Pedoman pemulihan gangguan jiwa yang disusun oleh bekas penderita (7)

Dan Fisher dan Linda Rosenberg

Artikel ini merupakan kelanjutan tulisan sebelumnya

Menurut Dr Dan Fisher dan Laurie Ahern dari National Empowerment Center, ada perbedaan yang sangat nyata antara pelayanan kesehatan biasa (PKB)) dan pelayanan pemulihan PACE:

  1. PKB: Tidak semua orang bisa sakit jiwa. Hanya orang tertentu yang bisa sakit jiwa. PACE: Semua orang bisa terkena gangguan jiwa. Semua orang adalah sama.
  2. PKB: gangguan jiwa disebabkan karena adanya gangguan otak yang menetap. PACE: gangguan jiwa disebabkan karena tekanan jiwa yang berat (severe mental distress) dan hilangnya peranan sosial.
  3. PKB: pemulihan adalah suatu proses seumur hidup. PACE: penderita gangguan jiwa dapat pulih sepenuhnya.
  4. PKB: tujuan dari pelayanan rehabilitasi adalah menjaga agar tidak kambuh (maintenance). PACE: tujuan pelayanan adalah pulih sepenuhnya dari gangguan jiwa.
  5. PKB: pengendalian (kontrol) dengan paksaan oleh tim. Pengendalian dilakukan dari luar yang bersangkutan. PACE: pengendalian diri secara suka rela.
  6. PKB: kecepatan dan lama pemulihan ditentukan oleh tim. PACE: kecepatan dan lama proses pemulihan ditentukan sendiri oleh yang bersangkutan.
  7. PKB: hubungan antara petugas dan penderita adalah hubungan profesional. PACE: hubungan bersifat pertemanan.
  8. PKB: andalan utama bagi pemulihan adalah dengan pemberian obat obatan. PACE: pelayanan utama adalah dukungan psikososial dari orang orang yang percaya bahwa penderita gangguan jiwa bisa pulih sepenuhnya.
  9. PKB: pelayanan pemulihan mengandalkan tenaga profesional. PACE: pelayanan diberikan oleh orang yang pernah mengalami gangguan jiwa yang sudah pulih jiwanya.
  10. PKB: hasilnya adalah penderita gangguan jiwa yang tergantung kepada obat, dokter dan tenaga kesehatan jiwa lainnya. Kurang adanya tanggung jawab. PACE: manajemen diri sendiri (self management), rasa tanggung jawab semakin meningkat.
  11. PKB: pelayanan yang diberikan utamanya berupa pemberian obat anti gangguan jiwa. PACE: berbagai macam pelayanan diberikan sesuai kebutuhan pasien, antara lain: psikoedukasi, latihan memperkuat ketahanan jiwa, kegiatan yang dikelola bersama (peer run).
  12. PKB: obat diberikan seumur hidup. PACE: obat adalah hanya salah satu alat untuk mendukung proses pemulihan.

Bersambung

Pedoman pemulihan gangguan jiwa yang disusun oleh bekas penderita (6)

Artikel ini merupakan kelanjutan tulisan sebelumnya Selama ini, upaya yang dilakukan oleh profesi kedokteran berbeda dari model pemulihan yang dikembangkan oleh para bekas penderita gangguan jiwa. Ada beberapa prinsip yang membedakan antara model rehabilitasi gangguan jiwa (model kedokteran – MK) dan model pemberdayaan atau model pemulihan (MP):

  1. MK : kamu sakit jiwa. MP: kamu mengalami emotional distress (stress emosional) yang mempengaruhi kehidupanmu di masyarakat.
  2. MK: gangguan jiwa disebabkan adanya kelainan otak akibat genetik atau ketidak seimbangan kimia otak. MP: Gangguan jiwa disebabkan oleh kombinasi dari kehilangan, trauma dan tidak adanya dukungan.
  3. MK: gangguan jiwa bersifat menetap (tidak bisa sembuh). MP: Gangguan jiwa bisa pulih secara komplit (penuh).
  4. MK: sebaiknya jangan mulai bekerja hingga semua gejala hilang. MP: mulailah bekerja sesegera mungkin karena bekerja akan membantu proses pemulihan.
  5. MK: minum obat selama hidup. MP: minum obat itu bermanfaat untuk mengurangi gejala, dan selama minum obat, lakukan upaya untuk meningkatkan ketahanan jiwa dan mempelajari cara lain mengatasi stress kejiwaan.
  6. MK:  selama hidupmu harus berada dalam perawatan dokter/ psikolog. MP: dukungan dari sesama penderita gangguan jiwa dan dukungan dari teman teman/ saudara akan sangat membantu pemulihan jiwa.
  7. MK: hindari stress/ tekanan hidup. MP: hiduplah seperti biasa, tetap punya mimpi mimpi, serta berani menghadapi tantangan.
  8. MK: kamu adalah penderita gangguan jiwa. MP: kamu adalah manusia seutuhnya.
  9. MK: karena terkena gangguan jiwa, kamu tidak akan bisa menyatakan (mengekspresikan) perasaanmu dan membangun hubungan pertemanan/ persaudaraan/ perkawinan. MP: Kamu mengalami perasaan yang ekstrem sehingga tidak aman (tidak tepat) untuk mengekspresikannya kepada orang lain. Dengan berjalannya waktu kamu akan bisa mengekspresikan emosi dan perasaanmu secara aman/ benar  dan membangun pertemanan/ persaudaraan/ perkawinan.
  10. MK: kamu tidak mempunyai hak ataupun kewajiban terhadap orang lain. MP: kamu mempunyai hak dan kewajiban sama dengan anggota masyarakat lainnya.
  11. MK: kamu lebih berbahaya dibanding anggota masyarakat lainnya. MP: kamu tidak lebih berbahaya dibandingkan anggota masyarakat lainnya.
  12. MK: kamu tidak boleh menikah atau berkeluarga. MP: kamu boleh menikah dan punya anak sesuai dengan perkembangan proses pemulihan.

Pedoman pemulihan gangguan jiwa yang disusun oleh bekas penderita (5)

Tulisan ini merupakan kelanjutan artikel sebelumnya

Dr Dan Fisher dan Laurie Ahern mengembangkan model pemulihan gangguan jiwa, yang disebutnya sebagai PACE. saya akan bahas satu persatu komponen dari PACE tersebut.

Balanced and Connected (seimbang dan terhubung). Ketika masih didalam kandungan, kehidupan janin dalam keadaan seimbang dan terhubung kepada ibunya.

Loss and Trauma (kehilangan dan trauma). Di masa kecil, kita semua pernah merasakan kehilangan dan pengalaman hidup yang menyebabkan trauma. Beberapa orang mengalami pengalaman traumatis dan kehilangan yang sangat berat, seperti: kehilangan orang tua, pelecehan fisik dan seksual, kemiskinan, dan lain lain. Pengalaman tersebut bisa menimbulkan penderitaan emosional (emotional distressed).

Emotional distressed (penderitaan emosional). Penderitaan emsoional tersebut dapat muncul dalam bentuk: ketakutan, kesedihan, rasa kehilangan,dan lain lain. Penderitaan emosional tersebut tidak sampai mengganggu kehidupan sehari-hari yang bersangkutan sebagai pelajar/ mahasiswa, orang tua, maupun sebagai karyawan.

Healing emotionally (sembuh secara emosi). Dengan berjalannya waktu, semua penderitaan emosional tersebut menjadi hilang. Namun, pada sebagian orang, proses penyembuhan tersebut tidak berjalan dengan baik sehingga terjadilah severa emotional distress (gangguan emosional berat).

Severe emotional distress (gangguan emosi berat). Penderita yang mengalami gangguan emosional yang berat akan mengalami gangguan pola pikir dan gangguan perasaan (feeling) yang muncul dalam bentuk: halusinasi (misal: mendengar suara suara yang tidak ada sumbernya), waham (delusi), keinginan untuk bunuh diri, dan lain. Orang dengan gangguan emosi berat tidak akan menjadi gila (menderita gangguan jiwa), selama yang bersangkutan mendapat dukungan sosial, mempunyai sumber daya (misalnya: rumah, uang) dan mempunyai kemampuan mengatasi gangguan emosinya tersebut sehingga meraka tetap berada di tengah keluarga dan masyarakat.

Mengalami gangguan jiwa (mentally ill). Bila seseorang dengan penderitaan emosi berat dan tidak lagi mampu mengatasi penderitaannya, maka yang bersangkutan akan menjadi gila atau dicap sebagai menderita gangguan jiwa. Mereka akan dibawa ke rumah sakit jiwa atau dirawat dirumah.

Recovery from mental illness (pulih dari gangguan jiwa). Penderita akan pulih dari gangguan jiwanya karena adanya kombinasi dari beberapa keadaan yang mendukung pemulihannya, seperti: yang bersangkutan dan orang orang disekitarnya percaya bahwa penderita gangguan jiwa (dirinya) bisa dan akan pulih, belajar untuk mempunyai ketrampilan dalam pemulihan, kembali bergabung dan diterima oleh masyarakat disekitarnya.

Bersambung

Pedoman pemulihan gangguan jiwa yang disusun oleh bekas penderita (4)

Tulisan ini merupakan lanjutan tulisan sebelumnya

3. Recovery skills (pulihnya ketrampilan). Setelah seseorang yakin bahwa dirinya bisa pulih, begitu pula dengan orang orang disekitarnya juga percaya bahwa orang tersebut bisa pulih dari gangguan jiwanya, maka penderita gangguan jiwa mulai dapat mengembalikan ketrampilannya, khususnya ketrampilan berkomunikasi atau berinteraksi sosial. Penderita gangguan jiwa perlu belajar untuk mendapatkan ketrampilan bagaimana mengekspresikan marah, sedih,kecewa, sayang, atau takut. Ketrampilan tersebut diperlukan agar yang bersangkutan bisa bergaul dan berinteraksi dengan sesama secara normal. Ketrampilan yang diperlukan dalam pemulihan, antara lain: ketrampilan menentukan tujuan dan sasaran serta mencapainya, ketrampilan memaafkan diri sendiri, ketrampilan mengendalikan perasaan tidak enak, ketrampilan merawat diri sendiri (olah raga, jalan jalan, bermain musik, melakukan hobi, dll), bertanggung jawab kepada diri sendiri.

4. Recovery Identity (Pulihnya identitas diri ). Penderita yang pulih dari gangguan jiwa tidak lagi hanya merasa sebagai penderita gangguan jiwa, tapi sudah menjadi manusia yang utuh. Identitas diri tersebut antara sebagai karyawan, kepala atau anggota keluarga, murid, dll.

5. Recovery comunity (kembali menjadi bagian masyarakat). Penderita gangguan jiwa yang pulih diterima sebagai bagian dari masyarakat.

Dr Nancy Waxler, pada tahun 1979 melakukan penelitian dengan membandingkan pemulihan dari gangguan jiwa di Sri lanka dengan di Inggris. Dia menemukan bahwa angka pemulihan gangguan jiwa di Sri Lanka ternyata lebih bagus dibandingkan dengan di Inggris. Hal ini disebabkan karena penduduk Sri lanka melihat gangguan jiwa sebagai penyakit yang bersifat sementara dan penderita akan pulih kembali. Ketika masyarakat percaya bahwa penderita gangguan jiwa akan pulih kembali, maka penderita tersebut benar benar kemudian menjadi pulih.

Pada tahun 1940, beberapa petugas kesehatan yang berpikiran maju di RS Jiwa di Vermont, Amerika Serikat mengubah pelayanan kesehatan jiwanya dengan menciptakan lingkungan yang demokratis, saling percaya dan memupuk harapan. Selain itu, mereka juga melatih bekas enderita gangguan jiwa yang telah pulih untuk membantu temannya yang masih sakit. Ternyata, dari hasil penelitian Dr Courtney Harding (1999) para penderita gangguan jiwa yang dirawat di RSJ Vermont mempunyai angka pemulihan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rumah sakit jiwa lainnya.

Bersambung

Pedoman pemulihan gangguan jiwa yang disusun oleh bekas penderita (3)

Tulisan ini merupakan lanjutan tulisan sebelumnya

Menurut hasil berbagai riset yang dilakukan oleh National Empowerment Center, terhadap orang orang yang sudah pulih dari gangguan jiwa, ada 5 tema utama dalam pemulihannya, yaitu:

  1. Recovery beliefs (keyakinan bisa pulih). Penderita gangguan jiwa harus yakin bahwa mereka bisa pulih, kembali hidup normal dan bekerja di masarakat. Orang orang disekitarnya juga harus punya keyakinan yang sama, bahwa saudara mereka akan bisa pulih dari gangguan jiwanya. Mereka (orang yang sudah pulih dari gangguan jiwa) tidak pernah menyerah dan yakin bahwa suatu saat mereka akan mencapai suatu keadaan dimana mereka tidak lagi menderita gangguan jiwa. Adanya “harapan” akan masa depan yang lebih baik merupakan salah satu kunci pemulihan gangguan jiwa, karena bila tidak punya harapan, mereka tidak akan mau berusaha. Orang yang bisa pulih dari gangguan jiwa juga kembali mempunyai kepercayaan pada dirinya sendiri. Kepercayaan diri yang sering hilang karena menderita gangguan jiwa, bisa mereka raih kembali.
  2. Recovery relationships (pulih hubungan sosialnya). Adanya hubungan persaudaraan atau persahabatan yang erat akan membantu proses pemulihan. Beberapa penderita gangguan jiwa pernah menyakiti orang tua, saudara atau sahabatnya. Kembalinya persaudaraan atau persahabatan akan mempercepat proses pemulihan. Beberapa sifat sifat yang diperlukan oleh penderita gangguan jiwa agar membantu pemulihannya adalah: seseorang yang yakin kepada  penderita bahwa dia akan pulih, seseorang yang tidak pernah menyerah (karena dalam proses pemulihan kadang masih terjadi kekambuhan), seseorang dimana penderita merasa aman atau percaya kepada orang tersebut, seseorang yang pernah mengalami kejadian serupa (pernah menderita gangguan jiwa dan sekarang sudah pulih), seseorang yang mempunyai rasa kemanusiaan yang tinggi, seseorang yang membiarkan penderita pulih dengan kecepatan yang berbeda beda antara

Bersambung

Pedoman pemulihan gangguan jiwa yang disusun oleh bekas penderita (2)

Tulisan ini merupakan lanjutan tulisan sebelumnya

Laurie Ahern dan Dan Fisher, keduanya bekas penderita gangguan jiwa, menulis buku pedoman pemulihan Personal Assistance and Community Existence (PACE).

PACE disusun berdasarkan beberapa prinsip sebagai berikut:

  • Seseorang bisa pulih sepenuhnya dari gangguan jiwa yang paling berat sekalipun.
  • Seseorang dapat dan sangat memerlukan interaksi/ koneksi emosional dengan orang orang  lain, terutama ketika mengalami stress.
  • Saling percaya (trust) adalah tonggak dari pemulihan
  • Orang orang yang mempercayai (believe) anda, dapat membantu anda dalam proses pemulihan
  • Agar bisa pulih, seseorang harus dapat melaksanakan mimpi mimpinya.
  • Ketidak-percayaan akan mendorong terjadinya pemaksaan dan kontrol yang bisa menghalangi proses pemulihan
  • Sikap bertanggung jawab  dan berani menentukan nasibnya sendiri sangat penting bagi pemulihan
  • Seseorang yang menderita gangguan jiwa harus percaya bahwa dirinya bisa pulih dari gangguan jiwa, begitu pula dengan orang orang yang ada disekitarnya juga harus percaya.
  • Penghormatan dan penghargaan sangat penting dalam pemulihan
  • Semua yang telah kita pelajari tentang pentingnya hubungan/ keterkaitan sosial (social connectedness) berlaku untuk orang normal dan berlaku juga penderita gangguan jiwa.
  • Adanya perasaan aman secara emosional sangat penting agar seseorang dapat mengungkapkan perasaan atau emsoinya, dan hal ini penting bagi pemulihan.
  • Memahami arti dari pengalaman kejiwaan selama mengalami stress akan membantu proses pemulihan.

Bersambung

Pedoman pemulihan gangguan jiwa yang disusun oleh bekas penderita (1)

Laurie Ahern pernah menderita sakit jiwa ketika berumur 19 tahun. Saat ini, Laurie bekerja sebagai managing editor beberapa koran dan penulis lepas di Boston Globe dan Associated Press. Dia juga menjabat sebagai associate director Mental Disability Right International serta beberapa jabatan lainnya.

Dan Fisher adalah seorang dokter ahli kesehatan jiwa (psikiater), dan doktor (S3) dalam bidang biokimia. Ketika berumur 25 tahun, dia didiagnosa dengan skizofrenia dan pernah beberapa kali dirawat di rumah sakit jiwa. Kini, Dan Fisher bekerja sebagai direktur National Empowerment Center dan anggota White Hose New Freedom Commission on Mental Health, penasehat  president AS dalam bidang kesehatan jiwa.

Kalau pedoman pemulihan gangguan jiwa ditulis oleh seseorang yang belajar tentang kesehatan jiwa, seperti dokter atau psikolog itu hal yang biasa. Bila pedoman pemulihan gangguan jiwa ditulis oleh seseorang yang pernah menderita gangguan jiwa, itu baru luar biasa dan perlu disimak serta dipelajari.

Laurie Ahern dan Dan Fisher sering memberikan ceramah bersama. keduanya kemudian menulis sebuah buku pedoman pemulihan gangguan jiwa Personal Assistance in Community Existence (PACE). Berikut ini beberapa ini sari dari buku tersebut.

Menurut Laurie Ahern dan Dan Fisher, penderita gangguan jiwa bisa pulih, asalkan mereka mendapatkan dukungan dan perlakuan yang tepat. Pendapat mereka berbeda dengan pendapat kebanyakan petugas rumah sakit jiwa dan masyarakat yang menyatakan bahwa gangguan jiwa adalah penyakit seumur hidup yang hanya bisa distabilkan, dirawat dan ditingkatkan kemampuannya, namun tetap menderita sakit jiwa.

Bersambung

Sumber bacaan bisa di download dihttp://nationalempowermentcenter.com/downloads/pace_manual.pdf

Catherine Duclos: penyakit jiwa sebagai penyakit spiritual

Catherine adalah seorang ibu rumah tangga yang sederhana, berumur 50 tahun dengan 2 anak. Sekitar 13 tahun yang lalu dia didiagnosa dengan gangguan bipolar.

Sejak saat itu, Catherine telah minum berbagai jenis obat, berganti-ganti, sebagian karena tidak cocok atau tidak berefek pada penyembuhan penyakitnya.

Sejak beberapa tahun yang lalu, Catherine mulai memandang penyakitnya dari sudut pandang yang sangat berbeda. Dia tidak hanya mencoba menerapkan diet atau pola hidup yang sehat, namun Catherine berkesimpulan bahwa sebenarnya penyakit bipolar yang diderita disebabkan karena gangguan spiritual atau keimananannya.

Ketika Catherine berumur 6 tahun dan memandang foto keluarganya. Dia menyadari bahwa suatu saat mereka, dan juga dirinya, akan meninggal dunia. Ada perasaan kehilangan dan kehampaan yang sulit dijelaskan dengan kata kata.

Pada umur 12 tahun, Catherine mengalami kejadian lain yang juga mempengaruhi pertumbuhan kejiwaannya. Ketika itu, pada suatu siang yang mendung, dia berjalan jalan dengan saudara perempuannya dan kedua orang tuanya. Catherine dan kakaknya berjalan didepan kedua orang tuanya. Ketika itu, tiba tiba awan yang menutupi matahari tiba tiba berpindah sehingga sinar matahri menyinari kedua orang tuanya. Dalam pandangan Catherine, kedua orang tuanya terlihat sangat cantik/ gagah. Catherine merasa sangat bahagia. Namun perasaan sangat bahagia  tersebut hanya berlangsung beberapa menit. Catherine kehilangan perasaan sangat berbahagia tersebut. Kehilangan perasaan sangat berbahagia yang terjadi dalam waktu singkat membuatnya jatuh kedalam perasaan depresi. Dia merasa seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga.

Semua orang dalam hidupnya pasti pernah merasakan pengalaman spiritual seperti yang dialami oleh Catherine. Hanya reaksi setiap orang berbeda beda. Pada orang dengan bakat gangguan jiwa, pengalaman spiritual tersebut sangat membekas dan bisa menimbulkan krisis. Bila mereka salah dalam menyikapi dan menanggapi pengalaman spiritual tersebut, mereka bisa terjatuh kedalam gangguan jiwa.

Setelah mengalami berbagai pengalaman spiritual tersebut, termasuk ketika mengamati perkembangan dan pertumbuhan anak anaknya, Catherine berpendapat bahwa gangguan jiwa adalah penyakit spiritual. Penyakit yang muncul ketika seseorang mengalami gangguan dalam pertumbuhan spiritualnya.  Para ahli kesehatan jiwa menyebut pengalaman spiritual tersebut sebagai spiritual emergent.

Dalam pengamatan saya terhadap berbagai penderita gangguan jiwa, memang kebanyakan mereka kurang memahami dan menghayati arti tauhid, serta segala implikasinya terhadap kehidupan kita. Mereka sering gelisah dan tidak dapat mengendalikan emosinya karena mengingat masa lalu (ingat kejadian dimasa lalu), takut menghadapi masa depan. Bila iman mereka benar dan kuat, sebenarnya tidak perlu ada yang membuat mereka gelisah.

Dilain pihak, banyak juga orang yang tidak beriman atau keimanannya tidak kuat atau salah, namun mereka tidak terkena gangguan jiwa. Kesimpulannya, masalah keimanan hanya akan menimbulkan gangguan jiwa pada orang orang tertentu yang memang berbakat terkena gangguan jiwa.

Sumber bacaan:http://www.madinamerica.com/2012/07/seeing-mental-illness-as-a-spiritual-illness/

Kunjungan alumni SMA N 1 Purworejo

Pada tanggal 4 April 2015, dalam rangkaian reuni akbar alumni SMA N 1 Purworejo, telah diserahkan bantuan dana sebesar Rp. 20 juta dan sembako serta alat masak ke Tirto Jiwo. Bantuan tersebut diserahkan dalam acara bakti sosial yang diselenggarakan di  Gedung SMA N 1 Purworejo.

Sekitar 20 peserta reuni juga berkunjung ke Tirto Jiwo, melihat lihat kondisi peserta program pemulihan dan sarana yang ada disana.

Kami atas nama seluruh pengurus dan peserta program Tirto Jiwo mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tidak terhingga.

Semoga amal ibadah tersebut mendapat balasan berlipat ganda dari Allah SWT.