Prinsip dasar teknik mendampingi penderita gangguan jiwa akut (1)

Keluarga, pendamping atau petugas panti pemulihan kadang harus mendampingi penderita gangguan jiwa yang sedang kambuh.

Berikut ini beberapa prinsip dasar yang perlu dipegang dalam membantu pemulihan gangguan jiwa yang sedang kurang baik kondisi kejiwaannya.

  1. Beri perhatian, jangan diacuhkan saja. Kadang penderita gangguan jiwa hanya tidur-tiduran terus di tempat tidur, atau duduk melamun seharian. Bisa juga penderita sibuk dengan dunianya sendiri atau bicara sendiri. Pada penderita dengan kondisi tersebut, sebaiknya mereka tetap diberi perhatian, disapa dan diajak berkomunikasi.
  2. Bicara yang ramah, mendukung dan tidak kasar. Jangan berteriak, memaki-maki, mengejek atau berkata kasar. Perlakukan mereka dengan ramah, menghargai dan memberi dukungan. Hindari kata kata atau perintah yang terlalu memaksa.
  3. Berikan simpati dan tunjukkan keinginan untuk membantu. Berbagai kata kata atau tindakan bisa dilakukan untuk menunjukkan simpati atau kesediaan untuk memberikan bantuan. Kata kata yang ramah, dengan nada yang hangat akan menjadi salah satu obat bagi pemulihan gangguan jiwa.
  4. Kejujuran. Kebohongan akan membawa dampak negatif bagi penderita gangguan jiwa. Keluarga atau pendamping gangguan jiwa kadang berbohong, seperti: kapan boleh pulang, kapan keluarga akan menengok, dll. Kebohongan kebohongan tersebut kurang mendukung proses pemulihan gangguan jiwa.
  5. Hargai mereka. Setiap orang tidak ingin direndahkan, begitu pula dengan penderita gangguan jiwa. Mereka ingin mendapat perlakuan sebagaimana kita semua ingin diperlakukan.
  6. Jangan terlalu campur tangan. Ini tidak ada batasannya yang jelas. Sebagai pendamping, kita perlu menanyakan tentang halusinasi atau waham yang mereka alami. Namun bila terlalu sering atau pada waktu yang kurang tepat, maka keinginan tahuan kita bisa malahan berdampak negatif bagi pasien.

Berlanjut

Rencana kerja pemulihan (2)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya

Agar proses pemulihan berjalan lebih terarah dan efektif, penderita gangguan jiwa perlu membuat rencana kerja pemulihan. Tentunya, rencana kerja tersebut tidak harus rumit dan canggih. Rencana kerja yang sederhana, namun tetpat akan sangat membantu proses pemulihan.

Langkah pertama dalam membuat rencana kerja adalah menetapkan tujuan. Tujuan yang ingin dicapai dapat bersifat jangka pendek yang dapat dicapai dalam beberapa minggu atau bulan (misalnya: mampu mengendalikan halusinasi suara, mampu mencegah kambuh). Tujuan dapat juga bersifat jangka menengah atau panjang yang untuk mencapainya memerlukan waktu 1 tahun atau lebih.

Sebaiknya, penderita gangguan jiwa membuat rencana kerja jangka pendek terlebih dahulu. Tentunya, rencana kerja tersebut sesuai dengan kebutuhan atau keinginan masing masing penderita. Dalam menyusun rencana kerja, penderita gangguan jiwa perlu dibimbing atau bekerja bersama keluarga atau pendampingnya.

Langkah langkah yang perlu dilakukan adalah:

  1. Menetapkan tujuan. Berikut ini beberapa contoh tujuan jangka pendek: mampu mengendalikan halusinasi; mampu mengendalikan ketakutan atau kecurigaan sehingga berani ikut sholat Jumat berjamaah di masjid; melakukan olah raga diluar rumah setiap hari.
  2. Mengidentifikasi langkah langkah yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Tentunya langkah langkah tersebut tergantung dari tujuan yang ingin dicapai. Misalnya, langkah langkah untuk mampu mengendalikan halusinasi adalah: (a) mempelajari atau mengenali suara suara yang muncul (siapa, berapa orang, kapan, apa yang dikatakan, dll); (b) melakukan kegiatan kegiatan fisik yang positif terutama diwaktu suara suara tersebut sering muncul (misalnya: bermain musik, membersihkan ruangan, jalan jalan ke luar rumah, dll); (c) dan seterusnya.
  3. Mengidentifikasi dukungan yang diperlukan agar kegiatan kegiatan tersebut dapat terlaksana. Contoh dukungan yang diperlukan, misalnya: anggota keluarga atau pendamping/ perawat. Bisa juga dukungan itu berupa alat musik, alat olah raga, alat berkebun, dll.
  4. Mengamati kemajuan pencapaian tujuan. Misalnya apakah sekarang suara suara sudah mulai berkurang atau tidak lagi menganggu, kalau dulu suara muncul setiap hari dan sekarang suara suara tersebut hanya muncul ketika gelisah.

Rencana kerja tersebut perlu ditulis sehingga bisa dipakai sebagai pegangan dalam melakukan kegiatan maupun dalam mengamati kemajuan yang telah dicapai.

Rencana kerja pemulihan (1)

Banyak persamaan antara proses pemulihan gangguan jiwa dengan proses belajar di sekolah. Meskipun telah membayar uang sekolah, bila murid tidak mau datang ke sekolah dan belajar setiap harinya, maka sang murid bisa tidak lulus atau setidaknya tidak mendapat ilmu.

Begitu pula dengan proses pemulihan dari gangguan jiwa. Meskipun sudah membayar dan mau minum obat sesuai ketentuan dokter, penderita gangguan jiwa tidak akan bisa pulih bila tidak mau belajar mengatasi permasalahan psikologis dan sosial yang dihadapinya. Agar bisa pulih, penderita gangguan jiwa juga perlu memperkuat ketahanan jiwanya.

Untuk lebih jelasnya, saya ambil masalah halusinasi sebagai contoh. Bila untuk mengatasi gangguan halusinasi, penderita gangguan jiwa hanya mengandalkan obat, maka dosis obatnya perlu cukup tinggi. Dosis obat anti gangguan jiwa yang tinggi memang bisa menekan halusinasi, namun dosis obat yang tinggi akan menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan (seperti: mengantuk atau ingin tidur terus, kesulitan berpikir atau berkonsentrasi, dll). Agar bisa pulih, penderita gangguan jiwa harus belajar mengatasi halsuinasinya dengan dosis obat sekecil mungkin. Caranya berbeda antara satu orang dengan lainnya. Misalnya: mengalihkan perhatian dari halusinasi dengan cara menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan yang menyenangkan (bermain musik, menggambar, jalan jalan di luar rumah, dll), mengatasi kegelisahan (catatan: ada berbagai teknik dan pendekatan untuk mengurangi kegelisahan) karena dengan berkurangnya kegelisahan maka biasanya halusinasi juga akan berkurang, mengendalikan munculnya halusinasi dengan mengatur waktu waktu tertentu untuk memberi perhatian terhadap halusinasi, dll.

Penderita gangguan jiwa juga perlu memperkuat ketahanan jiwanya, antara lain dengan cara: meningkatkan keimanan, meningkatkan dan mempererat persaudaraan atau persahabatan, mempunyai kegiatan yang positif secara sosial maupun ekonomis, melakukan olah raga secara teratur, dan lain lain.

Prinsip prinsip pemulihan tersebut perlu diterjemahkan atau dijabarkan dalam rencana kerja pemulihan. Rencana kerja pemulihan dari gangguan jiwa berisi rencana kerja untuk mengatasi gejala gangguan jiwanya (misalnya: mengatasi halusinasi/waham/gangguan kognisi, anhedonia, dll) dan rencana kerja untuk meningkatkan ketahanan jiwanya (kapan akan melakukan dzikir, berolah raga, melakukan kegiatan sosial ekonomi, dll).

Semoga bermanfaat.

Meningkatkan percaya diri

Penderita gangguan jiwa sering mempunyai rasa percaya diri yang rendah. Dilain pihak, mempunyai rasa percaya diri yang rendah sering menyebabkan jiwa kurang sehat atau lebih gampang terkena gangguan jiwa.

Rasa percaya diri tidak bisa ditingkatkan dengan pemberian motivasi atau nasehat. Percaya diri hanya bisa ditumbuhkan dan dipupuk dengan melakukan beberapa kegiatan positif, sebagai berikut:

  1. Merawat diri sendiri, baik dari segi fisik maupun sosial. Lakukanlah kegiatan seperti: makan dan mandi secara teratur dan sehat, lakukan olah raga secara teratur, lakukan kegiatan diluar rumah secara teratur, ketemu dan ngobrol dengan orang yang disukai, dll.
  2. Terlibat kegiatan di rumah dan di masyarakat. Jangan mengurung diri, ikutlah terlibat kegiatan di dalam rumah (membersihkan rumah, mencuci pakaian, memasak, dll) maupun kegiatan di masyarakat (ikut pengajian, ikut kerja bakti di kampung, menghadiri pertemuan di masyarakat, dll).
  3. Ganti pikiran negatif dengan pikiran positif. Pikiran pikiran negatif yang merugikan diri sendiri (seperti: saya orang yang gagal, tidak ada yang mau berteman dengan saya, saya bodoh, dll) dan ganti dengan pikiran pikiran positif (seperti: masih banyak orang yang suka dengan saya, saya sudah pernah menghasilkan karya yang cukup bagus, dll). Pikiran pikiran positif tersebut perlu diulang-ulang atau ditulis dalam suatu kertas dan dibaca berulang ulang.
  4. Lakukan sesuatu hingga selesai. Dapat menyelesaikan suatu tugas atau kegiatan dengan baik akan dapat meningkatkan percaya diri. Untuk meningkatkan rasa percaya diri, coba buat daftar hal hal yang dulu pernah dikerjakan (misalnya: ulangan matematika dapat nilai 7, mencuci piring dengan bersih, bisa menggambar dengan baik, dll). Selain membuat daftar, juga lakukan hal hal yang baik hingga selesai, misalnya: setiap hari membersihkan kamar sendiri, bisa mencuci kendaraan sendiri, bisa menanam pohon, dll.
  5. Lakukan sesuatu yang spesial untuk orang lain. Menolong orang lain akan dapat meningkatkan rasa percaya diri. Lakukan hal hal berikut untuk meningkatkan rasa percaya diri, misalnya: memberi nasi bungkus kepada janda tua, ikut memperbaiki atau membersihkan masjid, memperbaiki rumah orang yang sudah jompo, dll.

semoga bermanfaat

Pencetus kambuhnya gangguan jiwa

Penderita gangguan jiwa dan keluarganya perlu mengenali apa saja yang menjadi pencetus kambuhnya seseorang dari gangguan jiwa. Pencetus tersebut sering berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Mengenali pencetus munculnya kekambuhan akan sangat membantu penderita gangguan jiwa dari kambuh.

Bram sering kambuh bila ingat ibunya yang telah meninggal, khususnya bila mendekati hari ulang tahun kematian ibunya. Bambang biasanya kambuh di sore hari menjelang maghrib, khususnya bila dia sedang tidak ada kegiatan dan pikiran negatif (bahwa adiknya atau anggota keluarga yang lain akan mengalami kecelakaan atau sakit).

Beberapa pencetus yang sering ditemui pada penderta gangguan jiwa, antara lain:

  • adanya kejadian atau berita yang menakutkan
  • gesekan dengan anggota keluarga
  • ada yang membentak-bentak
  • ulang tahun suatu peristiwa (kematian seseorang) atau kejadian yang menekan jiwa (ulang tahun perceraian, dll)
  • terlalu lama menyendiri, tidak ada kegiatan sosial bersama.
  • bila ada persoalan (tagihan biaya yang cukup besar, dll)

Rencana tindak

Penderita gangguan jiwa dan keluarganya perlu mengenali kegiatan kegiatan apa saja yang bisa mencegah kekambuhan. Begitu ada pencetus kambuh datang, segera lakukan hal hal yang bisa menghindarkan dari kekambuhan. Kegiatan tersebut juga sering berbeda antara satu orang dengan orang lainnya.

Beberapa kegiatan yang bisa dilakukan bila pencetus kekambuhan muncul, antara lain:

  • menepis munculnya pikiran negatif/ buruk dengan banyak berdoa, melawan munculnya pikiran negatif dengan menekankan keyakinan bahwa itu hanya pikiran negatif dan tidak akan terjadi.
  • mengajak seseorang untuk menemani dan mendukung melewati masa masa yang menggelisahkan tersebut.
  • melakukan kegiatan yang bisa membuat pikiran jadi tenang (bermain musik, jalan kaki ke halaman rumah, dll).
  • menulis semua perasaan dan pikiran yang muncul kedalam buku atau kertas
  • dan kegiatan lain yang berdasar pengalaman yang lalu bisa mencegah dari kekambuhan.

semoga bermanfaat

Rangkaian Pemulihan Gangguan Jiwa

Proses pendampingan pemulihan gangguan jiwa tak ubahnya lari estafet.

Pada awalnya, ketika sedang dalam kondisi kritis, maka penderita gangguan jiwa dirawat di rumah sakit jiwa. Disana, penderita ditangani oleh dokter spesialis jiwa beserta timnya secara intensif. Perawatan di rumah sakit jiwa seharusnya memang hanya untuk pelayanan jangka pendek. Ketika kondisi sudah stabil, maka penderita gangguan jiwa diserahkan ke keluarganya atau ke panti pemulihan.

Di Panti Pemulihan, tekanan pelayanan lebih kepada pendampingan psikososial. Penderita gangguan jiwa dipersiapkan untuk bisa kembali ke masyarakat serta diberi pelatihan untuk memperkuat ketahanan jiwanya. Selain itu, penderita juga diberi kemampuan untuk mencegah kekambuhan dan upaya untuk meningkatkan kesehatan jiwanya.

Tahap berikutnya adalah persiapan kembali ke masyarakat. Penderita gangguan jiwa bisa tinggal bersama keluarganya atau di panti pemulihan. Pada tahap ini, penderita gangguan jiwa mulai belajar melakukan kegiatan yang mempunyai nilai ekonomis dan sosial. Kegiatan yang bersifat ikut magang dalam suatu kegiatan bisnis maupun kegiatan sosial akan membuat penderita gangguan jiwa lebih siap untuk terjun kembali ke masyarakat.

Tahap berikutnya adalah hidup di masyarakat. Penderita gangguan jiwa sudah mulai bisa hidup produktif secara sosial dan ekonomi.

Dalam setiap tahapan tersebut, dukungan medis (minum obat dan kontrol dokter tetap perlu dilanjutkan) dan dukungan psikososial tetap diperlukan, meskipun penderita gangguan jiwa telah kembali kepada keluarganya ataupun telah hidup di masyarakat.

Kadang, meskipun telah bisa bekerja, kadang penderita gangguan jiwa dapat kambuh kembali. Dalam keadaan seperti ini, maka estafet akan dimulai dari rumah sakit jiwa atau dari panti pemulihan kembali.

Tehnik mendampingi anggota keluarga dengan gangguan jiwa

Di Indonesia, sebagian besar penderita gangguan jiwa tinggal bersama keluarganya. Keluarga memang tempat pemulihan yang paling tepat. Pada dasarnya, keluarga adalah wahana atau tempat yang paling bisa mendukung pemulihan gangguan jiwa.Meskipun demikian, agar pendampingan bisa berjalan efektif, keluarga perlu memahami tehnik tehnik pendampingan agar pemulihan bisa berjalan dengan baik.

Berikut ini langkah langkah agar proses pendampingan bisa efektif:

  1. Pelajari seluk beluk gangguan jiwa. Pemahaman yang baik tentang seluk beluk gangguan jiwa akan memudahkan keluarga dalam melakukan pendampingan. Tulisan tentang gangguan jiwa bisa didapat dari berbagai website di luar negeri atau dari situs tirto jiwo ini.
  2. Usahakan agar penderita gangguan jiwa bersedia minum obat sesuai ketentuan dokter. Bila penderita sudah cukup lama minum obat (bertahun tahun), maka dengan berhenti dalam waktu 3-5 bulan penderita akan kembali kambuh. Bila penderita baru 1-2 minggu minggu minum obat, maka bila berhenti minum obat penderita akan muncul gejala awal kambuh dalam waktu beberapa hari saja.
  3. Upayakan agar penderita gangguan jiwa terlibat dalam kegiatan yang berarti. Hal ini bisa berarti ikut melakukan kegiatan pekerjaan dirumah (membersihkan rumah, memasak, memberi makan binatang peliharaan, dll), melakukan kegiatan yang bernilai ekonomi (ikut berjualan, berkebun, berternak, mengerjakan kerajinan tangan, dll), ikut dalam kegiatan keluarga dan sosial (mengunjungi keluarga atau teman, jalan jalan ke taman, jalan jalan ke toko bersama keluarga, dll). Tingkat kesulitan dan intensitas kegiatan kegiatan tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi kejiwaan penderita. Bila kegiatan kegiatan tersebut terlalu berat dan membuat gelisah, maka kegiatan kegiatan tersebut perlu dikurangi.
  4. upayakan terus meningkatkan kondisi ketahanan jiwanya dengan: banyak banyak berdoa/ berdzikir, melakukan olah raga ringan atau melakukan kegiatan di luar rumah, makan yang teratur dan sehat, hindari minuman ber alkohol, hindari bergadang, dll.
  5. Kenali gejala gejala awal kalau akan kambuh dan segera lakukan tindakan pencegahan. Gejala awal kalau akan kambuh sering berbeda antara satu orang dengan lainnya. Meskipun demikian, beberapa gejala awal yang sering ditemui adalah: gangguan tidur (tidak bisa tidur atau terlalu banyak tidur), gelisah, tidak bisa diam, pikiran datang silih berganti, gampang tersinggung, gangguan makan (tidak mau makan atau terlalu banyak makan). Bila gejala awal kambuh mulai muncul, maka penderita perlu diajak untuk lebih banyak istirahat, ditemani dan diajak ngobrol atau melakukan kegiatan kegiatan yang menyenangkan.
  6. Bila kondisi memburuk, segera kontak dokter spesialis jiwa atau dibawa ke rumah sakit jiwa.

Semoga bermanfaat.

Agar Jiwa Tetap Sehat

Seseorang yang mempunyai penyakit tekanan darah tinggi, harus terus selalu menjaga dirinya agar tekanan darahnya tetap terkontrol. Penderita tekanan darah tinggi yang kelelahan, terlalu banyak stress, kurang tidur, makan banyak garam dan koleterol, akan kembali naik tekanan darahnya.

Begitu pula dengan penderita gangguan jiwa. Kondisi jiwa yang sedang sehat perlu terus dijaga agar tetap sehat.

Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menjaga agar jiwa tetap sehat:

  1. Makan 3 kali sehari dalam jumlah yang cukup dan melakukan olah raga ringan secara rutin.
  2. Melakukan kewajiban kewajiban rutin yang bila ditinggalkan dapat menyebabkan stress, seperti: mandi, memberi makan binatang peliharaan.
  3. Bila ada masalah yang bisa menimbulkan stress (misalnya: bertengkar dengan anggota keluarga, ada tagihan yang harus dibayar dalam jumlah besar), maka lakukan kegiatan kegiatan untuk membuat suasana hati jadi tenang, misalnya: bermain musik, ngobrol dengan kawan dekat, jalan jalan ke taman. Hal ini perlu dilakukan untuk mencegah agar suasana hati tidak menjadi lebih buruk.
  4. Kenali gejala gejala awal yang menunjukkan bahwa kondisi jiwa sedang menurun (seperti: selalu merasa capai, terlalu banyak tidur atau tidak bisa tidur, tidak mau makan atau makan terlalu banyak). Bila gejala gejala awal akan kambuh mulai muncul, segera lakukan kegiatan kegiatan untuk mengembalikan kondisi kesehatan jiwa dengan: lebih banyak istirahat, mengurangi kegiatan yang membuat stress, kurangi minum kopi, konsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan lainnya.
  5. Bila kondisi kejiwaan semakin memburuk (seperti: tidak ingin bangun dari tempat tidur, merasa ketakutan/ gelisah/ marah yang berlebihan), maka segera lakukan hal hal sebagai berikut, misalnya: konsultasi dokter, ajak seseorang untuk selalu mendampingi, melakukan hal hal yang menyenangkan dan membuat perasaan lebih nyaman.
  6. Bila kondisi semakin tidak terkontrol, maka kontak seorang pendamping untuk membawa penderita gangguan jiwa ke rumah sakit jiwa.

Semoga bermanfaat dan membuat jiwa kita tetap sehat

 

Penolakan keluarga

Ketika sedang mengalami gangguan jiwa, beberapa penderita gangguan jiwa melakukan beberapa kesalahan yang tidak dapat diterima keluarganya, misalnya: mencederai anggota keluarganya yang lain, mengganggu tetangga, merusak barang barang berharga, dan lain lain. Kesalahan tersebut menyebabkan keluarga tidak lagi mau menerima penderita gangguan jiwa untuk kembali hidup bersama.

Beberapa penderita gangguan jiwa yang lain, menghadapi masalah yang berbeda. Keluarganya tidak mampu merawat mereka karena masalah kemiskinan (tidak ada tempat tinggal, misalnya), ada anggota keluarga yang masih anak anak, hanya ada orang tua yang sudah lemah dan tidak berpenghasilan. Akibatnya sama saja, keluarga tidak dapat menerima kembali anggota keluarganya yang sakit.

Bagi panti rehabilitasi jiwa seperti Tirto Jiwo, keadaan diatas menimbulkan dilema. Adanya penolakan keluarga membuat penderita gangguan jiwa rentan untuk kembali kambuh. Sangat sulit untuk menjaga kondisi jiwa tetap sehat, bila mereka tahu bahwa keluarganya tidak lagi mau menerima mereka kembali. selain itu, tetap tinggal di panti rehab menyebabkan penderita lain yang memerlukan pertolongan menjadi tidak bisa mendapatkan pertolongan karena keterbatasan sarana yang ada.

Selain itu, panti rehabilitasi jiwa bukanlah penjara yang mengekang kehidupan seseorang. Bila mereka ingin memulai hidup baru, Tirto Jiwo tidak akan segan untuk membantu. Tirto Jiwo akan mengusahakan agar mereka bisa belajar hidup mandiri.

Tetapi bila penderita yang sudah pulih ingin kembali ke keluarganya, panti rehab Tirto Jiwo tidak akan bisa mengurung mereka selamanya.

Komunitas Pemulihan

Agar bisa kembali pulih, penderita gangguan jiwa tidak hanya memerlukan dokter dan obat, mereka memerlukan sebuah komunitas yang mendukung. Komunitas tersebut saya namakan Komunitas Pemulihan.

Komunitas pemulihan merupakan sebuah komunitas terbuka, yang tidak harus berada di suatu lokasi tertentu. Komunitas tersebut beranggotakan masyarakat biasa dan penderita gangguan jiwa dimana masyarakat bisa menerima keberadaan penderita dengan berbagai tingkah laku yang kadang diluar kelaziman. Komunitas tersebut juga mempunyai akses ke pelayanan kesehatan yang diperlukan, akses ke kegiatan yang bersifat sosial dan ekonomis sehingga memberikan kesempatan kepada para penderita gangguan jiwa untuk melatih diri agar mampu kembali diterima di masyarakatnya.

Di Amerika, komunitas pemulihan bisa berada dalam suatu lokasi berupa Rumah Pertanian karena sebuah farm house bisa memiliki tanah pertanian puluhan hektar sehingga penderita gangguan jiwa bisa tinggal di dalam farm house tersebut dan melakukan kegiatan pertanian bersama para pekerja farm house atau rumah pertanian tersebut.

Tirto Jiwo akan dikembangkan kearah terciptanya sebuah komunitas pemulihan dengan mengintegrasikan dan melibatkan masyarakat sekitarnya. Diharapkan dalam waktu yang tidak terlalu lama, akan ada berbagai kegiatan sosial dan ekonomi positif yang melibatkan masyarakat umum maupun masyarakat disekitar Tirto Jiwo. Bila tercipta, komunitas pemulihan akan sangat mendukung proses pemulihan gangguan jiwa bagi para anggota masyarakat yang bergabung dengan Tirto Jiwo.