Pendekatan Maastricht dalam mengatasi halusinasi (4)

Contoh kasus halusinasi

Maureen (30 tahun) mendengar 3 suara.

Identitas suara: Maureen mengenal 3 suara yang bernama: Ina, Anna dan Johana.

Karakteristik dari suara suara tersebut: Inan berumur 7 tahun yang akan menangis dan berteriak bila Maureen tidak mau mendengarkan apa yang dikatakannya. Anna berumur 19 th dan berpendapat bahwa Maureen adalah orang tak berguna dan secara kasar menjelek-jelekkan atau menghina Maureen. Johanna seumuran dengan Maureen dan selalu melindungi dan menolong Maureen.

Riwayat munculnya suara suara: Ina mulai muncul ketika Maureen berumur 7 tahun ketika dia mulai dilecehkan secara seksual oleh pamannya. Pelecehan seksual berlangsung hingga Maureen berumur 12 tahun. Anna mulai muncul ketika Maureen berumur 19 tahun. Pada umur itu Maureen mulai meminta orang tuanya untuk memperkarakan kelakuan pamannya ke pengadilan. Namun tiba tiba orang tuanya menarik pengaduannya. Johana mulai muncul ketika Maureen mulai mendapat terapi. Johana berusaha melindungi Maureen dari Ina dan Anna.

Isi suara: Ina mengatakan apa yang terjadi ketika Maureen dilecehkan dan akan berteriak bila maureen tidak mau mendengarkan. Anna mengatakan bahwa Maureen lemah, tidak mau melawan dan mempertahankan diri. Anna menghina dan menyuruh Maureen untuk bunuh diri karena Maureen seorang pengecut. Johana memberikan nasehat dan mencarikan cara mengalihkan perhatian dari kedua suara lainnya.

Pencetus: Ina muncul ketika Maureen mengunjungi kedua orang tuanya dan harus menghadapi masalah seksualitas dalam kehidupannya. Anna muncul setiap Maureen tidak berani mengambil sikap atas suatu masalah. Anna juga muncul ketika Maureen berteman dengan pria karena dia tidak ingin Maureen punya teman pria. Johanna muncul bila Anna terlalu menyerang Maureen. Johana takut kalau Maureen menuruti kata kata Anna (menyuruhnya bunuh diri).

Riwayat masa kecil: Maureen tumbuh dalam keluarga yang selalu melindunginya. Dia tidak tahu cara mempertahankan diri dan dididik untuk bias mengendalikan marah.

Formulasi (the construct): Ina dan Anna tidak merepresentasikan seseorang tapi mencerminkan emosi dari seseorang yang mengalami pelecehan seksual. Johanna mencerminkan bagian diri Maureen yang menolong dan melindunginya. Maureen setuju bahwa suara suara tadi merujuk atau terkait dengan masalah pelecehan seksual yang pernah dialaminya dimasa lalu.

Dalam terapi, therapist mengajari Maureen untuk mengontrol dan menjadwalkan agar suara suara tadi muncul disiang hari. Terapist juga memfokuskan pada membantu Maureen mengatasi masalah kecemasan dan stress akibat pelecehan seksual.

Pendekatan Maastricht dalam mengatasi halusinasi (3)

Penyebab utama munculnya suara suara (halusinasi) adalah adanya pengalaman hidup yang melukai hati atau jiwanya yang  tidak dapat diatasinya dan menyebabkan dirinya merasa tidak berdaya.

Halusinasi tersebut bisa muncul pada orang normal dan tidak didiagnosa menderita gangguan jiwa. Halusinasi menjadi masalah bila yang bersangkutan (ybs) tidak mampu mengatasi halusinasi tersebut sehingga mengganggu perilaku dan kehidupan sehari hari serta menjadi penderita gangguan jiwa.

Karena pengalaman mendengar suara suara (halusinasi) adalah pengalaman yang luar biasa dan aneh, biasanya yang bersangkutan (ybs) menjadi malu dan tertekan. Apalagi, di masyarakat kita, sering mengaitkan halusinasi tersebut dengan gangguan jiwa. Akibatnya, jarang orang yang mengkaitkan halusinasi dengan pengalaman hidup yang melukai hatinya.

Biasanya uutan dari munculnya halusinasi adalah sebagai berikut: kejadian yang melukai jiwanya/ hatinya –> menimbulkan emosi dan tekanan jiwa —->berekasi dengan menekan emosi atau mengacaukannya—->gagal mengatasi emosi yang menekan —–> mulai muncul halusinasi.

Pada anak anak proses antara terjadinya kejadian yang traumatis dengan munculnya halusinasi lebih pendek. Biasanya suara suara tersebut bersifat melindungi si-anak. Misalnya: ketika sering anak mengalami pelecehan seksual, maka tidak berapa lama si anak mulai mendengar suara suara yang menyebut bahwa anak tersebut adalah anak yang baik. Kadang kadang suara suara itu menggambarkan karakteristik orang yang melakukan pelecehan sesksual tersebut. Suara tersebut berusaha untuk mengingatkan akan bahaya dari pelecehan sesksual.

Memahami dan mencari makna dari suara suara tersebut biasanya tidak gampang karena memerlukan pendekatan yang simpatik dan analitik.

Dua hal utama yang perlu dikenali: (a) suara suara itu mewakili siapa? apakah suara itu mewakili orang yang melecehkannya secara seksual atau orang yang berusaha melindunginya, (b) masalah apa yang disuarakan atau ingin disampaikan oleh suara suara tadi.

 

Pendekatan Maastricht dalam mengatasi halusinasi (2)

Dalam mengatasi halusinasi, pendekatan Maastricht berbeda dengan para psikiater yang langsung memberi obat untuk menekan munculnya halusinasi. Dalam pendekatan Maastricht, perlu dipelajari seluk beluk halusinasi tersebut agar bisa ditemukan jalan untuk mengatasinya. Beberapa informasi yang digali dalam pendekatan Maastricht:

  1. Jenis halusinasi. Apakah suara berasal dari dalam kepala atau berasal dari luar kepala, apakah dua-duanya. apakah ada jenis halusinasi lain (visual, peraba, perasa, dll).
  2. Karakteristik suara. apakah mereka punya nama, laki atau perempuan, suara keras (teriak) atau lunak, apakah ada hierarkhi diantara mereka, siapa yang paling menyakitkan kata katanya, suara siapa yang paling penting, apakah suara mereka mengingatkan suara orang yg pernah dikenal
  3. Riwayat suara. Kapan masing masing suara mulai muncul, dalam kondisi sosial psikologis seperti apa, apakah suara mereka berubah (nada maupun isinya). sering jenis suara yang berbeda muncul pertama kali dalam kondisi psikis dan sosial yang berbeda.
  4. Pemicu munculnya suara. Situasi, tempat dan kondisi yang memicu munculnya suara. apakah kemunculan suara didahlui perasaan takut, marah, sedih, kesepian. bagaimana reaksi suara suara tadi terhadap pemicu (misalnya bila pemicunya adalah perasaan marah, apa kata suara tadi terhadap marah tersebut)
  5. Apa yang dikatakan suara suara tadi. Sering orang tidak mau menyampaikan kata per kata apa yg dikatakan suara suara tadi karena malu atau terlalu menyakitkan. Bisa juga karena suara tadi bilang bahwa yang bersangkutan tidak boleh menyampaikannya kepada orang lain. Biasanya bila yang bersangkutan bisa mengontrol suara suara tadi, dia akan lebih mau menyampaikan apa yg dikatakan suara suara tadi kat per kata.
  6. Bagaimana yang bersangkutan (ybs) menjelaskan asal usul suara tersebut. Sering ybs bisa menjelaskan secara spesifik asal usul suara tadi. Misalnya: melalui pengalaman spiritual, suara setan, suara dari tuhan. Sebagian orang tidak bisa menjelaskan secara spesifik. Dalam interview ini tidak boleh didebat penjelasan yang diberikan oleh yang bersangkutan.
  7. Dampak dari adanya suara tadi dalam kehidupan sehari-hari. Disini bisa sangat bervariasi. apakah suara tadi meminta atau memerintah sesuatu, mengancam. Apakah ybs merasa harus menuruti atau percaya kata katanya, apakah nasehat yang mereka sampaikan bermanfaat, apakah suara tadi menghalangi ybs bekerja atau bertemu dengan orang lain, apakah kata-katanya selalu benar.
  8. Hubungan ybs dengan suara tadi. apakah ybs berkomunikasi dengan suara suara tadi, bagaimana posisi suara tadi terhadap ybs, bagaimana caranya sampai bisa terjadi komunikasi, apakah suara suara tadi mau mendengarkan ybs, apakah suara tadi menghormati ybs, apakah suara tadi setuju dengan ybs, dapatkan ybs memerintah suara suara tadi, menyuruhnya pergi, hubungan seperti apa yang diinginkan oleh suara tadi dengan ybs dan apakah ybs setuju.
  9. Strategi mengatasi suara suara. Apa yang dilakukan oleh ybs untuk mengatasi suara suara tadi. secara kognisi (apakah ybs memakai pendekatan pikiran), perilaku dan fisiologis (obat, meditasi, dll).
  10. Riwayat masa kecil. apakah ada riwayat bahwa ybs tidak diinginkan, perasaan tidak aman, dll.
  11. Riwayat pengobatan. riwayat pengobatan dan dukungan yang selama ini diterima.
  12. Jaringan sosial. siapa orang orang dekat ybs, apakah ybs membicarakan soal suara suara tadi kepada mereka, apakah mereka mendukung ybs.

Setelah selesai mengumpulkan data tentang halusinasi melalui wawancara/ anamnesa, maka perlu dibuat ringkasannya. Ringkasan tersebut perlu disampaikan kepada ybs agar bila ada ketidak cocokan bisa segera diperbaiki. Begitu pula, hal hal yang kurang jelas bisa lebih diperjelas. Selain itu, penyampaian ringkasan kepada ybs agar tidak ada penolakan atau penghindaran. Dengan ringkasan itu maka ybs mulai tergerak untuk mencari strategi yang tepat mengatasi halusinasi yang dialaminya.

Sering dengan dilakukannya wawancara tersebut, maka ybs mulai muncul keinginannya untuk pulih dan mengenali hal hal yang menghalangi proses pemulihan. Ybs menjadi sadar hubungannya dengan suara suara tadi, hal hal atau kejadian penting dalam hidupnya, dan strategi yang bisa dikembangkan untuk mengatasi halusinasinya.

Pengelola Tirto Jiwo

Pengelola Tirto Jiwo, Pusat Pemulihan dan Pelatihan Gangguan Jiwa.

Direktur: Bp. Wibowo Setiaji, S Sos.

Konsultan Psikiatri: dr Tantri, SpKJ

Pelayanan Psikologi: Nadia, Psi.

Perawat: Andri Novianto.

Manajer Keuangan: 1. Drajad Setiono, MKes.

                                 2. Usa Listiyah, SE

Penanggung jawab website: dr. Gunawan Setiadi, MPH.

Pendekatan Maastricht dalam mengatasi halusinasi (1)

Ternyata di masyarakat umum, ada sekitar 4% penduduk yang sering mendengar suara suara (halusinasi suara). Sebagian besar dari mereka hidup normal. Sebagian kecil (sekitar sepertiganya) tidak bisa mengatasi halusinasi tersebut, sehingga mengalami stress berat dan akhirnya menderita skizofrenia.

Ada perbedaan yang menyolok antara orang yang mendengar suara suara namun tetap hidup normal dibandingkan dengan orang yang mendengar suara dan kemudian menderita skizofrenia. Menurut Prof Marius Romme (1989) pada orang normal yang mendengar suara suara, ciri ciri mereka (dibandingkan penderita skizofrenia) adalah:

  • lebih percaya diri
  • lebih mempunyai kemampuan membuat batas dengan suara suara tersebut
  • mampu mendengarkan suara suara tersebut secara pilih pilih (selektif)
  • lebih sering berkomunikasi dengan suara suara tersebut (tidak hanya mendengarkan, tapi berkomunikasi)
  • mempunyai kerangka kerja yang bisa menjelaskan (explanatory framework) dari suara suara tadi
  • mempunyai lebih banyak saudara/ teman dan jaringan sosial yang mendukung
  • lebih berani membicarakan suara suara tersebut dengan orang lain.
  • kurang rasa takutnya terhadap suara suara tersebut.

Para pendengar suara (voice hearers- mempunyai halusinasi) kebanyakan mempunyai riwayat masa kecil yang secara psikologis menyakitkan (traumatis). Hanya saja, mereka yang tetap normal meskipun mendengar suara suara, karena mereka bisa mengatasi halusinasi suara suara tersebut.

Di Amerika, karena halusinasi suara dikaitkan dengan penyakit skizofrenia, maka mereka kemudian didiagnosa dengan skizofrenia dengan segala konsekuensinya (harus minum obat, dll).

 

Pemandangan dari teras Tirto Jiwo

Pusat Pemulihan Tirto Jiwo dibangun dengan berdasar konsep “pemulihan” atau recovery. Konsep Tirto Jiwo berbeda dengan konsep rehabilitasi, dimana di pusat rehabilitasi para dokter (plus obat) memperbaiki “jiwa yang sakit”.

Di Pusat Pemulihan Tirto Jiwo, penderita belajar mengatasi gangguan jiwanya (halusinasi, waham, gangguan kognisi, gangguan emosi). Kegiatan di Tirto Jiwo didukung oleh alam yang indah dan petugas yang ramah dan bersahabat. Tirto Jiwo juga akan dilengkapi dengan hewan piaraan, seperti ayam kalkun, ayam kate, ayam kampung dan rusa.Insya Allah, halam depan akan diisi dengan rusa

Saat ini pembangunan gedung Tirto Jiwo masih dalam tahap akhir. Halaman dan taman masih dalam tahap penyelesaian. . Meskipun demikian, keasrian dan ketentraman pemandangan dan alam sekitar bisa terlihat dari foto pemandangan dari teras Tirto Jiwo

Pendekatan baru dalam mengendalikan halusinasi suara (3)

3. Memahami arti simbolis halusinasi suara.

Bila suara suara itu sangat menganggu dan muncul pada waktu yang tidak sesuai dengan kegiatan yang sedang dilakukan, buatlah perjanjian untuk mendengarkan suara suara tersebut pada suatu waktu yang telah ditetapkan. Misalnya bila anda punya waktu pada jam 3 sore, maka bilang pada suara tadi bahwa anda akan mendengarkan apa yang dikatakannya pada waktu tersebut.

Isi atau pernyataan dari suara suara itu juga perlu dipahami, bukan secara langsung kata per kata, tetapi arti simbolisnya. Misalnya: bila suara itu bilang bahwa anda goblog, maka bisa diartikan bahwa anad perlu belajar sesuatu. Bila suara itu bilang anda sebagai orang tidak berguna, maka bisa diartikan bahwa anda perlu mulai beraktivitas (tidak hanya menyendiri didalam kamar).

4. Mengajak bicara (dialog) suara tersebut.

Bicara atau mengajak dialog terhadap suara tersebut bisa dilakukan bila kondisi memungkinkan (tidak sedang berada ditempat umum dan mengganggu orang lain) dan tidak menjadikan anda dikendalikan oleh suara suara tersebut. Mengajak bicara suara tersebut bertujuan agar anda yang mengendalikan suara dan bukannya suara suara tersebut yang mengendalikan hidup anda. Sebaiknya dialog tersebut dilakukan dengan sopan dan baik, hindari berdebat atau bertengkar dengan suara suara tadi. Dilain pihak, anda juga tidak boleh menuruti saja setiap apa yang disampaikan oleh suara suara tersebut.

Misalnya bila suara itu bilang agar anda jangan melakukan sesuatu (misalnya menjawab telpon atau membuka pintu), hal itu bisa diartikan bahwa suara tersebut ingin melindungi anda. Untuk itu katakan pada suara tersebut: terima kasih atas peringatannya, saya akan melakukan hal tersebut (menerima telpon atau membuka pintu) dengan berhati-hati.

Contoh kasus: Seorang yang mengalami halusinasi suara yang mengaku sebagai tuhan, maka pada suatu hari orang tersebut meminta tolong suara tersebut untuk membuktikan kekuatannya dengan memintanya mencuci piring (atau melakukan sesuatu lainnya). Ketika ternyata suara suara itu tidak mampu melakukannya, maka suara tersebut tidak lagi mengendalikan orang tersebut. Suara yang mengaku tuhan tersebut lama kelamaan mulai berkurang dan akhirnya hilang.

Penderitalain bisa mengendalikan halusinasi visual dengan mencoba menyentuh bayang bayang (gambaran orang tersebut). Ketika dai bisa menyentuh bayangan tersebut dan dia tidak mengalami apa apa, maka perlahan lahan halusinasi yang dialaminya berkurang.

 

Pendekatan baru dalam mengendalikan halusinasi suara (2)

Halusinasi sering muncul ketika seseorang sedang menganggur (tidak melakukan kegiatan) atau hanya bersikap pasif (misalnya: menonton TV). Halusinasi juga gampang muncul ketika ketika seseorang melakukan sesuatu kegiatan, namun pikirannya melayang atau mengembara ketempat lain. Misalnya: ketika mencuci piring, tapi pikiran memikirkan kejadian masa lalu.

Langkah kedua dalam mengendalikan halusinasi adalah dengan melatih pikiran agar tetap “berada disini (here) dan pada saat ini (now). Keadaan ini berlawanan dengan keadaan ketika kita berjalan ke kantor, namun pikiran berada atau memikirkan hal hal lain. kita sering berjalan secara otomatis.

Salah satu cara melatih agar pikiran kita selalu berada “here and now”:

  1. Pilih salah satu kegiatan yang paling penting dan segera lakukan hal tersebut.
  2. Lakukan satu kegiatan saja
  3. Arahkan semua pikiran pada kegiatan tersebut
  4. Bila pikiran terbawa kearah lain, segera bawa kembali pikiran tersebut untuk tetap focus (terpusat) pada apa yang dikerjakan sekarang.
  5. Ulangi langkah nomer 4 setiap kali pikiran kita pergi ketampat lain. Langkah ini perlu diulang-ulang hingga kegiatan tersebut selesai.
  6. Bila ada suara suara atau pikirang  selalu muncul berkali-kali dan mengganggu (mengalihkan perhatian kita dari kegiatan yang sedang dilakukan), maka kita bisa mendengarkan suara tersebut saat itu atau membuat janjian untuk mendenragkannya disaat yang lain.

Cara lain adalah dengan melakukan walking meditation (meditasi sambil berjalan), yaitu kita fokuskan pikiran dan perhatian sambil kita berjalan. Misalnya, sambil berjalan maka perhatikan apa yang kita lihat dan kita rasakan. Selalu arahkan perhatian pada apa yang kita lakukan dan kita lihat. Bila pikiran melayang ke masa lalu atau ke tempat lain, segera bawa kembali pikiran dan perhatian pada keadaan “here and now”

10 Langkah memperkuat ketahanan jiwa (2)

Tulisan ini merupakan lanjutan tulisan sebelumnya

5. Memanfaatkan masalah sebagai alat untuk lebih mengenal diri sendiri. Manusia bisa belajar mengenal dan menemukan dirinya (kekuatan, kelemahan, cita cita, nilai nilai yang dianutnya) ketika berusaha mengatasi masalah yang dihadapinya atau kehilangan yang dialaminya. Banyak orang yang setelah mengalami tragedy (bencana) melaporkan bahwa bencana membuat mereka lebih dekat kepada Tuhannya, lebih dekat dengan keluarganya, merasa lebih kuat jiwanya.

6. Memupuk sikap positif terhadap diri sendiri. Seseorang yang lebih percaya diri pada kemampuannya mengatasi masalah dan pada naluri serta kata hatinya akan mempunyai ketahanan diri yang kuat.

7. Mendudukkan segala sesuatunya pada tempatnya. Masalah yang besar bila ditempatkan pada perspektif jangka panjang akan bisa terasa lebih ringan. masalah kecil bila dibesar-besarkan akan terasa sangat berat.

8. Melihat kedepan dengan sikap positif.Pandangan yang optimistic akan memungkinkan kita melihat peluang dan jalan untuk mengatasi masalah. Pandangan negative akan membuat semuanya terasa gelap dan tertutup.

9. Memelihara kesehatan fisik. Didalam badan yang sehat, berdiam jiwa yang sehat. Luangkan waktu untuk berolah raga, bersantai dan melakukan kegiatan fisik yang positif akan memperkuat ketahanan jiwa.

10. Meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Percaya bahwa Tuhan itu Maha Kuasa dan mau menolong hambanya membuat seseorang tidak gampang putus asa. Percaya bahwa Tuhan itu Maha Pengampun membuat seseorang tidak lagi terbebani dengan kesalahan masa lalu.