Bantu Kami Agar Kami Dapat Membantu Penderita Gangguan Jiwa

Dr Patricia Deegan, Dr Mary Elen Copeland, Dr Frederick Freese, Dr Daniel Ficher adalah beberapa bekas penderita gangguan jiwa berat (schizophrenia) yang telah pulih dan hidup secara produktif di masyarakat. Karena pernah mengalami gangguan jiwa, maka kemudian mereka mengembangkan pendekatan baru dalam penanganan gangguan jiwa. Pendekatan baru tersebut kini kita terapkan dalam pemulihan gangguan jiwa di Tirto Jiwo.

Alhamdulillah, pendekatan tersebut, dengan beberapa penyesuaian sejalan dengan kondisi Indonesia, ditambah dengan pendekatan spiritual, ternyata berhasil  membuat beberapa penderita gangguan jiwa yang tinggal di Tirto jiwo bisa pulih. Hanya dalam beberapa minggu, kondisi kejiwaan mereka membaik dan kini dalam kondisi transisi menuju kehidupan mandiri di masyarakat.

Tentunya, kondisi kejiwaan seseorang, seperti juga kondisi keimanan kita, bisa naik dan bisa menurun. Tugas untuk membuat kondisi kejiwaan selalu menaik dan menjaga agar tidak kembali turun, bila turun dapat segera kembali naik lagi, memerlukan upaya terus menerus dan berkelanjutan.

Idealnya, dalam masa transisi menuju ke kembali hidup di masyarakat, keluarga semakin aktif berpartisipasi dalam mendukung proses tersebut. Dukungan keluarga merupakan kunci keberhasilan proses transisi tersebut. Bila pada tahap ini, keluarga lepas tangan atau kurang mendukung, maka proses transisi tidak berjalan optimal.

Peranan masyarakat juga tidak kalah penting, khususnya dalam menerima bekas penderita gangguan jiwa dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Penerimaan oleh masyarakat akan memuluskan proses transisi dari kehidupan di Insitusi Pemulihan ke kehidupan normal di masyarakat.

Dukungan para relawan dalam membantu proses pemulihan gangguan jiwa juga sangat penting. Adanya para relawan akan dapat menekan biaya proses pemulihan.

Singkat kata, baik sebagai keluarga yang salah satu anggota keluarganya menderita gangguan jiwa, maupun anggota masyarakat biasa, bantuan anda akan sangat berarti sehingga proses pemulihan gangguan jiwa bisa berjalan secara optimal.

 

Gejala Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) pada orang dewasa

Penyakit ADD (attention deficit disorder-gangguan kurangnya perhatian/ atensi) kadang disertai juga dengan gejala hiperaktif sehingga menjadi ADHD (attention deficit hyperactivity disorder). ADD/ADHD merupakan gangguan mental yang sering dijumpai pada anak anak, yang sering berlanjut hingga dewasa.

Pada orang dewasa, gejala ADD/ADHD berbeda dengan gejala pada anak anak. Ada 5 kelompok gejala:

Gangguan dalam berkonsentrasi. Orang dewasa dengan ADD kesulitan dalam berkonsentrasi, gampang terganggu konsentrasinya atau perhatiannya gampang teralihkan dan kesulitan dalam mengerjakan kegiatan atau tugas kecil yang rutin dan tidak penting.

Hiperfokus. Penderita ADD/ADHD sering kurang bisa konsentrasi pada hal hal kecil dan rutin, namun sering menaruh perhatian berlebihan pada hal hal yang disenangi atau menarik baginya.

Pelupa dan berantakan/ tidak tertata (disorganized). Penderita ADD sering hidupnya tidak tertata karena sering kehilangan kaca mata atau sesuatu barang, ketinggalan barang barang berharga, lupa dimana menaruh kunci, sering terlambat, senang menunda pekerjaan atau tugas, dll.

Impulsive. kurang dapat mengendalikan diri atau sering secara spontan bereaksi terhadap sesuatu rangsangan. Penderita ADD/ADHD sering tidak dapat mengendalikan keinginannya dalam membeli barang barang, memotong pembicaraan orang, cenderung gampang ketagihan.

Gangguan emosional. Penderita ADD/ADHD sering merasa kurang berhasil dalam hidupnya, kurang mampu menghadapi frustasi, gampang mengalami stress, gampang meledak emosinya, kurang percaya diri.

Hiperaktif atau tidak bisa diam. Penderita ADHD sering kesulitan duduk diam/ tenang, banyak omong, banyak ide atau gagasan/ kemauan, ingin mengerjakan semuanya dalam waktu bersamaan.

Sumber: http://www.helpguide.org/mental/adhd_add_adult_symptoms.htm

Gangguan jiwa pada penderita autis

Penyakit autis mempunyai gejala yang cukup bervariasi, sehingga penyakit tersebut secara medis disebut sebagai autism spectrum disorder (ASD).

Anak penderita autis mempunyai 3 kelompok gejala:

Gejala yang terkait dengan interaksi sosial:

  • Kelemahan dalam ketrampilan komunikasi non-verbal , seperti kemampuan melakukan kontak mata, bahasa tubuh, ekspresi wajah.
  • kelemahan dalam kemampuan bergaul dengan teman seumur.
  • kekurangan dalam memberikan empati
  • kekurangan minat untuk melakukan kegiatan bersama dengan anak lain.

Gejala yang terkait dengan kemampuan komunikasi (verbal dan non-verbal):

  • kelemahan atau keterlambatan dalam kemampuan berbicara. 40% anak autis tidak mampu berbicara.
  • kelemahan dalam memulai pembicaraan dan kemampuan untuk meneruskan pembicaraan yang telah dimulai.
  • mengucapkan beberapa kata berulang ulang
  • kelemahan memahami pembicaraan seseorang.

Gejala terkait dengan kurangnya keinginan untuk bermain dan beraktivitas

  • fokus berlebihan pada sebagian dari suatu mainan. misalnya: hanya tertarik pada roda, bukannya bermain dengan sepeda-sepedaan.
  • sibuk denga sesuatu hal, misalnya video game, kartu, dll
  • kebutuhan akan sesuatu yang sama dan rutin.
  • mempunyai kelakuan tertentu (stereotyped behaviour)

Karena kelemahan kelamahan tersebut, ketika beranjak dewasa, maka penderita autis sering tidak dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Hal ini menyebabkan hal yang bersangkutan mengalami gangguan jiwa berupa: kecemasan (anxiety disorder), depresi dan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD).
 

 

Skizofrenia jenis disorganized

Tiga penderita gangguan jiwa yang mondok di Tirto Jiwo belakangan ini mempunyai tiga gejala utama. Mereka bertiga tidak atau sangat sedikit mengalami halusinasi maupun waham. Namun ada tiga gejala yang menonol.

Gejala pertama adalah bicara yang ngelantur, tidak teratur, kadang kadang berhenti ditengah kalimat, atau topik pembicaraan meloncat-loncat. Mereka masih bisa diajak komunikasi, hanya saja kemudian sering pembicaraan sulit dimengerti karena ngelantur kemana-mana.

Perilaku yang aneh. Untungnya, gejala ini masih sangat sedikit.

Gangguan ekpresi wajah.

Skizofrenia jenis disorganized memerlukan waktu lebih lama untuk bisa pulih. Selain minum obat, mereka perlu diajak terlibat dalam kegiatan bersama teman teman. Saat ini, di Tirto jiwo, mereka ikut aktif membuat jalan setapak  di halaman belakang rumah.

Melalui komunikasi dan kegiatan positif, insya Allah, sedikit demi sedikit, gangguan kognisi yang mereka alamai bisa berkurang.