Aku jawab suara suara yang ada di kepalaku

Namaku Dean Smith. Aku mulai mendengar suara suara di kepalaku 15 tahun yang lalu ketika aku berumur 20an tahun.

Ketika pertama kali mendengar suara suara tersebut, aku pikir ada seseorang yang berbicara kepadaku. Kucari kesekeliling flat tempat tinggalku, tetapi tidak ada seorangpun disana. Aku sangat takut. Aku menjadi depresi dan menjadi selalu curiga.

4 hari berikutnya suara suara itu semakin keras. Suara suara itu menghina dan merendahkan diriku. Saat itu, aku ingin pulang dan kembali berkumpul dengan keluargaku. Karena tidak punya uang, aku pulang ke rumah dengan menumpang kendaraan yang lewat atau menghindar dari membayar tiket. Dalam perjalanan, aku merasa bahwa semua orang sedang membicarakan diriku.

Orang tuaku membawaku ke dokter. Mereka memberiku obat anti gangguan jiwa, tapi tidak manjur. Aku tetap mendengar 3 suara, 1 suara yang mentertawakanku seperti suara tukang sihir, 2 suara yang melecehkan dan mengancamku.

Aku mulai menyakiti diriku. Beberapa kali aku masuk rumah sakit jiwa. Disana, aku diajari cara mengalihkan perhatian dari suara suara yang kudengar dengan menyuruhku berolah raga. Namun suara suara itu tetap mengangguku.

Aku ingin sembuh karena itu, aku sering mendatangi seminar tentang pemulihan gangguan jiwa. Pada suatu seminar, seorang pembicara menyampaikan cara baru dalam menghadapi atau mengatasi suara suara yang ada dikepala. Cara baru tersebut dipromosikan oleh Hearing Voice Network, perkumpulan orang orang yang mendengar suara suara. Pembicara tersebut berkata bahwa kita harus berani terus terang menjawab dan tidak berkompromi dengan suara suara tersebut. Bila suara suara tersebut menyuruh kita menyakiti diri sendiri, katakan pada suara tersebut:”Bila ada seseorang berkata kepadaku agar membakar jariku diapi yang panas. Aku akan berkata tidak. Aku tidak mau. Mengapa aku harus menuruti perintahmu. Aku tidak mau menuruti perintahmu”. Pembicara di dalam seminar itu menambahkan. Bila kamu ingin tahu mengapa suara suara itu muncul dan ada disana, maka tanyakanalah kepadanya. Bila engkau ingin mereka pergi, maka katakan pada mereka untuk pergi.

Aku turuti nasehat pembicara dalam seminar tersebut. Aku bilang kepada suara suara tersebut” Aku sedang menonton TV saat ini, aku akan bicara kepadamu nanti”. Ketika mereka bilang bahwa sesuatu yang jelek akan terjadi pada diriku atau keluargaku, aku katakan kepada suara suara tersebut:”Coba katakan, mengapa aku pantas menerima kejadian buruk tersebut. Kamu tidak bisa jawab kan?”.  Kadang aku jawab suara suara itu didalam hati, kadang aku jawab dengan suara keras. Bila aku menjawab dengan suara keras ditempat umum, orang memandangku dengan aneh. Namun aku tidak peduli.

Sejak saat itu aku sadari bahwa suara suara negatif tersebut merupakan pikiran negatif yang aku punyai terhadap diriku sendiri. Kesadaran tadi membuat hilang rasa takutku kepada suara suara tersebut. Bukannya suara suara itu hanya khayalan, suara suara itu tetap ada dan nyata. Namun mereka tidak bisa mengendalikan diriku lagi. Aku juga mulai sadar bahwa mereka tidak bisa melakukan apa yang mereka ancamkan.

Kini suara suara yang mengancam dan menghina telah berkurang. Kini muncul suara suara yang positif dan menyenangkan.

Kini aku tahu bahwa suara suara itu tidak menjadi masalah bagiku selama aku tidak takut dan bisa mengendalikan mereka. Kini aku sudah lepas dari minum obat gangguan jiwa. Aku sudah punya tunangan. Aku ajari para perawat bagaimana membantu seseorang yang sering mendengar suara suara yang muncul dikepalanya.

Sumber: dean Smith: I talk back to the voices in my head. The Guardian, saturday 4 April 2009. http://www.theguardian.com/lifeandstyle/2009/apr/04/mental-health-health-and-wellbeing

 

 

laporan Keuangan Maret 2014

Alhamdulillah, selama bulan Maret 2014 banyak hal dikerjakan.

Pembangunan gedung induk, pembangunan bangunan gedang selirang, pagar keliling dilaksanakan. saluran air bersih juga diselesaikan.

Terima kasih kepada para dermawan. Semoga Allah SWT berkenan membalas kebaikannya dengan berlipat ganda sesuai dengan firman-Nya dalam Surat Al Baqarah ayat 261.

Maryadi, pasien ketiga

Maryadi (bukan nama sebenarnya) datang ke Tirto Jiwo diantar oleh adik perempuannya dengan mengendarai mobil Honda Jazz.

Kondisi fisik Maryadi terlihat lemah. Kedua tangannya kaku karena biasa terkurung disuatu ruangan dalam kurun waktu yang cukup lama. Badannya  kurus dan lemah. Tangannya terlihat gemetar ketika memegang sendok makan. Untuk membesarkan hatinya, Maryadi sampai disuap ketika makan tadi pagi.

Kondisi kejiwaannya juga berat. Maryadi terlihat pasif, bicara hanya satu dua kata. Dia hanya mengikuti ketika teman temannya melihat rusa atau memberi makan ayam. Maryadi belum bias terlibat, masih dalam tahap mengikuti dan mengamati kegiatan orang.

Minggu depan Maryadi akan kita bawa ke RSUD Purworejo untuk diperiksakan kondisi fisiknya.

Rudi dan Abdul: peserta program pemulihan

Pak Rudi (bukan nama sebenarnya),  umur 45 tahun, berasal dari Magelang. Dia datang ke Tirto Jiwo diantar oleh ibunya. Dia telah lebih dari 15 tahun tahun menderita skizofrenia.

Pak Rudi datang ke Tirto Jiwo karena ingin pulih dari gangguan jiwanya. Dia ingin bisa bekerja dan mendapatkan uang.

Pada waktu datang, gejala yang menonjol pada Pak Rudi adalah anhedonia, yaitu terlihat pasif, apatis, inginnya hanya duduk diam menonton TV. Semangat dan gairah hidupnya sangat rendah. Pak Rudi kadang kadang masih mendengar suara suara. Akhir akhir ini suara yang sering ia dengar adalah suara suara orang mengaji.

Pak Rudi rutin kontrol ke  RSJ Magelang. Namun hari ini obatnya hanya tinggal 3 buah. Kelihatannya, orang tua Pak Rudi tidak punya uang untuk berobat. Oleh karena itu, rencananya, Pak Rudi akan kita bawa ke RSUD Purworejo untuk kontrol dan berobat ke psikiater yang berpraktek di RSUD Purworejo.

Sebenarnya, hingga sekarang, belum ada obat yang manjur untuk mengatasi gejala anhedonia pada penderita skizofrenia. Kalau dari sisi medis, gejala skizofrenia Pak Rudi sudah terkendali. Namun dari sisi pemulihan, Pak Rudi masih harus dibimbing dan dibantu. Tujuan Pak Rudi agar bias bekerja dan mendapatkan penghasilan belum tercapai.

Program untuk Pak Rudi, selain membawanya kontrol ke psikiater, juga akan mulai diberi penugasan, antara lain membantu tukang memperbaiki kawat anti nyamuk dan membantu tukang mengerjakan pembangunan kandang rusa yang hampir selesai. Terapi psikososial, dengan memberinya kepercayaan, harapan dan kegiatan yang berarti diharapkan akan dapat mendorongnya untuk bias pulih dan mencapai cita citanya, yaitu hidup mandiri secara social ekonomi di masyarakat.

Pak Abdul, juga bukan nama sebenarnya, asal Klaten, umur 37 tahun, sudah berkeluarga dengan 1 anak. Dia sudah menderita skizofrenia selama 12 tahuan, yaitu sejak tahun 2002.

Dibandingkan dengan Pak Rudi, keinginan Pak Abdul untuk bisa pulih terlihat lebih besar. Hanya saja, rasa ketakutan dan halusinasi yang dialami oleh Pak Abdul lebih terlihat.

Program bagi Pak Abdul akan diarahkan untuk mengatasi halusinasi dan ketakutan yang dialaminya. Baik Pak Rudi maupun Pak Abdul, dua duanya masih minum obat anti gangguan jiwa dosisi tinggi

Semoga Allah SWT berkenan memudahkan proses pemulihan bagi mereka berdua. aamiin.

 

Tirto Jiwo: sejuk di pikiran dan nyaman di jiwa

Pemandangan dari teras Tirto Jiwo

Tirto Jiwo didirikan agar para penderita gangguan jiwa dapat segera kembali pulih dan bekerja serta hidup di masyarakat.

Silahkan mampir atau berkunjung ke Tirto Jiwo untuk belajar mengatasi suara suara yang mengganggu, menenteramkan hati dan pikiran yang gelisah, atau belajar bersama membuat usaha kecil agar bisa dapat uang tambahan.

 

Kandang rusa dalam tahap penyelesaian

Di Tirto Jiwo ada berbagai hewan peliharaan yang akan membuat jiwa kita tentram, seperti rusa, ayam bekisar, ayam kate, ayam kalkun dan ayam kampung.

Juga tersedia tanah seluas 1800 m2 yang bisa dipakai untuk kegiatan berkebun, seperti menanam cabe atau sayuran lainnya.

Di Tirto Jiwo kita juga bisa belajar bersama membangun usaha, misalnya membuat ayam goreng, dll.

Silahkan main, bersilaturahmi, dan menginap di Tirto Jiwo. Silahkan hubungi pak Wibowo Setiaji di 0813-2878-7978

Tirto Jiwo mulai memberikan pelayanan

Alhamdulillah, pada hari Jumat 4 April 2014 Tirto Jiwo telah diresmikan secara sederhana dan siap untuk mulai memberikan pelayanan. 

Tampak pada gambar Ibu Hj Sumarni Sungkono, pemberi wakaf tanah Tirto Jiwo, sedang menggunting pita.

Bagi pembaca yang mempunyai saudara yang menderita gangguan jiwa dan  ingin agar bisa pulih, silahkan kontak Pak Wibowo Setiaji di 0813-2878-7978. Mohon dicatat bahwa Tirto Jiwo bukanlah tempat penampungan penderita gangguan jiwa, tetapi sebuah pusat pemulihan dan pelatihan bagi penderita gangguan jiwa.

Selama di Tirto Jiwo, peserta program pemulihan akan mendapat pendampingan psikososial yang intensif, serta dukungan pelayanan psikologi dan psikiatri sesuai kebutuhan. Oleh karena itu, pelayanan psikososial yang diberikan tidak bersifat masal.

Tirto Jiwo tidak bersifat komersial.

Pulih total dari skizofrenia

Skizofrenia bisa pulih dan kembali hidup produktif di masyarakat.

Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah membantu mereka mengatasi halusinasi yang mereka alami. Halusinasi telah membuat mereka tidak bisa berpikir dengan baik, selalu merasa ketakutan,  sedih, bingung, dan gelisah. Silahkan pelajari cara membantu penderita gangguan jiwa mengatasi halusinasi dengan meng-klik disini

Langkah berikutnya adalah mendukung proses pemulihannya.

Menurut hasil study dari Dr Paris William, psikolog yang meneliti penderita skizofrenia yang telah pulih di Amerika, berikut ini daftar beberapa faktor yang membuat penderita skizofrenia bis pulih:

  1. Tumbuhnya harapan bahwa mereka bisa pulih. Penderita skizofrenia di Indonesia tidak pernah ketemu bekas penderita skizofrenia yang sudah pulih atau diberitahu bahwa penderita skizofrenia bisa pulih dan hidup normal di masyarakat. Akibatnya mereka kehilangan harapan dan hidup apatis. Tanpa adanya harapan bahwa hidup mereka dimasa depan bisa lebih baik dibandingkan keadaan sekarang, maka mereka tidak akam mau berusaha untuk pulih. Dari berbagai peneilitian di Amerika faktor adanya ‘harapan” merupakan kunci utama dalam pemulihan gangguan jiwa. Harapan tersebut bisa muncul karena dorongan orang lain yang dipercayai atau diseganinya atau muncul setelah bertemu dengan penderita gangguan jiwa yang telah pulih.
  2. Mempunyai kegiatan sehari-hari yang berarti yang membuat mereka bergairah. Adanya kegiatan yang berarti, baik yang bisa menghasilkan uang maupun tidak menghasilkan uang, membuat merka bangun dari tidur dengan bergairah. kegiatan yang berarti bisa berupa pekerjaan yang memberikan penghasilan atau kegiatan yang tidak menghasilkan uang (misalnya menjadi ibu rumah tangga, guru mengaji, sukarelawan sosial, dan lain sebagainya).
  3. Mempunyai keluarga atau sahabat yang mendukung.  Adanya keluarga atau sahabat yang mendukung sangat penting bagi proses pemulihan. Perasaan bahwa ada orang lain yang menyayangi atau mengasihi akan membuat mereka secara bertahap kembali hidup produktif di masyarakat.

Mari berbagi pengalaman

Apakah anda pernah didiagnosa menderita gangguan jiwa berat (misalnya skizofrenia) dan kini pulih (hidup normal di masyarakat)?

Pengalaman anda akan sangat berguna bagi pemulihan gangguan jiwa di Indoneesia

Bagi pembaca blog ini yang pernah mendapat pengalaman gangguan jiwa atau mendengar suara suara, silahkan tulis dan kirim pengalaman tersebut melalui email ke setiabudi55@yahoo.com

Pengalaman adalah guru kehidupan

Kami tunggu ceritanya