Laporan Keuangan September 2014

Semoga para dermawan mendapat balasan berlipat ganda, ditinggikan derajatnya, diampuni segala dosanya, dimudahkan semua urusannya, dilapangkan rezekinya, disehatkan jiwa raganya dan dirahmati dengan kebaikan yang mengalir sampai ke anak cucu.

Semoga dengan dukungan dana, maka semua peserta program pemulihan dapat segera pulih dan kembali hidup produktif secara social dan ekonomi di masyarakat.

Perumahan dan pekerjaan bagi penderita gangguan jiwa

Latihan membuat kaos

Adanya rumah (tempat tinggal) dan pekerjaan adalah dua kunci penting dalam proses pemulihan gangguan jiwa.

Di Indonesia, belum ada program pendidikan dan pembimbingan bagi keluarga yang salah satu anggota keluarganya terkena gangguan jiwa. Akibatnya, karena hanya mengandalkan minum obat (sering juga penderita tidak patuh minum obat), maka penderita gangguan jiwa menjadi kronis. Akhirnya, setelah bosan merawat, penderita gangguan jiwa tersebut mulai ditinggalkan dan bahkan “dibuang”.

Di Amerika dan Inggris, ada program family therapy yang berlangsung selama 18 bulan. Tujuannya adalah menyiapkan keluarga agar dapat membantu proses pemulihan penderita gangguan jiwa. Selain itu juga ada program “supported employment”, yaitu program untuk membantu penderita gangguan jiwa yang telah mulai pulih untuk dapat bekerja dan mendapat penghasilan yang layak.

Di Tirto Jiwo, kami secara pelan mulai mengarah kesana. Saat ini, sudah ada 2 alumni (1 orang yang jadi motor, 1 orang lagi membantu/ magang) Tirto Jiwo yang berhasil membuka kios HP.

Kami sedang mempersiapkan lahan yang bisa dipakai untuk berkebun, berternak ayam atau burung, sehingga bisa dipakai sebagai latihan kerja. Dengan membuat peternakan ayam, walupun skala kecil, nantinya bisa dipakai untuk menumbuhkan  percaya diri, ketrampilan bergaul, berlatih berdagang dan latihan latihan praktis ketrampilan hidup lainnya.

Dalam hal perumahan, kami sedang mencoba mengembangkan ‘rumah kos” bagi penderita gangguan jiwa yang sudah pulih. Rumah kos tersebut tetap mendapat supervisi dan pembinaan dari Tirto Jiwo sehingga kondisi kejiwaan mereka tetap terpantau dan mendapat dukungan bila membutuhkan.

Kami akan sangat senang bila ada pembaca yang bersedia menjadi sukarelawan atau mitra dalam upaya membantu pemulihan gangguan jiwa. Kami menilai kegiatan tersebut merupakan ladang amal  untuk menggapai ridlo Allah

 

Epilepsi dan Gangguan Jiwa

Penyakit epilepsi atau ayan adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh adanya aktivitas listrik yang berlebihan di dalam otak.

Bila aktivitas listrik berlebihan tersebut terjadi di bagian otak yang mengatur perilaku (lobus temporalis), maka penderita epilepsi tersebut sering disertai gejala gangguan jiwa.

Gangguan jiwa tersebut bisa terjadi setelah serangan epilepsi (post ictal), sebelum serangan (pre ictal) atau diantara dua serangan epilepsi (inter ictal).

Gangguan jiwa bisa muncul sebagai akibat dari serangan epilepsi.  Bisa juga gangguan jiwa terjadi bersamaan dengan epilepsi karena kelainan otak di lobus temporalis menyebabkan gangguan jiwa dan juga epilepsi.

Dari sisi dokter syaraf, beberapa hal yang perlu dianalisa adalah:

  • apakah gejala gangguan jiwa terkait dengan serangan epilepsi (pre ictal, post ictal atau inter ictal)?
  • apakah gangguan jiwa terkait dengan obat anti epilepsi yang diberikan?
  • apakah serangan gangguan jiwa terkait dengan munculnya kembali serangan kejang/ epilepsi pada pasien epilepsi yang tidak bereaksi terhadap obat anti epilepsi yang telah diberikan?

Gangguan jiwa pada penderita epilepsi bisa berupa skizofrenia, gangguan bipolar, gangguan kecemasan maupun gangguan kepribadian.