Puasa dan lebaran

Ada suasana khusus saat bulan puasa dan lebaran. Sebagian besar orang Islam ingin berpuasa dan lebaran bersama keluarganya.

Bagi yang saat ini tidak tinggal bersama keluarga, ada keinginan kuat agar bisa berpuasa dan lebaran bersama keluarga. Bahkan pulang kampung selama lebaran menjadi ritual tahunan yang sering bikin pusing pemerintah.

Di Rumah Sakit Umum, biasanya jumlah pasien rawat inap berkurang selama bulan puasa dan lebaran. Meskipun belum sehat benar, kebanyakan pasien ingin melewati bulan puasa dan iedul fitri bersama keluarga.

Begitu pula dengan para penderita gangguan jiwa. Mereka juga ingin tinggal dan menjalankan puasa bersama keluarganya.

Bila keinginan tersebut tidak sesuai dengan keinginan keluarga, atau karena adanya hambatan keuangan (transportasi) sehingga mereka tidak bisa berkumpul dengan keluarga, keadaan ini bisa menjadi pemicu munculnya stress atau kegelisahan.

Kemunculan stress tersebut perlu diantisipasi dan dipecahkan bersama antara penderita, keluarganya dengan petugas pusat pemulihan gangguan jiwa.

3 tahapan program pemulihan gangguan jiwa

Alhamdulillah, kelima penderita gangguan jiwa yang tinggal di Tirto Jiwo mengalami perbaikan yang nyata.

Mas P, umur 44 th, asal Wonosobo, dengan riwayat skizofrenia selama lebih dari 10 tahun, saat ini sudah rajin sholat 5 waktu berjamaah, sholat jumat di masjid, aktif dalam kegiatan bercocok tanam, merawat binatang peliharaan dan ikut belajar membuat kaos. Mas P tidak pernah lagi berteriak-teriak atau mengurung diri di kamar.

Mas A, asal Ponorogo, juga sudah sangat membaik. Dia sudah bisa mengendalikan emosinya. Aktif sholat 5 kali sehari dan ikut belajar membuat kaos.

Mas A, dari Jakarta, sudah semakin membaik kondisi kejiwaannya. Meskipun masih mengalami gangguan motorik, Mas A sudah rajin sholat 5 kali secara berjamaah, sholat jumat di masjid dan aktif mengikuti kegiatan di Tirto Jiwo (menanam pohon albasia, dll).

Mas CT asal Cilacap, juga sudah rajin ikut sholat berjamaah, sholat jumat di masjid, aktif mengecat ruang penyekat, dan kegiatan lainnya.

Pak DE, asal Batam, sudah bisa memberi kutbah secara runtut dan benar, selalu mengingatkan untuk sholat bila waktunya telah tiba, bersiap-siap untuk membuka usaha mereparasi HP.

Kesemua peserta program pemulihan gangguan jiwa juga memanfaatkan internet untuk mencari informasi dan juga untuk mencari hiburan (game online).

Boleh dibilang, kesemua penderita gangguan jiwa yang tinggal di Tirto Jiwo telah sukses melewati tahap pertama dari pemulihan, yaitu: stabilisasi kondisi kejiwaannya. Kondisi kejiwaan mereka sudah baik, stabil dan relatif tanpa gejala.

Tahap kedua adalah mempersiapkan mereka agar bisa kembali ke masyarakat. Dalam tahap ini, perlu dipersiapkan agar mereka bisa mencegah diri sendiri agar tidak kembali kambuh bila telah kembali di rumah masing masing. Ini bukan tantangan yang mudah.

Selama di Tirto Jiwo, lingkungan fisik dan sosial sangat membantu pemulihan gangguan jiwanya. Di Tirto Jiwo mereka bersahabat, aktif terlibat dalam berbagai kegiatan produktif dan menyenangkan. Suasana dan kondisi tersebut tidak selalu bisa mereka temui ketika sudah kembali kerumah masing masing.

Dalam tahap kedua ini, keterlibatan keluarga sangat penting. Kesediaan keluarga untuk menciptakan dan menyediakan lingkungan sosial yang bersahabat, menerima apa adanya, dan mendukung proses pemulihan sangat diperlukan. Bila kembali kerumah, keluarga perlu menyiapkan kegiatan yang berarti dan bermanfaat bagi anggota keluarganya yang pernah mengalamiĀ gangguan jiwa.

Dalam tahap ketiga, mulai disiapkan kemampuan penderita gangguan jiwa agar mampu hidup produktif di masyarakat. kegiatan tahap ketiga ini akan sangat berbeda antara satu orang dengan lainnya. Misalnya; Mas A, asal jakarta, ingin agar bisa ikut kejar Paket C (penyetaraan ijazah setingkat SLTA), Pak DE mempersiapkan diri membuka reparasi HP, dll.

Kesemua tahap tersebut tidak ada yang mudah. Semuanya memerlukan dedikasi dari petugas Tirto Jiwo dan dukungan keluarga penderita serta masyarakat pada umumnya.