Laporan Keuangan November 2014

Alhamdulillah, berkat dukungan para dermawan dan kesediaan keluarga peserta program pemulihan, maka biaya operasional Tirto Jiwo bulan November 2014 dapat tertutupi.

Semoga para dermawan mendapat balasan berlipat ganda dari Allah SWT, dilapangkan rezekinya, dimudahkan segala urusannya, ditinggikan derajatnya dan dirahmati dengan kebaikan yang mengalir sampai ke anak cucu. Aamiin.

Penghargaan secara khusus kami sampaikan kepada PT Jati Diri Trans yang telah berkenan memberikan dukungan kepada Tirto Jiwo sebagai bentuk dari Corporate Social Responsibility. Semoga PT Jati Diri Trans semakin berkembang dan membawa keberkahan bagi semua.

Perlu kami sampaikan bahwa biaya pembangunan sarana dan prasarana Tirto Jiwo terus dilanjutkan melalui dukungan para pengurus Yayasan Islam Ummy.

10 Langkah Pemulihan Gangguan Jiwa

Gangguan jiwa bisa pulih. Hanya saja, proses pemulihannya berjalan pelan pelan sejalan dengan semakin kuatnya ketahanan jiwa seseorang.

Selain dengan minum obat, langkah langkah yang perlu dilakukan adalah memperbaiki pola pikir dan meningkatkan ketahanan jiwa sehingga mampu mengatasi segala bentuk stress atau tekanan jiwa.

Langkah langkah pemulihan dapat dilaksanakan dalam kegiatan kelompok, namun bisa juga secara perseorangan. Bila dalam kelompok, anggota kelompok mendiskusikan dan mencerna setiap pernyataan atau langkah langkah pemulihan gangguan jiwa.

Berikut ini langkah langkah untuk memperkuat ketahanan jiwa, yaitu dengan memahami dan menerapkan 10 langkah pemulihan jiwa dibawah ini:

  1. Kami menyadari dan mengakui bahwa jiwa kami terganggu oleh adanya pikiran pikiran (misal: keluarga akan mengalami bencana, saya tidak berguna, saya diberi tugas untuk menyelamatkan dunia), perasaan perasaan (misal: marah, sedih, takut, tidak kenal takut/ gembira berlebihan), dan perilaku (misal: melempari rumah tetangga, berteriak-teriak) yang tidak sepenuhnya dapat kami kendalikan.
  2. Kami percaya sepenuhnya bahwa ada Tuhan Yang Maha Kuasa yang dapat membantu kami mengatasi gangguan dalam jiwa kami tersebut.
  3. Kami belajar secara bersungguh-sungguh untuk mendalami makna tauhid dan 99 sifat Allah.
  4. Kami secara bertahap dan tanpa mengenal lelah berusaha untuk menerapkan pemahaman tentang tauhid dan 99 sifat Allah  dalam kehidupan kami sehari-hari.
  5. Kami belajar tanpa kenal lelah untuk mengenali semua sifat kejiwaan kami, baik yang positif maupun yang negatif.
  6. Dengan segala kerendahan hati kami memohon kepada Allah agar berkenan menghilangkan semua sifat sifat negatif dan memperkuat sifat sifat positif yang kami miliki.
  7. Kami membuat daftar orang orang yang telah kami sakiti atau telah mengalami kesusahan karena perbuatan kami dimasa lalu.
  8. Terhadap mereka, secara langsung atau tidak langsung, kami meminta maaf dan memperbaiki kesalahan tersebut.
  9. Kami tingkatkan kesehatan dan kekuatan jiwa dengan berdzikir, berdoa, mengerjakan sholat wajib, puasa serta dengan melakukan berbagai amal kebajikan.
  10. Kami terus menerus memperbaiki dan menyehatkan jiwa hingga akhir hayat kami.

 

 

Grafik naik turun

Membuat saluran air di depan Tirto JiwoTekanan darah, gula darah, emosi kita sehari-hari selalu naik turun. Hal ini wajar. Hanya kita harus mengelolanya dengan baik sehingga tidak terlalu naik atau terlalu turun.

Kondisi kejiwaan seseorang juga naik turun.Penderita gangguan jiwa yang sudah stabil, kondisi kejiwaannya bisa terus membaik, namun bisa juga kembali turun. Oleh karena itu, penderita gangguan jiwa perlu terus belajar mengelola kondisi kejiwaannya.

Disini perlunya penderita gangguan jiwa punya akses ke dokter jiwa atau ke panti rehab jiwa. sebelum sampai terjadi krisis, harus segera ditangani dan dipulihkan kembali

Minum obat seumur hidup?

Sebagian penderita skizofrenia, sekitar 25%-nya, setelah serangan pertama, dapat sembuh total tanpa perlu minum obat lagi. Mereka hidup normal layaknya anggota masyarakat biasa.

Sekitar 50-65% menderita skizofrenia kronis dan kadang kambuh. Sisanya, sekitar 15-25% menderita skizofrenia yang parah dan menjadi cacat, dalam arti tidak dapat hidup mandiri.

Pada penderita skizofrenia yang kronis, biasanya mereka memerlukan obat agar tidak kambuh. Yang jadi pertanyaan adalah sampai kapan harus minum obatnya? apakah perlu minum obat selama hidupnya?

Setiap obat, termasuk obat bagi penderita gangguan jiwa, tentu memiliki efek samping yang merugikan tubuh. Efek samping itu bisa berupa kegemukan, gula darah meningkat, gangguan liver, dan lain lain.

Oleh karena itu, dalam jangka panjang, dosis obat bagi penderita gangguan jiwa perlu diberikan dalam tingkat yang seminimal mungkin. Dalam waktu yang bersamaan, penderita perlu diperkuat ketahanan jiwanya melalui pendampingan psikologis dan diberi kegiatan yang positif.

Diharapkan, dengan menguatnya daya tahan kejiwaan, penderita gangguan jiwa dapat melawan kekambuhan dan dosis obat secara perlahan dapat dihentikan.

 

Faktor pelindung agar tidak kambuh

Seseorang yang mulanya gemuk dan berhasil kurus ramping, bisa kembali gemuk. Begitu pula, seseorang yang pernah menderita gangguan jiwa, bisa saja kembali kambuh.

Oleh karena itu, penderita gangguan jiwa dan keluarganya perlu mengetahui hal hal apa saja yang dapat melindungi (protective factors) seseorang dari kambuh. Dengan memperkuat faktor faktor pelindung, diharapkan penderita gangguan jiwa dapat terhindar dari kekambuhan.

Berikut ini beberapa faktor pelindung dari kekambuhan:

  • rajin minum obat sesuai ketentuan dokter.
  • mempunyai kegiatan positif yang berarti. Misalnya mempunyai pekerjaan, menjadi sukarelawan dalam kegiatan sosial, mempunyai kesibukan positif (berkebun, bertani, membuat kerajinan tangan, dan lain lain).
  • menjalin persahabatan dan persaudaraan. Dengan mempunyai sahabat, saudara atau teman yang mendukung, maka penderita gangguan jiwa akan dapat terhindar dari kekambuhan.
  • mempunyai tempat tinggal atau tinggal bersama keluarga dimana keluarga tersebut bersikap mendukung.
  • mempunyai hubungan yang baik dengan dokter spesialis jiwa atau tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan.

Dilain pihak, beberapa faktor yang meningkatkan kemungkinan kambuh (faktor resiko), antara lain:

  • malas minum obat
  • hidup menyendiri
  • tidak ada dukungan keluarga
  • suka bergadang, tidur tidak teratur, hidup tidak teratur
  • minum minuman keras, obat terlarang
  • hidup yang menekan, penuh stress
  • tidak punya tempat tinggal
  • tidak punya kegiatan yang berarti, seharian melamun dikamar

Dukungan keluarga terhadap penderita gangguan jiwa

Mempunyai anggota keluarga yang menderita gangguan jiwa memang merupakan beban tersendiri, terutama bila gangguan jiwanya menjadi bersifat kronis.

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi beban tersebut dan menjadikan penderita mampu hidup mandiri, yaitu dengan:

  1. Menjadikan anggota penderita gangguan jiwa sebagai anggota BPJS. Dengan menjadi  anggota BPJS, keluarga cukup membayar iuran bulan (antara rp 25000 – rp 50000 per bulan). BPJS akan menanggung biaya obat bulanan, biaya perawatan di rs bila diperlukan dan biaya konsultasi. Tentunya pelayanan hanya bisa diberikan oleh rsj yg bekerja sama dgn BPJS.
  2. Mencarikan pendamping agar penderita gangguan jiwa bisa mempunyai kegiatan yg berarti. Pendamping bisa keluarga sendiri sehingga gratis, namun bisa juga orang lain yg dibayar. Fungsi utama pendamping adalah agar penderita tidak hanya melamun seharian. Sesuai dengan tingkat kegelisahan maupun kesadarannya atau tingkat gangguan yg dideritanya, keluarga bersama pendamping dan penderita bersama sama merancang  kegiatan harian, kegiatan mingguan dan kegiatan bulanan. Sedapat mungkin penderita tetap dilibatkan dalam kegiatan sehari hari dirumah.
  3. Bersama penderita menciptakan kegiatan yang menghasilkan, misalnya dengan kegiatan berkebun, memelihara ternak atau membuat kerajinan tangan. Tentunya kegiatan ini harus sesuai dengan tingkat pendidikan, bakat, minat serta modal yang tersedia. Kegiatan ini akan bisa membantu pemulihan dari gangguan jiwanya.

Insya Allah dengan menerapkan ketiga hal tersebut diatas, penderita akan bisa pulih kembali dan hidup mandiri di masyarakat