Patricia Deegan: prinsip pemulihan gangguan jiwa (2)

Tulisan ini merupakan lanjutan artikel sebelumnya.

  • Kita tidak boleh berkata bahwa penderita gangguan jiwa harus tetap minum obat seumur hidupnya.
  • Kebutuhan dan reaksi seorang penderita gangguan jiwa terhadap obat anti gangguan jiwa berubah sesuai dengan berjalannya waktu.
  • Penderita gangguan jiwa dapat belajar untuk hidup secara normal (berkeluarga, bekerja, dan bermasyarakat) meskipun berbagai macam gejala gangguan jwanya masih ada.
  • Hidup mandiri bukan berarti hidup tanpa dukungan obat, alat atau orang lain. Seperti seseorang yang perlu memakai kacamata, kita tidak boleh mengambil kacamatanya agar orang tersebut dapat hidup mandiri. Penderita gangguan jiwa mungkin masih memerlukan dukungan keuangan, obat, nasehat dari orang lain atau dari negara agar mereka dapat hidup mandiri.
  • Dalam proses menuju hidup mandiri, mereka belajar tentang dukungan apa yang sudah tidak lagi diperlukan dan dukungan apa yang masih diperlukan. Tujuan dari proses hidup mandiri bukanlah untuk menghilangkan semua dukungan tersebut.
  • Penderita gangguan jiwa yang memerlukan obat bukan berarti “lebih sakit” dibandingkan dengan yang tidak minum obat. Penderita gangguan jiwa perlu mengetahui apa apa yang (salah satunya adalah obat) dapat membantunya untuk pulih dan mengatasi penyakit yang dideritanya.
  • Penderita gangguan jiwa berhak mempunyai berbagai pertanyaan yang terkait dengan obat anti gangguan jiwa karena obat tersebut cukup kuat dalam mempengaruhi kerja otak, seperti berbagai pertanyaan berikut ini: bagaimana keadaan saya bila saya berhenti minum obat?, apakah manfaat dari minum obat ini?, apakah ada metode lain (selain minum obat) yang dapat saya pelajari yang akan dapat mengurangi gejala yang saya alami?, apakah obat yang saya minum mengurangi kemampuan berpikir saya? dll. Para ahli kesehatan jiwa perlu mulai belajar mendengarkan pertanyaan pertanyaan tersebut.
  • Para ahli kesehatan jiwa perlu mengembangkan berbagai upaya untuk mendukung proses pemulihan dan pengurangan ketergantungan kepada obat anti gangguan jiwa, misalnya: dengan mendirikan: pusat detoksikasi, pengurangan obat anti gangguan jiwa yang didukung oleh para penderita gangguan jiwa yang telah pulih dan lepas dari obat (peer runs medication reduction support group), pelatih yang mampu mengajarkan teknik mengatasi gejala gangguan jiwa, pusat pemulihan yang dikelola oleh bekas penderita gangguan jiwa yang telah pulih.

Wakaf pembangunan mushola di Tirto Jiwo

Selama ini, peserta program pemulihan di Tirto Jiwo melakukan sholat berjamaah di salah satu pojok ruangan di bangunan utama.

Dengan bertambahnya peserta program (saat ini berjumlah 17 orang, dan insya Allah masih akan bertambah) dirasa tempat sholat sudah tidak memadai lagi.

Untuk itu, kami berniat membangun mushola kecil di Tirto Jiwo. Rencananya mushola tersebut berukuran 6×4 m dan dibuat tanpa dinding keliling. Dinding (dari kayu) hanya akan dibuat di bagian depan ke arah kiblat.

Mushola tersebut rencananya akan dilengkapi dengan tempat wudhu terbuka, tanpa kamar kecil. Diperkirakan biaya pembangunan mushola tersebut tidak akan memakan biaya yang besar.

Bagi para pembaca yang berniat untuk memberikan sumbangan wakaf, silahkan kirimkan dana ke rekening Bank Mandiri KCP Purworejo No Rek. 136-00-1074619-3 a/n Yayasan Islam Ummy Divisi Tirto Jiwo

Terima kasih atas perhatian dan bantuannya

Patricia Deegan: prinsip pemulihan gangguan jiwa(1)

Patricia Deegan diwaktu remaja pernah menderita skizofrenia. Akibat sakitnya, Patricia pernah beberapa kali dirawat di rumah sakit jiwa. Namun beberapa tahun kemudian, dia berhasil mengatasi penyakit. Patricia kemudian belajar ilmu psikologi dan mendapat gelar S3 dalam bidang psikologi klinis. Patricia kini menjadi ahli dibidang psikologi klinis, konsultan, inspirator dan motivator, serta mengembangkan berbagai metode pemulihan gangguan jiwa.

Berikut ini berbagai prinsip pemulihan gangguan jiwa yang disarankan oleh Patricia Deegan: Principles of Recovery Model Including Medication

  • Minum obat adalah salah satu cara, diantara berbagai macam cara yang ada, yang dapat dipilih seseorang sebagai metode agar dirinya dapat pulih dari gangguan jiwa.
  • Penderita gangguan jiwa atau seseorang yang didiagnosa oleh dokter menderita gangguan jiwa, dapat belajar metode/ cara mengatasi gejala gangguan jiwa dengan metode diluar pemberian obat anti gangguan jiwa (pemberian obat anti gangguan jiwa adalah wewenang dokter)
  • Masyarakat perlu diberi kesempatan untuk belajar berbagai metode pemulihan gangguan jiwa (diluar pemberian obat) tersebut.
  • Pemerintah dan ahli kesehatan jiwa perlu menciptakan cara dan kesempatan agar masyarakat yang memerlukan dapat belajar metode pemulihan gangguan jiwa tersebut
  • Penderita gangguan jiwa dapat beralih dari sekedar (terpaksa) minum obat menjadi secara sukarela dan penuh kesadaran meminum obat sebagai salah satu cara untuk membantu proses pemulihan jiwanya. Pada sebagian penderita gangguan jiwa, mereka perlu minum obat. Namun, sering kali, minum obat saja tidak cukup. Selain minum obat, mereka perlu menerapkan berbagai langkah untuk memperkuat ketahanan jiwanya.
  • Dalam upaya pemulihan gangguan jiwa, penderita perlu menyadari akan adanya resiko untuk gagal/ kambuh. Para ahli kesehatan jiwa perlu memahami hal tersebut dan mendukung upaya pemulihan gangguan jiwa.
  • Kepatuhan dalam minum obat bukanlah tujuan akhir yang dikehendaki dari suatu proses pemulihan gangguan jiwa. Bila hanya mengandalkan minum obat, maka jiwa penderita gangguan jiwa tidak diperkuat atau dikembangkan. Tanpa memperkuat ketahanan jiwa, maka penderita gangguan jwa akan tergantung kepada obat selamanya.
  • Tujuan akhir dari proses pemulihan gangguan jiwa adalah menumbuhkan kemampuan penderita gangguan jiwa untuk mengatasi gejala gangguan jiwanya. Penderita gangguan jiwa bertanggung jawab atas kesehatan jiwa dirinya. Obat dan ahli kesehatan jiwa hanyalah membantu agar proses pemulihan bisa berlangsung dengan lancar.

Bersambung

 

Christina Bruni: strategi menghadapi masa masa sulit

Christina Bruni pernah menderita skizofrenia. Kini dia telah dapat mengatasi penyakitnya tersebut. Hingga saat ini, Christina Bruni telah 28 tahun tidak pernah mengalami kambuh dari skizofrenia yang dulu dideritanya.

Berdasarkan pengalaman hidupnya selama ini, Christina memberikan beberapa saran dalam menghadapi masa masa sulit.

  1. Jujur pada diri sendiri. Jangan bekerja atau melakukan sesuatu hanya untuk menyenangkan orang lain atau hanya membuktikan sesuatu kepada orang lain. Pada umur 20an tahun, Christina bekerja sangat keras di bidang asuransi untuk membuktikan bahwa meskipun dia menderita skizofrenia, dia dapat bekerja keras seperti orang lain. Christina meninggalkan keharusannya berobat, sebagai akibatnya kondisi kejiwaannya mengalami kemunduran.
  2. Jika tidak cocok di suatu tempat, cari tempat lain yang sesuai. Pada umur 35 tahun, Christina baru menemukan tempat kerja yang cocok sebagai pustakawan. Bekerja di perpustakaan memberinya kesempatan untuk membaca banyak buku, bisa berdandan sesuai mode dan membantu orang. Hal hal tersebut sesuai dengan dirinya, yang sangat berbeda dengan kalau bekerja di kantoran seperti yang dulu pernah dijalaninya.
  3. Jangan beri batas waktu, tapi buat arah (jalur) kehidupan. Hidupmu tidak akan berakhir hanya karena kamu tidak bisa mencapai sasaran sesuai batas waktu yang telah ditentukan. Christina memerlukan waktu 13 tahun untuk mendapatkan pekerjaan yang dia sukai. dia juga memerlukan 13 tahun sebelum akhirnya berhasil menerbitkan kisah perjalanan hidupnya.
  4. Sadari bahwa sejahtera tidak berarti bebas dari penyakit. Kebanyakan penderita skizofrenia atau gangguan jiwa lainnya mengalami kekambuhan. Christina mengalami masa masa sulit antara tahun 2004-2007. Untuk mengatasi berbagai kesulitan, dia meminta pertolongan ahlinya. Dia mendapatkan psikoterapi agar bisa mengatasi berbagai kesulitan tersebut.Christina juga berlatih dan menjalankan relaksasi dan berbagai teknik lain.
  5. Membayangkan kehidupan yang diinginkan. Christina mempunya moto : Hari ini adalah seperti ini DAN esok bisa berbeda. Kita harus bisa memupuk harapan bahwa masa depan bisa lebih baik dibandingkan dengan kehidupan sekarang.

Hal hal lain yang perlu diingat adalah:

  • Kota Roma tidak dibangun dalam waktu 1 hari. Perlu waktu untuk membangun atau merubah sesuatu. Lakukanlah sesuatu sesuai tujuan hidup setiap hari sedikit demi sedikit, tanpa disadari nanti tujuan tersebut akhirnya akan bisa tercapai juga.
  • Jangan mengukur kesuksesan hidup berdasar gaji yang kita terima atau kekayaan yang kita kumpulkan, atau gelar yang bisa kita raih. Jangan nilai diri sendiri berdasar hal hal yang telah kita capai. Bila kita menjadi orang yang baik, itu sudah suatu tanda kesuksesan.
  • Jangan kaitkan kebahagiaan dengan perkawinan (saya akan berbahagia kalau sudah menikah), prestasi di masyarakat atau di sekolah. Jangan kaitkan kebahagian dengan hal hal yang terlaksana, terjadi atau tidak terjadi. Tetaplah berbahagia meskipun apa yang terjadi.
  • Jangan putus asa. Keadaan bisa berubah. Hidup akan menjadi lebih indah sejalan dengan proses pemulihan dari gangguan jiwa. Proses pemulihan dan perubahan hidup berjalan setapak demi setapak.

 

Christina Bruni: 5 strategi mengatasi paranoia

Christina Bruni didiagnosa menderita skizofrenia pada tahun 1987. Salah satu gejala yang menonjol pada dirinya adalah paranoia. Minum obat membuat paranoianya berkurang, tapi tidak hilang sama sekali. Ketika kembali kuliah, pada tahun 1997, 10 tahun setelah sakit, gejala paranoia tetap masih ada meskipun sudah jauh berkurang. Sejak dia bekerja sebagai pustakawan (ahli perpustakaan) pada umur 35 tahun, paranoia jarang sekali muncul.

Berikut ini saran Christina agar kita bisa mengendalikan gejala paranoia

  1. Minum obat sesuai petunjuk dokter. Obat membantu mengurangi gejala paranoia. Pada beberapa orang, hanya dengan minum obat gejala paranoia hilang sama sekali. Sebagian besar penderita skizofrenia perlu minum obat dalam waktu yang cukup lama. Bicarakan dengan dokter bila ada gejala akibat efek samping obat. Mungkin dokter akan mengurangi dosis, mengubah waktu minum obat atau mengganti obat tersebut.
  2. Lakukan tes kebenaran ketika berada ditempat umum. Bila kita berada ditempat umum, kita sekali sekali perlu tanyakan kepada teman tentang hal hal yang terjadi. Sebagi informasi, pada penderita paranoia, sering mereka merasa orang orang disekitarnya sedang membicarakan dirinya atau akan berbuat sesuatu yang tidak baik kepada dirinya. Tes kebenaran pemikiran kita kepada kawan akan membantu kita mengatasi paranoia. Bila kita berada ditempat umum seorang diri, maka kita harus selalu membuat alternatif (pilihan lain) atas pikiran kita. Misalnya: bila kita merasa bahwa seseorang mentertawakan kita, maka buat alternatif pikiran bahwa tertawanya orang tersebut tidak ada kaitannya dengan diri kita. Disini penderita belajar membuat pikiran pikiran alternatif yang lebih sehat.
  3. Bangun kepercayaan diri yang kuat. Ketika makan disebuah restoran di kota Washington, Christina mengeluarkan obat dan meminumnya. Seorang pemuda yang duduk dimeja disebelahnya berkata kepada temannya. Christina mempunyai keyakinan bahwa anak muda tersebut membicarakan dirinya. Meskipun punya pikiran seperti itu, Christina berusaha untuk mengacuhkan pikiran pikiran negatif tersebut. Dia berusaha untuk tidak bereaksi atas pikiran yang muncul dikepalanya.
  4. Lihat sisi positif atas apa yang terjadi. Bila kita sadari bahwa kita mengalami paranoia, maka banyak pikiran pikiran kita tidak berdasar. Lebih dari 50% penderita skizofrenia dengan paranoia sangat yakin dengan pikiran pikirannya tersebut. Dengan menyadari bahwa kita menderita paranoia, kita bisa melihat sisi lain dari apa yang kita pikirkan.
  5. Buat strategi jalan keluar atau kode rahasia. Bila sedang bersama teman dan berada ditempat umum, kemudian kita merasa tidak nyaman akibat paranoia yang sangat mengganggu, maka kita bisa mengajaknya pulang. Kita bisa menggunakan kode rahasia, misalnya: maaf tiba tiba kepala saya pusing, saya minta ijin pulang dulu.

Menurut pengamatan Christina, dengan bertambahnya umur, maka gejala akibat skizofrenia akan semakin berkurang. Minum obat akan membantu mengurangi paranoia, meskipun sering tidak bisa hilang sama sekali. Mempunyai pekerjaan yang disukai akan sangat membantu mengatasi paranoia.

Christina Bruni (22 tahun tidak pernah kambuh): strategi memperkuat ketahanan jiwa

Christina Bruni pernah menderita gangguan jiwa (skizofrenia) , namun hingga kini sudah 22 tahun dia tidak pernah kambuh.

Pengalaman hidupnya dalam mengatasi gangguan jiwa dia tulis dalam buku “Left of the Dial” yang cukup laris dipasaran.

Berikut ini beberapa saran dari Christina Bruni agar jiwa kita tahan menghadapi berbagai goncangan dan tantangan hidup.

1. Manfaat jaringan pendukung. Jangan hanya berdiam diri dirumah, coba telpon teman atau saudara, hadiri pertemuan (misalnya pengajian), kunjungi saudara atau sahabat. Usahakan untuk paling tidak seminggu sekali mengontak teman, saudara atau sahabat untuk mendapatkan dukungan atau curhat tentang berbagai peristiwa atau masalah yang ditemui.

2. Fleksible (tidak kaku) dan terbuka terhadap perubahan. Setelah seseorang terkena gangguan jiwa, memang segala sesuatunya berubah. Meskipun demikian, terkena skizofrenia bukan berarti segalanya berakhir. Banyak kesempatan baru yang berbeda masih terbuka lebar. Lebih baik terima dan hadapi kenyataan bahwa kita menderita gangguan jiwa, dan kedepannya cari kesempatan kesempatan baru yang terbuka meskipun berbeda dengan keinginan sebelum terkena gangguan jiwa.

3. Bersikap optimis. Penyesalan adalah energi negatif yang dapat menghabiskan ‘harapan’ dan merusak jiwa. Penyesalan yang tiada henti sering menyebabkan kerugian besar yang tidak kita sadari. Percayalah bahwa masa depan bisa lebih baik, meskipun masa depan datangnya perlahan lahan. Pelajari segala sesuatu yang terkait dengan gangguan jiwa dan terapkan nasehat nasehat agar tidak kambuh dan bisa hidup lebih sehat dan sejahtera. Hilangkan rasa cemas dan percaya bahwa ada Tuhan Yang Maha Kuasa yang akan menolong kita.

4. Membuat prioritas. Lakukan hal hal yang akan membuat kita sehat dan sejahtera. Tolak ajakan teman teman untuk begadang, minum minuman keras dan kegiatan lain yang kurang sehat. Tidak semua bisa dikerjakan secara bersamaan. Melihat kondisi kejiwaan kita saat ini, kita perlu membuat pilihan apa yang bisa kita lakukan sekarang. Haruskah kita kembali kerja atau kembali ke sekolah sekarang atau bisa ditunda tahun depan?

5. Fokus pada membuat hidup lebih berarti. Dalam tahun tahun awal setelah mendapat diagnosa skizofrenia, kita memang sering terpaku pada penyakit tersebut. Kita takut kalau kalau akan kambuh. Tapi dengan menyadari bahwa penyakit tersebut bisa kambuh, maka Christina Bruni bisa lebih fokus pada mengisi hidupnya dengan melakukan kegiatan kegiatan yang berarti. Hari harinya dipenuhi dengan membantu sesama penderita skizofrenia agar bisa bangkit dan hidup bahagia.

Mengenal faktor resiko dan pelindung dari kekambuhan pada penderita skizofrenia (3)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya

Faktor lingkungan yang bersifat protektif (melindungi) dari kekambuhan, antara lain:

  1. Terjalinnya hubungan yang baik antara rsj/ panti, psikiater  pemulihan dengan penderita gangguan jiwa.  Hubungan yang baik antara penderita gangguan jiwa dengan panti pemulihan dan rsj akan membuat penderita mudah berkonsultasi sehingga bila ada gejala awal akan kambuh , maka yang bersangkutan dapat segera ditangani. Tenaga kesehatan jiwa juga akan dapat memberi saran dan nasehat bagi kemajuan proses pemulihan jiwanya.
  2. Dukungan keluarga, tetangga dan sahabat. Dukungan dari orang orang dekat akan sangat membantu proses pemulihan dan mencegah dari kekambuhan. Keluarga akan dapat membantu memperkuat ketahanan jiwa penderita gangguan jiwa, mendeteksi gejala awal kekambuhan dan membantu mengembalikannya ke kondisi jiwa yang sehat.
  3. Tersedianya lapangan pekerjaan. Mudahnya mendapatkan pekerjaan akan memudahkan penderita gangguan jiwa untuk segera kembali pulih karena dengan mendapatkan pekerjaan maka harga diri, percaya diri dan harapan akan masa depan yang lebih baik akan kembali tumbuh.
  4. Masyarakat yang tidak melakukan diskriminasi. Masyarakat yang dapat menerima bekas penderita gangguan jiwa kembali hidup di masyarakat akan membantu proses pemulihan dan mengurangi kemungkinan kambuh.

Semoga bermanfaat.

Kepercayaan inti (core belief) yang kurang sehat

Setiap orang mempunyai penilaian atau pandangan sendiri terhadap dirinya sendiri, orang lain dan dunia diluar dirinya. Penilaian atau pandangan tersebut menjadi kepercayaan yang melekat pada dirinya yang mempengaruhi pola pikir, perasaan dan tingkah lakunya. Kepercayaan tersebut ada yang letaknya sangat dalam sehingga tidak mudah terlihat dari luar, namun kepercayaan inti tersebut mempengaruhi hampir semua tindakan, pikiran maupun perilakunya.

Sayangnya, kadang kepercayaan inti tersebut tidak selalu sehat. Kepercayaan inti yang kurang sehat dapat menimbulkan gangguan jiwa.

Beberapa contoh kepercayaan inti (core belief) yang kurang sehat:

1. Ketidak sempurnaan

Kepercayaan tentang ketidak sempurnaan terlihat dari penilaian bahwa dirinya mempunyai kekurangan, tidak punya kemampuan, inferior. Orang dengan core belief bahwa dirinya tidak mampu sering menarik diri dari pergaulan karena dirinya takut kalau orang lain akan tahu bahwa dirinya pada dasarnya adalah jelek atau tidak punya kemampuan. Beberapa contoh core belief ketidak sempurnaan adalah: saya bodoh, saya tidak dapat mengerjakan segala sesuatu dengan baik dan benar, saya bukan siapa siapa, saya lebih rendah dari yang lain, saya jelek, saya tidak menarik, saya tidak berguna, saya manusia gagal, saya abnormal, saya selalu lebih jelek dibandingkan orang lain, dll.

2. Tidak disayangi:

Seseorang dengan core belief ini sering merasa kesepian, sendirian karena mereka merasa dirinya tidak patut untuk disayangi. Akibatnya mereka selalu menjaga jarak dengan orang lain karena takut kalau nantinya dia akhirnya ditolak atau tidak diterima. Beberapa kepercayaan inti yang tergolong dalam kelompok ini, misalnya: saya tidak patut untuk disayangi, saya tidak diterima oleh siapa saja, saya tidak menarik, saya tidak cocok dimana saja, saya selalu ditolak, keberadaan saya tidak diinginkan, dan lain lain

3. Ditinggalkan atau dibuang

Orang dengan core belief ini biasanya pernah mengalami ditinggalkan atau dibuang dimasa lalunya. Orang orang ini akhirnya mempunyai kepercayaan yang mendalam bahwa bila mereka mengharapkan atau menyayangi sesuatu, pada akhirnya mereka akan kehilangan atau dipisahkan dari sesuatu yang mereka sayangi atau sukai tersebut. Kepercayaan ini sering terkait dengan core belief bahwa mereka tidak patutu disayangi. Beberapa contoh core belief dalam kelompo ini adalah: orang yang aku sayangi akan meninggalkanku, saya akan ditinggalkan atau dibuang bila aku menyayangi seseorang atau sesuatu barang, suamiku tidak lagi tertarik padaku, dan lain lain.

4. Tidak bisa ditolong (helplessness), tidak punya kemampuan atau daya (powerless).

Orang orang dengan core belief ini merasa dirinya tidak punya daya, merasa lemah dan tidak lagi bisa ditolong. Mereka percaya bahwa dirinya tidak bisa mengendalikan segala sesuatunya. Beberapa contoh core belief ini adalah: saya tidak punya daya/ kekuatan, saya lemah, semuanya diluar kendali saya, tidak ada lagi yang bisa menolong saya, tidak ada lagi jalan keluar, orang lain hanya akan memanfaatkan saya, saya terperangkap dan tidak bisa lagi lepas dari perangkap ini, saya orang yang gagal, dll.

5. Mempunyai hak khusus.

Core belief ini sulit dilihat. Orang orang dengan core belief ini percaya bahwa dirinya adalah manusia spesial atau khusus yang berhak mendapat perlakuan khusus. Mereka percaya dirinya lebih hebat (superior) dibandingkan lainnya sehingga meminta hak yang tidak masuk akal. Beberapa contoh core belief dalam kelompok ini, misalnya: saya berhak mendapat perhatian dan penghargaan yang tinggi, orang lain harus hormat kepada saya, saya tidak harus tunduk pada aturan atau ketentuan yang berlaku bagi orang biasa/ orang lain, dll.

6. Pengorbanan atau tanggung jawab.

Percaya bahwa dirinya yang harus bertanggung jawab, selalu bersedia berkorban dan menyelesaikan segala sesuatunya. Beberapa contoh core belief yang kurang sehat yang masuk dalam kelompok ini, misalnya: itu semua salahku, aku harus membuat semua orang senang, aku harus menolong setiap orang yang memerlukan pertolongan, tidak ada orang yang dapat dipercaya, orang akan mengkhianatiku, kebutuhanku bukan sesuatu yang penting, bila aku tidak melakukan hal tersebut maka tidak ada yang mau melakukannya, dll.

Core belief tersebut terbentuk secara perlahan berdasar pengalaman hidupnya mulai dari kecil, lingkungan disekitarnya dan sikap dasar yang melekat.

Core belief bisa diubah, secara pelan pelan dengan memakai pendekatan Cognitive Behavior Therapy.

Disarikan dari http://rosspsychology.com/1/post/2011/06/cognitive-therapy-101-core-beliefs.html

Mengenal faktor resiko dan pelindung dari kekambuhan pada penderita skizofrenia (2)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya.

Faktor faktor pelindung kekambuhan yang ada pada si penderita gangguan jiwa:

  • Ketaatan minum obat. Penderita yang dapat memahami bahwa dirinya menderita gangguan jiwa, kebanyakan mereka mau minum obat secara teratur. Tentunya, adanya efek samping obat perlu diamati dan bila perlu segera dilaporkan kepada dokter. Yang penting, jangan menghentikan minum obat tanpa sepengetahuan dokter. Pemberian obat anti gangguan jiwa dalam dosis tinggi dan dalam jangka lama tentu ada efek sampingnya. Oleh karena itu, penderita gangguan jiwa perlu memperkuat ketahanan jiwanya sehingga  obat yang diberikan oleh dokter dapat sekecil mungkin dosisnya.
  • Agama. Menurut penelitian dari Adellah Sariah dan kawan kawan yang diterbitkan dalam BMC Psychiatry http://www.biomedcentral.com/1471-244X/14/240 , agama merupakan salah satu faktor pelindung kekambuhan. Mengikuti kegiatan keagamaan akan dapat memperkuat ketahanan jiwa dan mencegah kekambuhan.
  • Pekerjaan. Pekerjaan merupakan faktor yang dapat mengurangi terjadinya kekambuhan. Pekerjaan membuat seseorang mempunyai percaya diri yang lebih besar, mempunyai kegiatan harian yang teratur, dan mempunyai tujuan hidup yang jelas. Penderita gangguan jiwa yang mempunyai pekerjaan lebih jarang kambuh dan bila kambuh dapat segera pulih kembali. Tentunya, pekerjaan juga dapat menimbulkan stress. Oleh karena itu, perlu ada keseimbangan antara manfaat positif dari pekerjaan dengan akibat negatif (karena dapat menimbulkan stress). Bila sulit mendapatkan pekerjaan, pekerjaan sebagai sukarelawan (volunteer) juga terbukti dapat mengurangi kemungkinan seseorang kambuh dari gangguan jiwa.
  • Pola hidup sehat. Beberapa penderita gangguan jiwa yang telah pulih menyatakan bahwa mereka menerapkan pola hidup sehat agar tidak kambuh dari penyakitnya. Beberapa pola hidup sehat yang mereka lakukan, antara lain: tidur awal dan cukup (tidur sebelum jam 10 malam), tidak begadang, olah raga ringan secara teratur, makan 3 kali sehari, menjauhi minuman keras.
  • Mempunyai sahabat. Mempunyai sahabat dan mempunyai pergaulan sosial yang luas akan dapat mengurangi kemungkinan kambuh. Dengan menjalin dan memupuk persahabatan, maka ketahanan jiwa akan semakin kuat. Begitu pula dengan keterlibatan dalam kegiatan sosial, akan dapat memperkuat ketahanan jiwa dan mengurangi kemungkinan kekambuhan.

Berlanjut

Mengenal faktor resiko dan pelindung dari kekambuhan pada penderita skizofrenia

Penderita penderita penyakit tekanan darah tinggi, diabetes, atau kegemukan, bisa kembali kambuh penyakitnya. Hal yang sama juga dapat terjadi pada penderita gangguan jiwa, seperti skizofrenia. Penderita skizofrenia yang sudah pulih, kembali ke masyarakat, dapat kembali kambuh.

Untuk itu, sebaiknya penderita gangguan jiwa dan keluarganya, pendamping atau sahabatnya perlu mengetahui faktor faktor resiko yang dapat mendorong kambuhnya skizofrenia. Mereka perlu juga mengenal faktor faktor pelindung dari kekambuhan. Dengan mengenal faktor resiko maupun faktor pelindung dari kekambuhan, maka diharapkan kekambuhan dari skizofrenia dapat dihindari.

Beberapa faktor resiko kekambuhan yang ada pada si penderita:

  • Ketaatan minum obat. Ketatan minum obat merupakan salah satu faktor resiko yang sering menyebabkan penderita gangguan jiwa yang telah kembali ke rumah menjadi kambuh kembali. Banyak alasan yang dikemukakan kenapa penderita tidak mau lagi minum obat, seperti: sudah merasa sembuh, adanya efek samping obat yang mengganggu, obat habis (tidak tersedia karena harganya mahal), lupa minum obat.
  • Penggunaan narkotika dan minuman keras. Pada penderita yang pernah memakai narkotika dan suka minum minuman keras, maka pemakaian alkohol dan narkotika dapat memicu kekambuhan. Penderita gangguan jiwa perlu dilatih untuk menjauhi pemakaian narkotika dan minuman keras.
  • Tidak melakukan kegiatan yang berarti. Penderita gangguan jiwa yang tidak mempunyai kegiatan yang berarti, dimana kebanyakan waktunya dipakai untuk melamun atau tiduran saja, maka kemungkinan akan kambuh menjadi lebih besar. Kegiatan yang berarti disini dapat berupa kegiatan didalam rumah (mengerjakan pekerjaan rumah, beraktivitas dirumah seperti berternak atau berkebun, dll), dapat juga berupa kegiatan diluar rumah (ikut pertemuan keluarga, jalan jalan ke taman, kerja sosial atau kerja yang menghasilkan uang, dll)