD rekaman yang rusak, dimana sebagian potongan lagu diulang ulang.

Dalam ruminating, pikiran tentang suatu kejadian, tahap tahapnya sehingga kejadian yang tidak mengenakan terjadi, muncul dalam pikiran kita berulang ulang dan berkali kali.

Dalam skala normal, pemikiran tentang masa lalu yang muncul dapat membantu kita untuk memecahkan masalah tersebut. Namun bila pemikiran tersebut muncul terlalu sering, hal itu dapat mengganggu kinerja kita sehari-hari. Pikiran (ruminating) tersebut sering muncul dimalam hari sehingga membuat kita sulit tidur.

Prof Susan Nolen-Hoeksema, dari Yale University, menyatakan bahwa ruminating dapat memicu munculnya berbagai konsekuensi negatif, seperti: depresi, anxiety (cemas), PTSD (post traumatic stress disorder), penmyalah gunaan obat bius, dan gangguan makan.

Berikut ini 8 cara untuk menghentikan ruminating:

  • Identifikasi ketakutan atau pikiran yang muncul. Apa yang paling menakutkan anda? Mungkin ketakutan akan dipecat atau mendapat malu didepan banyak orang? Buatlah catatan tentang pikirang pikiran yang serimg muncul tersebut agar kita dapat tahu hal apa yang paling menakutkan diri kita dan penyebabnya.
  • Pikirkan tentang scenario terjelek. Sepertinya ini ide yang keterlaluan, tapi kebanyakan orang dapat bertahan menghadapi kejadian buruk. Coba pikirkan: hal terjelek apa yang dapat terjadi dari masalah tersebut? Dapatkah kita mengatasinya? Ternyata manusia itu punya daya tahan yang bagus. Mereka dapat menerima dan mengatasi berbagai kejadian buruk.
  • Lepaskan apa yang tidak dapat kita kendalikan. Apakah kita dapat mengubah situasinya? Bila tidak, kita harus berusaha untuk dapat menerima hal tersebut. Kita tidak dapat mengendalikan gunung agar tidak meletus. Bila ada gunung yang meletus dan mengganggu jadwal penerbangan kita, maka kita harus dapat secara lapang dada menerima hal tersebut.

Bersambung

Sumber bacaan: http://psychcentral.com/blog/archives/2014/02/16/8-tips-to-help-stop-ruminating/