15 intervensi terhadap skizofrenia dan gangguan jiwa berat lainnya (1)

Bila tanpa ditangani secara benar dan menyeluruh, penyakit skizofrenia dan gangguan jiwa berat lainnya (skizoafektif, bipolar, depresi berat) akan menjadi beban berat bagi keluarga dan masyarakat umum.

Pada saat ini sudah ditemukan 15 jenis intervensi/ tindakan  agar skizofrenia dan gangguan jiwa berat lainnya bisa dikendalikan sehingga para penderitanya dapat kembali bekerja dan hidup di masyarakat

  1. Pengenalan/ deteksi dini. Penderita skizofrenia yang cepat ditangani akan lebih besar kemungkinannya untuk pulih dan hidup normal di masyarakat. Bila lama waktu seseorang penderita tanpa terapi kurang dari 5 tahun, maka kesempatan untuk kembali pulih jauh lebih besar dibandingkan dengan penderita yang tidak pernah mendapat terapi dalam jangka waktu lama. Permasalahannya, masyarakat Indonesia banyak yang tidak paham tentang gejala awal (gejala prodromal) dari penderita gangguan jiwa. Gejala gejala seperti menarik diri dari pergaulan, gelisah, sulit tidur pada remaja, gampang tersinggung ada kemungkinan merupakan gejala awal dari skizofrenia. Bila ada perubahan perilaku pada remaja, keluarga perlu waspada dan mengamati serta melihat adanya kemungkinan bahwa gejala tersebut merupakan gejala awal skizofrenia. Masyarakat umum dapat membantu mengenali gejala awal skizofrenia ini dengan: (a) belajar memahami gejala gejala skizofrenia, khususnya gejala prodromal (b) menyadari bahwa bila ada remaja yang berubah perilakunya dan mulai berperilaku berbeda (mulai menyendiri, takut berlebihan, gelisah, dll), mungkin yang bersangkutan sedang berjuang mengatasi gejala awal gangguan jiwa, (c) membantu membawa remaja yang mengalami masalah psikologis untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jiwa (psikiater atau psikolog klinis) agar dapat dilakukan penilaian kejiwaannya. Orang awam tidak akan dapat menentukan apakah itu gejala normal pada remaja yang sedang menghadapi masalah atau gejala awal dari suatu skizofrenia.
  2. bersambung

Laporan Keuangan Februari 2015

Semoga Allah swt berkenan membalas setiap infaq dari para dermawan dan keluarga pasien dengan berlipat ganda.

Tanpa dukungan dari para dermawan, maka para penderita gangguan jiwa yang berasal dari keluarga kurang mampu akan kesulitan mendapatkan pelayanan yang diperlukan dalam pemulihan jiwanya.

Insya Allah, dengan keberadaan pasien pasien dari keluarga kurang mampu dapat membawa keberkahan dan enegri positif yang akan dapat mendukung proses pemulihan seluruh penderita yang mondok di Tirto Jiwo

Hidup dengan skizofrenia

Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization) menyatakan bahwa penderita skizofrenia bisa pulih. Berbagai penelitian telah membuktikan hal tersebut. Hal ini penting disampaikan kepada seluruh penderita skizofrenia, keluarga, dan pendampingnya.

Selama ini, karena kurang tepatnya dalam penanganan, maka sebagian besar penderita gangguan jiwa menjadi kronis dan menjadi beban bagi keluarga. Padaha, bil mendapat pengobatan dan dukungan psikosial dari keluarga, kerabat/saudara, teman dan masyarakat sekitarnya, penderita skizofrenia bisa pulih dan kembali hidup bermasyarakat.

Penderita skizofrenia sendiri harus punya keyakinan bahwa dirinya bisa punya kehidupan yang lebih baik dimasa mendatang. Dia harus mau bekerja sama dengan para petugas kesehatan dan orang orang dkeluarganya, untuk bersama sama mengupayakan pemulihan kesehatan jiwanya. Dia harus mau berusaha melawan dan mengatasi gejala gangguan jiwa yang menyerangnya.

Petugas kesehatan juga harus punya pemahaman yang sama bahwa penderita gangguan jiwa bisa pulih. Tugas dari tenaga kesehatan adalah membantu penderita skizofrenia agar bisa kembali pulih dan hidup produktif di masyarakat.

Keluarga juga harus mau belajar cara membantu pemulihan gangguan jiwa, karena kadang kadang keluarga jadi pemicu kekambuhan. Keluarga perlu mendukung pemulihan dari skizofrena dengan cara, antara lain: tidak membiarkan penderita hidup sendirian, jangan dibiarkan melamun seharian. Ajaklah penderita untuk mengerjakan pekerjaan ringan di rumah, mengajak berkomunikasi, dan lain lain.

Pertemanan atau persahatan juga penting bagi proses pemulihan. Dukungan teman akan membantu proses pemulihan. Masyarakat bisa menyediakan lapangan kerja atau melibatkan penderita skizofrenia dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.

Terapi Keluarga

Berbagai penelitian ilmiah sudah membuktikan bahwa bila suatu keluarga, dimana salah satu anggota keluarganya menderita gangguan jiwa, mendapat terapi keluarga (psiko-edukasi, intervensi keluarga), maka kondisi pasien akan lebih cepat pulih dan kemungkinan kambuh menjadi lebih sedikit.

Sayangnya, terapi keluarga masih sangat jarang dilakukan di Indonesia. Akibatnya, sebagian besar pasien menjadi kronis dan menjadi beban keluarga dan masyarakat sekitarnya.

Biasanya terapi keluarga dilakukan oleh 2 orang petugas dengan mengunjungi keluarga si penderita. Kunjungan dilakukan secara berkala selama 18 bulan. Pada awalnya, kunjungan dilakukan 1-2 minggu sekali. Setelah 6 bulan, kunjungan dilakukan sebulan sekali. Setiap kunjungan berlangsung sekitar 1 jam.

Tujuan terapi keluarga adalah membantu keluarga dan penderita gangguan jiwa untuk mengatasi permasalahan yang diakibatkan oleh adanya anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa. Dengan membantu keluarga tersebut, maka mereka akan bisa membantu pemulihan anggota keluarganya yang menderita gangguan jiwa agar bisa pulih dan hidup sehat di masyarakat. Terapi keluarga diberikan kepada seluruh anggota keluarga (yg sudah dewasa) dan teman/tetangga yang mau ikut mendukung Proses pemulihan.

Selama family terapi, anggota keluarga dan saudara/ teman, penderita, mendapat informasi tentang gangguan jiwa, seperti penyebabnya, gejalanya, cara mengatasi gejala, cara mencegah kambuh, memperkuat ketahanan jiwa, mengatasi krisis, dan lain lain. Ketika membahas gejala, penderita juga dapat diminta untuk menceritakan gejala yang dialaminya dan cara mengatasi yang selama ini dilakukannya. Biasanya, dalam setiap sesi pertemuan, keluarga diminta mengerjakan suatu tugas yang hasilnya akan dibahas dalam pertemuan berikutnya. Dengan penugasan tersebut, maka family terapi bisa menjadi lebih efektif karena waktu tidak hanya terbatas selama pertemuan.

Dalam  family terapi, semua peserta diminta secara aktif mengajukan tanya jawab dan bersama sama mencari pemecahan terhadap setiap permasalahan yang terkait dengan gangguan jiwa yang muncul di dalam keluarga tersebut. Teknik pemecahan masalah dan berbagai teknik mengatasi gejala, serta memperkuat ketahanan jiwa akan diajarkan untuk diterapkan.

Terapi keluarga telah terbukti efektif dan diterapkan di negara negara maju seperti Inggris. Apakah terapi keluarga juag bisa dan sesuai untuk Indonesia? Kita perlu mencoba dan menilai keberhasilan penetapan terapi keluarga di Indonesia

Obat gangguan jiwa dan kehamilan

Sebagian ibu ibu yang menderita gangguan jiwa perlu minum obat secara teratur. Tanpa minum obat, gangguan jiwanya bisa kambuh.

Masalah serius timbul bila ibu ibu tersebut ingin punya anak. Beberapa obat yang sering dipakai untuk mengobati gangguan jiwa mempunyai dampak yang buruk terhadap janin yang dikandungnya.

Pada tahun 2009, Badan Pengawasan Obat dan Makanan, Amerika Serikat telah memperingatkan akan bahaya obat Sodium Valproate (Depakote, Depakene) terhadap janin yang terkena obat tersebut. Janin dapat mengalami kelainan pada syaraf tulang belakang, cacat kepala wajah, dan kelainan jantung dan pembuluh darah. Depakoote adalah obat untuk mengatasi gangguan bipolar.

Obat obat atypical juga mempunyai dampak yang kurang baik terhadap janin, meskipun data hasil penelitian untuk memastikan kelainan tersebut masih terbatas.

Aripipirazole dapat menimbulkan gangguan jantung (unexplained tachycardia) sehingga mengharuskan bayi untuk segera dilahirkan melalui operasi seksi cesaria. Sayangnya, data masih sangat terbatas untuk membuat kesimpulan secara pasti.

Clozapine juga dapat menimbulkan kelainan atau kecacatan yang cukup besar, gangguan metabolik kehamilan, dan berbagai efek samping pada janin. Data tentang dampak clozapine terhadap janin juga masih terbatas.

Berbagai studi menunjukkan bahwa Olanzapine tidak menimbulkan kelainan bawaan pada bayi. Begitu pula dalam percobaan pada binatang, tidak ditemukan dampak olabzapine pada janin. Meskipun demikian, olanzapine sering menimbulkan gangguan metabolisme pada bayi yang ibunya meminum olanzapine selama kehamilan.

Tidak ditemukan pengaruh negatif terhadap  bayi  pada ibu yang meinum obat Quetiapine. Obat Quetiapine merupakan obat pilihan pada ibu dengan gangguan jiwa yang ingin mempunyai anak.

Bagi ibu hamil, Quetiapine lebih baik dibandingkan Risperidone. Obat Risperidone memang tidak menimbulkan efek samping yang berat pada janin. Hanya saja ditemukan bahwa Risperidone menyebabkan hiperprolactinemia yang sering menyebabkan keguguran. Obat Risperidone bukan obat pilihan pertama pada kehamilan muda. Obat ini boleh diberikan bila kehamilan sudah berlangsung selama beberapa bulan tanpa gangguan pada janin.

Memperhatikan adanya berbagai efek samping obat terhadap kehamilan, ibu ibu dengan gangguan jiwa yang ingin atau sudah hamil perlu berdiskusi dengan dokter yang merawatnya. Perlu dipilih obat yang paling sesuai, namun mempunyai dampak negatif paling sedikit terhadap bayinya.

Sumber bacaan: http://www.currentpsychiatry.com/specialty-focus/practice-trends/article/atypical-antipsychotics-during-pregnancy/66830924a85234cbb0eafc0eebb71497.html

 

Apa yang bisa membuat kita pulih?

Jalan atau cara orang kembali pulih dari gangguan jiwa berbeda antara satu orang dengan lainnya. Meskipun demikian, beberapa hal dibawah ini telah terbukti membantu orang dengan gangguan jiwa kembali pulih:

  1. Harapan. Adanya harapan yang tumbuh didalam diri seseorang bahwa hari esok dapat lebih baik dibanding kondisi sekarang merupakan kunci dalam proses pemulihan. Tanpa adanya harapan, tidak akan ada proses pemulihan. Harapan dapat ditumbuhkan, antara lain, dengan membaca riwayat oarng dengan gangguan jiwa yang kini pulih kembali, bertemu dan bergaul dengan penderita gangguan jiwa yang telah pulih, percaya bahwa Allah itu Maha Pengasih, maha Kuasa, dll.
  2. Penerimaan. Tidak ada manusia yang sempurna. Ada yang punya darah tinggi, kanker, tidak punya kaki, namun juga ada yang terkena gangguan jiwa. Kesediaan menerima bahwa dirinya menderita gangguan jiwa dengan berbagai kesulitan yang diakibatkannya, merupakan salah satu kunci pemulihan. Kesediaan menerima tersebut akan menjadi titik balik, dimana yang bersangkutan mulai bersedia membuat rencana kedepan dan melakukan langkah langkah untuk mengatasi penyakitnya. Kepercayaan kepada Allah bahwa semua ini ada maknanya tersendiri akan membuat penerimaan terhadap penyakitnya menjadi lebih mudah. Penerimaan bahwa dirinya menderita gangguan jiwa juga akan membuka kesempatan kesempatan yang mungkin berbeda dengan cita citanya dimasa lalu.
  3. Bersikap aktif. Sakit gangguan jiwa memang bisa membuat seseorang kehilangan kendali atas kehidupannya. Dokter, perawat, keluarga yang mengatur segalanya. Dalam proses pemulihan, penderita gangguan jiwa perlu bersikap aktif, misalnya: mengenali hal hal yang membuatnya kambuh, mengenali hal hal yang membuatnya terasa lebih sehat, dll.
  4. Stabilitas. Masalah keuangan dan tempat tinggal merupakan dua hal yang sering membuat gelisah penderita gangguan jiwa. Mengatasi hal ini bukan masalah gampang karena situasi ekonomi di Indonesia sedang sulit. Untuk itu, keyakinan dan ketakwaan kepada Allah menjadi penting. Dukungan keluarga dan masyarakat sangat diperlukan agar penderita gangguan jiwa tidak menjadi gelandangan.
  5. Hubungan sosial. Hidup menyendiri akan membuat gangguan jiwa menjadi semakin buruk. Ngobrol dan bergaul dengan teman, saudara dan kenalan akan mendukung proses pemulihan.
  6. Terapi. Minum obat dan pendampingan psikologis dari keluarga atau teman akan dapat mendukung proses pemulihan.
  7. Pola hidup sehat. Menjalani pola hidup sehat akan mendukung proses pemulihan. Pola hidup yang terkait dengan gangguan jiwa, antara lain: tidur teratur (jangan begadang), hindari minuman keras, olah raga ringan diluar rumah, makan makanan yang sehat, melakukan kegiatan yang positif (bekerja, mengerjakan pekerjaan rumah seperti membersihkan kamar, ikut pengajian, menjadi sukarelawan dengan membantu di panti asuhan, membantu janda tua yang hidup sendiri, dll).

Sumber bacaan: http://www.rethink.org/living-with-mental-illness/recovery/what-is-recovery/my-recovery

Seri wirausaha sosial: lapangan kerja penderita gangguan jiwa (3)

La Fageda adalah sebuah wirausaha sosial di Spanyol. Didirikan oleh Christobal Colon, seorang psikolog, pada tahun 1982, La Fageda bergerak di bidang peternakan sapi perah dan pengolahan susu menjadi yoghurt dan hasil olahan lainnya.

Yang unik mengenai La Fageda adalah perusahaan tersebut berbentuk koperasi dengan sekitar 280 anggota (pada tahun 2010) dimana sekitar 160 diantaranya adalah penderita gangguan jiwa. Omset mereka mencapai 14 juta dolar per tahun. Di Spanyol La Fageda tidak kalah dari perusahaan besar seperti Danone atau Nestle.

Pada tahun 1960an, Christobal Colon melihat bahwa rumah sakit jiwa di Spanyol sangat sedikit memberikan pelayanan kesehatan. Kegiatan RSJ sebagian besar hanya membuat sibuk para penderita gangguan jiwa dengan menyuruh mereka melakukan kerja yang tidak bernilai secara ekonomis.  Dia berpendapat bahwa para penderita gangguan jiwa perlu diberi pekerjaan yang dapat memberinya penghasilan yang layak sehingga meningkatkan harga diri dan kesehatan jiwanya.

Selain bergerak di bidang sapi perah, La Fageda juga mempunyai kebun buah buahan yang hasilnya dibuat selai, peternakan sapi sebanyak 500 ekor, dan pelayanan pertamanan. Mereka juga memperkerjakan sebuah kelompok psikolog yang menangani aspek kejiwaan dari penderita gangguan jiwa.

Seri wirausaha sosial: lapangan kerja penderita gangguan jiwa (2)

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari artikel sebelumnya.

Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa pekerjaan merupakan salah satu hal yang penting bagi pemulihan gangguan jiwa. Adanya pekerjaan akan mempermudah dan membantu seseorang pulih dari gangguan jiwanya.

Sayangnya, menciptakan lapangan pekerjaan bukanlah sebuah pekerjaan mudah. Berbagai latihan kerja yang dilakukan oleh rumah sakit jiwa atau panti rehabilitasi tidak mampu memberikan penghasilan yang layak dan kepuasan kerja kepada para penderita gangguan jiwa yang bekerja disana.

Harbor City Service merupakan sebuah wirausaha sosial, sebagai bagian dari perusahaan Humanim, yang sebagian besar pegawainya adalah bekas penderita gangguan jiwa yang telah pulih. Harbor City Service mempunyai dua tujuan utama, yaitu: mencari penghasilan agar perusahaan bisa mandiri secara keuangan dan sekaligus menciptakan lapangan kerja bagi para penderita gangguan jiwa yang telah pulih.

Harbor City Services didirikan di tahun 1987 dan bergerak di bidang pergudangan, manajemen arsip atau dokumen, penghancuran dokumen, dan pindahan (moving company). Mereka mempunyai lebih dari 300 pelanggan, seperti: rumah sakit, lembaga pemerintah, kantor hukum (law firms) dan berbagai lembaga swasta non profit.Mereka mempunyai gudang seluas kira kira 5000 m2 yang mampu memberikan jasa pergudang lengkap.

Seri wirausaha sosial: lapangan perkerjaan penderita gangguan jiwa (1)

Di berbagai negara maju, masih banyak penderita gangguan jiwa yang telah pulih, namun hidup dengan sumbangan sosial dari pemerintah. Hanya sekitar 25% penderita gangguan jiwa yang pulih dan bekerja secara penuh.

Di Indonesia, karena belum adanya jaminan sosial dari pemerintah, kebanyakan penderita gangguan jiwa menjadi beban keluarganya. Bila keluarga sudah mulai angkat tangan,  sering para penderita tersebut kemudian kambuh kembali dan hidup menggelandang.

Untuk mengatasi hal tersebut, salah satu cara yang dikembangkan adalah dengan membuat berbagai perusahaan dimana sebagian besar pegawainya adalah bekas penderita gangguan jiwa yang telah pulih. Perusahaan perusahaan tersebut didirikan tidak semata mata untuk mengejar keuntungan, namun mereka mempunyai misi sosial yaitu memberikan pekerjaan kepada bekas penderita gangguan jiwa. Perusahaan perusahaan tersebut juga bisa menjadi tempat pelatihan kerja bagi mereka.

Salah satu perusahaan yang memperkerjakan para bekas penderita gangguan jiwa adalah A-Way, sebuah perusahaan pengantar surat dan dokumen (courier service) di kota Toronto, Kanada (http://www.awaycourier.ca/ ).

A-Way didirikan pada tahun 1987. Perusahaan tersebut memperkerjakan para penderita gangguan jiwa yang telah pulih menjadi pengantar surat dan dokumen dengan mempergunakan transportasi umum yang ada di kota Toronto. Setiap hari, para pekerjanya mengambil surat dan dokumen, kemudian mengantarkannya ketempat tujuan di dalam kota Toronto. Saat ini jumlah pegawainya mencapai 70 orang.

Biaya antar surat/ dokumen di A-Way cukup bersaing dibanding perusahaan swasta lainnya. Hasil kerja mereka juga dapat diandalkan. Mereka berani menjamin bahwa semua surat akan sampai ke tujuan pada hari yang sama. Hingga saat ini, setelah berjalan selama 25 tahun lebih, perusahaan A-Way mempunyai sekitar 1900 pelanggan.

Bagi para pegawainya, A-Way tidak semata mata sebagai tempat kerja biasa. Mereka sudah menganggap A-way sebagai sebuah keluarga besar. Mereka mendapat gaji yang layak, bisa mendapat kepuasan dan kebanggan karena bisa hidup mandiri, dan bisa bergaul serta bertemu dengan masyarakat luas.

Yayasan Delandsey Street

Yayasan Delansey Street telah berhasil melakukan hal hal yang kelihatannya mustahil dilakukan, yaitu: membuat seseorang yang sudah berkali kali masuk penjara, perampok, pemakai obat bius, pelacur, dan berbagai sampah masyarakat lainnya untuk kembali hidup normal di masyarakat.

Selama lebih dari 40 tahun, yayasan Delansey Street sudah melakukan hal tersebut. Hingga saat ini, sudah lebih dari 18000 orang telah lulus dari gemblengan yang dilakukan oleh yayasan Delansey Street. Lulusannya ada yang sudah menjadi pengusaha konstruksi, pemilik restoran, dan berbagai pekerjaan halal di masyarakat lainnya.

Yayasan Delansey Street didirikan oleh Dr Mimi Silbert dan 3 orang kawannya. Mereka membeli sebuha apartment dengan uang pinjaman dan merubahnya menjadi asrama penampungan bekas narapidana, pengedar dan pecandu obat bius, bekas permapok dan pembunuh.

Untuk bisa diterima masuk kedalam gemblengan yayasan, syaratnya adalah tidak boleh memakai obat bius dan tidak boleh melakukan ancaman atau tindak kekerasan. Mereka yang melanggar aturan tersebut dikeluarkan dari asrama. Minimal mereka harus bersedia tinggal di asrama selama 2 tahun (kebanyakan mereka lulus setelah 4 tahun). Rata rata sekitar 35% peserta mengundurkan diri.

Selama bergabung dan dibina oleh yayasan Delansey Street, mereka tidak perlu bayar. Makan, minum, kamar dan pakaian diberi gratis. Selama 2 tahun pertama mereka digembleng oleh seniornya, yaitu oleh mereka yang sudah lebih dulu bergabung dengan Yayasan. Prinsipnya seseorang mengajari seorang lainnya. Orang yang dulu sekolah hingga SMA, mengajari peserta baru yang dulunya hanya sekolah SMP. Orang yang bisa masak, menyopir, jadi tukang batu, tukang kayu, mengajari temannya yang ingin belajar hal tersebut.  Mereka juga dibimbing sehingga bisa menyelesaikan pendidikan setara SMA (seperti kejar paket C di Indonesia). Tidak ada tenaga profesional yang didatangkan dari luar.

Selama 2 tahun berikutnya, peserta harus belajar 3 ketrampilan yang laku dijual di pasaran (seperti: ketrampilan jadi tukang batu, juru masak, atau kerja kantoran). Mereka belajar sambil bekerja di berbagai perusahaan yang didirikan dan dipunyai oleh Yayasan Delandsey Street. Semua pekerja tidak digaji (termasuk Mimi Silbert). Semua gaji disetor dan dikumpulkan jadi satu. Semua orang dapat makan, pakaian, dll, namun mereka tidak dapat gaji.

Saat ini Yayasan Delandsey mempunyai berbagai perusahaan seperti: restoran, perusahaan pindah barang (moving company), pertamanan, dan lain lain.